Diposkan pada Jurnal

Berjalan Bersama Para Teladan

Hari Pendidikan Nasional merupakan salah satu momentum yang relevan apabila dikaitkan dengan status kawan-kawan seperjuangan saya: pelajar. Pagi di tanggal 2 Mei ini pun media sosial diawali oleh seliweran catatan Bapak Anies Baswedan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, yang berisi motivasi terhadap para pelajar di luar negeri. Terima kasih, Pak! Hari ini memang waktu yang tepat untuk melakukan refleksi terhadap aktivitas kami, termasuk saya yang ingin menulis sesuatu terkait pelajar.

Ki Hajar Dewantara
Sumber: indonesiana.merahputih.com

 

Pendidikan itu menyangkut kebersamaan

Dalam paradigma sebagian besar masyarakat Indonesia, istilah ‘pendidikan’ melekat dengan kemampuan intelektual, yakni pendidikan formal untuk mengenyam bangku sekolah dasar hingga pendidikan tingkat tinggi. Tidak salah, memang. Namun, kemampuan memperoleh pendidikan formal tersebut kemudian dianggap menjadi sebuah pencapaian seorang manusia. Bisa masuk SMA, alhamdulillah. Kuliah S1, luar biasa! Kuliah S2 dan S3? Dewaaa!

Tidak salah, memang. Namun, mari kita renungkan kembali makna peringatan Hari Pendidikan Nasional ini. Berusaha menyelami pikiran Ki Hajar Dewantara dan paguyubannya pada tahun 1922, saya beranggapan bahwa tujuan luhur pendidikan yang ingin beliau tanamkan melalui Perguruan Taman Siswa adalah untuk membangun kesadaran massal. Kesadaran akan tanggung jawab berbangsa dan bermasyarakat. Dengan munculnya kesadaran tersebut, maka terpantiklah keinginan untuk maju. Hal ini selaras dengan semboyan Patrap Triloka yang mereka gulirkan.

Ing ngarsa sung tulada – yang di depan memberikan teladan

Ing madya mangun karsa – yang di tengah membangun kemauan

Tut wuri handayani – yang di belakang memberi dukungan

Pedoman Patrap Triloka tersebut melibatkan tiga posisi berbeda dan tidak fokus untuk membangun insan tertentu (diri sendiri). Hal ini jelas menyiratkan bahwa pendidikan yang ingin digelar oleh para pendiri Taman Siswa adalah untuk menjalankan sebuah sistem bersama demi kemajuan. Sebutlah pada masa kini: bangsa Indonesia.

Belajar dari para teladan

Ingatkah bahwa seragam SD kita kerap diberi emblem tut wuri handayani? Atas dasar itu saya rasa Patrap Triloka dapat dikaitkan dengan tingkat pendidikan di Indonesia: posisi belakang untuk sekolah tingkat dasar, posisi tengah untuk sekolah tingkat menengah, dan posisi depan untuk sekolah tingkat tinggi.

Menarik ketika mengaitkan konsep ing ngarsa sung tuladha dengan kita, para pelajar. Tren kian berubah, begitu pula paradigma. Saya rasa istilah teladan dalam benak pemuda/i erat kaitannya dengan orang-orang tua. Padahal, pemberi teladan sesungguhnya adalah siapapun yang mampu.

Ibarat ilmu padi. Seiring dengan bertambahnya pengetahuan, maka (sepatutnya) semakin mapan kemampuan berpikir seseorang yang berefek pada semakin tinggi pula tingkat kesadaran (mengulangi paragraf tiga). Semakin tinggi kesadaran, kian bertambah lah tanggung jawab untuk menjadi seorang teladan.

Tidak ada cara mendidik yang paling efektif kecuali dengan memberikan contoh. Maka tidak perlu kita kotakkan pendidik sebatas guru, karena kita semua mampu menjadi pendidik. Pendidik tak langsung, seseorang yang dengan keteladanannya (sung tuladha) mampu menstimulasi timbulnya motivasi orang lain (mangun karsa) untuk turut maju bersama mereka yang mendukung (handayani).

Mengejar gelar bukanlah sebuah tujuan akhir, melainkan proses. Oleh karena itu, Kawan… mari kita maknai masa perkuliahan sebagai proses untuk menjadi teladan. Dan ingat-ingat kembali setelah masa ini selesai, jangan berakhir untuk pribadi. Karena keinginan luhur para pencetus adalah untuk memungkinkan kita berjalan bersama atas nama bangsa Indonesia.

