Diposkan pada Jurnal

Pagelaran Seni Budaya 2012

25 MARET 2012

Jalan Ganesha 10

Pukul 08.00-23.00

http://psbitb2012.com/

Iklan
Diposkan pada Jurnal

Persepsi tentang Obral Janji

Banyak orang mengatakan bahwa masa kampanye adalah masa serba salah bagi kandidat dan serba benar bagi pemilih. Karena apa-apa yang dilontarkan oleh kandidat seakan tidak pernah ideal di mata pemilih. Apalagi kalau hanya satu kandidat, lawannya adalah kesempurnaan.

Saya adalah orang yang pernah menjadi kandidat dan pernah menjadi pemilih dalam skala KM-ITB. Kandidat, setahun yang lalu ketika mencalonkan diri menjadi senator. Pemilih, sudah 3 tahun terakhir.

Beberapa bulan setelah melewati masa kampanye kala itu saya merasa amat jijik dengan metode kampanye yang saya lakukan dengan memasang poster diri di mana-mana serta berbicara selangit, layaknya metode-metode kampanye pada umumnya. Pencitraan, kalau orang bilang.

Bahkan saya sempat merasa ganjil dengan diri sendiri ketika berusaha mengingat apa saja obralan janji pada masa kampanye tersebut.

Ya sama-sama taulah, sekarang orang jenuh dengan yang namanya janji-janji manis karena semakin berumur tapi tidak merasa terjadi perubahan signifikan dari sebuah kepengurusan, baik untuk organisasi mahasiswa maupun pemerintahan skala daerah dan nasional.

 

Sekarang, ketika sudah masuk masa kampanye lain dalam KM-ITB, saya mencoba mengosongkan pikiran, mengulas kenangan setahun lalu dan tiba-tiba terpikirkan. Tidak sepenuhnya keganjilan mengenai obral janji terletak pada kandidat.

Sebut saja saat Hearing.

Hearing bagi saya adalah momen pemaparan visi-misi-strategi bagi kandidat sekaligus ajang mencari tahu pandangan sang kandidat tentang organisasinya bagi audiens. Lalu apa yang ganjil? Menurut saya, ketika konten yang sesungguhnya merupakan pemaparan visi-misi-strategi tersebut ‘dipersepsikan’ menjadi ‘janji’ bagi audiens.

Coba dengarkan dengan seksama kalimat yang dilontarkan oleh kandidat.

“Menurut saya…”

“Saya ingin…”

“Strateginya adalah…”

Kalimat di atas lebih banyak muncul dibandingkan dengan,

“Saya jamin…”

Bedakan antara “pemaparan” dengan “menjanjikan sesuatu”.

Lalu… apa yang mengesankan kandidat mengobral janji?

Persepsi audien

Ble’e sih, kan ‘udah tau hearing tujuannya mengenali kandidat lebih jauh. Jadi mau tidak mau harus mendengarkan “gagasan selangit dan perkataan manis” karena itulah harapan sang kandidat.

Lalu… ada yang lucu lagi. Kalaupun ada kandidat yang obral janji, apakah hal tersebut merupakan keinginannya? Ataukah keinginan massa?

Sadar nggak sih, ada beberapa pertanyaan yang memang memaksa kandidat untuk menjanjikan sesuatu. Misal,

Apa yang akan kalian berikan kepada lembaga kami ketika terpilih?” (mungkin lebih tepat menjadi “Apa yang ingin kalian lakukan terhadap lembaga kami?”)

Bisa jamin nggak segitu massanya? Oke gw tagih omongan lo nanti” (mungkin cukup menjadi “Berapa orang yang dibutuhkan, dan kenapa segitu?”), dll.

Yaelah audien sendiri juga, gitu, yang minta dikasih janji. Kasian ‘aja sih sama kandidat, dipaksa jawab demi menyenangkan audien dengan dalih ‘Kami perlu jawaban Anda untuk tahu seberapa besar keyakinan & kesiapan Anda mencalonkan diri’.

hehehe

Diposkan pada Jurnal

Keluarga Lebak Siliwangi

Minggu tanggal 4 Desember 2011, difasilitasi oleh Kementerian Pengabdian Masyarakat Kabinet KM-ITB, diadakan pertemuan yang bertujuan sebagai inisiasi awal dalam upaya menjalin silaturahmi lebih baik antara pihak ITB dengan masyarakat sekitar.

