Diposkan pada Poetry

Hijrah Seorang Hamba

edittt

Seorang hamba tidak beranggap duniawi bersifat sementara

Karena yang sementara adalah yang melenakan

Kasur ambisi menenggelamkan tubuh jadi lara

Tongkat impian menyeret pikiran jadi lupa

Catatan kesuksesan mencoret jiwa jadi bata

 

Kalau tiba satu waktu

Ketika bisikan nama Allah Taála merasuk bergetar ke dalam kalbu

Seperti sari terserap organ, teralirkan melalui pembuluh darah berhulu

 

Seorang hamba mau berseru

Aku jatuh, sangga-Mu tak pernah runtuh

Aku merintih, Kau selalu dengarkan peluh

Aku sebutir pasir, kuasa-Mu manifestasi alam semesta

Aku tidak mampu, Engkau Maha Perkasa

 

Kalau tiba satu waktu

Bisikan rintihnya menghembuskan nafas kekhilafan

Gema suaranya meluapkan seru taubat

Gemetar tangannya menengadah minta-minta ampunan

Ialah seorang hamba berharap hijrah

.

.

.

Groningen, 27 Mei 2017 21.15, menghadap jendela, menunggu berbuka

Sajak tentang alim dari bukan orang alim untuk meramaikan Ramadhan 1438 H

 

Iklan
Diposkan pada Short Story

Negeri Di Awan

Tulisan ini saya dapat ketika sedang browsing pada tahun 2007, waktu masih kelas 2 SMA kalau tidak salah. File ini terselamatkan karena saya simpan di MP3 Player saya yang masih bertahan sampai sekarang. Untuk ukuran anak SMA, tulisan ini sangat bagus menurut saya kala itu. Sekarang, ketika membaca ulang sepertinya menjadi biasa saja karena sudah muncul banyak tulisan-tulisan sejenis. Biarpun begitu, tetap saja sajak ini sangat berkesan (terutama bagian Bahasa Indonesia, Matematika, dan Arsitektur). Selamat membaca!

Sumber : Unknown

Dokumentasi Pribadi
Dokumentasi Pribadi

Teruntuk Indonesiaku

 

Salam Sejahtera Selalu,

Hai Indonesiaku, bagaimana kabarmu ?

Sebelumnya, maaf aku tidak menulis hari, tanggal, bulan, juga tahun. Sebab, di negeri baruku, negeri di awan, tidak pernah ada perhitungan tentang itu. Juga maaf, baru sekarang aku bisa mengirim surat sebab negeri baruku sangatlah indah hingga wajar kalau aku lupa tentang Tanah Air Indonesia yang sangat membosankan.

Di negeri baruku, negeri di awan, kehidupan sungguh sangat indah. Pemimpin kami, Penguasa Seluruh Alam. Seluruh warga patuh pada Firman-Nya. Ia bukan seorang lelaki yang gila tahta dan kuasa, sebab kekuasaan-Nya adalah tak terbatas. Ia tak mempunyai keturunan yang serakah. Yang selalu berusaha menumpuk harta. Ia juga bukan wanita gendut bertahi lalat yang hanya bisa tersenyum. Yang berjalan terseok-seok memikul nama besar bapaknya.

Di negeri baruku, negeri di awan, kami tak terpisah oleh Suku, Agama, Ras atau Golongan. Kami hidup berdampingan. Bebas dari ancaman bom, kerusuhan, apalagi apalagi yang namanya pemberotakan bersenjata. Sebab itu, kami tak perlu Brimob, Paskhas, Kopassus, bahkan Laskar Jihad atau Pam Swakarsa sekalipun.