2 Mei 2016

Amsterdam

Iklan
Diposkan pada Jurnal

Bahasan Sepintas tentang MSc Water Technology

Halo mas/jeng! Kali ini saya mau melanjutkan kisah ngebolang saya di Belanda. Kalau postingan terakhir ngomongin soal kota tempat saya berdomisili (Welkome naar Leeuwarden), kali ini saya mau membahas tentang jurusan yang sedang saya geluti, yakni: Master of Science Water Technology (Joint Degree) atau selanjutnya disingkat MWT.

Jurusan ini dibangun atas kerja sama tiga universitas (Wageningen University/WUR, University of Groningen/RUG, dan University of Twente/UT) serta Pusat Penelitian Pengolahan Air di Eropa, Wetsus, dalam bidang teknologi pengolahan air. Sounds ribet ya? Nggak kok, berikut ini bakal saya jelasin lebih detail mengenai bentuk kerja sama tiga universitas dan badan riset tersebut.

 

ADMINISTRASI, FASILITAS, DAN MASA STUDI

Perihal administrasi untuk program MWT sepenuhnya dikelola oleh pihak Wageningen University. Dimulai dari tahap paling awal, yaitu kalau mas/jeng mau apply program ini, maka syarat pendaftaran bakal mengikuti admission process sesuai standar WUR. Begitu pula setelah diterima. Pembayaran tuition fee, visa, dsb akan dikelola oleh universitas yang satu ini. Jadi, boleh dibilang WUR adalah induk dari program MWT.

Satu hal yang keren (cie) dari masuk program ini adalah mas/jeng akan officially enrolled sebagai mahasiswa dari tiga universitas yang sudah saya sebutkan, sehingga bisa punya tiga Student Card sekaligus. Kalau sudah officially enrolled, otomatis sebagai student mas/jeng punya akses baik online maupun offline terhadap fasilitas-fasilitas yang dimiliki masing-masing universitas. Sebagai contoh saya bisa akses library RUG, download software dari UT, dsb.

Masih berkaitan dengan penjelasan mengenai administrasi. Masa studi WUR untuk jenjang magister adalah dua tahun. Oleh karena itu, program MWT juga mewajibkan kami untuk mengenyam bangku perkuliahan selama dua tahun dengan timeline studi: 1 tahun academic courses, 9 bulan tesis dan 3 bulan internship.

 

MATA KULIAH, BACKGROUND S1, DAN METODE PENGAJARAN

Yap. Kalau masih bingung mau melanjutkan magister di mana, maka saran saya, pertimbangan paling utama adalah coba pahami mata kuliah yang diajarkan. Siapa tahu banyak kecocokan dengan minat mas/jeng dalam mendalami suatu bidang.

Dalam program MWT sendiri terdapat 13 mata kuliah (11 compulsory dan 2 elective). Namun, jumlah ini bisa berubah tergantung konsultasi dengan Ketua Program. Bisa kurang, ya bisa nambah pula menyesuaikan hitungan kredit. Overall, berikut list mata kuliah compulsory yang ditawarkan:

  1. Global Water Cycle
  2. Mathematical Principles
  3. Physical Chemistry
  4. Transport Phenomena
  5. Colloid Chemistry
  6. Chemical Reactor Design
  7. Water Microbiology
  8. Multicomponent Mass Transfer in Membrane Processes
  9. Bioreactor Design
  10. Biological Water Treatment and Recovery Technology
  11. Business Case Design Project

Nah setelah uji coba selama 3 bulan, ternyata jurusan ini lebih fokus kepada proses. Jadi, paling cocok buat yang punya background Chemical/Process Engineering. Sebagian besar teman sejurusan saya pun menyandang gelar lulusan Teknik Kimia. Tapi yaa bagi yang minat mah jangan surut semangat. Background S1 saya Teknik Lingkungan (ya jurusan agak nyambung kedua setelah Teknik Kimia sih) tapi masih bisa catch-up kok.

Paragraf berikut ini saya mau bahas tentang dosen. Demikian halnya dengan bentuk kerja sama, dosen-dosen dari program saya pun berasal dari tiga universitas. Hmm… sebetulnya sebagian besar dosen saya berasal dari Wetsus, namun beberapa dari mereka pun terdaftar sebagai dosen (bisa dibilang full time di universitas dan part time di Wetsus), sedangkan beberapa mata kuliah berasal dari non Wetsus (alias benar-benar dosen full time mengajar).