Dihadiri oleh Ust.Nur Rachman dan Satria Bijaksana selaku perwakilan YPM Salman, Pak Iwan selaku Ketua RW 3, Pak Wedyanto perwakilan rektorat (SarPras) sekaligus Ketua RT 4, Pak Vedyanto selaku Ketua RW 4, dan Kang Arief, alumni A’05 sekaligus orang yang pernah menjadi Ketua RT saat masih mahasiswa.

Pertemuan berlangsung sekitar dua jam dengan isi perbincangan seputar harapan-harapan perwakilan warga terhadap mahasiswa ITB.

Pak Wedyanto memulai dengan berkata bahwa kampus kita ITB ini luas tapi janganlah seperti katak dalam tempurung yang nyaman dalam tempurungnya saja. Mungkin sekali untuk membuat kegiatan yang tidak melulu tentang bazar atau band, tapi kegiatan berkontribusi ke masyarakat.

Begitu pula menurut Pak Nur Somaddin, Ketua Lurah. Beliau sedikit menerangkan, Baksil memiliki luas sekitar 100 ha. Terdiri atas 6 RW, 25 RT, dihuni oleh 4.442 jiwa dengan 1.086 Kepala Keluarga. Namun, secara real yang beraktifitas bisa berkali-kali lipat karena ada ITB di dalamnya dengan ITB sendiri penghuninya mencapai 10 ribu jiwa. Jadi, apa yang menjadikan mahasiswa ITB bukan bagian dari Baksil?

Baksil merupakan daerah strategis karena memiliki Sabuga, Saraga, kampus ITB, Pusat Nuklir, dll. Banyak potensi untuk mengembangkan masyarakat sekitar, dengan potensi terbesarnya adalah mahasiswa ITB itu sendiri. Yang dirasa aneh adalah besarnya potensi kampus ITB, tetapi warga Baksil sebanyak 228 KK masih miskin. Hal ini menimbulkan pertanyaan, “betul nggak anak ITB adalah bagian dari Baksil?”

Pertanyaan lain yang muncul di benak Pak Lurah. “Anak ITB kenapa tidak melakukan PM di tempat yang dekat-dekat dulu? Karena masyarakat kita juga sebetulnya membutuhkan. Kegiatan apapun, kami terima. Apapun bisa dilakukan oleh anak ITB. Tidak perlu bingung karena ‘tidak sesuai keilmuan kami’ maka tidak jadi PM di Baksil.

Kami berharap bukan cuma jenius otaknya, tapi juga hatinya.”

Kegiatan di Baksil, Dahulu & Sekarang

Baksil sendiri tidak terdiri atas warga saja, akan tetapi juga komunitas-komunitas yang terbentuk di dalamnya. Termasuk komunitas anak dan pemuda. Kegiatan pemuda di Baksil saat ini sedang banyak. Makanya ITB main lah. Kami mengundang mahasiswa untuk bertukar ide dengan pemuda Baksil, ujar Pak Lurah.

Kang Arief menambahkan bahwa dahulu kami (teman-teman mahasiswa) punya kebanggaan beraktifitas di Baksil. Contoh, dulu pernah ada Forum Ganesha. Melalui wadah tersebut, mahasiswa turut melakukan bimbingan ke pedagang-pedagang Balubur yang terkena rentenir.

Pak Iwan ikut menambahkan. Jaman dulu, warga dengan mahasiswa dekat, intens berinteraksi karena mahasiswa pun banyak yang tinggal di rumah-rumah penduduk. Sekarang sudah tidak jamannya lagi tinggal bersama, mungkin karena hal tersebut jadi salah satu faktor kedekatan kita berkurang. Warga Baksil turut merasa kehilangan mahasiswa yang tinggal, sehingga tidak ada lagi yang mengajar anak-anak, mengajar ngaji, dll.

Apa Yang Ditawarkan di Baksil?

Banyak yang bisa kami tawarkan, kata Pak Iwan. Misalnya, pemetaan daerah Baksil untuk mitigasi bencana. Bagaimana seandainya terjadi bencana lalu masyarakat tidak tahu bagaimana cara berlindung?

