Diposkan pada Jurnal

1.5 Jam untuk Pak Sudarman, Tukang Sol Sepatu


Siang ini, sekitar pukul 13.00 sehabis kuliah, saya langsung pergi ke Pasar Simpang untuk mengambil sepasang sandal saya yang sedari pagi sudah dititipkan ke tukang sol sepatu. Sesampainya di sana, kirain sudah kelar tuh sandalnya. Ternyata Bapaknya malah lupa. Aduh.

Walhasil saya makan siang dulu sambil menunggu. Parahnya setelah selesai makan, sandal saya baru dikerjakan. Siap-siap menunggu lama deh. Untungnya Bapaknya terlihat sudah berumur. Jujur sebenarnya saya agak kasihan kalau lihat orang tua yang sudah berumur masih kerja, otomatis saya nggak jadi kesal. Bisa dimaklumi deh.

Akhirnya sekitar pukul setengah dua sandal saya baru disentuh. Saya memilih untuk menunggu di samping Sang Bapak, memperhatikan bagaimana beliau memproses sandal saya.

Jadi begini, sandal kanan saya itu talinya putus. Sepertinya lemnya tidak kuat jadi sekalinya jatuh langsung putus talinya. Awalnya saya mau ngelem sendiri tapi sepertinya kalau dibawa ke tukang sol sepatu sepertinya bisa lebih bagus hasil lemnya.

Namun, ternyata setelah memperhatikan Sang Bapak, sandal saya bukan dilem melainkan dijahit. Tahu tidak? Jadi begini prosesnya.

Alas (alias sol bagian telapak yang langsung menyentuh tanah) itu dikerik pakai pisau membentuk lubang mengikuti bentuk kaki. Kemudian, beliau menyisipkan benang (khusus untuk sepatu, pastinya) menggunakan sejenis obeng dari telapak kaki menembus sol yang menyentuh tanah dan mulai menjahit sesuai bentuk telapak kaki yang sudah dikerik tadi.

Sandal saya tebalnya kira-kira 1 cm. Pasti beliau ini tenaganya kuat ya, bisa menjahit sepatu yang tebal dan keras gitu modal pakai obeng, pisau, dan benang. Super!!! Kagum. Terserah deh dibilang norak tapi saya suka melihatnya.

Setelah menjahit seluruh telapak kaki, barulah bagian tali yang putus dijahit. Melihatnya saya jadi berpikir, kenapa tidak bagian yang putusnya saja yang dijahit? Susah-susah beliau menjahit 2 buah sandal saya yang sebenarnya cuma 1 sandal saja yang talinya putus dan rusaknya cuma sekitar 1 cm. Kerusakan 1 cm yang tadinya mau saya lem, ternyata dijahit keseluruhan oleh beliau supaya lebih kuat dan lebih indah, pastinya.

Niat 🙂

Setelah sandal saya tuntas, saya minta diproses juga sepatu yang sedang saya pakai. Nah kalau model yang ini, so pasti dilem, pikir saya. Sepatunya model pantofel gitu dan tebal. Betulan tebal, jadi aneh sih kalau mau dijahit juga. Pasti susah.

Tapi ternyata Sang Bapak mengeluarkan jurus yang sama. Menjahit. Kali ini saya lihat ekspresinya lebih keras karena memang sol sepatunya lebih tebal. Saya tetap memperhatikan sampai selesai.

Untung ada tukang sol sepatu. Kan jadi bisa hemat puluhan ribu 😀

Dan yang saya kira cuma perlu dilem ternyata dijahit keseluruhan. Bukan dijahit di bagian yang rusak saja dan bukan 1 sandal yang bermasalah saja, tapi semua bagian sepatu karena itu yang akan menjadikannya lebih kuat dan lebih indah.

Memang cuma ahlinya yang PALING PUNYA solusi !!!

Seusai menyelesaikan sepatu saya, kira-kira pukul 15.00 barulah saya membayar dan menanyakan nama beliau. Namanya Pak Sudarman dan beliau sudah bertahun-tahun menjadi tukang sol sepatu di lokasi yang sama. Saya saja jadi mahasiswa sudah sering bosan gini, apalagi Pak Sudarman. Tapi yang namanya cari duit memang nggak bisa memikirkan kejenuhan ya. Semoga beliau diberi pahala sama kebutuhannya hidup keluarganya terpenuhi.