Walaupun diajar oleh SDA dari tiga institusi pendidikan, ruang kuliah saya cuma satu. Jadi, system di MWT masih bukan moving class melainkan moving lecturer :p alias dosen yang datang ke Leeuwarden. Eits tapi hal itu berlaku hanya untuk compulsory course. Untuk elective course, saya yang harus mengunjungi sendiri lokasi institusinya. Misal, saya berencana mengambil elective course “Biobased” yang dibuka oleh RUG. Maka, saya harus pergi ke Groningen untuk mengikuti perkuliahan yang dimaksud dan otomatis bakal sekelas bersama mahasiswa RUG lain.

 

WETSUS: KEYWORD PROGRAM MWT

Ehm kerap saya menghadapi pertanyaan, ”…tapi kamu kan anak WUR, kenapa kuliah di Leeuwarden?” Jawaban atas pertanyaan ini sesungguhnya cuma satu, tak lain tak bukan karena Wetsus berlokasi di Leeuwarden (Website). Wetsus dengan embel-embel European Centre of Excellence for Sustainable Water Technology merupakan pusat penelitian bidang pengolahan air skala Uni Eropa. Badan ini memiliki fungsi utama melakukan riset-riset terkait teknologi pengolahan air.

Wtsus outside
Pict. 1 Gedung Wetsus tampak luar (source: Web Wetsus)
Wtsus inside
Pict. 2 Gedung Wetsus tampak dalam (source: Web Wetsus)

Tak ada riset tanpa kebutuhan dan funding. Yap, riset-riset yang dilakukan di Wetsus akan dilakukan jika dan hanya jika European Union (pemerintahan Uni Eropa) atau terdapat perusahaan, yang me-request penelitian dengan topik tertentu.

Request? Hmm…terdengar fluktuatif yaa. Suatu saat akan low demand kah?

Nope, setidaknya menurut saya untuk bertahun-tahun ke depan. Belanda dan banyak negara di Uni Eropa ini cinta air dan mereka sadar potensi yang terdapat pada air limbah. Jadi, room for improvement akan selalu ada. Which means topik-topik penelitian akan mudah bermunculan.

Penelitian yang efektif-efisien nggak mungkin tercapai tanpa dukungan fasilitas yang memadai. Nah, ehm… kalau kata senior, peralatan penelitian di Wetsus ini termasuk yang paling canggih di masa kini (konon kabar sih begitu ya, konon kabarrrrr). Tapi saya nggak bisa membuktikan dan membandingkan karena belum dapat kesempatan join penelitian di Wetsus hahaha. Ya at least omongan senior ini bisa membangkitkan kembali semangat yang surut kalau mengingat kuliah harus di Leeuwarden, sebuah kota yang jauh di utara antah berantah :))

 

Oke, curhat mengenai informasi umum jurusan yang sedang saya geluti sepertinya sudah cukup. Last but not least bagi siapapun yang numpang lewat baca tulisan ini dan sedang galau menentukan jurusan (kalau mau lanjut kuliah), saya cuma mau bilang satu hal:

Luruskan niat dan pasang prioritas utama mas/jeng untuk memperdalam bidang ilmu yang diminati, sehingga ketika mencari-cari jurusan tujuan nggak kena banyak distraksi. Tempatkan faktor lokasi studi sebagai pertimbangan di urutan sekian (kecuali daerah studi yang mas/jeng minati merupakan daerah konflik, ya kalau gitu case ini naikin jadi top priority of consideration lah). Oh iya, banyak cari tahu tentang jurusan yang mas/jeng minati juga ya untuk meminimalisir culture academic shock.

Baiklah. Sampai jumpa di tulisan berikutnya (kalau nggak mager nulis)

P.S.: Tulisan ini semata-mata dibuat karena iseng, sekaligus untuk promosi jurusan hahaha

 

 

Diposkan pada Jurnal

Welkome naar Leeuwarden!

Halo mas/jeng! Lama banget ya sejak tulisan terakhir saya posting di blog. Sekarang (niatnya sih…) mau rajin nulis lagi. Yap kali ini saya mau cerita tentang “rumah” baru saya. It’s official! Mulai tanggal 19 Agustus 2015 lalu, saya pindah ke sebuah kota bernama Leeuwarden untuk melanjutkan studi master di Belanda.