Di sini, hutan kami hijau sebab tak ada HPH, juga penebang liar. Kami sangat bebas dari ancaman banjir. Siang, kami disinari mentari, disejukkan oleh hembusan angin. Kami tak perlu AC atau sekadar kipas angin. Malam kami diterangi cahaya rembulan, dihiasi gemerlap bintang bintang. Jadi, kami tak pernah dipusingkan oleh ancaman kenaikan tarif dasar listrik. Sebab kami memang tak butuh listrik. Di sini, juga tak ada gedung bertingkat. Rumah kami tak perlu dipagari tembok yang tinggi. Suara kami selalu terbawa angin. Jadi, kami tak butuh telepon. Persetan dengan ancaman kenaikan tarif telepon 2003.

Yang lebih mengayikkan, di sini, kehidupan terus mengalir seperti air. Kami berjalan menelusuri pelangi. Tak pernah ada kemacetan yang membosankan. Dapat dipastikan, di kiri-kanan jalan kami, tak pernah ada bendera hijau, merah, kuning yang semrawut. Juga tak ada spanduk yang mengotori. Kehidupan kami serba kecukupan karena tak pernah ada korupsi. Anak cucu kami juga tentang karena kami tidak dibebani pinjaman hutang luar negeri.

Oh ya, bagaimana keadaan Ibu Kota Tanah Air Indonesia saat ini ? Masih terbitkah koran yang namanya lampu merah itu ? Lalu, bagaimana caranya supaya aku bisa berlangganan ? Sebab, di negeri baruku,  tak ada yang namanya copet, jambret, garong, maling, atau pemerkosa. Jadi tak ada berita tentang itu. Kehidupan seks kami juga sangat mengasyikkan. Tentunya kami tak butuh iklan Mak Erot dkk.

Di sini, di negeri diawan, tak ada penunggang banteng lapar bertanduk lancip yang mengancam dengan sorotan mata merah. Juga tak ada pohon beringin yang angker. Yang dihuni oleh iblis-iblis laknat. Juga tak ada pinokio lapar dkk. Jadi, uang kami aman dan subsidi berjalan lancar. Sekolah tak mengenal uang SPP, uang gedung, atau siluman lain-lain. Jadi, kami tak perlu membaca berita provokatif seperti isi koran Rakyat Merdeka.

Di sekolah, anak kami belajar dengan santai. Sebab mereka hanya mengenal tiga pata pelajaran. Pelajaran Bahasa, Matematika, Asitektur. Dari pelajaran bahasa, mereka benar-benar tahu bagaimana berbahasa yang baik dan benar. Bukan baik tapi tidak benar atau benar tapi tidak baik. Karena guru bahasanya lebih ahli dari Anton W. Kusuma. Bahkan lebih ahli dari JS. Badoedoe. Dari pelajaran matematika, anak kami benar-benar bisa menghitung dengan benar sebab mereka tidak diajari menghitung komisi atau catut mencatut. Dari pelajaran Arsitektur, mereka benar-benar tahu bagaimana merencang sebuah kota yang berwawasan lingkungan. Bukan kota yang penuh sampah, limbah serta polusi.

Aduh, maaf, sungguh panjang ceritaku. Bagaimana kabar Republik Indonesia sekarang ? Masih adakah pengamen, pengemis, atau pemeras yang selalu mengganggu itu ?

Kurasa, cukup sampai di sini bakar dariku. Jika ada waktu, kirimlah kabar tentang Indonesia untukku. Bagaimanapun, aku rindu tanah tempat air kelahiranku. Tapi, bagaimana caranya. Sebab aku tak boleh memberitahu dimana alamatku di negeri baruku, negeri di awan. Sebab, maaf, negeri baruku tertutup untuk mereka yang tak pernah bersujud dengan ikhlas mengharap ridho-Nya.

Salam

 

Diposkan pada Short Story

Sahabat Sedang Bersembunyi

Senja menawan ialah tampilan guratan-guratan emas yang menjamahi situasi pagi. Mereka seperti berpasangan. Tanpa kemunculan senja maka tak bisa disebut pagi hari. Fakta di baliknya, matahari mengendalikan semua.

