Diposkan pada Journal

Persepsi tentang Obral Janji

Banyak orang mengatakan bahwa masa kampanye adalah masa serba salah bagi kandidat dan serba benar bagi pemilih. Karena apa-apa yang dilontarkan oleh kandidat seakan tidak pernah ideal di mata pemilih. Apalagi kalau hanya satu kandidat, lawannya adalah kesempurnaan.

Saya adalah orang yang pernah menjadi kandidat dan pernah menjadi pemilih dalam skala KM-ITB. Kandidat, setahun yang lalu ketika mencalonkan diri menjadi senator. Pemilih, sudah 3 tahun terakhir.

Beberapa bulan setelah melewati masa kampanye kala itu saya merasa amat jijik dengan metode kampanye yang saya lakukan dengan memasang poster diri di mana-mana serta berbicara selangit, layaknya metode-metode kampanye pada umumnya. Pencitraan, kalau orang bilang.

Bahkan saya sempat merasa ganjil dengan diri sendiri ketika berusaha mengingat apa saja obralan janji pada masa kampanye tersebut.

Ya sama-sama taulah, sekarang orang jenuh dengan yang namanya janji-janji manis karena semakin berumur tapi tidak merasa terjadi perubahan signifikan dari sebuah kepengurusan, baik untuk organisasi mahasiswa maupun pemerintahan skala daerah dan nasional.

 

Sekarang, ketika sudah masuk masa kampanye lain dalam KM-ITB, saya mencoba mengosongkan pikiran, mengulas kenangan setahun lalu dan tiba-tiba terpikirkan. Tidak sepenuhnya keganjilan mengenai obral janji terletak pada kandidat.

Sebut saja saat Hearing.

Hearing bagi saya adalah momen pemaparan visi-misi-strategi bagi kandidat sekaligus ajang mencari tahu pandangan sang kandidat tentang organisasinya bagi audiens. Lalu apa yang ganjil? Menurut saya, ketika konten yang sesungguhnya merupakan pemaparan visi-misi-strategi tersebut ‘dipersepsikan’ menjadi ‘janji’ bagi audiens.

Coba dengarkan dengan seksama kalimat yang dilontarkan oleh kandidat.

“Menurut saya…”

“Saya ingin…”

“Strateginya adalah…”

Kalimat di atas lebih banyak muncul dibandingkan dengan,

“Saya jamin…”

Bedakan antara “pemaparan” dengan “menjanjikan sesuatu”.

Lalu… apa yang mengesankan kandidat mengobral janji?

Persepsi audien

Ble’e sih, kan ‘udah tau hearing tujuannya mengenali kandidat lebih jauh. Jadi mau tidak mau harus mendengarkan “gagasan selangit dan perkataan manis” karena itulah harapan sang kandidat.

Lalu… ada yang lucu lagi. Kalaupun ada kandidat yang obral janji, apakah hal tersebut merupakan keinginannya? Ataukah keinginan massa?

Sadar nggak sih, ada beberapa pertanyaan yang memang memaksa kandidat untuk menjanjikan sesuatu. Misal,

Apa yang akan kalian berikan kepada lembaga kami ketika terpilih?” (mungkin lebih tepat menjadi “Apa yang ingin kalian lakukan terhadap lembaga kami?”)

Bisa jamin nggak segitu massanya? Oke gw tagih omongan lo nanti” (mungkin cukup menjadi “Berapa orang yang dibutuhkan, dan kenapa segitu?”), dll.

Yaelah audien sendiri juga, gitu, yang minta dikasih janji. Kasian ‘aja sih sama kandidat, dipaksa jawab demi menyenangkan audien dengan dalih ‘Kami perlu jawaban Anda untuk tahu seberapa besar keyakinan & kesiapan Anda mencalonkan diri’.

hehehe

Iklan
Diposkan pada Journal

Keluarga Lebak Siliwangi

Minggu tanggal 4 Desember 2011, difasilitasi oleh Kementerian Pengabdian Masyarakat Kabinet KM-ITB, diadakan pertemuan yang bertujuan sebagai inisiasi awal dalam upaya menjalin silaturahmi lebih baik antara pihak ITB dengan masyarakat sekitar.

