Diposkan pada Jurnal

Berjalan Bersama Para Teladan

Hari Pendidikan Nasional merupakan salah satu momentum yang relevan apabila dikaitkan dengan status kawan-kawan seperjuangan saya: pelajar. Pagi di tanggal 2 Mei ini pun media sosial diawali oleh seliweran catatan Bapak Anies Baswedan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, yang berisi motivasi terhadap para pelajar di luar negeri. Terima kasih, Pak! Hari ini memang waktu yang tepat untuk melakukan refleksi terhadap aktivitas kami, termasuk saya yang ingin menulis sesuatu terkait pelajar.

Ki Hajar Dewantara
Sumber: indonesiana.merahputih.com

 

Pendidikan itu menyangkut kebersamaan

Dalam paradigma sebagian besar masyarakat Indonesia, istilah ‘pendidikan’ melekat dengan kemampuan intelektual, yakni pendidikan formal untuk mengenyam bangku sekolah dasar hingga pendidikan tingkat tinggi. Tidak salah, memang. Namun, kemampuan memperoleh pendidikan formal tersebut kemudian dianggap menjadi sebuah pencapaian seorang manusia. Bisa masuk SMA, alhamdulillah. Kuliah S1, luar biasa! Kuliah S2 dan S3? Dewaaa!

Tidak salah, memang. Namun, mari kita renungkan kembali makna peringatan Hari Pendidikan Nasional ini. Berusaha menyelami pikiran Ki Hajar Dewantara dan paguyubannya pada tahun 1922, saya beranggapan bahwa tujuan luhur pendidikan yang ingin beliau tanamkan melalui Perguruan Taman Siswa adalah untuk membangun kesadaran massal. Kesadaran akan tanggung jawab berbangsa dan bermasyarakat. Dengan munculnya kesadaran tersebut, maka terpantiklah keinginan untuk maju. Hal ini selaras dengan semboyan Patrap Triloka yang mereka gulirkan.

Ing ngarsa sung tulada – yang di depan memberikan teladan

Ing madya mangun karsa – yang di tengah membangun kemauan

Tut wuri handayani – yang di belakang memberi dukungan

Pedoman Patrap Triloka tersebut melibatkan tiga posisi berbeda dan tidak fokus untuk membangun insan tertentu (diri sendiri). Hal ini jelas menyiratkan bahwa pendidikan yang ingin digelar oleh para pendiri Taman Siswa adalah untuk menjalankan sebuah sistem bersama demi kemajuan. Sebutlah pada masa kini: bangsa Indonesia.

Belajar dari para teladan

Ingatkah bahwa seragam SD kita kerap diberi emblem tut wuri handayani? Atas dasar itu saya rasa Patrap Triloka dapat dikaitkan dengan tingkat pendidikan di Indonesia: posisi belakang untuk sekolah tingkat dasar, posisi tengah untuk sekolah tingkat menengah, dan posisi depan untuk sekolah tingkat tinggi.

Menarik ketika mengaitkan konsep ing ngarsa sung tuladha dengan kita, para pelajar. Tren kian berubah, begitu pula paradigma. Saya rasa istilah teladan dalam benak pemuda/i erat kaitannya dengan orang-orang tua. Padahal, pemberi teladan sesungguhnya adalah siapapun yang mampu.

Ibarat ilmu padi. Seiring dengan bertambahnya pengetahuan, maka (sepatutnya) semakin mapan kemampuan berpikir seseorang yang berefek pada semakin tinggi pula tingkat kesadaran (mengulangi paragraf tiga). Semakin tinggi kesadaran, kian bertambah lah tanggung jawab untuk menjadi seorang teladan.

Tidak ada cara mendidik yang paling efektif kecuali dengan memberikan contoh. Maka tidak perlu kita kotakkan pendidik sebatas guru, karena kita semua mampu menjadi pendidik. Pendidik tak langsung, seseorang yang dengan keteladanannya (sung tuladha) mampu menstimulasi timbulnya motivasi orang lain (mangun karsa) untuk turut maju bersama mereka yang mendukung (handayani).