Untuk kegiatan kesenian mahasiswa, coba saja latihan di daerah bantaran Cikapundung. Karena kebutuhan berkesenian masyarakat Baksil masih ada, jadikanlah sebuah kegiatan PM.

Terakhir, bagaimana mengatur PKL (Pedagang Kaki Lima) di sekitar. Para PKL tahu mereka menempati lokasi yang salah, tapi karena ada konsumen yaitu mahasiswa maka mereka mencoba bertahan hidup (mencari uang) dari sana. Akibatnya pun jadi terasa saat ini. sbadan jalan digunakan lahan parkir. Bisa tidak kita cari jalan keluar untuk menggunakan kendaraan bersama? Dibanding memanfaatkan fasilitas yang tersisa namun merugikan.

Hal-hal kecil yang sebetulnya bermanfaat bisa saja digunakan. Misalnya teman-teman arsitektur memberi alat bermain kepada anak-anak di Baksil, mendekatkan diri dengan warga melalui pergantian kepengurusan mahasiswa yang dilakukan di daerah Baksil (baca: sertijab). Pak Iwan berkata, “Di ITB itu, kementerian mahasiswa kan berlaku hanya satu tahun. Jadi carilah kegiatan jangka pendek yang selesai pada saat itu juga.”

 

Ending

Bicara tentang identitas, mahasiswa ITB juga harusnya punya identitas. Kalau di tridharma Perguruan Tinggi, identitas mahasiswa ada tiga. Pendidikan. Penelitian. Pengabdian Masyarakat. Poin ketiga bisa jadi identitas lho.

Karena, identitas itu penting agar kita punya daya tahan.

Ada sebuah contoh yang menyentuh. Seorang teman pernah membuat bisnis di daerah Suci. Setelah menghasilkan profit, ia memberi modal kepada warga sekitar untuk membuat usaha konveksi sendiri. Akhirnya daerah tersebut ramai dengan bisnis sejenis. Namun, sang teman kemudian bangkrut sehingga harus pergi dari daerah tersebut. Setelah kepergian, ternyata… ada satu nilai yang dirindukan oleh warga terhadap sang teman, perasaan kehilangan. Itulah buah kepedulian terhadap warga sekitar.

Kang Arief FA’05

Semangat, teman-teman ITB!!! 🙂

Diposkan pada Jurnal

Sabtu Sakral di Wisuda ITB

Hari ini kalender tepat mencantumkan tanggal 16 Juli 2011. Sabtu. Jauh beratus kilometer dari tempat saya mengetik ini, teman-teman ITB yang lowong di Bandung sedang merayakan Sabtu Sakral mereka. WISUDA.

Wisuda ITB dilaksanakan tiga kali dalam setahun, yaitu April, Juli, dan Oktober setiap Sabtu. Tapi, sempat beberapa kali diadakan dua hari yaitu Jumat dan Sabtu karena jumlah wisudawan/wisudawati (sebutan untuk orang yang diwisuda) terlampau banyak.

Selain acara formal di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), yang meliputi (setahu saya) sambutan dari ITB dan perwakilan wisudawan, pengambilan ijazah, pengumuman siswa berprestasi, dan foto bersama. Adapula acara formal dan nonformal yang diadakan oleh organisasi mahasiswa berbasiskan program studi masing-masing (ko-kurikuler) dan dikoordinasikan oleh organisasi mahasiswa pusat, KM-ITB. Kalau saya yang jurusannya Teknik Lingkungan ini, organisasi ko-kurikulernya namanya Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL).

Acara ala Himpunan2 terdiri atas wisnight (formal) dan wisday (nonformal). Wisnight dilaksanakan pada malam hari (ya iyalah) dengan suasana formal karena turut mengundang keluarga wisudawan, sedangkan wisday merupakan rangkaian kegiatan setelah para wisudawan keluar dari Sabuga di hari Sabtu. Biasanya hanya terdiri atas arak-arakan, tapi ada juga yang setelahnya melaksanakan kegiatan lain atau tradisi Himpunan masing-masing, sesuai permintaan wisudawan/wati ketika masih menjadi calon wisudawan.

