Diposkan pada Journal

Alternatif Kegiatan Malam Tahun Baru yang Anti-Mainstream

Halo, Mas/Jeng!

Berhubung beberapa hari belakangan ini saya merasa sangat penat, nulis receh di blog agaknya bisa jadi salah satu alternatif melepas stres. Sekalian, baru ngeh kalau nggak kerasa tahun baru sudah di depan kalender.

Pict.jpg
Source: media.indiatimes.in

Malam tahun baru identik dengan party dan konser musik. Tinggal pilih mau desak-desakan menikmati panggung musik Ancol, pergi makan-makan cantik di mall, atau ngesot ke warung kopi terdekat, kesemuanya pasti tak luput dari euforia selebrasi. Wabil khusus teruntuk humankind zaman now, perayaan tahun baru musti nampak meriah! Meskipun sekedar duduk-duduk di pinggir alun-alun makan kacang rebus, asalkan cekrek-upload foto kembang api dan posting IG stories, maka semua kriteria menikmati malam tahun baru sudah bisa dicentang.

Bagi Mas/Jeng yang bukan pengikut arus atau sudah bosan dengan ritual tahunan yang itu-itu saja, mencoba hal-hal berikut mungkin bisa dilakukan untuk menemani malam tahun baru.

  1. Mengerjakan tesis

Opsi ini kudu musti wajib berada di dalam top list, peringkat 1 pula. Masa, sudah kebelet LULUS tahun depan tapi masih leha-leha? Cih… sleding, nih! Percayalah di masa depan, pengalaman mengerjakan tesis ini bakal menjadi cerita mengharukan sekaligus memotivasi untuk anak cucu Mas/Jeng. Mengingatkan betapa gigih leluhur mereka dalam meraih cita-cita menimba ilmu, meskipun perlu diingat bahwa IPK bagus belum tentu menjamin sukses, apalagi yang jelek.

  1. Ketiduran challenge

“Paan sih tahun baru biasa aja lah. Gw mah tidur doang di rumah.”

Ucapan ini pasti sering dilontarkan teman-teman Mas/Jeng yang mengaku anti-mainstream. Percayalah sesungguhnya mereka telah menjadi anti-mainstream yang mainstream karena semua golongan anti-mainstream akan menggunakan alasan tersebut untuk menyatakan ke-anti-mainstream-an mereka. Nah, bagaimana jika muncul golongan anti-mainstream terbaru, yakni mereka yang menghabiskan malam tahun baru bukan dengan (sengaja) tidur, melainkan ketiduran? Saya yakin ketiduran adalah hal yang sulit dilakukan kalau Mas/Jeng sudah niatkan dalam hati. Oleh karena itu, patut disebut challenge.

“Bro, tahun baru mau ngapain?”; “Wah kayaknya gw mau ketiduran aja nih.”;

Coba bayangkan bagaimana ekspresi kawan Mas/Jeng mendengar jawaban tersebut. Ekspresi yang anti-mainstream sekali, bukan? Jangan lupa ajak temanmu ikut challenge ini.

  1. Menertibkan komplek

Mas/Jeng bisa produktif juga lho di malam tahun baru. Meskipun hanya menghabiskan malam di rumah, salah satu kegiatan yang bisa dilakukan adalah dengan berkeliling komplek menyetop mereka yang gemar melempar petasan dan meniup-niup terompet di jalan. Sebagai golongan anti-mainstream yang menjunjung tinggi solidaritas sesama kaum, hal itu sangat bermanfaat demi meredam bising yang merusak suasana kondusif untuk tidur.

Kegiatan ini mungkin beresiko tinggi karena alih-alih menertibkan komplek, Mas/Jeng malah bisa dituduh melanggar HAM para penikmat malam tahun baru. Maka, saran saya, Mas/Jeng bisa siapkan secarik kertas berisi nasehat atau ceramah malam tahun baru untuk disampaikan menggunakan toa masjid. Strategi ini tentu lebih aman bin berfaedah.

  1. Membantu ketertiban lalu lintas

Barang tentu malam tahun baru identik dengan macet! Padahal kita sih pengennya anti macet-macet club. Di satu sisi, pernah dengar istilah jadilah bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah kan? Jadi, alangkah mulia jikalau Mas/Jeng bisa turut menjadi solusi dari kemacetan kota di malam tahun baru dengan tidak ikut-ikutan menciptakan kemacetan dengan menjadi pak ogah dadakan. Apalagi pengamen dadakan yang pake dalih lagi ngedanus buat acara kampus. Memang sih malam tahun baru tuh momen yang pasti menjanjikan kantong, berkali lipat dari malam-malam biasa. Tapi, yaa serius lah, kasih kesempatan mereka yang benar-benar butuh arena.