Mengejar gelar bukanlah sebuah tujuan akhir, melainkan proses. Oleh karena itu, Kawan… mari kita maknai masa perkuliahan sebagai proses untuk menjadi teladan. Dan ingat-ingat kembali setelah masa ini selesai, jangan berakhir untuk pribadi. Karena keinginan luhur para pencetus adalah untuk memungkinkan kita berjalan bersama atas nama bangsa Indonesia.

2 Mei 2016

Amsterdam

Iklan
Diposkan pada Jurnal

Kenyamanan dan Kesempatan

Halo! Sebelumnya, peringatan keras bagi mas/jeng yang sedang tidak ingin baca hal yang banyak basa-basi, sebaiknya lewatkan saja paragraf sebelum gambar yang tertera di tulisan ini. Sabab musabab mereka sebetulnya cuma merangkai sebuah curhatan (ceilah). Di akhir tulisan barulah saya menuangkan hasil kontemplasi ketika sedang berada di local minimum point. Ehm, kalau dalam Kalkulus bisa dibilang sebagai titik terendah dari suatu range kondisi tertentu.

Kondisi ini berawal dari minggu pertama di bulan Maret 2016, ketika salah satu teman sekelas saya datang membawa sebuah penawaran yang amat menarik: membantu penulisan sebuah bab untuk buku ilmiah, untuk selanjutnya sebut saja proyek book chapter. Meskipun sudah diwanti-wanti tidak akan ada royalti yang diperoleh dari penulisan buku ini, namun saya rasa hal ini merupakan kesempatan yang baik untuk setidaknya meninggalkan ‘jejak’ di dunia akademik level internasional. Usai membahas konsep penulisan, kami pun sepakat mengatur tenggat waktu draft tulisan pertama: 30 Maret 2016.

Masih di minggu pertama Maret 2016, tiba-tiba salah seorang kawan lama mengajak saya untuk join proyek penulisan atas nama alumni (sebuah institusi) yang doyan ngeblog. Berhubung serpihan hati saya sudah tertanam di institusi tersebut, nggak mungkin lah nolak. Dalam kurun waktu 2 minggu (meskipun waktu efektif yang saya gunakan mungkin hanya sekitar 3-5 hari karena load akademik pun sedang tinggi), terkirimlah 2 buah tulisan sederhana ala kadar. Huft.

Menjelang dan hingga 30 Maret 2016, tak disangka ternyata load akademik selesai mendaki hingga puncak dan ia mendirikan tenda selama beberapa hari di situ (baca: menuju deadline tugas). Selepas deadline tugas, saya memutuskan mengambil 1 hari off dari laptop sebelum benar-benar fokus kepada proyek book chapter yang selama 2 minggu lebih tidak pernah disentuh. Akhirnya, kurang lebih 3.5 hari saya alokasikan sepenuhnya untuk screening jurnal-jurnal, menerka alur penulisan, dan tentunya mulai nge-draft. Hasil dari SKTM (Sistem Kebut Tiga Malam)? Tentu saja nggak selesaiiiii. Kebetulan ingat pula kalau dalam seminggu ke depan ternyata sudah masuk exam week a.k.a belum mulai mencicil materi ujian. Double huft plus cry emoticon. Nah kurang nestapa apa tuh.

Dari situlah kemudian saya merasa terjerumus pada local minimum point: karena gagal menepati janji dari suatu target bersama (kalau target sendiri mah sabodo teuing). Hmm detik-detik ini merupakan waktu yang krusial karena kalimat ‘San, bilang nyerah aja’ atau versi lebih halus, ‘Ehm kayaknya gw cuma bakal menghambat progres lo deh. Jadi mungkin lo bisa pertimbangin apakah lebih nyaman ngerjain sendiri atau gimana ya?’ mulai berseliweran di kepala.