Dihadiri oleh Ust.Nur Rachman dan Satria Bijaksana selaku perwakilan YPM Salman, Pak Iwan selaku Ketua RW 3, Pak Wedyanto perwakilan rektorat (SarPras) sekaligus Ketua RT 4, Pak Vedyanto selaku Ketua RW 4, dan Kang Arief, alumni A’05 sekaligus orang yang pernah menjadi Ketua RT saat masih mahasiswa.

Pertemuan berlangsung sekitar dua jam dengan isi perbincangan seputar harapan-harapan perwakilan warga terhadap mahasiswa ITB.

Pak Wedyanto memulai dengan berkata bahwa kampus kita ITB ini luas tapi janganlah seperti katak dalam tempurung yang nyaman dalam tempurungnya saja. Mungkin sekali untuk membuat kegiatan yang tidak melulu tentang bazar atau band, tapi kegiatan berkontribusi ke masyarakat.

Begitu pula menurut Pak Nur Somaddin, Ketua Lurah. Beliau sedikit menerangkan, Baksil memiliki luas sekitar 100 ha. Terdiri atas 6 RW, 25 RT, dihuni oleh 4.442 jiwa dengan 1.086 Kepala Keluarga. Namun, secara real yang beraktifitas bisa berkali-kali lipat karena ada ITB di dalamnya dengan ITB sendiri penghuninya mencapai 10 ribu jiwa. Jadi, apa yang menjadikan mahasiswa ITB bukan bagian dari Baksil?

Baksil merupakan daerah strategis karena memiliki Sabuga, Saraga, kampus ITB, Pusat Nuklir, dll. Banyak potensi untuk mengembangkan masyarakat sekitar, dengan potensi terbesarnya adalah mahasiswa ITB itu sendiri. Yang dirasa aneh adalah besarnya potensi kampus ITB, tetapi warga Baksil sebanyak 228 KK masih miskin. Hal ini menimbulkan pertanyaan, “betul nggak anak ITB adalah bagian dari Baksil?”

Pertanyaan lain yang muncul di benak Pak Lurah. “Anak ITB kenapa tidak melakukan PM di tempat yang dekat-dekat dulu? Karena masyarakat kita juga sebetulnya membutuhkan. Kegiatan apapun, kami terima. Apapun bisa dilakukan oleh anak ITB. Tidak perlu bingung karena ‘tidak sesuai keilmuan kami’ maka tidak jadi PM di Baksil.

Kami berharap bukan cuma jenius otaknya, tapi juga hatinya.”

Kegiatan di Baksil, Dahulu & Sekarang

Baksil sendiri tidak terdiri atas warga saja, akan tetapi juga komunitas-komunitas yang terbentuk di dalamnya. Termasuk komunitas anak dan pemuda. Kegiatan pemuda di Baksil saat ini sedang banyak. Makanya ITB main lah. Kami mengundang mahasiswa untuk bertukar ide dengan pemuda Baksil, ujar Pak Lurah.

Kang Arief menambahkan bahwa dahulu kami (teman-teman mahasiswa) punya kebanggaan beraktifitas di Baksil. Contoh, dulu pernah ada Forum Ganesha. Melalui wadah tersebut, mahasiswa turut melakukan bimbingan ke pedagang-pedagang Balubur yang terkena rentenir.

Pak Iwan ikut menambahkan. Jaman dulu, warga dengan mahasiswa dekat, intens berinteraksi karena mahasiswa pun banyak yang tinggal di rumah-rumah penduduk. Sekarang sudah tidak jamannya lagi tinggal bersama, mungkin karena hal tersebut jadi salah satu faktor kedekatan kita berkurang. Warga Baksil turut merasa kehilangan mahasiswa yang tinggal, sehingga tidak ada lagi yang mengajar anak-anak, mengajar ngaji, dll.

Apa Yang Ditawarkan di Baksil?

Banyak yang bisa kami tawarkan, kata Pak Iwan. Misalnya, pemetaan daerah Baksil untuk mitigasi bencana. Bagaimana seandainya terjadi bencana lalu masyarakat tidak tahu bagaimana cara berlindung?