Masih punya ide-ide anti-mainstream lain untuk menikmati malam tahun baru?

Buat tulisan sendiri.

 

Iklan
Diposkan pada Journal

10 Tips Keselamatan Saat Bepergian dengan Pesawat

Source: wallpapersboom.com
Source: wallpapersboom.com

Pesawat kini telah menjadi salah satu pilihan utama masyarakat karena dinilai dari segi efisiensi waktu, metode transportasi inilah yang paling menghemat waktu perjalanan. Namun, akhir-akhir ini kerap kita mendengar berita mengenai kecelakaan pesawat. Peristiwa terakhir yang sekaligus menutup tahun 2014 dengan kesedihan adalah hilangnya pesawat Air Asia QZ8501 pada tanggal 28 Desember 2014. Pesawat ini ditemukan kemudian pada tanggal 30 Desember 2014 telah tenggelam di perairan dekat Pangkalan Bun.

Berbicara tentang bepergian dengan pesawat, ada baiknya sebagai penumpang kita juga aware dengan keselamatan pribadi. Sebanding dengan efisiensi waktu, metode transportasi ini turut memiliki resiko yang lebih tinggi dibanding metode transportasi lainnya. Berikut ini tips-tips aman bepergian dengan pesawat yang selalu saya lakukan, dengan beberapa tambahan berdasarkan hasil nonton film-film 😀

  1. Informasikan Detail Keberangkatan & Kepulangan ke Orang Tua/Kerabat

Selalu informasikan secara TERTULIS, baik SMS/WA/BBM/email, dll (lebih baik SMS karena tidak memerlukan jaringan internet untuk membaca pesannya) detail keberangkatan dan kepulangan dengan pesawat kepada orang tua, teman, atau kerabat lainnya yang mas/jeng percayai. Kalau saya tidak pernah lupa menginformasikan meliputi hal-hal ini: Nama Maskapai, Kode Penerbangan, Jam Keberangkatan/Kepulangan, Nomor Gate, bahkan Nomor Kursi. Informasi ini penting agar ketika kerabat kita khawatir ketika kita tidak ada kabar, mereka dapat dengan mudah memfollow-up kepada pihak yang berwenang.

  1. Matikan Electronic Devices Selama di Pesawat

Hal ini kerap diingatkan di dalam pesawat. Sayangnya, sepertinya banyak orang masih belum terlalu peduli terhadap hal ini. Menyalakan HP atau alat elektronik lain yang memerlukan sinyal mampu mengganggu sinyal navigasi dan sinyal komunikasi antara awak pesawat dengan ATC, sehingga dapat berujung pada miskomunikasi. Perlu diketahui bahwa pilot pun memerlukan bantuan dari ATC agar pesawat dapat terbang dengan aman sesuai jalur yang ditentukan. Maka, jangan sepelekan mematikan electronic devices ya karena keselamatan seluruh penumpang adalah tanggung jawab seluruh penghuni pesawat.

  1. Perhatikan Baik-Baik Upaya Penyelamatan Diri Apabila Terjadi Emergency Case

Seringkali penumpang tidak memperhatikan ketika peragawati sedang memperagakan cara penggunaan masker oksigen, pelampung, maupun lokasi pintu darurat. Ya semoga artinya semua sudah hafal yaa. Memperhatikan sejak awal adalah penting! In case of emergency yang membuat awak pesawat pun tidak dapat memandu, kita sendiri sudah mengetahui dengan benar cara menyelamatkan diri. Selain peragaan sebelum take off, pada bagian belakang masing-masing kursi selalu disediakan brosur petunjuk keselamatan. Bisa banget dibaca-baca.

  1. Kenakan dan Kencangkan Safety Belt

Selalu kenakan dan kencangkan safety belt selama berada di dalam pesawat, kecuali ketika akan pergi ke toilet tentunya. Meskipun pemakaian safety belt hanya diwajibkan ketika take off dan landing, tapi sebaiknya selalu digunakan untuk berjaga-jaga ketika terjadi turbulensi sewaktu-waktu. Jika terjadi situasi emergency, pastikan mas/jeng baru melepas safety belt setelah menggunakan pelampung.

  1. Kartu Identitas dan HP Dibungkus Plastik dan Disimpan di Tempat yang Terjangkau

Pastikan selalu membawa kartu identitas (ya iyalah), menamai pakaian yang sedang digunakan, dan bawa HP. Jangan lupa juga untuk menyiapkan plastik untuk membungkus kedua benda tersebut agar tidak basah jika harus water landing. Simpan keduanya di tempat yang terjangkau untuk diambil.