Siang saya menyenangkan meskipun hanya dengan memperhatikan.

Terima kasih ya, Pak.

Iklan
Diposkan pada Jurnal

Pengembangan Komunitas, Sudah Mulaikah Kita?

Tulisan ini sebenarnya sudah saya buat sekitar bulan Desember 2009-Januari 2010, lupa. Ya sebagai artikel untuk buletin ITB FAIR. Kontennya didapat dari notulensi Talkshow Community Development yang diadakan ITB FAIR waktu itu. Berhubung akhir-akhir ini ada sekitar 3/4 orang yang entah kenapa tiba-tiba bertanya tentang pengembangan komunitas, jadi saya mau sharing sedikit saja nih soal isu ini.

PENGEMBANGAN KOMUNITAS, SUDAH MULAIKAH KITA?

Tanggal 9 Desember 2009, ITB FAIR 2010 kembali dengan  rangkaian acaranya yakni Talkshow CDC yang dilaksanakan di R.26 CC Barat pukul 11.00-16.00. Pembicara yang hadir adalah ibu Tri Mumpuni, Lendo Novo (pendiri Sekolah Alam), dan Okta (alumni ITB, aktifis LSM). Dalam talkshow ini dibahas mengenai pentingnya Community Development bagi bangsa Indonesia serta kendala dalam pengaplikasiannya.

Pada dasarnya, awal dari ComDev adalah sudut pandang tepat dari pelakunya, yakni berpikir bahwa kegiatan membangun masyarakat adalah menjadi kaya dengan menjadikan orang lain kaya, dengan cara mendidik dan membangun potensi orang lain. Bagi warga di daerah yang dikembangkan sendiri pun, mereka sebaiknya melaksanakan Active Participation Research, metode yang disarankan dalam ComDev. Tidak sekedar menerima tapi juga aktif berpartisipasi membangun daerahnya.

Dilihat dari prakteknya, Ibu Tri Mumpuni mengungkapkan, ada beberapa contoh desa yang sudah dapat mengembangkan dirinya sendiri sehingga memiliki PADes (Pendapatan Asli Desa) sendiri. Usaha yang dilakukan antara lain pembangkit listrik mikrohidro dan pemanfaatan biogas. Dengan adanya PADes,  desa mampu memberikan pelayanan kesehatan gratis dan beasiswa kepada penduduknya.

Lain halnya dengan cerita Okta.

Berawal dari curhat anggota DPRD Blora kepada kawannya (Pak Edi Suwono) di LPPM ITB, “Mengapa Blora sebagai penghasil kayu jati terbesar di Indonesia tidak bisa hidup semapan yang seharusnya?”

Ternyata, bisnis kayu jati di Blora rata-rata korup. Dan rakyat sekitar hanya memanfaatkan kayu jati untuk dijadikan arang karena tidak memiliki keterampilan untuk memanfaatkannya lebih baik

Okta dan tim dari ITB yang berjumlah belasan orang mahasiswa pun tergerak untuk membantu Community Development di Blora. Okta mengajarkan masyarakat setempat untuk membudidayakan jamur dan perwakilan dari Teknik Sipil membantu memperbaiki bendungan di daerah setempat.

Selain aplikasi, talkshow ini juga menyinggung alasan kurangnya perhatian warga mengenai ComDev yang dilaksanakan di Indonesia. Disebutkan bahwa sebenarnya bangsa Indonesia memiliki potensi untuk menjadi bangsa yang besar. Namun, orang-orangnya tidak amanah sehingga masih saja ada 100 juta rakyat Indonesia yang miskin.  Problematika lain adalah kurangnya empati bangsa. Hal tersebut dapat dilihat dari masih kurangnya pabrik ramah lingkungan yang sebenarnya sudah bisa dikembangkan, akan tetapi bangsa kita terus-menerus membuat pabrik yang merusak alam.

Hal penting yang patut disadari bahwa ComDev itu bersifat universal (luas secara makna dan pemaknaan), tidak harus bersifat global. Pada praktiknya memang ada organisasi yang melakukannya secara global, seperti PBB. Namun, jangan melihat dari cakupan praktikannya karena ComDev sendiri dapat dimulai dari hal yang kecil asalkan dipilih secara selektif agar dampak baiknya bisa dirasakan oleh orang banyak. Jadi, sesungguhnya kita sendiri pun bisa memulainya.

