Diposkan pada Journal

Mari Kita Menuntut

Kembali.

Merenungi masa-masa penghabisan selama hampir 3 tahun terakhir di kampus gajah. Suka-duka yang berulang kali menghampiri. Kejenuhan menghampiri diiringi kesenangan menyusul yang menutup masa-masa penat yang dilalui.

Tiga tahun. Waktu yang tidak sedikit sepertinya, untuk mulai menumbuhkan kesadaran akan perlunya mengembangkan diri sekaligus mewujudkan mimpi dalam sebuah komunitas bersama di luar segala aktivitas akademik. Makhluk sosial.

Tidak terasa pula saat ini menjelang 2 tahun sudah tersandang status anggota sebuah organisasi ko-kurikuler dalam sebuah kampus yang sebagian besar civitasnya (baca : mahasiswa) dielukan sebagai orang-orang terbaik bangsa. Bukan menampik kenyataan, bukan pula angkuh. Anggap saja doa. Pengharapan besar bagi saya dan kita semua untuk menjadi sarjana utuh setelah menyerap (Insya Allah) banyak ilmu di tempat ini.

Dan sampai pula pada titik dimana orang-orang terdekat, lingkungan sekitar kita, masyarakat, bahkan hati nurani pribadi mempertanyakan. Setelah lama menikmati segala sarana-prasarana, baik materi maupun imateri yang baik kita sadari maupun tidak, pasti telah mengembangkan atau minimal menumbuhkan potensi pribadi. Serangkaian pemenuhan kebutuhan telah dikonsumsi. Maka, sudah saatnya membalikkan pernyataan menjadi sebuah pertanyaan.

Kebutuhan apa yang dapat saya penuhi?

Pertanyaan yang masih mungkin sulit untuk dijawab meski dengan ikhtiar. Maka, berkatalah sekiranya,

“Apa yang dapat saya berikan?”

Inilah masa-masa lingkungan menuntut ketulusan seseorang untuk mewujudkan kondisi ideal dalam pandangannya. Atau inilah masa-masa seseorang menuntut pencapaian terbaik yang dapat diwujudkan lingkungannya.

 

“…kedudukan adalah alat untuk mencapai tujuan”

M. Yunus – Ketua KMPN 2008/2009

 

Namun, ketika usaha yang telah dikerahkan tak mampu menjangkaukan kita terhadap alat tersebut, maka cukuplah hidup untuk senang dan (tetap) bermanfaat.

Tetap semangat 🙂

.

.

.

13.03 di Himpunan
random. tiba-tiba mau menulis tentang ginian.
Iklan
Diposkan pada Journal

Kenaikan Tarif Dasar Listrik, Sebuah Ironi?

Sebuah potongan tulisan saya untuk lembaga. Tulisan aslinya panjang, tapi nggak perlu-lah ditulis lengkapnya untuk dipajang di blog.

Kenaikan Tarif Dasar Listrik diberlakukan terhitung sejak 1 Juli 2010. Mungkin mendadak, mungkin pula sudah diperkirakan. Namun, akar permasalahan serta maksud dari penaikan TDL ini belum tersosialisasikan dengan baik di masyarakat. Ya cobalah tanyakan pada orang-orang di sekitar.

Kenaikan tarif dasar listrik sesungguhnya menjadi sebuah ironi di tengah melimpahnya sumber energi di Indonesia. Kita semua tentu saja berharap, kalaupun memang TDL harus dinaikkan, pemerintah siap menyelamatkan rakyatnya dari efek buruk yang mungkin terjadi lewat kebijakannya.

Ya itulah pemerintah. Lalu, di manakah peran kita, mahasiswa Teknik Lingkungan?

Saya rasa cukup banyak yang lupa dengan salah satu peran mahasiswa sebagai control agent, pengontrol kebijakan sekaligus pengawas kinerja pemerintah. Mungkin ilmu kita kurang, tapi berbekal semangat dan kekritisan, bisa saja kita menjadi sok tahu dalam menyikapi isu menyangkut pemerintahan. Tapi justru di situlah tantangan mahasiswa dalam menjalankan posisinya sebagai insan akademis berdasarkan kebenaran ilmiah. Pilihannya hanya mau atau tidak dalam menjawab tantangan tersebut.

Pasalnya, saat ini masih banyak yang seolah tutup mata akan kebijakan-kebijakan pemerintah. Masih harus berkaca, begitupun saya. Padahal, seharusnya kita ini tidak lah menjadi mahasiswa nyinyir yang acuh atau hanya mampu mengkritik tanpa mengedepankan kebenaran, melainkan membantu pemerintah berpikir.

Dan meskipun kita yang berbasis keprofesian Teknik Lingkungan ini mungkin masih dangkal ilmunya mengenai kebijakan karena kita bukan Planologi, atau soal kenaikan TDL ini kita juga tidak banyak paham karena kita bukan anak Elektro yang mengetahui kondisi PLN, atau Teknik Perminyakan yang tentunya lebih paham potensi SDM (Sumber Daya Mineral) di Indonesia, ayo lah sama-sama kita membuka mata lebih lebar dengan isu-isu yang cakupannya bangsa. Toh kita bersentuhan langsung dengan segala dampak kebijakan pemerintah.

Terima kasih.

Demi Tuhan, Bangsa, dan Almamater !!!