Di Mana Tuh Leeuwarden?

Hmm… pertanyaan di atas pastinya jadi default respon pertama kalau teman-teman nanya di mana saya bakal kuliah. Berbeda dengan Amsterdam, Den Haag, Leiden, Delft, Wageningen, Groningen, atau beberapa student city lainnya yang sudah terkenal sejak puluhan tahun lalu, Leeuwarden memang kalah pamor sih hehehe. Alasannyaaa, karena memang kota ini bisa dibilang cukup kecil untuk menampung banyak perguruan tinggi. As far as I know, hanya ada 3 universitas ternama (Stenden University, Van Hall Institute, dan NHL University) serta 3 master program yang ‘numpang’ kuliah aja di sini, yaitu MSc Water Technology (joint degree antara WUR, RUG, dan Univ of Twente), MSc Energy & Environmental Management (Univ of Twente), dan MA Multilingualism (RUG).

Kalau mas/jeng lihat peta di bawah ini, Belanda punya 12 provinsi dan Leeuwarden adalah ibukota dari salah satu provinsi bernama Friesland. Provinsi ini merupakan provinsi paling utara (beda dikiiit aja sama Groningen). But I’ll explain later tentang isi kota ini ya.

Nederland Map

Peta Belanda

Source: http://www.startmaps.com/nederland-maps

Overview Sedikit Kenapa Mau ke Leeuwarden

Saya sudah diterima program MSc Water Technology sejak tahun lalu, tapi belum beruntung dapat sponsor a.k.a beasiswa karena teledor waktu seleksi hahaha. Oleh karena itu, saya coba apply beasiswa lagi dan alhamdulillah dapat LPDP.

Pertama kali lihat overview program MSc Water Technology di akhir tahun 2013, saya langsung tertarik dan nggak mau pindah ke lain hati (lebay). Walhasil, saya cuma apply program ini tanpa melirik program lain. Kenapa? Karena program ini punya kerja sama dengan Wetsus Academy, yakni pusat penelitian teknologi pengolahan air di Eropa. Selain itu, Wetsus Academy juga menjadi semacam “jembatan” antara produk riset dan applied researches among companies. Dengan embel-embel ini, saya jadi punya ekspektasi untuk bisa belajar lebih dalam tentang the business needs, entrepreneurship, dan applied researches dalam sekali jalan.

Nah, sebetulnya waktu apply saya benar-benar nggak tahu kalau program ini bakal berjalan di Leeuwarden. Saya kira bakal di Wageningen, udah ngebayangin bakal punya banyak teman. Untungnya ada 1 teman kuliah saya yang udah duluan berangkat dan ngasih tahu kalau program ini dilaksanakan di Leeuwarden. Walhasil cari kabar lah saya tentang Leeuwarden dan langsung hati ini mencelos (tsaaah) karena ternyata kota ini identik dengan ‘sepi’. Untunglah motivasi masih lebih besar, jadi saya tetap lanjut apply program ini untuk kedua kalinya. So, it’s actually not the Leeuwarden I was looking for ya :p

IMG20150825170448

Gedung Wetsus Academy

Source: Sausan A.M.

Sederhana, Rapi, dan… Sepi

Itulah 3 keywords yang terlintas di benak saya setelah membandingkan Leeuwarden dengan beberapa kota lain di Belanda. Sederhana karena less tall building development, bahkan bangunan tertinggi di sini cuma 115 meter lho. Rapi karena memang benar-benar rapi: nggak ada ilalang tumbuh sembarangan, tata letak bangunan oke, dll. Saya berani bilang rapi karena sudah membandingkan dengan Amsterdam, Den Haag, Delft, dan Wageningen hahaha. Kesan terakhir: Sepi. Sepiii banget, bahkan mas/jeng kalau main ke sini bisa dengar suara sepeda dikayuh dari jendela kamar kalau udah tengah malam. Selain sepi suasana, sepi teman-teman nggak lupa saya sebut juga ya 😦

IMG_20150822_180619

Salah Satu dari Sekian Banyak Kanal di Leeuwarden

Source: Sausan A.M.