  1. Full Charge Baterai HP

Pastikan baterai HP penuh sebelum berangkat. Jangan pernah berpikiran ‘toh di pesawat dimatikan juga’. Justru apabila pesawat mendarat in the middle of nowhere, jaringan pasti akan lebih sulit dicari sehingga baterai HP cepat habis. Tentunya kita tidak mau kehilangan kesempatan mengontak orang ketika sedang terdampar di suatu tempat kan?

  1. Dahulukan SMS Ketimbang Telepon

Jika berada di in the middle of nowhere, sama halnya dengan sebelum keberangkatan, pastikan kita memberikan informasi secara TERTULIS kepada orang yang kita informasikan di awal untuk memberitahukan minimal hal berikut: Kejadian apa, mas/jeng sedang di mana, mereka yang kita informasikan harus melakukan apa. Siapa tahu tidak ada yang mengangkat telepon, setidaknya dengan SMS pesan kita tetap tertanam di layar HP seseorang.

  1. Menjaga Kesadaran Selama Bepergian

Yap, sadar merupakan hal yang penting ketika bepergian dengan pesawat. Pastikan badan kita fit ketika masuk ke pesawat. Saya pribadi sih biasanya susah tidur kalau di pesawat, tapi sebaiknya memang ketika take off dan landing, atau kapanpun ketika terjadi turbulensi, kita dalam kondisi sadar sepenuhnya. Jika terjadi situasi emergency, kita sudah siap untuk berdoa (pastinya) dan bertindak untuk keselamatan, apabila diperlukan.

  1. Kenakan Pakaian Tertutup, Berwarna Cerah, dan Berbahan Ringan

In case of emergency sehingga kita harus water or ground landing (naudzubillahimin dzalik, jangan sampai Ya Allah), pakaian tertutup menjaga kita dari interaksi dengan benda-benda yang tidak diinginkan (misal: bulu babi, serangga, dll). Pakaian berwarna cerah dapat memudahkan kita untuk dilihat. Sedangkan pakaian berbahan ringan agar kita mudah bergerak, terutama jika harus tercebur ke laut tentunya membawa banyak beban akan menguras energi. Selain itu, pakaian ringan (yang dilepas dari badan tentunya hehehe) dapat dikibarkan sehingga memudahkan kita untuk dilihat.

  1. Berdoa

Perlu diingat bahwa kita ini bukan siapa-siapa. Bisa saja situasi darurat benar-benar begitu darurat sehingga membuat kita tidak sempat melakukan prosedur keselamatan apapun and then the worst thing happens. Maka, banyak-banyaklah berdoa selama perjalanan. Kita tidak tahu kan kita akan dipanggil dengan cara yang seperti apa 🙂

Have a safe flight!

Diposkan pada Journal

Trip to Dieng (Part 2)

Hari kedua diawali dengan bangun pukul 03.00 karena pukul 04.00 kami akan mengejar sunrise di Gunung Sikunir. Gimana caranya ke sana? Nah, biasanya tiap penginapan punya PJ Guide. Di Homestay Cantigi, ada mas Meno yang semalam sudah deal-dealan dengan kami tentang tarif motor untuk keliling zona 2 pada hari kedua ini. Kami yang bertiga ini memutuskan untuk sewa 2 motor & 1 guide (1 motor untuk Dida-Icon, 1 motor untuk saya & mas Agus si guide). Untuk sewa 1 motor sebesar 60.000/hari, sedangkan 1 guide harusnya 150.000/hari kami tawar jadi 100.000/hari.

Kami naik motor menuju Desa Sembungan yaitu desa dengan letak tertinggi di pulau Jawa (sekitar 2.500 mdpl?), mampir shalat subuh di masjid lalu melanjutkan hingga parkiran sebelum trakking Gunung Sikunir. Trakkingnya friendly. Waktu untuk mendaki sekitar 1 jam.

Sesampainya di puncak, inilah main course dari trip to Dieng kali ini: menikmati sunrise di puncak Sikunir. Di Indonesia terdapat 3 tempat terbaik untuk menikmati sunrise dan Gunung Sikunir inilah salah satunya, selain Gunung Bromo dan Pantai Sanur.