Untuk kegiatan kesenian mahasiswa, coba saja latihan di daerah bantaran Cikapundung. Karena kebutuhan berkesenian masyarakat Baksil masih ada, jadikanlah sebuah kegiatan PM.

Terakhir, bagaimana mengatur PKL (Pedagang Kaki Lima) di sekitar. Para PKL tahu mereka menempati lokasi yang salah, tapi karena ada konsumen yaitu mahasiswa maka mereka mencoba bertahan hidup (mencari uang) dari sana. Akibatnya pun jadi terasa saat ini. sbadan jalan digunakan lahan parkir. Bisa tidak kita cari jalan keluar untuk menggunakan kendaraan bersama? Dibanding memanfaatkan fasilitas yang tersisa namun merugikan.

Hal-hal kecil yang sebetulnya bermanfaat bisa saja digunakan. Misalnya teman-teman arsitektur memberi alat bermain kepada anak-anak di Baksil, mendekatkan diri dengan warga melalui pergantian kepengurusan mahasiswa yang dilakukan di daerah Baksil (baca: sertijab). Pak Iwan berkata, “Di ITB itu, kementerian mahasiswa kan berlaku hanya satu tahun. Jadi carilah kegiatan jangka pendek yang selesai pada saat itu juga.”

 

Ending

Bicara tentang identitas, mahasiswa ITB juga harusnya punya identitas. Kalau di tridharma Perguruan Tinggi, identitas mahasiswa ada tiga. Pendidikan. Penelitian. Pengabdian Masyarakat. Poin ketiga bisa jadi identitas lho.

Karena, identitas itu penting agar kita punya daya tahan.

Ada sebuah contoh yang menyentuh. Seorang teman pernah membuat bisnis di daerah Suci. Setelah menghasilkan profit, ia memberi modal kepada warga sekitar untuk membuat usaha konveksi sendiri. Akhirnya daerah tersebut ramai dengan bisnis sejenis. Namun, sang teman kemudian bangkrut sehingga harus pergi dari daerah tersebut. Setelah kepergian, ternyata… ada satu nilai yang dirindukan oleh warga terhadap sang teman, perasaan kehilangan. Itulah buah kepedulian terhadap warga sekitar.

Kang Arief FA’05

Semangat, teman-teman ITB!!! 🙂

Diposkan pada Journal

Sabtu Sakral di Wisuda ITB

Hari ini kalender tepat mencantumkan tanggal 16 Juli 2011. Sabtu. Jauh beratus kilometer dari tempat saya mengetik ini, teman-teman ITB yang lowong di Bandung sedang merayakan Sabtu Sakral mereka. WISUDA.

Wisuda ITB dilaksanakan tiga kali dalam setahun, yaitu April, Juli, dan Oktober setiap Sabtu. Tapi, sempat beberapa kali diadakan dua hari yaitu Jumat dan Sabtu karena jumlah wisudawan/wisudawati (sebutan untuk orang yang diwisuda) terlampau banyak.

Selain acara formal di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), yang meliputi (setahu saya) sambutan dari ITB dan perwakilan wisudawan, pengambilan ijazah, pengumuman siswa berprestasi, dan foto bersama. Adapula acara formal dan nonformal yang diadakan oleh organisasi mahasiswa berbasiskan program studi masing-masing (ko-kurikuler) dan dikoordinasikan oleh organisasi mahasiswa pusat, KM-ITB. Kalau saya yang jurusannya Teknik Lingkungan ini, organisasi ko-kurikulernya namanya Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL).

Acara ala Himpunan2 terdiri atas wisnight (formal) dan wisday (nonformal). Wisnight dilaksanakan pada malam hari (ya iyalah) dengan suasana formal karena turut mengundang keluarga wisudawan, sedangkan wisday merupakan rangkaian kegiatan setelah para wisudawan keluar dari Sabuga di hari Sabtu. Biasanya hanya terdiri atas arak-arakan, tapi ada juga yang setelahnya melaksanakan kegiatan lain atau tradisi Himpunan masing-masing, sesuai permintaan wisudawan/wati ketika masih menjadi calon wisudawan.