Kemudian detik dan menit berlalu mengiringi saya yang tengah menatap kosong langit-langit kamar dari kursi belajar. Menyadari kalau melamunnya kelamaan, saya pun membuka website hiburan sejuta umat, facebook, sekedar mencari barangkali ada hal yang mampu mendistraksi pikiran sejenak di sana. Scroll atas-bawah, klik kanan-kiri, sampai saya menemukan kutipan berikut.

Karno
Gambar 1. Kutipan dari Bung Karno (sumber: pinterest.com)

Mungkin Tuhan sedang memberi arah agar saya tidak terlalu larut dalam kekecewaan (duileh). Kutipan tersebut sepintas melayang-layang dalam benak, hingga sampailah saya pada kesimpulan bahwa terjun di lautan yang dalam ibarat memberanikan diri keluar dari zona nyaman. Hal ini kemudian menyentik saya bahwa telah lewat 7 bulan mengenyam pendidikan di luar negeri, namun saya (seperti) masih berada di zona nyaman. Lantas, indikator apa yang bisa diukur untuk menyatakan sebuah zona nyaman?

Dalam pandangan pribadi, saya ingin mengatakan bahwa keluar dari zona nyaman dapat diukur dari seberapa banyak kesempatan yang diambil. Terdengar ambisius? Pasti. Tapi bagaimanapun menurut saya hal ini sangat relevan (btw ambisius yang dipakai di sini sesuai paradigma umum ya, padahal kalau cek di KBBI definisi ambisius itu mirip dengan ikhtiar IMO).

Mungkin sering mas/jeng dengar ungkapan berikut: hidup yang monoton identik dengan mengukung diri di zona nyaman. Benarkah? Tentu tidak, kecuali ketika mas/jeng dihadapkan pada kesempatan yang terbentang di depan mata lalu tidak berusaha mengambilnya. Contoh, para pemulung yang menghabiskan tahunan usia mereka untuk memulung sampah. Apakah mereka hidup dalam sebuah kemonotonan? Ya. Namun, apakah mereka mengukung diri dalam zona nyaman? Saya rasa tidak. Hal ini semata-mata di mata saya, mereka tidak dihadapkan pada kesempatan di luar dari apa yang telah mereka miliki saat ini. Kebutuhan dasar yakni pendidikan formal saja mereka tidak punya, lantas apakah kita bisa berharap mereka punya kemampuan berpikir yang mantap untuk melihat peluang dan mengubah nasib?

Maka, zona nyaman yang saya singgung agaknya lebih relevan disandingkan dengan kalangan menengah ke atas. Macam saya dan mas/jeng, barangkali.

Usai membaca kutipan tersebut dan mengingat-ingat kembali tujuan awal kuliah di luar negeri membuat saya berpikir bahwa sesungguhnya terlampau banyak ragam kesempatan untuk pelajar yang bertebaran dimana-mana, yang telah saya lewatkan. Mulai dari kesempatan kecil seperti belajar bahasa sampai benar-benar bisa berkomunikasi dengan warga lokal, menjalin persahabatan (bukan sekedar bergaul ya, tapi bersahabat) dengan pelajar internasional, memiliki kemampuan memasak (nggak harus sejago koki juga cyin) untuk mengenalkan makanan khas Indonesia, dll. Sampai kesempatan besar seperti submit abstrak/paper/poster dalam konferensi internasional (ternyata konferensi internasional itu buanyak ya), join penelitian yang bukan semata-mata demi memenuhi kredit tesis/internship, dsb.

Sekali lagi, terdengar ambisius? Pasti.

Tapi, hidup memang nggak selayaknya dihabiskan dengan berdiam diri di satu tempat ‘kan?

Kembali pada kata ‘kontemplasi’ dan curhatan di awal tulisan. Dipikir-pikir, meyedihkan sekali ya kalau ternyata bendera putih harus dilambaikan untuk memotong kesempatan dan demi mengalah oleh ego, bukan oleh keadaan. Ego semata-mata karena merasa lelah, tidak sanggup menyelesaikan garis finish, bukan oleh keadaan mendesak di mana tiba-tiba dunia hancur diserang oleh negara api yang membuat semua komponen di bumi terbakar #lebay.