Kudu dandan cantik & senyum dong 🙂

Satu hal yang paling menjadi ciri khas wisuda di ITB yaitu arak-arakan. Karena, seluruh Himpunan pasti mempersiapkan performance sekaligus stamina lebih untuk keren-kerenan dalam menggiring wisudawan, dari Sabuga menuju Himpunan masing-masing.

Arak-arakan dilaksanakan sejak tahun jebot, saya juga tidak tahu. Nah, karena sudah lama sekali dilaksanakan, maka ada beberapa Himpunan yang mulai menghak-patenkan kebiasaan-kebiasaan tertentu dalam mengarak. Contoh, kalau di Himpunan saya ada istilahnya The Bamboos. Performance harus menggunakan konsep The Bamboos yaitu aksi menggunakan bambu-bambu. Ada juga Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM) yang mengeluarkan jurus performance andalan berupa kendaraan bermotor sederhana (sorry mas/jeng nggak tau namanya, paling gagap soal motor-motoran nih). Ada Himpunan Mahasiswa Elektroteknik (HME) yang wisudawan/wisudawatinya suka hepi-hepi sendiri nyemprotin cairan-cairan ke temannya. Himpunan di bagian timur jauh yang selalu balas push-up antara pengarak dan yang diarak, dll.

Yang paling fenomenal PASTINYA adalah mahasiswa-mahasiswa dari SENI RUPA alias Fakultas Seni Rupa & Desain (FSRD). Wah ini performance paling ditunggu-tunggu, soalnya menggunakan properti yang besar, pelakon yang banyak, aransemen musik sendiri, drama, dan so pasti warna warni mencolok. Yang special juga adalah lokasinya. FSRD satu-satunya prodi yang mengambil tempat paling strategis di ITB yang kecil ini, yaitu di bundaran Indonesia Tenggelam/Intel.

Performnya HMTL biasanya pake BAMBU
Contoh lainnya, perform HMM pake mobil
Mau ngarak harus total!!! ngecat muka
wisudawan juga suka usil, gangguin yang ngarak
Masing semangat ‘aja

Sayangnya untuk wisday kali ini saya tidak bisa ikut karena sedang di rumah, menunggu kesembuhan tangan sekaligus menunggu jadwal operasi mulut senin depan. Ya, melalui sini saya ucapkan:

Selamat Jadi Pengangguran Sementara!!! Semoga nggak selamanya. Semoga Jadi Sarjana Yang Tulus Mengabdi, Turunkan Jumlah Orang Miskin Indonesia dan Doakan Saya Wisuda Tahun Depan. Amin.   

*foto-foto Wisuda Oktober 2010
Diposkan pada Jurnal

Cerita KP dari Kota Reog

Ini postingannya ‘beda’ sama postingan saya sebelum-sebelumnya dari gaya tulisannya. Soalnya ini murni saya co-pas dari blog angkatan, yang isinya tentang sharing-sharing tempat KP. Selamat menikmati 😀

———-

Nah kali ini giliran gw cerita ttg KP gw. Jadi, gw KP di Pabrik Gondorukem & Tepentin di Desa Sukun, Ponorogo sonoan dikit dalam-dalam. Maksudnya, gw KP di pabrik yang nggak terletak di kota. Terus tau kan ini kota apa?

Kota Reyog Ponorogo, yang terkenal sama Dhadak Merak-nya itu lho si duo kepala singo-merak.

Di depan PGT ini ada PMKP (Pabrik Minyak Kayu Putih) nah gw tinggal di rumah Kepala PMKP yang cuma tinggal berdua sama istrinya. Anaknya dua-duanya sudah menikah dan satu tinggal di Makassar, satunya lagi jadi pegawai di PGT dan tinggal nggak seberapa jauh dari rumah yang gw tinggalin.

Hari pertama gw langsung disambut oleh seorang anak kecil lucu imut parah anaknya si anak kedua si Bapak Kepala PMKP namanya exel (mungkin gini tulisannya). Ini dia orangnya, ya jadi selama beberapa hari gw ditemani oleh malaikat kecil yang bisa gw cubit-cubit tiap sore. Thx God.