Kudu dandan cantik & senyum dong 🙂

Satu hal yang paling menjadi ciri khas wisuda di ITB yaitu arak-arakan. Karena, seluruh Himpunan pasti mempersiapkan performance sekaligus stamina lebih untuk keren-kerenan dalam menggiring wisudawan, dari Sabuga menuju Himpunan masing-masing.

Arak-arakan dilaksanakan sejak tahun jebot, saya juga tidak tahu. Nah, karena sudah lama sekali dilaksanakan, maka ada beberapa Himpunan yang mulai menghak-patenkan kebiasaan-kebiasaan tertentu dalam mengarak. Contoh, kalau di Himpunan saya ada istilahnya The Bamboos. Performance harus menggunakan konsep The Bamboos yaitu aksi menggunakan bambu-bambu. Ada juga Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM) yang mengeluarkan jurus performance andalan berupa kendaraan bermotor sederhana (sorry mas/jeng nggak tau namanya, paling gagap soal motor-motoran nih). Ada Himpunan Mahasiswa Elektroteknik (HME) yang wisudawan/wisudawatinya suka hepi-hepi sendiri nyemprotin cairan-cairan ke temannya. Himpunan di bagian timur jauh yang selalu balas push-up antara pengarak dan yang diarak, dll.

Yang paling fenomenal PASTINYA adalah mahasiswa-mahasiswa dari SENI RUPA alias Fakultas Seni Rupa & Desain (FSRD). Wah ini performance paling ditunggu-tunggu, soalnya menggunakan properti yang besar, pelakon yang banyak, aransemen musik sendiri, drama, dan so pasti warna warni mencolok. Yang special juga adalah lokasinya. FSRD satu-satunya prodi yang mengambil tempat paling strategis di ITB yang kecil ini, yaitu di bundaran Indonesia Tenggelam/Intel.

Performnya HMTL biasanya pake BAMBU
Contoh lainnya, perform HMM pake mobil
Mau ngarak harus total!!! ngecat muka
wisudawan juga suka usil, gangguin yang ngarak
Masing semangat ‘aja

Sayangnya untuk wisday kali ini saya tidak bisa ikut karena sedang di rumah, menunggu kesembuhan tangan sekaligus menunggu jadwal operasi mulut senin depan. Ya, melalui sini saya ucapkan:

Selamat Jadi Pengangguran Sementara!!! Semoga nggak selamanya. Semoga Jadi Sarjana Yang Tulus Mengabdi, Turunkan Jumlah Orang Miskin Indonesia dan Doakan Saya Wisuda Tahun Depan. Amin.   

*foto-foto Wisuda Oktober 2010
Diposkan pada Journal

Keluhan Para Penerima Sponsorship

Celotehan kecil. Dibuat setelah audiensi dengan Tizar, Presiden KM-ITB 2011/2012, setelah beliau curhat tentang obrolannya dengan alumni ITB yang sudah sering berkecimpung dalam proyek-proyek beberapa perusahaan.

“acara yang dibikin anak ITB makin ke sini makin kurang bagus, makin kurang bermanfaat.”

Kalimat di atas pernah disampaikan oleh beberapa alumni ITB yang sudah terlibat proyek dengan perusahaan. Dan pernyataan tersebut sebenarnya bukan terlontar dari alumni saja, tapi lebih tepatnya pernyataan titipan oleh beberapa perusahaan yang mungkin sering atau pernah didatangi oleh mahasiswa ITB untuk ngemis alias menjadi sumber pendanaan acara mereka.

Kalau mengobrol dengan beberapa orang dan melihat trendnya secara langsung dalam beberapa tahun terakhir, sepertinya memang bukannya tidak beralasan ya pernyataan seperti itu tercetus. Sejak saya masuk tahun 2008, sepertinya makin ke sini memang sudah terjadi degradasi format sebagian besar acara anak ITB.

Beberapa contoh acara besar, tahun 2009 ada Ganesha Harmonic dan Olimpiade KM-ITB V. Beranjak pada tahun 2010, sepertinya terpusat semakin semarak dengan adanya Pagelaran Seni Budaya (PSB), ITB FAIR, dan Pasar Seni.