Diposkan pada Jurnal

Baleendah dan Cikapundung

17 April 2010, Sabtu Pagi

Hari itu adalah hari yang melelahkan bagi saya. Cuma mau cerita-cerita sih. Hari itu saya awali dengan beberes ransel ya walaupun sedikit barang bawaannya. Rencananya saya diajak Kak Mirna, Kadiv Comdev Departemen Pengmas HMTL ITB ikutan ke Baleendah buat survei2. HMTL rencananya juga, mau membuat semacam alat pengolahan air bersih untuk daerah Baleendah yang memang sedang hangat-hangatnya dibicarakan sebagai lokasi bencana [manusia] sejak 3 bulan terakhir.

Saya datang jam 8 pagi lewat sedikit di Gerbang Ganesha, ternyata di sana baru ada kakak2 : Mirna, Adhiet BW, dan Fatur. Yah baru segini, alamat telat berangkat ini sih…pikir saya dalam hati. Yah pokoknya sampai jam 9 pagi saya cuma duduk menunggu bersama beberapa orang lain, ada Dida dan kakak2 : Mirna, Adhiet BW, Seli, Mitha, Karinta, Ade. Fatur cao memang tidak ikut. Siapa yang ditunggu nih? Ternyata biangnya adalah kakak2 : Igoy dan Afne. Mereka ketiduran di himpunan, katanya sih jam 8 dikira jam setengah 8. Ya pantes telat. Okelah lanjut.

Mengingat sudah jam 9 lewat sedikit dan ketika saya mempertimbangkan kembali untuk ikut, akhirnya saya memutuskan pilihan tidak ikut ke Baleendah. Karena jam 1 siang saya sudah harus ada lagi di kampus, praktikum Mekanika Fluida di Sungai Cikapundung. Takutnya nggak sempat. Perjalanan ke Baleendah memakan waktu satu setengah jam lebih soalnya.  Belum lagi karena itu hari Sabtu, kemungkinan macet lebih besar.

Okelah saya ditinggal sendirian. Tapi tak berapa lama kemudian Kak Mirna menelepon, katanya saya disuruh ikut saja karena dijanjikannya habis dzuhur langsung pulang. Estimasi saya sampai ke kampus bisa jam setengah 2. Kebetulan banget Kak Andi selaku Kadept.Pengmas sekaligus PJ Modul praktikum saya siang itu memberi keringanan sampai jam 2 siang. Gila. Kak Andi Nepotisme nih. Hahaha untunglah, tapi nggak baik nih.

Saya naik mobil Kak Adhiet BW sama Igoy, Afne, dan Dida. Perjalanan berangkat memakan waktu satu setengah jam. Di Bojongsoang [kalau nggak salah], datanglah Kak Bokir membawa motornya, menyusul karena rumahnya memang di daerah sana. Kami lanjut sampai berhenti di Kantor Kecamatan Baleendah. Di sana bertemu dengan Pak-Siapa-Lupa-Yang-Pasti-Bukan-Pak-Camatnya.

Mari saya kasih sedikit informasi yang saya dapat dari papan data di kantor kecamatan tersebut. Pada tanggal 13 April, di kelurahan Andir dan Baleendah, air pasang dengan total 699 rumah terendam. Tanggal 15 April air pasang lagi dengan total 328 rumah terendam pada dua kelurahan tersebut. Baru dua hari berlalu sejak air surut kembali, saya berkunjung ke sana.

Beliau, Pak-Siapa-Lupa-Yang-Pasti-Bukan-Pak-Camatnya menceritakan kondisi bahwa di sana banjir bisa pasang dan surut sewaktu-waktu. Dan hingga saat ini pun, masih ada sekitar 300-an rumah di kelurahan Baleendah, yang terendam lumpur. Ya. Bukan air banjir tapi lumpur, tepatnya.