Akhir kata (macam pidato aja), saya merasa bahwa setiap manusia yang dianugerahi kemampuan berpikir perlu ingat kembali, betapa kelewat sayangnya jika kita tidak menghiraukan sebuah kesempatan demi mengalah pada ego untuk tetap berada di zona nyaman. Karena, sesungguhnya dari sebuah kesempatan yang diambil, maka akan terbuka kesempatan baru lainnya.

Leeuwarden, 1 April 2016

.

PS: Di tulisan ini saya beberapa kali menyinggung kata ambisius, mohon diresapi bahwa saya jelas bukan orang yang ambisius dan nggak pernah sekalipun merasa. Cuma kagum sama orang-orang ambisius (terlebih kalau berperangai tenang) yang berani ambil banyak kesempatan untuk menaikkan level diri, bahkan membuat perubahan (ceilaaah). Tapi buat mas/jeng yang ambisius, kalau kata Mbah Pidi Baiq, ‘Kalau kau terlalu ambisius ingin berhasil, dengan sendirinya kau sedang menciptakan rasa takut mendapatkan kegagalan‘. Jadi, ambisiuslah terhadap proses ya, bukan hasil 🙂 Okeeeh?

Diposkan pada Jurnal

Visi Indonesia Bebas Sampah 2020: Realistis atau Utopis?

3
Gambar 1. Para tenaga kerja pemulung di TPST Bantar Gebang (sumber: artikel Viva News)

 

Selepas tahun 2005, pemerintah telah mencanangkan “Hari Peduli Sampah Nasional” yang diperingati setiap tanggal 21 Februari. Peringatan ini dimaksudkan untuk mengenang peristiwa longsor yang terjadi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah, Cimahi. Peristiwa longsor tersebut diawali oleh gas metan (CH4) dalam kadar tinggi yang terperangkap dalam timbunan sampah (anaerob) dan mendesak keluar, kemudian bersinggungan dengan udara hingga timbul ledakan. Ledakan inilah yang menyebabkan timbunan sampah yang sedari awal telah menggunung di TPA Leuwigajah pun mengalami longsor, berakibat pada terkuburnya rumah dan lahan pertanian warga sekitar. Tragedi ini memakan korban lebih dari 100 orang, menjadikannya memegang rekor korban terbanyak akibat longsoran sampah di Indonesia, sekaligus kedua di dunia.

Terhitung sejak tahun 2014, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) telah menelurkan visi Indonesia Bebas Sampah 2020. Definisi bebas sampah yang dimaksud bukanlah tidak ada lagi sampah yang dihasilkan oleh masyarakat/industri (yang mana mustahil), melainkan target agar sampah yang dihasilkan oleh masyarakat/industri mampu diolah dan dikelola sehingga tidak berakhir di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) atau TPA. Pencapaian visi Indonesia Bebas Sampah 2020 ini bertumpu pada konsep 3R: Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), dan Recycle (daur ulang).

Mendengar visi ini, maka lumrah bagi kita untuk bertanya: realistis atau utopis?

Pada tahun 2010, penulis berkesempatan mengunjungi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang untuk melihat sejauh mana proses pengolahan sampah di TPST terbesar di Indonesia tersebut. Impresi pertama penulis adalah ‘luar biasa banyak sampah yang dihasilkan oleh penduduk Jakarta dan sekitarnya!’ Kalau dikira-kira, mungkin tinggi dari timbulan sampah di Bantar Gebang bisa mencapai lebih dari 5 lantai. Belum lagi luas TPST ini yang mencapai 100an hektar. Silahkan dibayangkan bagi yang belum pernah berkunjung 🙂

Timbulan sampah di 1 TPST saja sudah sebegitu banyak. Belum ditambah sampah-sampah ‘nyasar’ yang menggenangi permukaan sungai dan laut, menyumbat saluran air di perumahan, terpojok di sudut bangunan, maupun yang terbaring sendirian di tengah jalan raya. Tak bisa dipungkiri bahwa seiring dengan meningkatnya laju pertumbuhan penduduk, di tahun-tahun mendatang Indonesia dipastikan akan mengalami krisis kesehatan dan sanitasi apabila permasalahan ini tidak segera ditangani.