Diposkan pada Journal

Baleendah dan Cikapundung

17 April 2010, Sabtu Pagi

Hari itu adalah hari yang melelahkan bagi saya. Cuma mau cerita-cerita sih. Hari itu saya awali dengan beberes ransel ya walaupun sedikit barang bawaannya. Rencananya saya diajak Kak Mirna, Kadiv Comdev Departemen Pengmas HMTL ITB ikutan ke Baleendah buat survei2. HMTL rencananya juga, mau membuat semacam alat pengolahan air bersih untuk daerah Baleendah yang memang sedang hangat-hangatnya dibicarakan sebagai lokasi bencana [manusia] sejak 3 bulan terakhir.

Saya datang jam 8 pagi lewat sedikit di Gerbang Ganesha, ternyata di sana baru ada kakak2 : Mirna, Adhiet BW, dan Fatur. Yah baru segini, alamat telat berangkat ini sih…pikir saya dalam hati. Yah pokoknya sampai jam 9 pagi saya cuma duduk menunggu bersama beberapa orang lain, ada Dida dan kakak2 : Mirna, Adhiet BW, Seli, Mitha, Karinta, Ade. Fatur cao memang tidak ikut. Siapa yang ditunggu nih? Ternyata biangnya adalah kakak2 : Igoy dan Afne. Mereka ketiduran di himpunan, katanya sih jam 8 dikira jam setengah 8. Ya pantes telat. Okelah lanjut.

Mengingat sudah jam 9 lewat sedikit dan ketika saya mempertimbangkan kembali untuk ikut, akhirnya saya memutuskan pilihan tidak ikut ke Baleendah. Karena jam 1 siang saya sudah harus ada lagi di kampus, praktikum Mekanika Fluida di Sungai Cikapundung. Takutnya nggak sempat. Perjalanan ke Baleendah memakan waktu satu setengah jam lebih soalnya.  Belum lagi karena itu hari Sabtu, kemungkinan macet lebih besar.

Okelah saya ditinggal sendirian. Tapi tak berapa lama kemudian Kak Mirna menelepon, katanya saya disuruh ikut saja karena dijanjikannya habis dzuhur langsung pulang. Estimasi saya sampai ke kampus bisa jam setengah 2. Kebetulan banget Kak Andi selaku Kadept.Pengmas sekaligus PJ Modul praktikum saya siang itu memberi keringanan sampai jam 2 siang. Gila. Kak Andi Nepotisme nih. Hahaha untunglah, tapi nggak baik nih.

Saya naik mobil Kak Adhiet BW sama Igoy, Afne, dan Dida. Perjalanan berangkat memakan waktu satu setengah jam. Di Bojongsoang [kalau nggak salah], datanglah Kak Bokir membawa motornya, menyusul karena rumahnya memang di daerah sana. Kami lanjut sampai berhenti di Kantor Kecamatan Baleendah. Di sana bertemu dengan Pak-Siapa-Lupa-Yang-Pasti-Bukan-Pak-Camatnya.

Mari saya kasih sedikit informasi yang saya dapat dari papan data di kantor kecamatan tersebut. Pada tanggal 13 April, di kelurahan Andir dan Baleendah, air pasang dengan total 699 rumah terendam. Tanggal 15 April air pasang lagi dengan total 328 rumah terendam pada dua kelurahan tersebut. Baru dua hari berlalu sejak air surut kembali, saya berkunjung ke sana.

Beliau, Pak-Siapa-Lupa-Yang-Pasti-Bukan-Pak-Camatnya menceritakan kondisi bahwa di sana banjir bisa pasang dan surut sewaktu-waktu. Dan hingga saat ini pun, masih ada sekitar 300-an rumah di kelurahan Baleendah, yang terendam lumpur. Ya. Bukan air banjir tapi lumpur, tepatnya.

Sekedar informasi juga, di halaman kantor kecamatan tersebut terdapat sebuah alat pengolahan air bersih buatan Belanda, kata si Bapak. Alat itu didatangkan ke Indonesia sejak terjadinya tsunami Aceh, dioper ke-apa-lagi-ya-bencananya-saya-lupa, barulah pada bulan Maret 2010 kemarin dipindahkan ke Baleendah. Sumber airnya diambil dari kolam di samping kantor, diolah, dan hasilnya ditampung dalam sebuah bak superbesar untuk kemudian dapat dikeluarkan melalui keran pada bagian bawahnya untuk mengalirkan air.  Jujur saja sih ya, airnya masih sedikit kuning kalau yang saya lihat dengan mata sendiri.

Ini dia alat olahan air bersih Turun-Temurun-Bencana
 
 
Sumpah ini nggak pake efek foto apapun, kuning ‘kan kuning?

Lalu, kami serombongan pergi menuju daerah Cieunteung, daerah yang baru saya tahu menjadi daerah paling parah efeknya. Sayangnya sesayang-sayangnya, sepatu bot cuma ada 4 dan ternyata medan tidak sesuai dengan yang kami bayangkan. Lumpur masih terlalu dalam untuk ditapaki sandal/sepatu apalagi dengan mahasiswa-mahasiswa elit [ya ya ya saya akui ini] yang tidak biasa berkutat dengan lumpur. Bahkan tak jauh berapa meter ada 2 buah kano kecil. Tahu ‘kan ya maksudnya? Ya untuk alat transportasi. Dan pada akhirnya cuma kakak cowok2 : Adhiet BW, Igoy, Afne, dan Bokir yang masuk ke dalam Cieunteung untuk bertemu dengan Pak RW, menanyakan kondisi setempat.