Distrik pun, Himpunan dan Unit tak mau kalah. Untuk unit, dies tiap tahunnya diperingati sebagai bentuk aktualisasi minat-bakat sekaligus sebagai program penyebarluasan dalam rangka menumbuhkan kecintaan terhadap keragaman budaya dan potensi Indonesia, terutama bagi unit-unit yang tergabung dalam rumpun seni budaya. Untuk Himpunan lebih-lebih. Trendnya kemahasiswaan mengusung “pengejawantahan keprofesian”, maka muncullah acara-acara yang berlandaskan keprofesian dengan semangat aktualisasi, pengenalan budaya keprofesian terhadap masyarakat, hingga acara yang dibilang sebagai bentuk pengabdian masyarakat.

Degradasi Format Acara Anak ITB

Gradasi adalah tingkat pergeseran. Dan degradasi adalah pergeseran menurun; kemerosotan.

Bisa dilihat, dan sepertinya sudah banyak yang merasakan juga. Akhir-akhir ini acara anak ITB seolah mengalami kemerosotan, baik dari segi efektivitas (ketepatan sasaran) maupun konsep awal (landasan, tujuan, dan implementasi). Makin banyak yang sekedar menjual tema, tapi tidak diformat dengan konsep yang lebih dalam dan bermakna, serta umumnya dikemas dalam bentuk hura-hura.

Contoh. Temanya keprofesian. Tujuannya adalah pengenalan kepada masyarakat, pamer (bahasa halusnya : aktualisasi) hasil keprofesian, berkontribusi, dll. Kemasannya? Panggung yang tingginya 2 meter, artis ibukota-bayaran-puluhan juta, media instalasi 3D megah, dll deh.

Mulia sekali tujuannya, teman. Tapi sayangnya TIDAK TEPAT SASARAN. Sekedar meninggikan nama dan prestise entitas? Atau memang dirancang untuk memberi hiburan saja? Berapa persen pencapaian tujuannya? Lantas, jadi momentum dua atau tiga hari saja?

Seperti itu ya mewujudkan mimpi mahasiswa…

Besar Pasak Daripada Tiang. Pastinya.

Setelah formatnya, mari kita beralih ke poin terpenting dari acara. DUIT. Sudah jadi trendnya juga mahasiswa ITB nyari-nyari duit ke perusahaan. Beberapa tahun terakhir, dengan kondisi acara mahasiswa ITB yang seperti itu, akhirnya perusahaan gatal juga.

Maka tercetuslah kalimat seperti di awal tulisan ini. (Balik ke atas ya :D)

Proposal yang dikeluarkan anak ITB umumnya dananya lebih dari 20 juta. Ya iyalah pasang instalasi saja keluar berapa juta, belum lagi publikasi, konsumsi, dan biaya terbesar itu manggil artisnya, so pasti.

Kembali lagi. Perusahaan lah yang kewalahan menerima tawaran sponsorship anak ITB. Maka, timbullah paradigma bahwa “acara anak ITB kurang manfaat, kok kayak gini ya?”. Dampak dari paradigma tersebut adalah timbul ketidakpercayaan perusahaan dalam menerima tawaransponsorship yang diajukan oleh mahasiswa ITB.

Sudah dasarnya membuat acaranya nggak jelas, dana yang dikeluarkan berlebihan, tidak sebanding dengan ketercapaian tujuan, nggak ngasih manfaat banyak pula.

Efek dominonya, maka timbul pula perspektif perusahaan yang menyiratkan bahwa alumni ITB dirasa kurang tanggung jawab. Maksud kurang tanggung jawab di sini adalah ketika uang yang diberikan kepada mereka tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Ya itu, karena semasa jadi mahasiswa, mereka bikin acara yang kurang bermanfaat.

Nah lho. Salah siapa? :p

Mari Kembali Menyusun Format Yang “Benar” Meskipun “Tantangan”nya Berat

Sudah saatnya kembali memperhitungkan alasan kita mengadakan acara. Merumuskan kembali tujuannya, dan bijak dalam mengonsep kemasannya seefektif & seefisien mungkin. Terutama masalah pendanaan, jangan sampai menimbulkan ketidakenakan atau bahkan merugikan pihak-pihak tertentu (misal, perusahaan yang bersangkutan). Sebab, masalah itu semacam akar serabut,berabe bisa menjalar ke mana-mana. Karena kurang bijak ngonsep acara, jadilah cetakan alumni kita dibilang kurang tanggung jawab. Siapa sih yang mau disebut begitu?