Sekedar informasi juga, di halaman kantor kecamatan tersebut terdapat sebuah alat pengolahan air bersih buatan Belanda, kata si Bapak. Alat itu didatangkan ke Indonesia sejak terjadinya tsunami Aceh, dioper ke-apa-lagi-ya-bencananya-saya-lupa, barulah pada bulan Maret 2010 kemarin dipindahkan ke Baleendah. Sumber airnya diambil dari kolam di samping kantor, diolah, dan hasilnya ditampung dalam sebuah bak superbesar untuk kemudian dapat dikeluarkan melalui keran pada bagian bawahnya untuk mengalirkan air.  Jujur saja sih ya, airnya masih sedikit kuning kalau yang saya lihat dengan mata sendiri.

Ini dia alat olahan air bersih Turun-Temurun-Bencana
 
 
Sumpah ini nggak pake efek foto apapun, kuning ‘kan kuning?

Lalu, kami serombongan pergi menuju daerah Cieunteung, daerah yang baru saya tahu menjadi daerah paling parah efeknya. Sayangnya sesayang-sayangnya, sepatu bot cuma ada 4 dan ternyata medan tidak sesuai dengan yang kami bayangkan. Lumpur masih terlalu dalam untuk ditapaki sandal/sepatu apalagi dengan mahasiswa-mahasiswa elit [ya ya ya saya akui ini] yang tidak biasa berkutat dengan lumpur. Bahkan tak jauh berapa meter ada 2 buah kano kecil. Tahu ‘kan ya maksudnya? Ya untuk alat transportasi. Dan pada akhirnya cuma kakak cowok2 : Adhiet BW, Igoy, Afne, dan Bokir yang masuk ke dalam Cieunteung untuk bertemu dengan Pak RW, menanyakan kondisi setempat.

Sekitar sejam menunggu, kami cewek2 menunggu sembari duduk di luar jendela sebuah rumah yang lembab dengan lantai penuh lumpur kering. Saya sempat foto pintunya. Ini dia, ternyata si lumpur pernah membuat sejarah bagi rumah ini dengan menempelkan endapan-endapannya hingga ketinggian lebih dari setengah daun pintu alias se-alis saya kira-kira. Itu baru endapan lumpur, belum air banjirnya lho. Cemana lah tingginya.

Sekitar jam 12 rombongan cowok2 datang. Yang dilakukan pertama adalah mengeluarkan air berlumpur dari dalam sepatu bot. Lalu berjalan kaki menuju SPBU setempat untuk mencuci kaki. Kak Adhiet BW menceritakan kondisi di dalam sana. Jadi, dalam mushola terdapat sebuah bak setinggi kira2 dada Kak Adhiet BW, yang berfungsi sebagai alat kelola air bersih. Alat itu dikhususkan ditempatkan di mushola untuk kemudahan akses rumah-rumah setempat mendapatkan air bersih jika banjir sedang pasang, tidak perlu ke kantor kecamatan.

Mekanismenya adalah air banjir diambil, dimasukkan ke dalam bak, lalu dibubuhi kaporit, PAC, dan-lupa-satu-macam-lagi, ya pokoknya begitu sampai endapannya jatuh dan air bisa dikonsumsi untuk kebutuhan sehari-hari. Kalau untuk air minum, ya pakai air itu tapi dimasak lagi.

Kak Adhiet BW menceritakan bahwa si Bapak di mushola sana bilang kalau yang paling sulit didapatkan adalah makanan. Ya mau bagaimana juga ya, dipikir2 memang kalau sedang pasang, warga mana bisa keluar rumah jauh-jauh untuk cari makanan? Akses mendapatkan air bersih kan bisa didapat di mushola, lha kalau makanan?

Dengan hasil survei tersebut dan bermodal dokumentasi, kami pun kembali menuju kampus. Rencananya, hasil survei ini akan dibawakan kepada Bu Ogi, salah satu dosen Teknik Lingkungan, untuk dibahas bersama.

Melelahkan. Pusing karena kepanasan. Semangat juga menurun sedikit karena tidak bisa masuk ke dalam gang. Ya yang penting dapat sedikit manfaat lah. Sedih sih melihat seorang bapak-bapak yang mengkayuh gerobak mau masuk ke dalam tapi memutuskan diri untuk keluar gang lagi hanya beberapa meter dari jarak saya berdiri, karena lumpurnya memang terlalu dalam, tidak bisa itu dimasuki gerobak.