Kultur di Friesland

Leeuwarden dinobatkan sebagai European Capital of Cultural City oleh European Union (EU) untuk periode tahun 2018. Kota ketiga di Belanda setelah Amsterdam dan Rotterdam yang pernah dapat kesempatan bergengsi ini. Saya nggak tahu juga sih kenapa kota ini yang dipilih.

Provinsi Friesland merupakan provinsi yang terakulturasi budaya Frisian. Mereka punya bahasa utama di samping Dutch, yakni Frisian, dan benar-benar memilih menjadi Frisian dibanding Dutch. Misal, kenalan dengan seseorang, maka saya tanya ‘Are you Dutch?’, bisa aja mereka jawab ‘No, I’m Frisian’. Yah begitulah…

Kalau terkait cultural event, provinsi Friesland ini punya acara serba “Eleven City Tour”, baik ice skating, canal tour, bus tour, dll. Yang paling terkenal adalah ice skating menyusuri sungai dan kanal yang membeku (>200 km lho, takes time kira-kira 30 jam), tapi sayang sekali event ice skating ini terakhir diadakan pada tahun 1997 karena setelahnya lapisan es sepanjang kanal kian menipis. Mungkin kena pengaruh climate change. Padahal pengen banget ngeliat event ini digelar. Konon saking dingin dan kepinginnya sampai di garis finish, peserta ice skating sampai nggak sadar kalau jempol mereka udah nggak ada -.-

Okelah kayaknya sekian dulu cerita tentang tempat tinggal baru saya. Next time pasti dilanjutin karena masih banyak cerita yang bisa di-publish tentang Leeuwarden, sebuah kota yang sepi tapi love-able 😀

Daaah mas/jeng! Bedankt en tot ziens

Diposkan pada Jurnal

You Cannot Get Output If You Don’t Give Input

The title is a nice quote from my teacher which I have heard just an hour before I wrote this article. Teacher? Yes, teacher. This evening I had just attend an IELTS class near by my house after work.

Todays materi was “How to make an essay” based on IELTS : Writing Section. After 2 hours filled with provision of materi and related discussion, the last an hour, off course, became the closing. My teacher asked us to raise our frequency of practicing. These were some he said.

IELTS is a proficiency test. What is proficiency? It means ability.
What I would give along the course, cannot raise your ability from 7 to 9, only up to 7.5. Because it depends on your practices.

You cannot get output if you don’t give input

You cannot be good at writing if you don’t do reading
You cannot be good at speaking if you don’t do listening

Then he explained the logics.

***
There were similar quotes from authors, academics, and many professionals out there but surely this is the first time I got the logics of those quotes.

How could reading leads you being good at writing? Simple. Practice reading
1. Enriches your vocabularies
2. Make you understand proper grammars
3. Giving you examples of elaborations
4. Giving you ways to coherence each sentences

How could listening leads you being good at speaking? Simple. Practice listening
1. Giving you example how to pronounce words
2. Giving you example ways of deliver ideas

He added, “…although may you will only imitate the style of both writing and speaking, but at least you know how to write and how to speak.”

I know maybe when mas/jeng read this article, mas/jeng would say ‘mmm…just that?’ Yeah but when my teacher explained those things, I just got amazed. I cannot remember all the words he said but those were very interesting, if mas/jeng were there. I’m happy for attending this class 😀

Well, input just as the same as output. Let’s more practice!

Source: esol.britishcouncil.org
Source: esol.britishcouncil.org
Diposkan pada Jurnal

[Quote] Pendidikan

Harusnya pendidikan itu…

1. Mempertajam kecerdasan

2. Memperkokoh kemauan

3. Memperhalus perasaan

 

Maka, yang semestinya diajarkan itu …

1. Pendidikan ketrampilan dan ilmu pengetahuan

2. Pendidikan berorganisasi, bergaul, dan berdemokrasi

3. Pendidikan yang berorientasi ke bawah (grass root)

 

– Eko Prasetyo-

Diposkan pada Jurnal

Cerita KP dari Kota Reog

Ini postingannya ‘beda’ sama postingan saya sebelum-sebelumnya dari gaya tulisannya. Soalnya ini murni saya co-pas dari blog angkatan, yang isinya tentang sharing-sharing tempat KP. Selamat menikmati 😀

———-

Nah kali ini giliran gw cerita ttg KP gw. Jadi, gw KP di Pabrik Gondorukem & Tepentin di Desa Sukun, Ponorogo sonoan dikit dalam-dalam. Maksudnya, gw KP di pabrik yang nggak terletak di kota. Terus tau kan ini kota apa?