Begitu pula dengan makhluk berakal. Tanpa akal maka tak bisa disebut manusia. Terbenam dalam tengkorak, otak sebagai pengendali.

Alkisah dalam diri setiap manusia memiliki sahabat sebagai hasil transformasi getaran sel abu-abu dalam cerebrum. Organ yang menyusun keinginan dan membuat manusia mengharapkan pengakuan.

Sahabat ini menyertai. Bersemayam dalam tubuh tapi tak tampak.

Sayangnya sahabat datang dan pergi sesuka hati.

Pastilah tiba masanya ketika manusia merasa pikirannya mati, walau sebenarnya hanya stagnan tanpa keberanjakan posisi. Saat itulah sahabat menghilang. Jika ruh manusia dapat digambarkan sebagai kobaran api, maka kepergian sahabat membuatnya ciut menjadi selintas panas. Sunyi.

Sahabat menghilang, Tapi ia bukannya pergi, hanya sembunyi. Di balik papan waktu, dengan teganya menyeret-nyeret asa manusia.  Huuu.

Ke mana kau, motivasi?

Diposkan pada Poetry

Sajak 1 Jam, Iseng #Indonesia65

65.

Masih aku melihat dengan mata hijau.

Bukan sesedikit dua-tiga orang.

Berjuta.

Senyum anak-anak di sepanjang  jalan raya.

Tidak di bangku sekolah.

Menapaki hidup keras mengemis, menjual tangis, mengharap belas kasih.

Dengan ibunya berpeluh, menggaruki dahi.

Lengah mencari sesuap nasi.

Sambil terus menunggu beras kiriman dari kantor orang berstempel. Siapa tahu.

Bapaknya mondar-mandir dengan kemeja sebulan. Bau.

Bermodal ijazah, yang mungkin palsu.

Atau hasil enam, sembilan tahun bertatapan dengan pengajar yang tak jauh berbeda.

Baik yang menghadap papan tulis, baik yang berdiri membelakanginya. Bernasib sama.

Ia dan keluarganya. Dan tetangganya.

Dan jiwanya.

Yang luluh-lantah meratap di balik gedung bertingkat.

Mereka itu para lulusan muda.

Yang mengaku menjunjung idealisme tapi susut terhadap realita.

Menganggur.

.

Lalu orang berdasi berkoar.

Bergerak. Membenahi yang rusak.

Tapi bagai semut di pelupuk mata, tak disentuhnya.

Rakyat yang protes di balik layar 14 inchi.

Barikade yang menutupi jalan. Mereka yang mogok makan.

Orang capek terhadap janji, yang menulisi JUJUR.ADIL.TEGAS. 5 kaki di atas gedung orang-orang yang tidur saat pemimpinnya berbicara.

Yang kantornya mirip kura-kura, kinerja selamban hewannya berjalan.

Kumpulan orang-orang mengatasnamakan RAKYAT.

Tumpuan 250 juta kepala sebenar-benarnya RAKYAT.

Masih aku melihat dengan mata hijau.

.

Jauh dari keluhan, ucapan ketidaksenangan atas bangsaku.

Sepenuh hati aku masih ingin melakukan sesuatu.

Sesungguhnya tidak bisa atas hal-hal besar.

Namun untuk saat ini dapat ‘ku berpikir, dengan itu selemah-lemahnya iman perjuangan.

.

Karena nenek moyangku berkata bahwa sesungguhnya.

Menatap ragam indahmu sedalam lautan.

Tak ubahnya menyelami rupawi surga dunia.

Menyusuri alur Nusantara.

Dengan keramahan dan senyum ikhlas rakyatnya yang dielukan.

.

Indonesia.

Semoga elokmu kembali dan abadi.

Semoga harummu mewangi lagi.

Oleh aku dan kau, calon penegak pilar yang t’lah runtuh.

.
170810 – 10.17, di atas kasur dari orang yang belum merasakan asam-garam kehidupan indonesia, jadi maaf saja kalau sok tahu.