Renungan pagi dulu kk
Renungan pagi dulu kk
Awannya mirip Kapuk n Kapuk is everywheeeeerrre, pengen loncat guling-guling
Awannya mirip Kapuk n Kapuk is everywheeeeerrre, pengen loncat guling-guling
BEST SHOT gw, senangnya. Fyi itu Gunung Merapi
BEST SHOT di posisi pertama gw, senangnya! Fyi itu Gunung Merapi
Langit Sikunir setelah sunrise
Langit Sikunir setelah sunrise

Dari puncak Sikunir dapat terlihat lima gunung lain, di antaranya Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Merapi, dan Gunung Slamet.

Best Shot ketiga gw. Pas banget ini pasangan hihihi *pikir2 jadi setting foto prewed bagus kali ya*
Best Shot ketiga! Pas banget mereka emang pasangan hihihi *jadi lokasi foto prewed bagus kali ya*. Fyi  itu Gunung Sindoro.

Turun dari puncak, mampir sejenak di Telaga Cebong. Silat dulu kk.

silat

Setelah berpuas-puas dengan pemandangan sunrise, ternyata mata kami tidak hanya dimanjakan oleh itu. Sepanjang perjalanan menuju Zona 2 yang jaraknya jauh-jauh, langit pagi hari sekitar pukul 08.00-10.00 sangat menarik. Saya mengambil banyak foto pas lagi dibonceng. Beda pisan sama langit Jakarta mah.

Lucu ya!
Lucu ya!

alam4

my second Best Shot setelah view sunrise tadi, cihuy
my second Best Shot setelah view sunrise tadi, cihuy
Ga boong kan ngambilnya pas lagi dibonceng, ga pake stop
Ga boong kan ngambilnya pas lagi dibonceng, ga pake stop

ZONA 2

Pemandian Air Panas. Sebuah kolam di pinggir sungai yang airnya mengandung belerang. Sayangnya kolam ini tidak terawat (banyak bungkus shampoo dan sabun berceceran).

Kolam pemandian air panas umum. Kecil ya
Kolam pemandian air panas umum. Kecil ya

Telaga Merdada. Dahulu di sekitar Telaga Merdada dibangun pabrik-pabrik jamur, namun kini pabrik jamur sudah bangkrut. Pada pagi dan sore hari, terkadang Burung Belibis banyak terlihat di telaga ini.

Telaga Merdada, sayangnya Belibis lagi nggak main di sini
Telaga Merdada, sayangnya Belibis lagi nggak main di sini

Sumur Jalatunda. Lebih mirip telaga kecil daripada sumur. Mungkin disebut sumur karena terperangkap dari bukit-bukit sehingga letak permukaannya cukup dalam dari tempat kami bisa melihatnya. Banyak mitos mistis yang berkaitan dengan sumur ini, yang paling utama adalah sumur ini sering memakan korban tiap 8 tahun sekali. Orang yang menjadi tumbal biasanya akan bilang ke keluarganya ‘saya mau pergi ke pasar’ sebelum tiba-tiba tak sadarkan diri lalu ditemukan mengapung begitu saja di Sumur Jalatunda. Korban terakhir pada tahun 2011 (atau awal 2012 ya, lupa).

Air yang terperangkap di antara tebing-tebing
Air yang terperangkap di antara tebing-tebing

Kawah Sileri. Kawah ini ukurannya amat luas seperti telaga dan masih aktif. Oleh karena itu, pengunjung dilarang dekat-dekat.

Gede ya
Gede ya

Sekitar pukul 11.30 kami sudah tiba kembali di Homestay. Lalu packing dan nyegat minibus menuju Wonosobo. Pukul 14.00 sampai di Wonosobo, makan siang di rumah makan terdekat, dan duduk manis menunggu Bis Damri jurusan Grogol pada pukul 16.30. Welcome home!

.

Budget Hari 2

Ojek & Guide = 220.000/3 = 70.000

Makan 3x = 30.000

Tiket Sumur Jalatunda = 5.000

Tiket Kawah Sileri = 5.000

Minibus ke Wonosobo = 10.000

Bis Damri (tanpa makan malam) = 70.000

TOTAL = 190.000

P.S: Jadi total pengeluaran 430.000 huwooo boros, belum jadi backpacker sejati nih. Harusnya bisa ditekan sampe 300 ribu :p

Diposkan pada Journal

Trip to Dieng (Part 1)

Trip to Dieng dalam rangka tahun baru 2013 dilakukan oleh tiga anak bernama Sausan alias si empunya blog, Dida, dan Icon. Perjalanan dimulai pada tanggal 30 Desember 2012 dengan duduk manis dalam Bis Malino jurusan Wonosobo yang berangkat pukul 17.00 dari terminal Lebak Bulus. Ternyata hingga pukul 18.30 kami cuma diajak muter-muter Jakarta ke terminal Rawamangun dan disuruh ganti Bis Malino yang kali ini BENAR-BENAR jurusan Wonosobo karena tarif parkir 1 bis di Lebak Bulus bisa sampai ratusan ribu.  Damn. Hampir 2 jam waktu terbuang sia-sia.