Sejatinya, pencanangan visi Indonesia Bebas Sampah 2020 seolah menjadi angin segar untuk bersama-sama ‘berlari’ dalam mengatasi permasalahan sampah di Indonesia. Namun, visi ini tidak akan pernah berhasil tanpa implementasi riil dari para stakeholder terkait: pemerintah, industri, organisasi masyarakat, dan masyarakat secara individual.

Kembali kepada pertanyaan, “realistis atau utopis?”

Penulis secara pribadi bisa mengatakan target ini realistis apabila mengacu pada basis visi: penerapan konsep 3R. Konsep ini sesungguhnya amat mudah dilaksanakan mengingat modal utama yang dibutuhkan cukuplah sekedar kemauan. Terutama dalam skala rumah tangga, bahkan tidak diperlukan infrastruktur tertentu untuk menunjang keberhasilan penerapan konsep ini.

Di sisi lain, visi Indonesia Bebas Sampah 2020 akan menjadi realistis JIKA DAN HANYA JIKA seluruh pelaku/stakeholder memasang komitmen penuh mengingat rentang waktu yang tersisa hanya 4 tahun. Suatu aspek yang mudah sekali disangsikan. Berkaca pada upaya untuk menelurkan kebijakan kantong plastik berbayar saja perlu pendekatan selama kurang lebih 5 tahun, pun diawali secara bottom up yakni inisiatif organisasi-organisasi masyarakat.

2020. Empat tahun. Mampukah kita semua ‘berlari’?

Apakah pemerintah siap dengan penyediaan infrastruktur dan pengawasan yang memadai, bahkan untuk sekedar menyediakan infrastruktur yang paling sederhana: tempat sampah dan truk angkut terpilah? Apakah industri siap menerapkan produksi bersih ketimbang end-pipe system?

Dan satu hal yang menjadi poin terpenting sekaligus kunci pencapaian realistis visi ini: apakah kita secara individu sudah siap menanggalkan ketidakacuhan dan menjadi manusia yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan?

Sebuah pertanyaan yang mungkin kita belum tahu jawabnya…

Leeuwarden, 5 Februari 2016

Dipublikasikan terlebih dahulu di Kompasiana : http://www.kompasiana.com/sausanatika/visi-indonesia-bebas-sampah-2020-realistis-atau-utopis_56b4ec1b547a61a60d2a3567

Diposkan pada Jurnal

Pendirian Museum Universitas/Lembaga Penelitian, Perlukah?

2
Gambar 1. Media audio-visual di Universiteit Museum Utrecht (sumber: penulis)

Museum dalam paradigma masyarakat identik sebagai sekedar tempat koleksi barang-barang bersejarah. Hal inilah yang (mungkin) kurang menarik minat masyarakat secara umum, terutama di kalangan anak muda. Padahal, museum saat ini tidak melulu seputar pajangan barang-barang kuno, namun dapat ditujukan pula sebagai sarana konservasi budaya seperti di Kampung Naga dan Situ Bagendit, serta sarana transfer perkembangan ilmu pengetahuan seperti museum universitas. Dalam tulisan ini, penulis akan membahas mengenai museum yang terakhir disebut: museum universitas.

Apa perbedaan museum umum dengan museum universitas? Keduanya sama-sama menjadi tempat mendokumentasikan sejarah, namun museum universitas lebih spesifik kepada lingkungan akademis.

Kebetulan saat ini penulis sedang menempuh pendidikan tingkat lanjut di Belanda, sebuah negara dengan luas daratan tidak seberapa namun memiliki lebih dari 300 museum, termasuk lebih dari 10 museum universitas. Dalam tulisan ini, penulis mencoba mengaitkan pengalaman mengunjungi museum universitas di Belanda dan melihat potensi room for improvement bagi museum di Indonesia.