Sekitar sejam menunggu, kami cewek2 menunggu sembari duduk di luar jendela sebuah rumah yang lembab dengan lantai penuh lumpur kering. Saya sempat foto pintunya. Ini dia, ternyata si lumpur pernah membuat sejarah bagi rumah ini dengan menempelkan endapan-endapannya hingga ketinggian lebih dari setengah daun pintu alias se-alis saya kira-kira. Itu baru endapan lumpur, belum air banjirnya lho. Cemana lah tingginya.

Sekitar jam 12 rombongan cowok2 datang. Yang dilakukan pertama adalah mengeluarkan air berlumpur dari dalam sepatu bot. Lalu berjalan kaki menuju SPBU setempat untuk mencuci kaki. Kak Adhiet BW menceritakan kondisi di dalam sana. Jadi, dalam mushola terdapat sebuah bak setinggi kira2 dada Kak Adhiet BW, yang berfungsi sebagai alat kelola air bersih. Alat itu dikhususkan ditempatkan di mushola untuk kemudahan akses rumah-rumah setempat mendapatkan air bersih jika banjir sedang pasang, tidak perlu ke kantor kecamatan.

Mekanismenya adalah air banjir diambil, dimasukkan ke dalam bak, lalu dibubuhi kaporit, PAC, dan-lupa-satu-macam-lagi, ya pokoknya begitu sampai endapannya jatuh dan air bisa dikonsumsi untuk kebutuhan sehari-hari. Kalau untuk air minum, ya pakai air itu tapi dimasak lagi.

Kak Adhiet BW menceritakan bahwa si Bapak di mushola sana bilang kalau yang paling sulit didapatkan adalah makanan. Ya mau bagaimana juga ya, dipikir2 memang kalau sedang pasang, warga mana bisa keluar rumah jauh-jauh untuk cari makanan? Akses mendapatkan air bersih kan bisa didapat di mushola, lha kalau makanan?

Dengan hasil survei tersebut dan bermodal dokumentasi, kami pun kembali menuju kampus. Rencananya, hasil survei ini akan dibawakan kepada Bu Ogi, salah satu dosen Teknik Lingkungan, untuk dibahas bersama.

Melelahkan. Pusing karena kepanasan. Semangat juga menurun sedikit karena tidak bisa masuk ke dalam gang. Ya yang penting dapat sedikit manfaat lah. Sedih sih melihat seorang bapak-bapak yang mengkayuh gerobak mau masuk ke dalam tapi memutuskan diri untuk keluar gang lagi hanya beberapa meter dari jarak saya berdiri, karena lumpurnya memang terlalu dalam, tidak bisa itu dimasuki gerobak.

Ada pula beberapa anak kecil baru pulang sekolah, melepaskan sepatunya dan mengangkat celananya, mulai menerobos lumpur. Tinggi mereka cuma sekitar seperut saya. Bayangkan, kalau setiap hari mereka harus bolak-balik seperti itu, berapa jumlah air bersih mereka habis dipakai hanya untuk cuci seragam?

Dengan kondisi badan yang menurun karena kelaparan dan kepanasan, akhirnya kami kembali ke kampus. Saya masih bersama Dida dan kakak2 cowok : Adhiet BW, Afne, Igoy. Bokir pulang pakai motor ke rumahnya. Walaupun mepet tapi saya sih santai-santai saja melihat jam. Pukul 1 lewat. Pasti telat praktikum sih ini, pikir saya.

SO GEBS-nya adalah mobil Kak Adhiet BW tiba-tiba MOGOK DI TENGAH JALAN di daerah Bojongsoang kalau nggak salah lihat papan-papan toko. Dengan perasaan nggak enak, saya memutuskan naik angkot demi mengejar praktikum yang sebenarnya sudah pasti telat. Benar-benar nggak enak meninggalkan kakak2 itu mengurusi mobil ya walaupun saya juga pasti gabut sih di sana. Dida juga. Malah ikut dia naik angkot sama saya, berhubung pasti gabut dan cewek sendiri nantinya.

Okelah akhirnya kami naik angkot dua kali menuju depan SMA 3 Bandung, lanjut angkot Kalapa-Dago. Dida terus ke Kanayakan [nggak praktikum shift Sabtu siang, dia] saya terus naik angkot Caheum-Ciroyom menuju jembatan Babakan Siliwangi, TKP [Tempat Kejadian Praktikum].

Dan waktu di jam tangan saya telah menunjukkan pukul 14.21

To Be Continued

Diposkan pada Journal

Ngapain Sih Dik Doank?

Kamu tahu? Sekitar pukul 10.00 pada tanggal 19 Februari 2010 ketika saya memasuki Aula Barat, saya sudah tahu akan menikmati sebuah momen yang cukup sayang kalau dilewatkan. Meskipun datang telat karena kuliah, setidaknya saya datang karena memang ada ketertarikan tersendiri melihat siapa yang omongannya akan saya dengarkan pagi itu.