Esoknya, kami turun di perempatan Wonosobo sekitar pukul 06.30. Jalan sedikit menuju alun-alun dan menikmati sarapan soto ayam. Dari alun-alun, pukul 08.00 kami jalan sedikit menuju pertigaan untuk nyegat minibus ke arah Dieng.  Perjalanannya menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam. Kami turun di pertigaan yang sebelah kanannya (sebagai patokan) bertuliskan “Penginapan Bu Djono”. Selanjutnya kami jalan kaki ke arah Dieng Kulon sampai di Homestay Cantigi, penginapan yang sudah saya booking seminggu sebelumnya. Bagi yang mau ke Dieng pas masa-masa libur nasional, emang harus booking dari jauh-jauh hari karena pasti penuh.

Sepanjang jalan merupakan penginapan. Selain warung-warung, ada 1 toko Indomaret, jangan khawatir. O iya, bagi yang mau ke Dieng sebaiknya sudah siap uang di dompet karena yang ada hanya ATM BRI dan itupun jarang berfungsi.

Homestay kami terdiri dari 3 kamar dan saat itu diisi semua. Selain oleh kami, ada juga 3 cewek Bandung dan 2 cowok Jogja. Jadi dalam 1 rumah ada 3 rombongan. Namanya rumah ya pasti ada fasilitas TV, dapur, dan kamar mandi (tanpa air panas dan letaknya di luar kamar). Biasanya bagi yang homestay, fasilitas-fasilitas tersebut dapat digunakan kapan saja kecuali untuk dapur harus nyediain sendiri bahan-bahannya (misal: mi rebus & telur).

IMG_9593
suasana Homestay Cantigi

Sekitar pukul 10.00 kami langsung cabs keliling Zona 1. Di Dieng, terdapat 2 zona wisata yaitu Zona 1 (Utara) dan Zona 2 (Selatan). Zona 1 adalah kawasan yang dekat dengan penginapan jadi bisa dijangkau dengan jalan kaki.

.

ZONA 1 —

Kompleks Candi Arjuna. Di sini tersebar beberapa candi. Ada jasa pula untuk foto bersama Teletubbies karena rumputnya mirip dengan rumput di serial Teletubbies serta grup Hanoman. Biayanya 10.000 untuk foto langsung jadi dan 5.000 untuk foto dengan kamera milik sendiri. Di belakang kompleks Candi Arjuna terdapat Museum Dieng, tapi kami nggak berminat mampir.

candi-candi
candi-candi
Foto sama Teletubbies uhuy
Foto sama Teletubbies uhuy

Dari museum jalan belok ke kanan sekitar 1,5 – 2 km menuju Telaga Warna.

Telaga Warna. Di dalam Telaga Warna bukan hanya telaga saja yang dapat dilihat, tetapi juga beberapa gua kecil. Telaga Warna dinamakan seperti itu karena warnanya dapat berubah-ubah tergantung pada cuaca dan temperatur. Kami mendapati warna telaga pada bagian pinggir berwarna hijau seperti warna susu melon (tapi lebih tua) tetapi pada bagian tengah warnanya menjadi hijau jernih lalu bening hingga membentuk cermin bagi bukit di pinggirnya.

Dari pinggir telaga
Dari pinggir telaga
Bagian tengah
Bagian tengah
Seberang, menuju perbukitan
Seberang, menuju perbukitan

Usai dari Telaga Warna kami ishoma di seberang karena hujan deras. Perjalanan dilanjutkan sekitar pukul 13.30 jalan kaki sekitar 1 km menuju Kawah Sikidang.

Kawah Sikidang. Kawah ini areanya sangat luas namun kolam kawahnya sendiri tidak terlalu luas. Di sini terdapat jasa foto bareng kuda (hitam maupun putih) dengan tarif sama seperti halnya Teletubbies di Candi Arjuna. Jangan lupa menggunakan masker karena bau belerang yang menyengat.

Kawah Sikidang, masih ngebul
Kawah Sikidang, masih ngebul
Perbukitan sekitar Kawah Sikidang
Perbukitan sekitar Kawah Sikidang

Usai dari Kawah Sikidang, karena sudah sore dan capek jalan kaki, kami memutuskan naik ojek menuju Homestay dengan tarif 10.000. Beres-beres, shalat magrib lalu pergi makan malam.

.