    

Hari pertama gw langsung diajak lihat proses produksi. Jadi apa itu gondorukem dan terpentin? Silakan googling sendiri. Pokoknya bahan dasarnya adalah getah pinus. Hari kedua gw lihat proses pengolahan limbahnya. Hari ketiga dst gw lupa urutannya gimana yang pasti gw sudah blablabla yang berhubungan dengan akademik:

  1. Jalan-jalan lihat proses penyadapan getah pinus, masuk ke hutan pinusnya betulan (sayangnya siang-siang #eh)
  2. Lihat ke PMKP juga alias pabrik yang bikin minyak kayu putih.
  3. Lihat ke pembakaran bahan bangunan – gamping karena di sana limbah padatnya dipake buat bahan bakar.
  4. Dll.

Kalau yang nggak berhubungan sama akademik, gw :

  1. Gw melewatkan atraksi reyog yang biasa dilaksanain malam-malam pas purnama di tanggalan jawa. Kemarin jatuh purnama tu pas tanggal 16 Juli malam dan gw nggak ke alun-alun kota buat nonton, karena gw baru tau kl purnama jatuh tanggal segitu esok harinya. Hiks.
  2. Makan siang tiap hari selalu ke kota naik mobil ngabisin pulang pergi sekitar menuju 1 jam, ditraktir sama pembimbing gw.
  3. Di situ nggak bisa interneeet 😦 Nah sekarang saat gw dah keluar dari desa, baru bisa deh nemu sinyal buat modem gw berjalan sebagaimana mestinya.
  4. Pembimbing gw kan cowok gitu ya, alumni T.Industri UGM 2004 terus suka ngomong-ngomongin tentang dunia perkuliahan UGM-ITB-UI gitu-gitu. Tapi untungnya juga beliau ni baru jadi alumni dan dari UGM pula jadilah gw bersyukur ada sedikit topik pembicaraan di luar urusan KP hahaha
  5. Nontonin ibu-ibu main voli di lapangan tiap sore. Sumpe deh jago-jago bet mainnya walaupun dah pada tua-tua. Ibu rumah gw yang paling jago keknya. Jadi, semakin ke sini tu ibu-ibu makin rutin latihan soalnya mau 17 agustusan dan karena puasa jadilah lombanya dimajuin jadi juli. Nanti tanding volinya antar desa dan desa ini tahun lalu juara 1 cewek voli, wuihihi seru ye kayaknya.
  6. Jadi di lahan pabrik gw itu baru ‘aja selesai dibangun GOR buat main bulutangkis kapasitasnya cuma 1 lapangan sih hehehe. Abis kelar bangun, langsung diadain turnamen bulutangkis sedesa. Mungkin gara-gara kagok nggak pernah main bulutangkis, banyak bapak-bapak/ibu-ibu yang pegal2 hahaha lucu banget ini banyak yang ngeluh sakit pergelangan tangan lah, itu lah…
  7. Gw sempat jenguk salah satu pegawai yang kecelakaan pas main bulutangkis di rumah sakit di kota. Jadi, mainnya kan ganda putra gitu ya terus dia di depan. Pas temannya mau mukul kock dari belakang, dia nengok ke belakang walhasil kenalah itu kocknya ke kepalanya sampai pendarahan. Aneh-aneh ‘aja deh ya.
  8. Gw pernah ngikut bikin kue putu ayu di 1 rumah pegawai. Terus gw bantuin bikin cendol di dapur kantor. Hahaha sekalian belajar masak deh.
  9. Gw ikut nemenin bapak rumah gw periksa ke dokter soalnya beliau ada masalah jantung gitu. Terus abis itu gw ditraktir makan :p
  10. Gw sempat kehilangan dompet!!! Pas lagi beli oleh-oleh di toko souvenir khusus Reyog Ponorogo, gw nggak sadar ternyata dompet gw jatuh di sana. Untungnya gw belum su’udzon (berburuk sangka) sama orang kantor. Setelah mumet menduga-duga, ada orang kantor yang ngasi tau gw kl ternyata dia abis ngecek ke toko souvenir yang kemarinnya w ke sana dan ada pesan yang ditinggalin buat gueee. Itu pesan dari orang yang nemuin dompet gw. Isinya nama, alamat dan nomor HP si penemu. Dia titip pesan ke mba-kmbak souvenirnya kl aa si pemilik alias gw, tolong ngehubungin dia.