Pentingnya Metode Penyampaian yang Informatif, Efektif, dan Menarik

Salah satu museum universitas yang pernah penulis kunjungi, sekaligus mengubah paradigma penulis terhadap museum adalah Universiteit Museum Utrecht. Museum satu ini bisa dibilang tidak besar, hanya terdiri atas enam (6) ruangan dan satu (1) taman botani. Enam ruangan tersebut adalah Kabinet Bleuland, Lab Science, ArcheoLAB, Down to The Bone, Youth Lab, dan Curiosities Collection.

Ruangan pertama yang penulis kunjungi adalah Kabinet Bleuland. Ruangan ini sesungguhnya amat kecil, terdiri atas 10 lemari kaca berisi penelitian-penelitian yang pernah dilakukan oleh Jon Bleuland. Beliau adalah alumni Universitas Utrecht yang memberi banyak pengaruh terhadap perkembangan ilmu kedokteran di Utrecht semasa hidupnya. Sama sekali tidak ada yang menarik dari ruangan ini. Tidak ada, sampai penulis mulai mendengarkan penjelasan yang disediakan melalui monitor di tengah ruangan.

Penjelasan yang dibawakan melalui dialog interaktif oleh dua orang di monitor tersebut tidak hanya terkait sejarah Bleuland, namun juga penjelasan mengenai perkembangan penelitian Bleuland di masa kini dan potensi penerapan teknologi baru di masa depan. Bahkan, penelitian di bidang kedokteran yang dilakukan di Universitas Utrecht turut disertakan. Penulis sengaja menghabiskan sekitar 45 menit mendengarkan seluruh penjelasan yang disajikan menyangkut Onchology, Neurology, dan Infectious Diseases. Sungguh menarik!

Berbekal dialog yang tidak kaku, percakapan yang mudah dimengerti (menjadi penting karena penulis tidak memiliki latar belakang ilmu kedokteran), dan narator-narator yang ekspresif membuat penulis merasa mendapat sedikit supply ilmu pengetahuan tentang tiga (3) bidang ilmu tersebut. Hal ini menandakan bahwa metode penyampaian informasi yang disediakan oleh museum kepada pengunjung (dalam hal ini, penulis secara pribadi) cukup efektif.

Ruangan selain Kabinet Bleuland tidak kalah informatif. Setiap benda yang dipajang selalu dilabeli informasi dalam Bahasa Belanda dan turut pula disertakan booklet terjemahan dalam Bahasa Inggris. Beberapa dilengkapi dengan video dan alat peraga yang dapat digunakan oleh pengunjung. Hampir kesemuanya disertakan dalam dua bahasa. Pengelola museum ini tahu betul bahwa pengunjung tidak hanya berasal dari dalam negeri, namun juga masyarakat asing.

Metode penyampaian menggunakan tools di atas lah yang membuat tujuan sebuah museum universitas dapat tercapai: menyalurkan perkembangan ilmu pengetahuan terhadap masyarakat luas, terutama ilmu pengetahuan di bidang-bidang yang menjadi fokus universitas. Tentu hal ini menjadi aspek besar untuk pengembangan museum secara umum di Indonesia: bagaimana menentukan metode penyampaian yang informatif, efektif, dan terlihat menarik bagi pengunjung.

Manfaat terhadap Instansi, Masyarakat Sekitar, dan Publik

Mari kita kembali kepada topik awal: perlukah instansi sekelas universitas/lembaga penelitian mendirikan museum? Mengulang kembali pernyataan penulis di awal yang menyebutkan bahwa museum universitas bergerak di lingkungan akademis serta sepotong kalimat spoiler pun telah penulis taruh di paragraf sebelumnya: menyalurkan perkembangan ilmu pengetahuan.

Bagi penulis, universitas dan lembaga penelitian memiliki peran yang amat besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, terutama melalui penelitian-penelitian maupun kegiatan yang dilakukan. Namun, alangkah lebih baik apabila karya-karya yang sudah dipublikasikan tidak mandek hanya di kalangan akademisi yang memiliki akses terhadap publikasi ilmiah, melainkan dirilis kepada khalayak luas.