MAKANAN KHAS

Mi Ongklok. Berupa mi dengan kuah kental seperti kuah Lo Mie. Lebih pas disajikan dengan sate sapi. Kata empunya Homestay, mi ongklok lebih enak di Wonosobo daripada di Dieng.

Purwaceng. Kalau mas/jeng googling2 tentang Dieng pasti banyak rekomendasi untuk mencoba minuman Purwaceng. Tapi jangan tertipu karena minuman ini sebenarnya merupakan minuman penambah stamina khusus pria hehehe. Dibuat dari tanaman bernama sejenis.

Carica Dieng. Berupa manisan buah carica. Buah ini pohonnya sangat mirip pepaya tapi ukuran buahnya kecil dan tekstur daging buahnya lebih mirip nangka. Buah carica dapat ditemukan juga di Negara Peru (jauh amat ya, Indonesia cuma Dieng punya)

.

Budget Hari 1

Bis (tanpa makan malam) = 80.000

Minibus ke Dieng = 10.000

Homestay 1 malam = 175.000/3 orang

Tiket kompleks Candi Arjuna = 10.000

Tiket Telaga Warna = 7.000

Tiket Kawah Sikidang = 10.000

Ojek pulang = 10.000

Makan 3x = 30.000

Mi ongklok = 15.000

TOTAL = Rp 232.000

.

Bersambung ke Part 2

Diposkan pada Journal

Penumpas Ketakutan: Karimun Jawa

Halo!

Kali ini tulisan saya suasananya akan lebih santai dari tulisan-tulisan terdahulu. Sekarang saya mau cerita tentang salah satu KEBERHASILAN saya mengatasi salah satu ketakutan saya. Apakah itu??? BERENANG! Yap. Beberapa minggu yang lalu saya berlibur bersama teman-teman ke Karimun Jawa. Awalnya saya enggan karena teman saya bilang di sana cuma bisa snorkeling. Sementara saya gak bisa berenang, ngapung ‘aja gak bisa. Payah deh pokoknya.

Kenapa saya takut berenang?

Sebenarnya sih simple, karena gak pernah belajar hahaha. Terakhir ke kolam renang kayaknya tuh kelas 4 SD gitu. Saya berulang kali belajar renang tapi gak bisa-bisa. Akhirnya nyerah deh. Tiap diajak ke kolam renang gak pernah mau ikut lagi.

Untunglah ketakutan masih mampu dikalahkan oleh kejenuhan. Saat itu adalah saat di mana pengumpulan laporan TA sudah selesai sementara saya belum memiliki pekerjaan tetap. Katakanlah, masa-masa nganggur nungguin wisuda. Walhasil, setelah diyakinkan sama teman, saya capcus ke Karjaw. Semua personelnya anak TL.

Ki-Ka: Ncil, Dede, Sori, Tami, Ninis, Pipeh. Dan saya sebagai pemfoto.

Kami berangkat tanggal 5 Oktober 2012 setelah magrib. Sampai di Jepara sekitar pukul 8 pagi dan melanjutkan penyeberangan menuju Pulau Karimun Jawa naik Kapal Muria selama 6 jam. Kusut, kusut dah tu muka.

Sesampainya di rumah (homestay), kita langsung menuju pantai. Ceritanya mau lihat sunset.

Rumah kita :)
Rumah kita 🙂

Waaah ternyata emang bagus deh sunsetnya. Di sini saya menemukan objek foto ter-asyik pada seorang makhluk bernama Soritua. Beberapa eksperimen pose saya coba ke dia, ini salah satunya. Menurut saya sih ini keren hehehe.

Soritua sang Pelempar Bola Api
Asal muasal matahari terbenam; DIREMAS SORI
Under the sky!

Esoknya, subuh-subuh kami dengan dituntun oleh Pak Pemandu alias si empunya rumah, berangkat melihat sunrise. Tapi sayangnya cuaca mendung, jadi kurang apik deh.

Aaaah langit kenapa kamu mendung?
Aaaah langit kenapa kamu mendung?

Nah…kemudian setelah sarapan, masuklah kita pada sesi paling mendebarkan. Story has just begun!

SNORKLING!!! 4 kali pula!

Aaaaaarghhh

Dari ketujuh personel, ada 3 orang yang ngaku-ngaku gak bisa berenang yaitu saya, Pipeh, dan Dede. Tapi Dede sama Pipeh masih mending karena mereka masih bisa ngapung. Dede bisa satu gaya, bahkan. Lha gueee? Nyebur aja takut. Hadeuh gak ngerti deh nasib selanjutnya gimana. Pingsan gak yah ntar? Jujur pertanyaan itu bener-bener terlintas  di otak.