Setelah membenahi secara internal, coba ditabrakkan dengan kondisi eksternal. Langsung deh biasanya merasa hopeless. Pasti terpikir, memangnya acara bakal ramai kalau kemasannya tidak mewah? Mau tidak mau di situlah tantangannya.

Sudah jelas kalau anak ITB sebagian besar tergolong ekonomi menengah ke atas.

Hidupnya nyaman dan sejahtera. Bahkan kebutuhan yang jaman SMP dulu disebut sebagai kebutuhan tersier sekarang sudah dengan mudah dapat diakses oleh anak ITB, digeser jadi kebutuhan primer!

Hal ini menuntut kekreatifan dan kerja keras untuk mengajak teman-teman lain, dan lebih luasnya masyarakat untuk berpatisipasi. Bukan cuma anak SR yang bisa kreatif, semua juga bisa asal mau putar otak.

Sebelum mengakar lebih dalam, menyusun format acara yang kurang jelas itu harus diubah sebelum kebiasaan ini menjelma menjadi template format acara-acara kemahasiswaan lainnya.

Seperti pepatah sunda,

cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok

(kucuran air menimpa sebuah batu, lama-lama menjadi lubang)

Karena batu yang berlubang tidak bisa dipakai untuk menjadi bahan baku “pondasi bangunan”.

.

"duh, level kereta doang nih. nggak kesampean nampil di ITB"
Diposkan pada Journal

Mari Kita Menuntut

Kembali.

Merenungi masa-masa penghabisan selama hampir 3 tahun terakhir di kampus gajah. Suka-duka yang berulang kali menghampiri. Kejenuhan menghampiri diiringi kesenangan menyusul yang menutup masa-masa penat yang dilalui.

Tiga tahun. Waktu yang tidak sedikit sepertinya, untuk mulai menumbuhkan kesadaran akan perlunya mengembangkan diri sekaligus mewujudkan mimpi dalam sebuah komunitas bersama di luar segala aktivitas akademik. Makhluk sosial.

Tidak terasa pula saat ini menjelang 2 tahun sudah tersandang status anggota sebuah organisasi ko-kurikuler dalam sebuah kampus yang sebagian besar civitasnya (baca : mahasiswa) dielukan sebagai orang-orang terbaik bangsa. Bukan menampik kenyataan, bukan pula angkuh. Anggap saja doa. Pengharapan besar bagi saya dan kita semua untuk menjadi sarjana utuh setelah menyerap (Insya Allah) banyak ilmu di tempat ini.

Dan sampai pula pada titik dimana orang-orang terdekat, lingkungan sekitar kita, masyarakat, bahkan hati nurani pribadi mempertanyakan. Setelah lama menikmati segala sarana-prasarana, baik materi maupun imateri yang baik kita sadari maupun tidak, pasti telah mengembangkan atau minimal menumbuhkan potensi pribadi. Serangkaian pemenuhan kebutuhan telah dikonsumsi. Maka, sudah saatnya membalikkan pernyataan menjadi sebuah pertanyaan.

Kebutuhan apa yang dapat saya penuhi?

Pertanyaan yang masih mungkin sulit untuk dijawab meski dengan ikhtiar. Maka, berkatalah sekiranya,

“Apa yang dapat saya berikan?”

Inilah masa-masa lingkungan menuntut ketulusan seseorang untuk mewujudkan kondisi ideal dalam pandangannya. Atau inilah masa-masa seseorang menuntut pencapaian terbaik yang dapat diwujudkan lingkungannya.

 

“…kedudukan adalah alat untuk mencapai tujuan”

M. Yunus – Ketua KMPN 2008/2009

 

Namun, ketika usaha yang telah dikerahkan tak mampu menjangkaukan kita terhadap alat tersebut, maka cukuplah hidup untuk senang dan (tetap) bermanfaat.

Tetap semangat 🙂

.