Kota Reyog Ponorogo, yang terkenal sama Dhadak Merak-nya itu lho si duo kepala singo-merak.

Di depan PGT ini ada PMKP (Pabrik Minyak Kayu Putih) nah gw tinggal di rumah Kepala PMKP yang cuma tinggal berdua sama istrinya. Anaknya dua-duanya sudah menikah dan satu tinggal di Makassar, satunya lagi jadi pegawai di PGT dan tinggal nggak seberapa jauh dari rumah yang gw tinggalin.

Hari pertama gw langsung disambut oleh seorang anak kecil lucu imut parah anaknya si anak kedua si Bapak Kepala PMKP namanya exel (mungkin gini tulisannya). Ini dia orangnya, ya jadi selama beberapa hari gw ditemani oleh malaikat kecil yang bisa gw cubit-cubit tiap sore. Thx God.

    

Hari pertama gw langsung diajak lihat proses produksi. Jadi apa itu gondorukem dan terpentin? Silakan googling sendiri. Pokoknya bahan dasarnya adalah getah pinus. Hari kedua gw lihat proses pengolahan limbahnya. Hari ketiga dst gw lupa urutannya gimana yang pasti gw sudah blablabla yang berhubungan dengan akademik:

  1. Jalan-jalan lihat proses penyadapan getah pinus, masuk ke hutan pinusnya betulan (sayangnya siang-siang #eh)
  2. Lihat ke PMKP juga alias pabrik yang bikin minyak kayu putih.
  3. Lihat ke pembakaran bahan bangunan – gamping karena di sana limbah padatnya dipake buat bahan bakar.
  4. Dll.

Kalau yang nggak berhubungan sama akademik, gw :

  1. Gw melewatkan atraksi reyog yang biasa dilaksanain malam-malam pas purnama di tanggalan jawa. Kemarin jatuh purnama tu pas tanggal 16 Juli malam dan gw nggak ke alun-alun kota buat nonton, karena gw baru tau kl purnama jatuh tanggal segitu esok harinya. Hiks.
  2. Makan siang tiap hari selalu ke kota naik mobil ngabisin pulang pergi sekitar menuju 1 jam, ditraktir sama pembimbing gw.
  3. Di situ nggak bisa interneeet 😦 Nah sekarang saat gw dah keluar dari desa, baru bisa deh nemu sinyal buat modem gw berjalan sebagaimana mestinya.
  4. Pembimbing gw kan cowok gitu ya, alumni T.Industri UGM 2004 terus suka ngomong-ngomongin tentang dunia perkuliahan UGM-ITB-UI gitu-gitu. Tapi untungnya juga beliau ni baru jadi alumni dan dari UGM pula jadilah gw bersyukur ada sedikit topik pembicaraan di luar urusan KP hahaha
  5. Nontonin ibu-ibu main voli di lapangan tiap sore. Sumpe deh jago-jago bet mainnya walaupun dah pada tua-tua. Ibu rumah gw yang paling jago keknya. Jadi, semakin ke sini tu ibu-ibu makin rutin latihan soalnya mau 17 agustusan dan karena puasa jadilah lombanya dimajuin jadi juli. Nanti tanding volinya antar desa dan desa ini tahun lalu juara 1 cewek voli, wuihihi seru ye kayaknya.
  6. Jadi di lahan pabrik gw itu baru ‘aja selesai dibangun GOR buat main bulutangkis kapasitasnya cuma 1 lapangan sih hehehe. Abis kelar bangun, langsung diadain turnamen bulutangkis sedesa. Mungkin gara-gara kagok nggak pernah main bulutangkis, banyak bapak-bapak/ibu-ibu yang pegal2 hahaha lucu banget ini banyak yang ngeluh sakit pergelangan tangan lah, itu lah…
  7. Gw sempat jenguk salah satu pegawai yang kecelakaan pas main bulutangkis di rumah sakit di kota. Jadi, mainnya kan ganda putra gitu ya terus dia di depan. Pas temannya mau mukul kock dari belakang, dia nengok ke belakang walhasil kenalah itu kocknya ke kepalanya sampai pendarahan. Aneh-aneh ‘aja deh ya.
  8. Gw pernah ngikut bikin kue putu ayu di 1 rumah pegawai. Terus gw bantuin bikin cendol di dapur kantor. Hahaha sekalian belajar masak deh.
  9. Gw ikut nemenin bapak rumah gw periksa ke dokter soalnya beliau ada masalah jantung gitu. Terus abis itu gw ditraktir makan :p
  10. Gw sempat kehilangan dompet!!! Pas lagi beli oleh-oleh di toko souvenir khusus Reyog Ponorogo, gw nggak sadar ternyata dompet gw jatuh di sana. Untungnya gw belum su’udzon (berburuk sangka) sama orang kantor. Setelah mumet menduga-duga, ada orang kantor yang ngasi tau gw kl ternyata dia abis ngecek ke toko souvenir yang kemarinnya w ke sana dan ada pesan yang ditinggalin buat gueee. Itu pesan dari orang yang nemuin dompet gw. Isinya nama, alamat dan nomor HP si penemu. Dia titip pesan ke mba-kmbak souvenirnya kl aa si pemilik alias gw, tolong ngehubungin dia.