Manfaat lain dari pendirian museum universitas/lembaga penelitian ialah untuk meningkatkan potensi wisata daerah. Hal ini tentu berdampak pada peningkatan perekonomian masyarakat sekitar.

Satu hal yang patut menjadi concern universitas/lembaga penelitian adalah hak paten atau informasi-informasi yang stricted terhadap publik. Namun, penulis rasa pihak instansi memiliki jauh banyak hal yang bisa dibagikan kepada publik bila dibandingkan dengan karya-karya yang (masih) perlu dilindungi.

1
Gambar 2. Museum Pendidikan Nasional di UPI (sumber: Website Museum)

Saat ini beberapa instansi pendidikan di Indonesia sudah mulai mendirikan museum masing-masing, seperti yang telah dilakukan oleh Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada, Universitas Islam Indonesia, Universitas Pelita Harapan, dsb. Termasuk yang baru saja diresmikan di Universitas Pendidikan Indonesia.

Bagi penulis, hal ini layaknya secercah optimisme: sebuah saluran yang menengahi gap antara lapisan masyarakat akademisi dan nonakademisi. Bagi penulis, saat ini sudah masuk masa di mana universitas/lembaga penelitian perlu membuka pintu gerbang, membuka akses terhadap seluruh lapisan masyarakat untuk turut menimba ilmu, meski tidak melalui jalur formal. Karena… bukankah mencerdaskan kehidupan bangsa adalah tanggung jawab manusia-manusia yang terdidik?

Leeuwarden, 1 Februari 2016

Dipublikasikan terlebih dahulu di Kompasiana: http://www.kompasiana.com/sausanatika/pendirian-museum-universitas-lembaga-penelitian-perlukah_56aea7bc3cafbd7b0ff9b882

Diposkan pada Jurnal

You Cannot Get Output If You Don’t Give Input

The title is a nice quote from my teacher which I have heard just an hour before I wrote this article. Teacher? Yes, teacher. This evening I had just attend an IELTS class near by my house after work.

Todays materi was “How to make an essay” based on IELTS : Writing Section. After 2 hours filled with provision of materi and related discussion, the last an hour, off course, became the closing. My teacher asked us to raise our frequency of practicing. These were some he said.

IELTS is a proficiency test. What is proficiency? It means ability.
What I would give along the course, cannot raise your ability from 7 to 9, only up to 7.5. Because it depends on your practices.

You cannot get output if you don’t give input

You cannot be good at writing if you don’t do reading
You cannot be good at speaking if you don’t do listening

Then he explained the logics.

***
There were similar quotes from authors, academics, and many professionals out there but surely this is the first time I got the logics of those quotes.

How could reading leads you being good at writing? Simple. Practice reading
1. Enriches your vocabularies
2. Make you understand proper grammars
3. Giving you examples of elaborations
4. Giving you ways to coherence each sentences

How could listening leads you being good at speaking? Simple. Practice listening
1. Giving you example how to pronounce words
2. Giving you example ways of deliver ideas

He added, “…although may you will only imitate the style of both writing and speaking, but at least you know how to write and how to speak.”

I know maybe when mas/jeng read this article, mas/jeng would say ‘mmm…just that?’ Yeah but when my teacher explained those things, I just got amazed. I cannot remember all the words he said but those were very interesting, if mas/jeng were there. I’m happy for attending this class 😀

Well, input just as the same as output. Let’s more practice!

Source: esol.britishcouncil.org
Source: esol.britishcouncil.org
Diposkan pada Jurnal

Best Google Theme of The Day! *Earth Day*

Hi, mas / jeng!

Calendar has shown on 22 April 2013 and the world commemorate this day as Earth Day. Earth Day was declared as an appreciation for the planet that had been occupied by people whom (supposedly news) has reached 7 billion people. First stated was in 1970 by U.S. Senator, Gaylord Nelson, whom also teaches environmental (Source: Wikipedia).