.

.

13.03 di Himpunan
random. tiba-tiba mau menulis tentang ginian.
Diposkan pada Journal

Kenaikan Tarif Dasar Listrik, Sebuah Ironi?

Sebuah potongan tulisan saya untuk lembaga. Tulisan aslinya panjang, tapi nggak perlu-lah ditulis lengkapnya untuk dipajang di blog.

Kenaikan Tarif Dasar Listrik diberlakukan terhitung sejak 1 Juli 2010. Mungkin mendadak, mungkin pula sudah diperkirakan. Namun, akar permasalahan serta maksud dari penaikan TDL ini belum tersosialisasikan dengan baik di masyarakat. Ya cobalah tanyakan pada orang-orang di sekitar.

Kenaikan tarif dasar listrik sesungguhnya menjadi sebuah ironi di tengah melimpahnya sumber energi di Indonesia. Kita semua tentu saja berharap, kalaupun memang TDL harus dinaikkan, pemerintah siap menyelamatkan rakyatnya dari efek buruk yang mungkin terjadi lewat kebijakannya.

Ya itulah pemerintah. Lalu, di manakah peran kita, mahasiswa Teknik Lingkungan?

Saya rasa cukup banyak yang lupa dengan salah satu peran mahasiswa sebagai control agent, pengontrol kebijakan sekaligus pengawas kinerja pemerintah. Mungkin ilmu kita kurang, tapi berbekal semangat dan kekritisan, bisa saja kita menjadi sok tahu dalam menyikapi isu menyangkut pemerintahan. Tapi justru di situlah tantangan mahasiswa dalam menjalankan posisinya sebagai insan akademis berdasarkan kebenaran ilmiah. Pilihannya hanya mau atau tidak dalam menjawab tantangan tersebut.

Pasalnya, saat ini masih banyak yang seolah tutup mata akan kebijakan-kebijakan pemerintah. Masih harus berkaca, begitupun saya. Padahal, seharusnya kita ini tidak lah menjadi mahasiswa nyinyir yang acuh atau hanya mampu mengkritik tanpa mengedepankan kebenaran, melainkan membantu pemerintah berpikir.

Dan meskipun kita yang berbasis keprofesian Teknik Lingkungan ini mungkin masih dangkal ilmunya mengenai kebijakan karena kita bukan Planologi, atau soal kenaikan TDL ini kita juga tidak banyak paham karena kita bukan anak Elektro yang mengetahui kondisi PLN, atau Teknik Perminyakan yang tentunya lebih paham potensi SDM (Sumber Daya Mineral) di Indonesia, ayo lah sama-sama kita membuka mata lebih lebar dengan isu-isu yang cakupannya bangsa. Toh kita bersentuhan langsung dengan segala dampak kebijakan pemerintah.

Terima kasih.

Demi Tuhan, Bangsa, dan Almamater !!!

Diposkan pada Journal

Liburan Cerita Sikit-lah

Sedang dini hari di tempat saya ketika saya baru menyelesaikan CV untuk mendaftar jadi trainer Strategi Sukses di Kampus (SSDK) dan menjadi malas tidur karenanya. Tanggung. Sekalian subuhan lah. Jadi, mau menulis apa ya?

Mungkin saya mau cerita sedikit tentang liburan saya saat ini. Ini liburan yang benar-benar gila. Saya kira saya bakal magang di penerbit untuk jadi editor awam atau apa lah semacamnya. Namun, karena memang dari awal liburan itu sudah malas walhasil saya nggak mencari-cari padahal sudah ada tuh rekomendasi dari beberapa teman untuk mendaftar. Memang nggak niat dari awal sih ya.

Akhirnya saya nganggur di akhir-akhir habis UAS. Bener-bener nganggur sampai yang biasanya kurang tidur, malah bisa tidur seharian. Nampol abis enaknya. Tapi, efeknya adalah saya nggak bisa bangun pagi lagi sampai beberapa hari.