Ada pula beberapa anak kecil baru pulang sekolah, melepaskan sepatunya dan mengangkat celananya, mulai menerobos lumpur. Tinggi mereka cuma sekitar seperut saya. Bayangkan, kalau setiap hari mereka harus bolak-balik seperti itu, berapa jumlah air bersih mereka habis dipakai hanya untuk cuci seragam?

Dengan kondisi badan yang menurun karena kelaparan dan kepanasan, akhirnya kami kembali ke kampus. Saya masih bersama Dida dan kakak2 cowok : Adhiet BW, Afne, Igoy. Bokir pulang pakai motor ke rumahnya. Walaupun mepet tapi saya sih santai-santai saja melihat jam. Pukul 1 lewat. Pasti telat praktikum sih ini, pikir saya.

SO GEBS-nya adalah mobil Kak Adhiet BW tiba-tiba MOGOK DI TENGAH JALAN di daerah Bojongsoang kalau nggak salah lihat papan-papan toko. Dengan perasaan nggak enak, saya memutuskan naik angkot demi mengejar praktikum yang sebenarnya sudah pasti telat. Benar-benar nggak enak meninggalkan kakak2 itu mengurusi mobil ya walaupun saya juga pasti gabut sih di sana. Dida juga. Malah ikut dia naik angkot sama saya, berhubung pasti gabut dan cewek sendiri nantinya.

Okelah akhirnya kami naik angkot dua kali menuju depan SMA 3 Bandung, lanjut angkot Kalapa-Dago. Dida terus ke Kanayakan [nggak praktikum shift Sabtu siang, dia] saya terus naik angkot Caheum-Ciroyom menuju jembatan Babakan Siliwangi, TKP [Tempat Kejadian Praktikum].

Dan waktu di jam tangan saya telah menunjukkan pukul 14.21

To Be Continued

Diposkan pada Jurnal

Baduy, “Negara” Tanpa Kelaparan

Copas dari milis

Cornelius Helmy dan C Anto Saptowalyono

Punggung Gunung Kendeng di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Selasa (16/3) pagi, berangsur terang ketika matahari menyembul di langit timur. Udara masih dingin ketika satu demi satu warga mulai keluar dari pintu rumahnya. Aktivitas pagi masyarakat Baduy pun kembali berjalan. Asap keluar dari atap rumah warga, pertanda perempuan Baduy mempersiapkan makan dan bekal buat ke ladang. Sebagian perempuan lainnya menumbuk bulir padi dan biji kopi. Setelah semua beres, mereka bersama suami dan anak-anak berangkat ke ladang. Sementara perempuan yang tinggal di rumah mulai dengan aktivitas menenun.

Dari kejauhan di pinggir kampung, seorang lelaki berbaju putih terlihat memikul buntalan mendaki jalan setapak yang menanjak di Kampung Cipaler. Lelaki bernama Idong itu hendak pulang ke Desa Cibeo setelah malam sebelumnya menginap di Ciboleger untuk menjual buah. Baju putih yang dia kenakan adalah pakaian khas warga Baduy Dalam, yang tinggal di tiga kampung di Kanekes; yakni Cibeo, Cikertawana, dan Cikeusik.

Tak berselang lama, satu keluarga yang kesemuanya berpakaian hitam bergegas hendak ke ladang. Mereka adalah bagian dari masyarakat Baduy Luar yang tinggal di 56 kampung di Kanekes. Baju hitam adalah salah satu ciri khas pakaian mereka. Sepintas Desa Kanekes yang hingga Maret 2010 dihuni 11.175 jiwa warga Baduy ini tak beda dengan desa-desa lainnya. Mereka tinggal di rumah panggung, lantainya berada sekitar 50 sentimeter di atas tanah. Dindingnya bambu, atapnya anyaman daun kelapa.

Sejumlah literatur menyebut orang Baduy keturunan pengikut Kerajaan Padjadjaran dan mereka penduduk asli yang sangat perhatian terhadap lingkungan. Kekhasan permukiman Baduy terlihat dari bentuk rumah yang nyaris seragam. Hanya ada sedikit ruang yang tersisa antarbangunan rumah, sedangkan rumah-rumah Baduy umumnya tidak berjendela. Rumah mereka juga tidak memiliki jaringan listrik karena adat menabukan listrik.