Dik Doank, Kak Sano, Putri Pariwisata Indonesia, dan ada Manik-Laluna sebagai moderator. Moderator? Yap. Karena itu adalah salah satu acara talkshow GELAR PEDULI LINGKUNGAN 2010 bertemakan “Eco-lifestyle”. Overall, mungkin saya bisa katakan itu adalah salah satu talkshow paling oke di ITB yang pernah saya ikuti. Mungkin terdengar berlebihan tapi sumpah ini beneran.

Kalau lihat isinya, pastinya tulisan ini sudah out of date. Tapi justru dengan out of date-nya itu saya sekedar ingin mereview beberapa kalimat istimewa yang saya dapat selama 1 jam duduk dalam ruangan tersebut. Barangkali pada lupa. Ya meskipun sebagian besar hanya saya dapat dari Dik Doank yang SANGAT NIAT & WAH dalam penyampaiannya. Lagi-lagi, sekedar mereview buat kawan-kawan yang mungkin juga berhalangan hadir. Oke mulai saja ya.

Ada yang salah besar dalam dunia pendidikan kita

Dik Doank


Kalau anak-anak tahu keindahan, apa mereka akan buang sampah sembarangan?

Dik Doank


Kita tidak pernah berhasil kalau hidup tidak didasari pendidikan rasa yang diolah oleh seni

Dik Doank


Jangan sampai ITB hanya melahirkan orang-orang kalkulator

Dik Doank


Kita bukan bangsa pencipta kalau pendidikan kita terus seperti ini

Dik Doank


Yang paling penting dari musibah adalah hikmah

Dik Doank


Nikahilah penderitaan karena penderitaan itu adalah singgasana kebahagiaan

Dik Doank


Kalau bangsa kita sudah menang sepakbola, bangsa ini sudah beres

Dik Doank


Aku ingin masuk ITB, tapi tidak diterima.

Aku masuk IKJ, tapi inilah jalan hidupku.

Dik Doank


Orang yang mengatakan oang lain sombong adalah orang yang kurang wawasan

Dik Doank


Setiap kali kau dibicarakan orang lain, yakinlah kau telah berbuat kebajikan

Dik Doank


Habiskan air minummu di undangan

Manik-Laluna


Saya teh emang USA. Urang Sunda Asli

Manik-Laluna


Kita jangan memikirkan dunia, karena dunia sudah ada yang memikirkan.

Kita jangan memuliakan Allah, karena Dia sudah mulia.

Tapi mintalah karena kita butuh kemuliaan-Nya.

Dik Doank


Izinkan aku bernyanyi tidak di hadapanmu

(kemudian beliau membalikkan badan membelakangi penonton, dan melantunkan lagunya)

Dik Doank


CK : Oh iya. Barangkali ada kutipan yang kurang tepat, mohon dikoreksi ya. Terus kalau butuh pembicara, Dik Doank kayaknya memang orang yang top recommended.

Diposkan pada Journal

GPL 2010

GERAKAN PEDULI LINGKUNGAN 2010

Merupakan sebuah rangkaian acara dari Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan ITB. Suatu ajang dimana kita dapat menunjukkan dan merealisasikan kepedulian kita terhadap lingkungan

GPL terdiri dari berbagai bentuk acara:

1. ECOSCHOOL VI

Edukasi berbasis lingkungan kepada generasi muda. Ecoschool memberikan bimbingan kepada siswa SMP berupa materi-materi serta simulasi berbasiskan lingkungan oleh para mentor dari HMTL ITB yang sudah ditraining untuk melakukan pendidikan lingkungan. Ecoschool kali ini berjalan di SMPN 44 Bandung.

2. BAKTI KAMPUS

Terdiri dari 3 sub acara, yaitu: roadshow himpunan, roadshow kantin, dan roadshow unit. Bakti kampus sendiri bertujuan untuk membangun kampus ITB menjadi kampus yang berbasis ecocampus. Definisi ecocampus ini sendiri adalah kampus berwawasan lingkungan yang mampu menjalankan 3R dalam pergerakannya. Untuk bakti kampus ini sendiri, lebih memfokuskan diri dalam proses reduce penggunaan plastik. Oleh karena itu, bakti kampus GPL mengambil motto “ITB ECOCAMPUS : BE PLASTICLESS

3. LOMBA MEDIA

Ajang perlombaan media yang ditujukan oleh seluruh kalangan masyarakat yang peduli dan bertemakan sanitasi dan lingkungan. Media yang dapat digunakan adalah berupa foto, artikel, poster dan video.
Skala Lomba: Jawa barat dan DKI Jakarta

LOMBA POSTER

Tema Lomba: “Potret Sanitasi di Kota Bandung”

Syarat Peserta:
Terbuka untuk Umum, yaitu siswa/siswi SMP se-Kota Bandung (kecuali anggota Panitia dan keluarga).
Peserta wajib menggunakan nama asli sesuai dengan identitas resmi (Kartu Keluarga/ Kartu Pelajar).
Persyaratan Lomba:
1. Peserta SMP yang terdaftar di SMP dalam lingkup Bandung disertai surat keterangan dari sekolah.
2. Mengisi formulir yang disediakan
3. Karya harus sesuai dengan tema “Potret Sanitasi di Kota Bandung”
4. Karya Dalam bentuk hard copy ukuran A3 dan merupakan gambar tangan
5. Karya tidak mengandung isu SARA (Suku, Ras, dan Agama)
6. Karya bukan merupakan hasil karya orang lain dan tidak pernah ditampilkan/dikirimkan ke pihak lain sebelumnya
7. Belum pernah dipublikasikan dan diikusertakan dalam lomba poster sejenis
8. Panitia GPL dan HMTL-ITB memiliki hak penuh untuk menggunakan semua karya yang diterima untuk media pendidikan dan/atau kampanye lingkungan di masa mendatang (hak cipta tetap pada pembuat).
9. Panitia tidak bertanggung jawab jika di kemudian hari terdapat gugatan oleh pihak ketiga dari karya yang dikirimkan peserta.
10. Keputusan dewan juri mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