Yak itu kan awal-awal liburan. Terus di sela-sela, saya daftar jadi mentor OSKM 2010. Kalau yang ini sudah saya rencanakan dari setahun yang lalu sejak ikut diklat PROKM 2009. Saya terinspirasi Bang Rahman Agil, mentor saya waktu itu, walhasil saya mau ikutan ah jadi mentor, mau menginspirasi orang juga. Tahun depan. Kata saya setahun yang lalu. Alhamdulillah sekarang niat itu masih lurus. Ya walaupun jujur, saya nggak pernah datang TFT Mentor tapi besok pagi nih saya mau me-mentor-i orang. Untung materinya nggak jauh beda sama materi tahun lalu.

Nah ceritanya malah beleber ke mana-mana ini. Yak balik lagi tentang awal-awal liburan yang ternyata makin lama makin nightmare. Saya ditunjuk jadi Senator Sementara sama Fatur yang mau KP ke Sidoarjo. Terhitung sejak 7 Juni 2010 saya musti rapat mulu. Beneran deh yang namanya Kongres itu ternyata sibuk. Sibuk rapat. ‘Udah, nggak ada kegiatan lain. Walhasil Boulevard saya keteteran (bahkan belum ada progress kalau mau jujur) padahal Juli mau naik cetak 😦

Terus sekali-kali buat refreshing saya memutuskan ikut latpim, secara dapet tawaran dari Mayung si bos. Lumayan. Gratis. Dapet barang ini-itu. Niat awalnya sih nggak bener banget. Mau makan gratisan seminggu penuh. Perbaikan gizi. ‘Udah. Ya walaupun niatnya nggak bener alhamdulillah pas di sana banyak inspirasi yang saya dapet, selain temen dan makanan enak 🙂 Pokoknya seru banget. SERU. SERU. SERU.

Nah, sepulang dari latpim tiba-tiba ditanyain Wiwidhe, temen sekosan, gimana caranya bikin CV. Buat apa? Pasti saya spontan tanya begitu. Kamu juga pasti. Kata Wiwidhe, buat jadi trainer SSDK. WOW. Terus saya mikir. SSDK ‘kan dibayar. Kalau modalnya cuma CV mah coba we lah. Walhasil saya ikut-ikutan bikin CV dan baru selesai malam ini. Dini hari, tepatnya. Besoknya sudah batas akhir pengumpulan. Untung keburu.

Terus saya inget lagi. Juli ada wisuda. Ah. Saya memilih bagian dekor. Sekali-kali. Pokoknya menghindari LO banget deh. Ogah. Nggak bakal keurus wisudawannya kalau saya yang jadi LO, secara majalah mau naik cetak pasti saya tinggalin itu wisudawan. Yak dan ternyata setelah saya memilih, saya harus menanggungjawabi beberapa bagian dekor, harus survey tempat, harga, eksekusi bikin dekornya, dll. Masya Allah. Nah belum lagi kalau ada panggilan Kominfo. Tapi untungnya saya cuma wakil deputi. Jadi masih bisa gerak bebas ke sana kemari lah coy.

Ya sebenernya kalau dipikir-pikir, liburan saya ini jelas bukan liburan yang terencana. Kalau mau dibilagn rencana sih, pas bulan April itu orang tua saya pernah menjanjikan kita bakal ke Aceh tanggal 24-29 Juni 2010. Tapi nggak jadi. Batal deh rencana. Padahal itu saya bener2 mau banget ke sana. Nggak pernah, gitu. GILA. Padahal saya mau banget ke sana. MAU BANGET. TITIK.

Dan jadilah ini liburan yang sibuk. Alhamdulillah semuanya nggak keteteran. Saya benar2 menikmati dengan sangat sepenuh hati semuanya mulai dari OSKM, Kominfo, Senator, ya semuanya lah kecuali si unit. Keteteran sebenernya juga karena saya sedang merasa nggak nyaman banget di dalamnya. Nggak tahu kenapa. Saya tuh kalau nggak nyaman ya maunya kabur, menghilang, gitu.

Ya sudahlah ya. Itu namanya konsekuensi kenapa dulu mau. Ah tapi terpaksa jadi nggak maksimal begini. Bingung ah. Yo wes lah lebih baik sekarang saya tidur2an dulu sajalah sebelum nanti pagi berangkat mentor.  Selamat tidur.

Selamat LIBURAN, Kawan !!!