Aturan adat berlandaskan nilai-nilai adat moyang mereka, yaitu tradisi Sunda Wiwitan. Tradisi itu menjadi pegangan dan pengetahuan masyarakat Baduy. Hingga saat ini adat tersebut masih tetap dijaga. Termasuk pula di antaranya falsafah yang tergambar dalam peribahasa Baduy, Lojor teu menuang dipotong, pondok teu menang disambung, kurang teu menang ditambah, leuwih teu menang dikurang. Arti harfiahnya adalah ”panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung, kurang tidak boleh ditambah, dan lebih tidak boleh dikurang”.

Sampai sekarang masyarakat Baduy Dalam masih berjalan kaki ke mana pun mereka pergi, termasuk hingga ke Jakarta. Lain halnya dengan masyarakat di perkampungan Baduy Luar yang sudah mau naik ojek atau mobil angkutan antarkota ketika bepergian agak jauh dari desanya. ”Masyarakat Baduy tidak ada yang terlihat kaya, tapi juga tidak ada yang miskin. Di sini tidak ada pengangguran ataupun kelaparan,” ujar Jaro Pamarentahan (Kepala Pemerintahan) Baduy Dainah.

Meski banyak yang berprofesi sebagai perajin kain tenun, penjual gula aren, atau memiliki warung penjual barang kebutuhan keluarga sehari-hari, warga Baduy selalu menganggap bahwa berladang adalah pekerjaan utama dan kewajiban. Dalam berladang, mereka memiliki kebiasaan yang dijalankan turun-temurun. Mereka antimenggunakan pupuk pabrikan dan senyawa kimia pembasmi hama dan gulma. Warga Baduy Dalam hingga sekarang bahkan masih menabukan mandi menggunakan sabun dan sampo. Hal-hal semacam ini menghindarkan lingkungan, yang menjadi tempat mereka menggantungkan pendapatan harian mereka, dari pencemaran. Hingga sekarang pun mereka kukuh mempertahankan kawasan hutan dan tak hendak mengubahnya untuk kepentingan lain. ”Dari 5.136,8 hektar (ha) kawasan di Baduy, sekitar 3.000 hektar dipertahankan sebagai hutan untuk menjaga 120 titik mata air,” kata Jaro Dainah.

Ketika jumlah warga terus bertambah, kebutuhan ladang untuk bertanam padi pun meningkat. Alih-alih mengubah hutan lindung untuk ladang, sebagian warga Baduy lebih memilih membeli tanah di luar kawasan Baduy. Setidaknya 700 hektar ladang di luar kawasan Baduy saat ini dimiliki warga. ”Selain itu, juga banyak yang menyewa, lebih luas lagi dibandingkan yang sudah dibeli warga,” ujar Jaro Dainah.

Sistem bagi hasil dilakukan antara warga Baduy yang menyewa serta menggarap ladang dan pemilik tanah. Sekitar tahun 1980-an, tanaman albasia pun mulai banyak ditanam warga Baduy. Sekarang pun tanaman albasia yang bibitnya mulai ditanam di sela-sela padi ladang ini dipetik hasilnya oleh warga Baduy setiap lima tahun sekali ketika ladang selesai di-beura, dibiarkan tidak ditanami setelah lewat tiga kali musim panen. Kayu albasia hasil budidaya ini biasa dijual warga kepada bos pengumpul, yang sebagian juga orang Baduy, untuk kemudian dikirim ke pembeli di luar daerah. Sebatang kayu albasia umur lima tahun bisa laku Rp 100.000. Rata-rata sekali memanen albasia di ladang miliknya tiap orang bisa mengantongi penjualan Rp 5 juta-Rp 15 juta.

Keseharian warga dalam bekerja itu berjalan dalam bingkai adat yang terjaga. Guru Besar Etnobiologi Universitas Padjadjaran Johan Iskandar mengatakan, Baduy mengenal dua sistem pemerintahan: nasional yang mengikuti aturan negara Indonesia dan adat yang mengikuti adat istiadat. Secara nasional, di Baduy ada Jaro Pamarentah atau Kepala Desa Kanekes yang kini dijabat Dainah.