Kriteria Penilaian :
1. Originalitas
2. Kesesuaian tema
3. Ketersampaian pesan lingkungan (komunikatif)

Hadiah :
Juara 1 : Uang tunai sebesar Rp. 200.000 + piagam penghargaan
Juara 2 : Uang tunai sebesar Rp. 150.000 + piagam penghargaan
Juara 3 : Uang tunai sebesar Rp. 100.000 + piagam penghargaan

LOMBA VIDEO

Tema Lomba: “Potret Sanitasi di Jabar dan DKI Jakarta”

Syarat Peserta:
Terbuka untuk Umum (kecuali anggota Panitia dan keluarga).
Peserta wajib menggunakan nama asli sesuai dengan identitas resmi (KTP/SIM/Paspor).

Persyaratan Lomba:
1. Peserta adalah siswa SMA dan umum
2. Peserta adalah tim yang terdiri dari 5 (lima) orang atau kurang
3. Peserta adalah pemegang hak cipta atas video yang diikutsertakan dalam lomba
4. Berdurasi 20 detik-5 menit (termasuk credit title)
5. Kategori karya adalah video pendek dengan format iklan, kampanye, dokumenter, animasi, video seni, yang sesuai dengan tema(implisit/eksplisit)
6. Film dikirim dalam bentuk DVD / MiniDV PAL beserta:
o Formulir yang telah diisi lengkap
o Foto copy data diri(KTP/KTM/Katu Pelajar)
o Sampul film (print out & file data *.jpeg ukuran cover dvd)
7. Peserta diperkenankan mengirimkan lebih dari 1 (satu) video dengan memenuhi persyaratan masing-masing.
8. Apabila bahasa asli dari film bukan Bahasa Indonesia/Bahasa Inggris, maka film wajib diberi subtitle dalam Bahasa Indonesia/Bahasa Inggris.
9. Film yang dikirimkan berhak disiarkan atau ditayangkan oleh panitia untuk keperluan media pendidikan dan/atau kampanye lingkungan.
10. Peserta yang sudah mendaftar dan mengirimkan filmnya berarti bersedia apabila materi dan potongan film digunakan oleh panitia untuk keperluan promosi dan bumper acara.
11. Video belum pernah memenangkan lomba lain dan bukan profil industri/perusahaan, iklan televisi, iklan layanan masyarakat, dan video musik.
12. Video tidak mengandung isu SARA (Suku, Ras, dan Agama)
13. Penggunaan materi film yang berasal dari karya pihak lain (seperti: musik latar dan/atau potongan gambar/footage) harus disertai izin khusus dari pihak yang terkait.
14. Media pembuatan(hardware/software) dan media peralatan yang dipakai bebas sesuai kreasi partisipan.

15. Calling entry dibuka pada tanggal 1 Oktober 2009 dan ditutup pada tanggal18 Oktober 2009
16. Kemas berkas pendaftaran Anda, yang terdiri dari formulir pendaftaran, dan semua kelengkapan wajib, dalam satu amplop tertutup. Jangan lupa tulis alamat pengirim maupun penerima dengan jelas.
17. Kirim pendaftaran Anda ke Sekretariat HMTL ITB Jl. Ganesa No. 10 Bandung melalui pos, agen pengiriman, maupun diantar langsung sebelum tanggal 21 Desember 2009
18. Periksa situs web htm l.tl.itb.ac.id untuk melihat apakah pendaftaran Anda sudah diterima atau belum. (ada ga?)
19. Hasil penjurian akan diumumkan pada tanggal 1 Januari 2010.
20. Video yang terpilih sebagai pemenang dipamerkan pada acara puncak Gelar Peduli Lingkungan HMTL ITB pada tanggal Februari 2010.
21. Panitia GPL dan HMTL-ITB memiliki hak penuh untuk menggunakan semua karya yang diterima untuk media pendidikan dan/atau kampanye lingkungan di masa mendatang (hak cipta tetap pada pembuat).
22. Panitia tidak bertanggung jawab jika di kemudian hari terdapat gugatan oleh pihak ketiga dari karya yang dikirimkan peserta.
23. Keputusan dewan juri mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.Kriteria Penilaian :
1. Originalitas
2. Kesesuaian tema
3. Ketersampaian pesan lingkungan (komunikatif)Hadiah :
Kategori SMA
Juara 1 : Uang tunai sebesar Rp. 500.000 + piagam penghargaan
Juara 2 : Uang tunai sebesar Rp. 400.000 + piagam penghargaan
Juara 3 : Uang tunai sebesar Rp. 300.000 + piagam penghargaan
Katergori Umum
Juara 1 : Uang tunai sebesar Rp. 1.000.000 + piagam penghargaan
Juara 2 : Uang tunai sebesar Rp. 750.000 + piagam penghargaan
Juara 3 : Uang tunai sebesar Rp. 500.000 + piagam penghargaan