Ceritanya gw siang itu langsung mau ke rumahnya ngambil tu dompet eh tapi pas gw telpon si penemunya bilan dompetnya dah ditaro lagi di toko. Alhamdulillah jadi gak perlu capek-capek ke rumahnya hahaha. Itu ya, gw jadi gak enak sama orang kantor soalnya kan gw pendatang dan pas banget gw yang kehilangan jadi gw takut bikin yang nggak enak-enak sama orang kantor.

Tapi untungnya mungkin gara-gara di desa jadi rasa kekeluargaannya dah terbangun kali ya. Waktu tau dompet gw ilang, mereka langsung bahu-membahu (ce’ileh) memastikan nggak ada orang kantor/pabrik yang (maaf) nyuri trus langsung gerak ke mana-mana bantuin gw nyari. Sampai nyusulin ke toko souvenir di kotaaa padahal gw-ny amasih adem ayem ‘aja nggak mikirin. Gila ini nih baru namanya KEBAIKAN (lebay version).

11. Terakhir adalah karena pembimbing gw satu-satunya bujangan di desa itu, gw jadi suka risih banget kl ketemu orang pas lagi bedua, trus tiba-tiba ditanya “oooh calonnya ya?” hahaha

-_________-

Nah sekian dulu deh soalnya dah banyakan nulisnya, oiya tema gw entah namanya waste-to-product atau daur ulang limbah gw nggak tau mana istilah yang lebih tepat dipake. Jadi, limbah getahnya ini ada yang bisa diolah lagi jadi produk yang berjenis sama tapi kualitasnya rendah. Adakah yang tau apa istilah yang lebih tepat? Trims

Have fun semua guys, yang akan, sedang, dan sudah KP selamat membuat laporan semoga cepat kelar.

Salam merak hehehe

Sausan A.M.

153 08 031

Diposkan pada Jurnal

Hari Kedua KP

Melaporkan dari ruangan 3×3 meter di desa Sukun. Hari ini hari kedua saya KP. Jadi, tadi siang saya diajak pembimbing buat lihat-lihat proses pengolahan limbahnya. Banyak nih limbahnya, ada yang padat ada yang cair. Yang padat itu serasah (daun pinus, bunga pinus, kayu pinus). Adapula yang cair dibagi-bagi jadi beberapa yaitu kotoran halus, air limbah, lumpur, dan getah pinusnya itu sendiri. Lalu perlakuannya masing-masing berbeda. Yang getah pinus dimasukin lagi ke dalam proses, yang air limbah diolah dalam IPAL, yang lumpur dibuang, yang kotoran halus alias jonjot diproses lagi jadi produk berkualitas rendah.

Tau gak? Melihat prosesnya saya kelabakan lho. Karena tema yang saya ajukan ternyata tidak adaaa. Maksudnya ada tapi pengolahannya sangat sederhanaaa. Yang limbah padat cuma dijadikan bahan bakar batu gamping.  Terus saya bingung deh. Kirain di sini limbah padatnya sudah punya sistem pengolahan sendiri untuk dibentuk atau diproses menjadi ‘sesuatu’. Eh ternyata cuma dilempar ke dalam perapian saja -______-

Tidak bisa menulis banyak-banyak deh akhirnya. Sekian.

15 Juni 2011 – 8an malam