Sementara itu, pimpinan adat tertinggi masyarakat Baduy dipegang oleh tiga puun yang tinggal di tiga tempat Baduy Dalam. Puun Cikeusik mengurus keagamaan, Puun Cibeo mengatur hubungan dengan daerah luar, serta Puun Cikertawana mengurus pembinaan warga, kesejahteraan, dan keamanan masyarakat Baduy.

Dalam kehidupan sehari-hari, tingkah laku puun diatur ketat. Guru Besar Antropologi Universitas Padjadjaran Kusnaka Adimihardja menjelaskan, puun harus mengayomi masyarakat Baduy. Ia mengatakan, puun harus mengayomi masyarakat Baduy dari dalam. Bahkan, hingga kepemilikan rumah, puun harus memiliki rumah paling sederhana. Mampu melayani masyarakatnya dengan baik adalah penghargaan terbesar seorang puun di Baduy. ”Inilah figur pemimpin sebenarnya. Masyarakat adat Baduy ibaratnya negara sejahtera ideal,” kata Kusnaka. Masa kekuasaan seorang puun tak pernah dibatasi aturan adat. Namun, seorang puun yang sudah merasa tak sanggup menjalankan amanah bisa meminta untuk segera diganti. Selain itu, pergantian seorang puun juga tergantung dari kondisi alam. Jika sering muncul bencana alam yang menimpa warga Baduy atau panen rakyat gagal terus, menjadi alasan kuat untuk turunnya seorang puun.

Warga Baduy meyakini keberhasilan pemimpin berkaitan langsung dengan kesejahteraan rakyat. Di sisi lain, mereka juga dikenal sebagai komunitas mandiri yang menghidupi diri sendiri, tetapi melimpahkan rezeki bagi warga sekitar mereka. Mahfudin, warga Kampung Cicakal, yang berada di luar kawasan Baduy, misalnya, tiap minggu pasti memboncengkan penumpang yang hendak berkunjung ke Baduy. Sekali mengantar dari Desa Kuranji ke Parigi, dia memperoleh Rp 30.000. Hila, seorang pemilik toko di kawasan Ciboleger, pun dapat mencari rezeki dengan menjual kerajinan dan kain khas Baduy kepada pengunjung. ”Kalau pas ramai pengunjung, seperti akhir pekan atau ketika liburan sekolah, per hari bisa ratusan ribu rupiah,” katanya. Warga Baduy membuktikan bahwa ada korelasi antara alam yang terjaga dan kehidupan yang sejahtera, bagi mereka dan bagi warga di sekitarnya.

(Buyung Wijaya Kusuma)

Diposkan pada Jurnal

Ketika Saya Dibuat Terharu oleh Penjual Koran

Minggu, 13 Desember 2009 sekitar pukul 5 pagi saya sudah merencanakan untuk beli koran. Lama sekali sepertinya barang cem itu tidak tersentuh sejak masuk tahun kedua perkuliahan. Pokoknya harus baca koran hari ini, kata saya dalam hati. Usai shalat subuh langsung deh cao keluar buat beli koran sama sarapan. Sesampainya di tukang koran di belokan Cisitu Lama, rada aneh nih yang ada cuma majalah. Pas saya tanya ternyata memang koran-koran itu belum datang, lagi diambil si agen, jadilah saya balik ke kosan.

Jam 6 pun datang. Saya keluar lagi ke tukang koran. Eh ternyata belum datang juga korannya. Akhirnya saya bungkus sarapan dulu terus balik lagi ke kosan. Tak terasa sambil nonton TV jam di HP menunjukkan pukul 07.50. Wah pasti korannya ‘dah sampai nih. Saya pun keluar lagi untuk ketiga kalinya buat beli koran.

Alhamdulillah ternyata koran-korannya sudah datang. Saat sedang melihat-lihat koran, saya terkejut dengan sebuah kertas bergambar di samping bapak penjual koran. Itu adalah kertas ukuran A3 dengan lambang angkatan saya, Teknik Lingkungan ITB 2008 (Bhupalaka). Jelas aneh, kok ada di sini? Saya bertanya-tanya dalam hati.

Saya menanyakan pada si penjual koran darimana gambar tersebut berasal. Beliau yang sudah separuh baya menjawab, “Oh waktu itu jatuh, Dek, dari mobil pas lagi lewat mobilnya.”