Bersenang-senang sebelum ketakutan

Sampailah pada first destination!

Ki-Ka: Pipeh, Dede, saya, Tami. Kami bertiga adalah para pecundang yang gak bisa berenang, apalagi di laut, bah. Tami, salah satu dari perenang terbaik dari rombongan (sama Ncil). Gatau apa di otak saya saat itu ketika ngeliat laut.

Teman saya si Tami, berulang kali ngingetin kalau udah pake pelampung pasti aman.  Sayangnya…jadi ceritanya ini kali pertama saya ke tengah laut nyemplungin badan. Banana boat gak pernah, jetski gak pernah. Cupu banget gak tuh. Dan ini kali pertama saya PAKE PELAMPUNG. Dulu kalau belajar renang gak pernah dikasi pelampung sama ortu. Makanya jadi cupu gini gak bisa-bisa berenang. Jadi ya Tam, omonganmu tuh gak guna wong aku belum pernah bandingin pake pelampung apa enggak, tetep takut jadinya.

Lanjut. Jadi, saya rasa langkah pertama yang harus saya lakukan adalah memastikan ada salah seorang temen yang dekat terus buat ditempelin. Kemudian mencemplungkan kaki bersepatu katak ke dalam air, terus narik pelampung temen buat pegangan hahaha. Sukses! Tami korbanku.

Akhirnya saya dibawa keliling sama Tami. Di permukaan laut, men! Permukaan laut! Kasian sih sama Tami, harus ngurus looser macam gini hahaha. Wah pokoknya takut banget deh. Parah. PARAH!!! Takutnya parah.

Nah, tapi ya untungnya si Tami menunjukkan gelagat-merasa-tidak-bebas. Akhirnya karena gak enakeun, saya minta dikasi tips ke Tami gimana caranya biar bisa renang. Katanya sih suruh gerakin kaki aja, pasti ngapung karena udah ada pelampung dan kaki katak.

Sip, sambil nempel saya coba gerakin kaki…dan BERHASIL! Badan saya berhasil maju ke depan walaupun leletnya udah kayak siput kejebak lem tikus. Tapi teuteup ya deket-deket sama Tami.

Nah ada satu kejutan lagi, yaitu foto underwater! Badan kita masuk ke dalam air terus difoto deh. Tahan nafas. Kalau mau foto, kata pemandunya sih kita harus lepas pelampung. Nah lho dag dig dug. Gimana nasib saya tanpa pelampung?

Percobaan pertama foto underwater: kenyang minum air asin & kebeset karang. Tapi untunglah fotonya jadi hehehe

Foto underwater pertama seumur hidup
Ratu ikan 😀
Kenalan sama bintang laut
Asik!
Karang & ikan di Laut Jawa

Lanjuuut!

Setelah pulau pertama, masih ada 3 pulau tujuan lagi. Kali kedua, dengan penuh tekad utama yaitu gak nyusahin temen, akhirnya saya memberanikan diri untuk BERENANG SENDIRI tanpa nempel-nempel. Yesss dan ternyata berhasil walaupun sesekali masih suka tiba-tiba kaget dan pegangan sama pelampung temen. Ya ampun seneng banget ini mah. Seneeeeeng.

Pulau ketiga, kali ini saya benar-benar sudah MANDIRI alias Malang melintang ke sana kemari sendiri. NJIR, LEGA BRO! Udah bisa ke mana-mana sendiri nih tanpa pegangan.

Nih buktinya. Udah seneng bisa melanglang buana sendirian di atas laut.

Pulau keempat sebagai tujuan snorkeling terakhir rupanya yang paling gak bersahabat. Arusnya kenceng banget, walhasil saya pegangan lagi sama temen. Mana karangnya dangkal-dangkal, jadi kena beset terus.

Abis snorkeling 4 kali dalam 2 hari, kami menuju destinasi terakhir yaitu penangkaran hiu. Kayak apa tuh? Kayak gini:

Satu kolam bersama para hiu

Di penangkaran ini, wisatawan memang sebaiknya nyemplung ke kolam bukan sekedar ngeliatin doang dari atas. Seru kaaan.

Oh iya, pada hari kedua kami kedatangan tamu dari Prancis. Mereka adalah Remi (cowo) dan Santa (cewe). Mereka sudah 2 minggu berada di Indonesia, berkeliling pulau Jawa dan Karimun Jawa ini adalah last destination before they go back to France. Di sini adalah kali kedua mereka snorkeling, pertama di suatu negara yang terletak di Benua Amerika. Saya lupa, tapi kayaknya Meksiko deh.