LOMBA ARTIKEL
Tema Lomba: “Potret Sanitasi di Jabar dan DKI Jakarta”Syarat Peserta:
Terbuka untuk Umum (kecuali anggota Panitia dan keluarga).
Peserta wajib menggunakan nama asli sesuai dengan identitas resmi (KTP/SIM/Paspor)Persyaratan Lomba:
1. Peserta adalah siswa SMA dan umum
2. Artikel belum pernah dipublikasikan dan tidak sedang dilombakan di media lain
3. Artikel ditulis dalam Bahasa Indonesia atau Inggris, diketik dengan font Arial, Size 12, dan Paragraf 1.5 spasi, disertai judul artikel.
4. Artikel dapat dilengkapi dengan foto berwarna
5. Baik artikel maupun foto merupakan murni hasil karya peserta. Tidak diperkenankan menjiplak atau mengambil foto orang lain yang melanggar hak cipta.
6. Artikel dan foto harus berisi informasi yang sesuai dengan tema lomba.
7. Artikel tidak mengandung isu SARA (Suku, Ras, dan Agama)
8. Peserta dapat mengirimkan lebih dari satu artikel.
9. paling lambat tanggal 21 Desember 2009.
10. Artikel sudah harus diterima Panitia sebelum tanggal 21 Desember 2009 dapat dikirimkan langsung ke Sekretariat HMTL ITB Jl. Ganesa No. 10 Bandung melalui pos, agen pengiriman, maupun diantar langsung.
11. Artikel yang terpilih sebagai pemenang akan dipamerkan pada acara puncak Gelar Peduli Lingkungan HMTL ITB pada tanggal Februari 2010.
12. Panitia GPL dan HMTL-ITB memiliki hak penuh untuk menggunakan semua karya yang diterima untuk media pendidikan dan/atau kampanye lingkungan di masa mendatang (hak cipta tetap pada pembuat).
13. Panitia tidak bertanggung jawab jika di kemudian hari terdapat gugatan oleh pihak ketiga dari karya yang dikirimkan peserta.
14. Keputusan dewan juri mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.Kriteria Penilaian :
1. Kesesuaian dengan tema lomba
2. Keaslian dan keunikan gagasan tulisan
2. Tata bahasa dan penggunaan ejaan yang benar dan baik
3. Kuantitas penulisan sesuai tema
4. Isi/materi yang disajikan

Kategori SMA
Juara 1 : Uang tunai sebesar Rp. 300.000 + piagam penghargaan
Juara 2 : Uang tunai sebesar Rp. 250.000 + piagam penghargaan
Juara 3 : Uang tunai sebesar Rp. 200.000 + piagam penghargaan

Katergori Umum
Juara 1 : Uang tunai sebesar Rp. 500.000 + piagam penghargaan
Juara 2 : Uang tunai sebesar Rp. 400.000 + piagam penghargaan
Juara 3 : Uang tunai sebesar Rp. 300.000 + piagam penghargaan

LOMBA FOTO
Tema Lomba: “Potret Sanitasi di Jabar dan DKI Jakarta”Syarat Peserta:
Terbuka untuk Umum (kecuali anggota Panitia dan keluarga).
Peserta wajib menggunakan nama asli sesuai dengan identitas resmi (KTP/SIM/Paspor)Persyaratan Lomba:
1. Terbuka untuk pelajar SMA dan umum, kecuali anggota Panitia Lomba dan Dewan Juri Lomba beserta keluarganya. Peserta tidak dipungut biaya
2. Peserta dapat mengirimkan maksimal 5 ( lima ) karya foto dengan judul bebas, sesuai tema, ukuran 10 R.
3. Dibelakang foto dicantumkan keterangan foto (judul foto, lokasi dan tahun pemotretan), beserta identitas fotografer (nama, profesi, alamat, nomor telepon/handphone dan email).
4. Karya Lomba harus merupakan karya sendiri dan belum pernah dipublikasikan ataupun diikutsertakan pada lomba sebelumnya. Untuk calon pemenang akan dikonfirmasi keaslian karyanya dengan menunjukkan file digital asli atau negative film.
5. Karya foto dibuat secara manual/digital dan bukan merupakan rekayasa computer. Bila melanggar, akan didiskualifikasi
6. Olah digital hanya diperbolehkan pada proses croping, brightness, contrass & mode color.
7. Karya foto tidak mengandung isu SARA (Suku, Ras, dan Agama)
8. Karya Lomba dimasukan ke dalam amplop dengan tulisan LOMBA FOTO disudut kiri atas amplop dan dikirim via pos atau diantar langsung ke Panitia Lomba Foto dengan alamat: Sekretariat HMTL ITB, Jl. Ganesha 10 Bandung 40132.
9. Foto sudah harus diterima Panitia sebelum tanggal 21 Desember 2009 dapat dikirimkan langsung ke Sekretariat HMTL ITB Jl. Ganesa No. 10 Bandung melalui pos, agen pengiriman, maupun diantar langsung.
10. Panitia penyelenggara dan dewan juri tidak melayani surat-menyurat dalam kaitan dengan lomba ini.
11. Panitia GPL dan HMTL ITB berhak menggunakan semua hasil foto yang diikutsertakan dalam lomba ini untuk media pendidikan dan/atau kampanye lingkungan di masa mendatang (hak cipta tetap pada pembuat)
12. Panitia tidak bertanggung jawab jika di kemudian hari terdapat gugatan oleh pihak ketiga dari karya yang dikirimkan peserta.
13. Keputusan dewan juri adalah mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.Kriteria Penilaian :
1. Originalitas
2. Kesesuaian tema
3. Ketersampaian pesan lingkungan (komunikatif)