What I wrote this time isn’t about to discuss further about Earth Day, but… Earth Day as Theme of the Day which is specifically released by Google today! I think this is the best google doodle ever, because its fun animation design while you can play it.

Image

Image

If mas/jeng click the cloud on, there will be rain.

Image

I love this. Can’t wait to see another fun animation design released by Google!

Diposkan pada Jurnal

Kebingungan Atas Maraknya Tindak Protes Individual

Siang ini saya sempat membaca berita mengenai seorang WNI yang nekat memanjat tower listrik karena merasa kecewa terhadap pemerintah yang tidak memberikan ganti rugi lahan di NTT, daerah asalnya, yang rusak atas semburan uap dari PLTU. Dalam berita tersebut dikatakan bahwa ia dan teman-temannya pada Agustus 2012 lalu sempat bertemu dengan presiden namun hingga kini belum ada tindak lanjut terhadap permasalahan ganti rugi tersebut. Akibatnya, ia melakukan sebuah ‘gertakan’ dengan memanjat tower listrik tersebut hingga aspirasinya didengar.

Terus terang saya merasa terganggu dengan berita di atas. Pertama, saya membingungkan soal WNI yang nekat tersebut. Sepertinya sudah terlampau banyak orang yang kecewa terhadap kinerja pemerintahan saat ini, jika ditinjau dari media sosial. Tapi, apa ya manfaatnya melakukan gertakan yang membahayakan diri sendiri secara individu? (Selain media yang mendapat pemberitaan).

Dulu awalnya saya terenyuh dengan pemberitaan mengenai orang-orang tersebut yang berani dan tulus mengekspresikan kekecewaannya dengan tindakan yang nyentrik. Namun, semenjak kian marak tindakan-tindakan nyentrik individual tersebut, terlepas dari ketulusan niat menyampaikan aspirasi, sekarang saya jadi bingung sendiri dengan keputusan orang-orang yang mengekspresikan bentuk kekecewaan secara individu misalnya dengan: membakar diri, memanjat tower, berjalan kaki dari ujung timur ke ujung barat pulau Jawa, dsb. Sederhananya sih, kalau kamu kehilangan nyawa karena melakukan tindakan tersebut, apa kamu bisa melihat hasilnya jika terjadi perubahan? Tuhan menciptakan raga bukan untuk kamu sakiti, melainkan pendukung aktivitas yang kamu kerjakan di dunia. Apa kamu tidak bersyukur?

Secara umum, jelas tindak komunal akan berdampak lebih besar dibandingkan tindak individual. Jadi patut lah kalau mau protes, pikirkan bentuk tindak komunal yang sekiranya sama-sama nyentrik dan tidak membahayakan diri sendiri. Demonstrasi (pastinya yang tertib, terencana, dan sesuai peraturan yang berlaku) menurut saya masih lebih baik, selain dilegalkan pula di Indonesia.

Kedua, saya rasa menjadi WNI juga harus lebih toleran dalam menentukan sasaran keluhan. Apakah semua orang harus menuntut kepada Pak Presiden yang notabene memiliki menteri-menteri, deputi-deputi, dan struktural lain yang lebih berwenang mengerjakan hal-hal teknis.

Memang semua tahu bahwa RI-1 adalah orang yang paling bertanggung jawab terhadap semua carut marut yang ada di negeri ini, tapi tentunya permasalahan yang diajukan secara individual tersebut mungkin hanya 0,001% dari seluruh permasalahan (yang saya yakin), dipikirkan juga oleh presiden. Perekonomian, perbatasan pulau, korupsi, dan topik-topik lain yang memberi dampak lebih kompleks dan menurut saya lebih prioritas untuk dipertimbangkan oleh seorang presiden.

Tulisan ini merupakan sebuah opini yang perlu diperkaya oleh sudut pandang lain. Semoga kita sebagai WNI bisa lebih bijak dalam menyikapi persoalan di negeri ini. Never give up to this country. Terima kasih! 🙂

Sumber : www.successculpting.com
Sumber : http://www.successculpting.com