Mereka bilang sangat senang berada di Indonesia karena di manapun tempatnya, penduduk Indonesia selalu murah senyum dan ramah. Kalau tentang pengalaman snorklingnya, mereka bilang karang di Indonesia lebih bagus daripada di negara tersebut, tapi di sana ikan-ikannya lebih beragam.

Ki-Ka: Remi, Santa, Ninis, Tami, Ncil, Dede, Sori, Pipeh, saya

Nah, itu dia beberapa cuplikan dari perjalanan saya ke Karjaw, atau lebih tepatnya perjalanan menuntas ketakutan. Bahagia banget nih, ketakutan saya terhadap berenang jadi berkurang. Mudah-mudahan dikasih kesempatan lagi buat menikmati keindahan alam laut Indonesia dan seluruh dunia :), dengan nol ketakutan dan skill yang lebih baik pastinya.

Diposkan pada Journal

Destinasi Liburan di Turki

Kalau mas/jeng ini lihat beberapa tulisan saya di bawah, pasti tahu saya punya keinginan berkunjung ke mana kalau punya uang nanti. Turki. Tapi terlepas dari punya uang cukup, paspor, waktu, teman, atau tetek bengek yang diperlukan untuk ke sana, sekarang saya mau cerita tentang tempat yang pasti lebih mungkin dikunjungi. Dekat kok. Masih di Pulau Jawa juga.

Keinginan ini berawal dari rekomendasi  (lagi-lagi orang keren Indonesia :)) Pandji Pragiwaksono dalam tulisannya yang berjudul Nasional.Is.Me, yang mas/jeng bisa unduh di webnya dia www.pandji.com.

Sebuah tempat yang katanya dia, cuma bisa mas/jeng temukan di 2 lokasi di dunia. Apa tuh?

Jawabannya, Masjid Agung Jawa Tengah

Masjid yang spektakuler, kalau kata Pandji.

Karena no picture=hoax, maka saya printscreen-kan deh novelnya Pandji.

Gimana? Kalau saya sih antusias sekali sukanya karena embel-embel “cuma ada 2 di dunia”.

Siapa sih yang nggak bangga sama hal ini. Masjid Agung Jawa Tengah ini kekayaan kita lho.

Mau ngapain di sana? Yang pasti saya HARUS TIDURAN DI LANTAINYA SAMBIL MENGHADAP ATAPNYA (ALIAS  LANGIT) LALU MENGHEMBUSKAN NAFAS DALAM-DALAM DENGAN MATA TERBUKA, sama seperti hal yang sering saya lakukan setiap masuk masjid manapun.

Itu tempat yang paling ingin saya kunjungi di Indonesia, urutan PERTAMAX untuk saat ini.

Terus, ini sebenarnya bukan urutan kedua. Karena saya sendiri nggak tahu urutan keduanya apa. Tapi kalau yang satu ini gara-gara saya nonton acara di TV. Apa itu?

BNS (Batu National Spectacular)

Jadi, BNS ini letaknya sekitar 30 km dari Kota Malang, tepatnya di Batu. Tidak, tidak. Bukan Buah Batu. Batu ini tempat yang banyak memproduksi buah apel (kok jayus ya?!)

Ada apa di sana?

Ini adalah sebuah tempat rekreasi dengan sejuta lampu (sebenarnya nggak sejuta juga sih, tapi maksudnya banyak, gitu). Dibukanya mulai pukul 15.00 sampai tengah malam.

Mungkin memang cuma pemandangan yang bisa didapatkan di sana. Buat mas/jeng, tidak mungkin sensasinya sepeti naik wahana ke Dufan atau ya minimal Jatim Park, atau naik gunung. Tapi kalau buat saya, tempat dengan pemandangan menarik justru lebih utama dibandingkan tempat yang menyajikan pengalaman seru dan menegangkan.

Karena saya sangat mengapresiasi alam dan objek yang indah, jadilah ini sepertinya tempat yang sangat cocok untuk saya datagi.

Kekurangannya cuma satu sih. Sepertinya BNS ini lebih cocok untuk tamu yang berpasangan deh alias sayanya jomblo. Secara malam berselimutkan lampion pasti menciptakan suasana yang romantis. Mohon koreksi ya bagi yang sudah ke sana.

Tapi hal itu nggak mengurungkan niat sedikitpun. Teman saya banyak dan SERU-SERU PARAH. Pasti RAME.

Jadi nggak sabar nih mau libur semester bulan Januari besok. Ada nggak ya yang mau temenin saya liburan ke sana? Dua kota ‘aja kok 😀