Hadiah:
Kategori SMA
Juara 1 : Uang tunai sebesar Rp. 500.000 + piagam penghargaan
Juara 2 : Uang tunai sebesar Rp. 400.000 + piagam penghargaan
Juara 3 : Uang tunai sebesar Rp. 300.000 + piagam penghargaan

Katergori Umum
Juara 1 : Uang tunai sebesar Rp. 1.000.000 + piagam penghargaan
Juara 2 : Uang tunai sebesar Rp. 7500.000 + piagam penghargaan
Juara 3 : Uang tunai sebesar Rp. 500.000 + piagam penghargaan

4. HMTL masuk RT

Acara yang berkolaborasi dengan Greeneration Indonesia (GI).
Masuk RT sendiri merupakan singkatan dari Manajemen Sampah untuk Kawasan Rumah Tangga yang bertujuan untuk mendampingi dan memberdayakan masyarakat dalam menerapkan 5 aspek manajemen persampahan tepat guna (Peraturan, Kelembagaan, Pembiayaan, Teknologi/Menajemen dan Peran serta masyarakat) dalam skala RT atau maksimum RW.
HMTL sendiri akan terfokus untuk membantu pada tahapan penerapan teknologi dan manajemen sekaligus mengaplikasikan ilmu Teknik Lingkungan.

5. ACARA AKHIR GPL

Kampus ITB pada tanggal 7 dan 18-19 februari 2010
Konten acara :

1. Pameran & Stand

diselenggarakan di aula barat selama 2 hari (18-19 Februari 2010).
Pameran berupa:
– Hasil karya-karya lomba foto & video mengenai “Potret Sanitasi di Jabar dan DKI Jakarta”
– Hasil karya-karya kegiatan yang dilaksanakan pada saat ECOSCHOOL 6, Bakti kampus ITB, dan HMTL Masuk RT.
– Hasil karya-karya dari kegiatan lomba artikel.
– Pameran berupa produk-produk ramah lingkungan (eco-label, 3R product, dll).
– Pameran lainnya (tentative bisa menghubungi panitia bila ingin karyanya dipamerkan)
Pengisi Stand:
– Pihak yang bekerja sama dengan HMTL.
– Stand juga diberikan kepada sponsor.
– Pihak pemerintah ataupun NGO yang bergerak di bidang lingkungan

2. Seminar Nasional

Seminar umum dengan skala nasional yang akan membahas isu-isu terkait lingkungan. tema yang diangkat tentang “Tantangan Indonesia dalam pemenuhan targe MDG’s di bidang lingkungan” (dalam konfirmasi).
Pembicara :
1. Pemerintah (KLH/BPLHD/DPR dll)* msh konfirmasi
2. Akademisi (pihak ITB ~ dosen/rektor)
3. LSM (lembaga swadaya masyarakat yang concern permasalahan lingkungan)
4. Mahasiswa

Sasaran : Masyarakat Umum, Mahasiswa, institusi-institusi terkait, dll.

3. ITB Eco-Campus

Terbagi ke dua rangkaian acara:
1.Talkshow Eco-Campus
Tema “strategi dan tantangan menuju ITB EcoCampus”
Sasaran : mahasiswa ITB, lembaga-lemabaga yang ada di civitas akademika ITB
Dilaksanakan pada tanggal 7 februari 2010 dengan menjadi salah satu acara di event puncak ITB Fair 2010.
2.Pencanangan menuju ITB Eco-Campus
Pencanangan menuju ITB Eco-Campus, dengan melibatkan seluruh lembaga akademis dan kemahasiswaan yang ada di ITB.

4. Talkshow Eco-Lifestyle

Talkshow mengenai gaya hidup yang berwawasan lingkungan. Diharapkan menjadi trendsetter bagi masyarakat akan pentingnya merubah gaya hidup yang lebih peka dan peduli dengan lingkungan sekitar. Sasarannya : Mahasiswa ITB.

5. Workshop Media Film Dokumenter “Bicara Lingkungan Dalam Format Digital”

6. Closing Ceremony Ecoschool 6

7. Acara musik

Acara hiburan dan musik berupa penyelenggaraan seni dengan menyisipkan kampanye-kampanye dari sasaran yang ingin dicapai oleh ‘Gelar Peduli Lingkungan 2010’.
.

.

.

Mengaku masih peduli dengan lingkungan? Kalau begitu, ayo tunjukkan partisipasimu di acara ini.

Diposkan pada Journal

Ketika Saya Dibuat Terharu oleh Penjual Koran

Minggu, 13 Desember 2009 sekitar pukul 5 pagi saya sudah merencanakan untuk beli koran. Lama sekali sepertinya barang cem itu tidak tersentuh sejak masuk tahun kedua perkuliahan. Pokoknya harus baca koran hari ini, kata saya dalam hati. Usai shalat subuh langsung deh cao keluar buat beli koran sama sarapan. Sesampainya di tukang koran di belokan Cisitu Lama, rada aneh nih yang ada cuma majalah. Pas saya tanya ternyata memang koran-koran itu belum datang, lagi diambil si agen, jadilah saya balik ke kosan.