Ceritanya gw siang itu langsung mau ke rumahnya ngambil tu dompet eh tapi pas gw telpon si penemunya bilan dompetnya dah ditaro lagi di toko. Alhamdulillah jadi gak perlu capek-capek ke rumahnya hahaha. Itu ya, gw jadi gak enak sama orang kantor soalnya kan gw pendatang dan pas banget gw yang kehilangan jadi gw takut bikin yang nggak enak-enak sama orang kantor.

Tapi untungnya mungkin gara-gara di desa jadi rasa kekeluargaannya dah terbangun kali ya. Waktu tau dompet gw ilang, mereka langsung bahu-membahu (ce’ileh) memastikan nggak ada orang kantor/pabrik yang (maaf) nyuri trus langsung gerak ke mana-mana bantuin gw nyari. Sampai nyusulin ke toko souvenir di kotaaa padahal gw-ny amasih adem ayem ‘aja nggak mikirin. Gila ini nih baru namanya KEBAIKAN (lebay version).

11. Terakhir adalah karena pembimbing gw satu-satunya bujangan di desa itu, gw jadi suka risih banget kl ketemu orang pas lagi bedua, trus tiba-tiba ditanya “oooh calonnya ya?” hahaha

-_________-

Nah sekian dulu deh soalnya dah banyakan nulisnya, oiya tema gw entah namanya waste-to-product atau daur ulang limbah gw nggak tau mana istilah yang lebih tepat dipake. Jadi, limbah getahnya ini ada yang bisa diolah lagi jadi produk yang berjenis sama tapi kualitasnya rendah. Adakah yang tau apa istilah yang lebih tepat? Trims

Have fun semua guys, yang akan, sedang, dan sudah KP selamat membuat laporan semoga cepat kelar.

Salam merak hehehe

Sausan A.M.

153 08 031

Diposkan pada Jurnal

Hari Kedua KP

Melaporkan dari ruangan 3×3 meter di desa Sukun. Hari ini hari kedua saya KP. Jadi, tadi siang saya diajak pembimbing buat lihat-lihat proses pengolahan limbahnya. Banyak nih limbahnya, ada yang padat ada yang cair. Yang padat itu serasah (daun pinus, bunga pinus, kayu pinus). Adapula yang cair dibagi-bagi jadi beberapa yaitu kotoran halus, air limbah, lumpur, dan getah pinusnya itu sendiri. Lalu perlakuannya masing-masing berbeda. Yang getah pinus dimasukin lagi ke dalam proses, yang air limbah diolah dalam IPAL, yang lumpur dibuang, yang kotoran halus alias jonjot diproses lagi jadi produk berkualitas rendah.

Tau gak? Melihat prosesnya saya kelabakan lho. Karena tema yang saya ajukan ternyata tidak adaaa. Maksudnya ada tapi pengolahannya sangat sederhanaaa. Yang limbah padat cuma dijadikan bahan bakar batu gamping.  Terus saya bingung deh. Kirain di sini limbah padatnya sudah punya sistem pengolahan sendiri untuk dibentuk atau diproses menjadi ‘sesuatu’. Eh ternyata cuma dilempar ke dalam perapian saja -______-

Tidak bisa menulis banyak-banyak deh akhirnya. Sekian.

15 Juni 2011 – 8an malam 

Diposkan pada Jurnal

Hari Pertama KP

Melaporkan dari suatu ruangan di daerah terpencil di barat Jawa Timur. Saya, Sausan Atika Maesara baru saja melaksanakan satu hari sebuah kewajiban akademik yaitu Kerja Praktek (KP). Apa itu KP? Sebuah mata kuliah wajib semester depan (semester 7) 2 SKS yang intinya kita observasi selama minimal 1 bulan di perusahaan/industri tertentu untuk melihat proses tertentu yang berkaitan dengan bidang lingkup per-teknik lingkungan-an.

Saya mau cerita sedikit dulu tentang hari pertama saya menjalankan KP.

Di manakah itu? Saya KP di Pabrik Gondorukem & Terpentin (PGT) Sukun di sebuah desa dalam Kab.Ponorogo, Jawa Timur. Tau? Ya, itu lho Kota Reyog.