Saya meraih gambar yang masih berada dalam plastik tersebut. Wow. Ternyata di dalamnya tak hanya lambang angkatan tapi ada juga lambang HMTL. Saya pun teringat saat-saat menjelang Pengabdian Masyarakat (PM) angkatan pada tanggal 22 November 2009 lalu.

Pagi-pagi di hari pengmas, Inad dan Becky, selaku anggota Bhupalaka yang dapat tugas nge-print lambang angkatan dan HMTL untuk dipajang di spanduk PM sempat panik gara-gara kedua lambang tersebut (yang sudah di-print, pastinya) hilang.

Oh…ternyata jatuh di dekat basecamp toh, jawab saya dalam hati.

Pastinya pula bapak penjual koran itu merasa aneh, tiba-tiba ada yang menanyakan gambar temuannya. Beliau pun bertanya,

“Itu punya Adek? Ambil ‘aja. Saya teh waktu itu sempat ngejar mobilnya tapi ga kekejar. Jadi saya simpan siapa tahu ya Dek, dicari lagi sama yang punya.”

Saya : “Ini kapan ya, Pak jatuhnya?”

Beliau : “Oh lama sekali, Dek. Ga tau…seminggu mungkin ada.”

Saya :”Ini Bapak simpen terus?”

Beliau :”Lha iya dibawa pulang. Tapi kalau siang suka saya tempel itu di tiang itu, Dek…(sembari menunjuk tiang besi setinggi kira-kira 1,5 meter) siapa tahu yang punya mau ambil lagi. Kasian, Dek, yang punya pasti cari-cari.”

Saya berpikir sejenak. PM itu tanggal 22 November, hari ini tanggal 13 Desember. Mungkin saya tidak pernah sadar gambar itu dipajang, karena memang saya tidak pernah/jarang pulang siang hari ke kosan. Kalau dihitung, berarti sudah 3 minggu lambang ini hilang. Dan Bapak ini dengan murah hati berkenan menyimpan plus menaruhnya di tiang agar terbaca oleh kendaraan/orang yang lewat jalan tersebut, setiap hari, mungkin. SELAMA TIGA MINGGU. Subhanallah.

Beliau berkata lagi, “Kenal sama yang punya, Dek?”

Saya :”Iya, Pak. Kebetulan temen saya ‘dah lama bilang dia kehilangan gambar kayak gini.”

Beliau :”Oh ya ambil ‘aja, Dek.”

Usai membayar koran, saya cao ke kosan lagi bersama lambang Bhupalaka dan HMTL di tangan. Plus perasaan terharu atas perlakuan si Bapak Penjual Koran terhadap benda di tangan saya ini.

Apa jadinya kalau bukan bapak itu yang menemukan gambar ini? Kalau orang lain sepertinya sudah masa bodoh, termasuk saya, mungkin. Ya gimana, 3 minggu tanpa ada petunjuk orang yang punya, gitu. Dibawa pulang ke rumah dan dibawa balik lagi ke tempat kerja (baca: stand koran) plus dipajang di tiang. Kurang mulia apa perlakuan beliau terhadap barang yang datang padanya entah darimana itu?

Alhamdulillah pagi-pagi saya sudah diingatkan lagi untuk bersyukur. Bersyukur bahwa masih banyak orang-orang baik di dunia ini. Dan saya mendapat pelajaran dari salah satu orang jenis itu bahwa segala kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas pasti mendapat jawaban dari Allah berupa perantara apapun.

Saya tahu saya bisa menjadi perantara bagi Bapak penjual koran tersebut.

Saya kembali tak berapa lama untuk memberinya sedikit rezeki sebagai tanda terima kasih. Terima kasih yang utama adalah bukan atas jasanya menjaga benda milik angkatan saya, tapi kemuliaan dan keikhlasannya perlakuannya terhadap benda yang bukan miliknya serta pengajaran yang ia berikan pada saya dan teman-teman yang saya bagi kisah ini.

Mungkin kamu bisa berpikir hal ini berlebihan. Tapi setidaknya saya mau jujur, bagi saya, orang seperti beliau jarang saya temukan dalam kehidupan saya.

Bandung tepatnya di kosan sambil baca koran yang baru dibeli, 13 Desember 2009 pukul 09.23