Jam 6 pun datang. Saya keluar lagi ke tukang koran. Eh ternyata belum datang juga korannya. Akhirnya saya bungkus sarapan dulu terus balik lagi ke kosan. Tak terasa sambil nonton TV jam di HP menunjukkan pukul 07.50. Wah pasti korannya ‘dah sampai nih. Saya pun keluar lagi untuk ketiga kalinya buat beli koran.

Alhamdulillah ternyata koran-korannya sudah datang. Saat sedang melihat-lihat koran, saya terkejut dengan sebuah kertas bergambar di samping bapak penjual koran. Itu adalah kertas ukuran A3 dengan lambang angkatan saya, Teknik Lingkungan ITB 2008 (Bhupalaka). Jelas aneh, kok ada di sini? Saya bertanya-tanya dalam hati.

Saya menanyakan pada si penjual koran darimana gambar tersebut berasal. Beliau yang sudah separuh baya menjawab, “Oh waktu itu jatuh, Dek, dari mobil pas lagi lewat mobilnya.”

Saya meraih gambar yang masih berada dalam plastik tersebut. Wow. Ternyata di dalamnya tak hanya lambang angkatan tapi ada juga lambang HMTL. Saya pun teringat saat-saat menjelang Pengabdian Masyarakat (PM) angkatan pada tanggal 22 November 2009 lalu.

Pagi-pagi di hari pengmas, Inad dan Becky, selaku anggota Bhupalaka yang dapat tugas nge-print lambang angkatan dan HMTL untuk dipajang di spanduk PM sempat panik gara-gara kedua lambang tersebut (yang sudah di-print, pastinya) hilang.

Oh…ternyata jatuh di dekat basecamp toh, jawab saya dalam hati.

Pastinya pula bapak penjual koran itu merasa aneh, tiba-tiba ada yang menanyakan gambar temuannya. Beliau pun bertanya,

“Itu punya Adek? Ambil ‘aja. Saya teh waktu itu sempat ngejar mobilnya tapi ga kekejar. Jadi saya simpan siapa tahu ya Dek, dicari lagi sama yang punya.”

Saya : “Ini kapan ya, Pak jatuhnya?”

Beliau : “Oh lama sekali, Dek. Ga tau…seminggu mungkin ada.”

Saya :”Ini Bapak simpen terus?”

Beliau :”Lha iya dibawa pulang. Tapi kalau siang suka saya tempel itu di tiang itu, Dek…(sembari menunjuk tiang besi setinggi kira-kira 1,5 meter) siapa tahu yang punya mau ambil lagi. Kasian, Dek, yang punya pasti cari-cari.”

Saya berpikir sejenak. PM itu tanggal 22 November, hari ini tanggal 13 Desember. Mungkin saya tidak pernah sadar gambar itu dipajang, karena memang saya tidak pernah/jarang pulang siang hari ke kosan. Kalau dihitung, berarti sudah 3 minggu lambang ini hilang. Dan Bapak ini dengan murah hati berkenan menyimpan plus menaruhnya di tiang agar terbaca oleh kendaraan/orang yang lewat jalan tersebut, setiap hari, mungkin. SELAMA TIGA MINGGU. Subhanallah.

Beliau berkata lagi, “Kenal sama yang punya, Dek?”

Saya :”Iya, Pak. Kebetulan temen saya ‘dah lama bilang dia kehilangan gambar kayak gini.”

Beliau :”Oh ya ambil ‘aja, Dek.”

Usai membayar koran, saya cao ke kosan lagi bersama lambang Bhupalaka dan HMTL di tangan. Plus perasaan terharu atas perlakuan si Bapak Penjual Koran terhadap benda di tangan saya ini.

Apa jadinya kalau bukan bapak itu yang menemukan gambar ini? Kalau orang lain sepertinya sudah masa bodoh, termasuk saya, mungkin. Ya gimana, 3 minggu tanpa ada petunjuk orang yang punya, gitu. Dibawa pulang ke rumah dan dibawa balik lagi ke tempat kerja (baca: stand koran) plus dipajang di tiang. Kurang mulia apa perlakuan beliau terhadap barang yang datang padanya entah darimana itu?

Alhamdulillah pagi-pagi saya sudah diingatkan lagi untuk bersyukur. Bersyukur bahwa masih banyak orang-orang baik di dunia ini. Dan saya mendapat pelajaran dari salah satu orang jenis itu bahwa segala kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas pasti mendapat jawaban dari Allah berupa perantara apapun.

Saya tahu saya bisa menjadi perantara bagi Bapak penjual koran tersebut.

Saya kembali tak berapa lama untuk memberinya sedikit rezeki sebagai tanda terima kasih. Terima kasih yang utama adalah bukan atas jasanya menjaga benda milik angkatan saya, tapi kemuliaan dan keikhlasannya perlakuannya terhadap benda yang bukan miliknya serta pengajaran yang ia berikan pada saya dan teman-teman yang saya bagi kisah ini.

Mungkin kamu bisa berpikir hal ini berlebihan. Tapi setidaknya saya mau jujur, bagi saya, orang seperti beliau jarang saya temukan dalam kehidupan saya.

Bandung tepatnya di kosan sambil baca koran yang baru dibeli, 13 Desember 2009 pukul 09.23