Kenapa saya pilih di sini? Alasan utamanya adalah karena objeknya bukan migas atau tambang. Kedua, karena objeknya unik, maksudnya siapa sih anak ITB yang mau menjamah getah pinus, ya objek lain di luar migas dan tambang maksudnya? hehehe. Ketiga, karena malas ngurus administrasi blablabla, maklumlah ini pakai link dari ayah. Sebetulnya saya sangat ingin KP di pabrik tekstil, tapi karena faktor ketiga sangat mendominasi dan ada faktor urusan lain di kampus yang harus dipikirkan makanya gagal. Kecewa lah sama diri sendiri. Payah gw ya. Lain waktu deh lebih berjuang amin.

First Impression

Saya sampai di sini tadi pagi dan segera menuju rumah pegawai yang akan saya tinggali, namanya Pak & Bu Jarkasi. Beliau-beliau ini cuma tinggal berdua. Anak sulungnya tinggal di Makassar dan anak keduanya bekerja di pabrik tempat saya KP juga. Anak keduanya ini bernama Mbak Nita (umur sekitar 31 tahun), tinggal di rumah yang berbeda tapi masih 1 komplek di komplek pegawai sini.

PGT ini terletak desa Sukun, makanya namanya PGT Sukun. Bukan bagian dari kota, oleh karena itu sepi sekali di sini. Akses angkutan umum tidak ada, dan sekelilingnya sebagian besar hanya hutan kayu putih. Adapun rumah-rumah penduduk jarang dan letaknya berjauhan satu sama lain.

Pabriknya pun kecil ternyata. Saya kira gede. Ya, tapi semoga skupnya masih setara dengan teman-teman yang ke pabrik gede.

Kesimpulannya adalah : tempat KP saya terletak di desa ‘agak’ terpencil dan. Simple.

Sesampainya di rumah saya langsung taro barang, ramah tamah dan langsung ke pabrik. Bukan deng. Ke kantornya dulu. Pertama kalinya disambut oleh Pak Sarmanto alias Kaur (Kepala Urusan) Teknis. Beliau bilang nanti saya akan didampingi oleh Pak Dani alias asisten manager alias Kepala Pabrik hahaha gila.

Hari pertama langsung saya diajak keliling lihat proses produksi.

Jadi, pabrik ini merupakan (kalau dalam pohon, istilahnya) rantingnya sebuah pohon bernama Perhutani. Pabrik ini mengolah getah pinus menjadi produk gondorukem dan minyak terpentin. Penasaran? Silakan googling sendiri guys.

Prosesnya sederhana sekali dan mudah dimengerti. Membuat saya agak minder nih sama teman-teman lain yang perusahaannya pasti gede terus pengolahannya pasti rumit blablabla gitu. Ya semoga pikiran selintas ini cuma sementara.

Ma’em Murah Bro

Setelah lihat-lihat proses produksi, saya diajak makan siang oleh Pak Dani dengan ditemani Mbak Nita ke kota. Istilahnya kota cem dari kampung ‘aja hahaha, mau apalagi soalnya pabriknya di desa bukan di kota. Saya naik mobil Pak Dani. Lalu makan di rumah makan lesehan. Enak, anginnya banyak tapi sebelahnya cuma padang ilalang. Ya mungkin itu ya yang membuat udaranya makin sejuk.

Yang mengagetkan adalah, HARGANYA MURAH BET. Maksudnya, harganya harga standar warung-warung pinggiran di Bandung gitu. Padahal tempatnya bagus lho, ada tempat mainan anak kecilnya juga. Kata Pak Dani, “Murah kan? Rumah makan sama warung-warung kalau di sini sih harganya sama lho jadi mending makannya di rumah makan”

Oh saya kira yang di warung lebih murah lagi lho, kalau ayam goreng mungkin di rumah makan ini10 ribu saya kira di warung bisa sampai 6 ribu ternyata sama saja toh. Makanya akhirnya saya pesan ayam goreng, sayur asem dan jus strawberry. Ayam goreng harganya 10 ribu, sayur asem harganya 4 ribu, dan jusnya 4 ribu. Sama ya harganya kayak warung-warung pinggiran di Bandung.

Ternyata sayur asemnya SUPER BANYAK jadi nggak habis deh. Mana ada tomat sama wortelnya pula kan saya bingung biasanya cuma ada kacang panjang, kacang tanah, daun melinjo, melinjo, labu, sudah. Ini cemacem hahaha. Kalau kata Mbak Nita, itu sayur asemnya jawa. Kalau sayur asemnya sunda baru deh yang nggak pakai tomat sama wortel.

Nah di saat-saat menjelang mau pulang dengan piring yang sudah tak berisi, pastinya yang ditakutin seorang perantau adalah à DUIT. Ya, saya bingung ini siapa yang bakal bayar HAHAHA. Setelah ditanya ‘sudah?’ Pak Dani pergi ke kasir untuk bayar. Saya sampai sms mama, nanya kalau kayak gini duitnya nggak mesti diganti kan? Katro abis nih, nggak enak soalnya dibayarin hehehe.

Sekian tentang makanannya. Habis makan, pulang lagi naik mobil Pak Dani ke pabrik. Berhubung saya dibilang ‘pasti capek ya, mbak’ akhirnya saya nggak diajak ke lapangan lagi tapi disuruh ke kantor. Di kantor saya dikasi 1 kursi tersendiri di sebelah Mbak Nita dan seorang pegawai TU namanya Bu Yuni.

Seketika siang itu setelah saya duduki, Bu Yuni langsung menyuguhkan tempe goreng tipis-tipis yang sangat garing enak maknyus buat dimakan. Ples air putih. Jadi nggak enak lagi, pikir saya dalam hati. Terus bingung kan mau ngapain sambil menunggu jam 3 sore. Akhirnya saya cuma corat coret kertas deh.

Jam 3 Ke Atas

Jam 3 teng saya pulang ke rumah. Oiya saya belum cerita ya? Komplek perumahan pegawai dengan pabrik cuma 5 meter lho, jadi bisa bebas pulang sesuka hati. Kalau jalan kaki mungkin habis waktu sekitar 3 menitan. Saya pulang jalan kaki, niatnya sore ini mau beres-beres koper. Tadi pagi kan cuma ditaro di kamar.

Jadilah saya mendem di kamar dari jam 3 sampai 6, keluar hanya untuk wudlu dan mandi.

Pukul 6 lewat sedikit setelah shalat magrib, Bu Jar (panggilan buat si empunya rumah) ngetok-ngetok pintu ngajak makan malam. Makannya makan pecel, ayam, dan tempe. Tau kan kalau Ponorogo itu sebelahnya Madiun (I guess you’re not :p) otomatis pecelnya enak, ada ciri khasnya tersendiri. Untuk sayurnya, ada bunga turi-nya. Agak pahit tapi enak lah sebagai pelengkap. Toge-nya juga toge yang masih tunasnya kecil banget bro, jadi krenyes-krenyes gitu. Sambelnyaaa yang paling mantap. Enak deh pokoknya nikmat jengjet!

Saya makan berdua sama Bu Jar. Karena Pak Jar sedang ke pabrik. Urusan pabrik memabrik nanti sajala di postingan yang lain.

Nah sambil makan itu saya mikir nih ceritanya dan faktanya betulan mikir sih. Dalam hati saya berharap ini makanannya bukan ‘diada-adain’. Ya taulah maksudnya, kalau misalnya kedatangan tamu apalagi tamu dari kota wah kan maunya menjamu dengan sebaik-baiknya, tapi semoga nggak ya, Bu? Seadanya saja saya juga wong Indonesia tulen kok sukanya mangan sayur.

Habis makan saya nemenin Bu Jar nonton TV dulu. Bu Jar nontonnya sinetron RCTI, apa ya itu? Saya nggak afal abisnya nggak pernah nonton -__________-

Pas jam 8an saya ke kamar mandi deh buat wudlu dan sekalian minta ijin mau langsung tidur. Capek dari pagi belum tidur. Pas sampai di kamar, mendekati paragraf-paragraf terakhir dari postingan ini, saya shalat terus menyalakan laptop dan menemukan fakta bahwasanya MODEM SAYA NGGAK JALAN, karena nggak ada sinyal. Nol besar. Hiks.

Ya sudah deh. Postingan pertama ini saya simpan sampai nanti ketemu internet.

Bye. Goodnight. Have a nice dream. Jangan lupa pasang weker.

Salam remang-remang (lampu tidurnya) dari kamar depan

14 Juni 2011 – 20.56