Diposkan pada Film, Jurnal

Pada Jeda antara Dialog

 

Annisa: Arsitek tuh suka berasa Tuhan. Berasa yang paling tau rancangan terbaik buat manusia. Yang paling tau dan yang terbaik ya… yang ngejalanin sendiri.

Cina: Jenius! Emang arsitek tuh suka berasa Tuhan. Makanya suka nggak kepikiran kalau ada rancangan yang lebih baik.

Bait lagu mulai dimainkan, menandakan sepenggal dialog Annisa dan Cina di perpustakaan itu telah selesai. Aku meraih tangan kiri perempuan di sebelahku sembari berbisik, “Mungkin karena Cina setuju, sekarang Annisa tersenyum-senyum memandangi gambar ini di telunjuknya (Annisa).” Lalu aku menggerakkan telunjukku yang menempel pada telapak tangannya dan mengilustrasikan dengan gerakan berupa dua titik serta satu tarikan garis lengkung ke bawah: seseorang sedang tersenyum.

Lagu yang sama masih diputar, tetapi adegan sudah berganti.

“Sekarang, Annisa dan Cina sedang mendesain detail maket bersama,” bisikku lagi, “sambil curi-curi pandang.”

Perempuan di sebelahku itu tertawa lirih.

Ia bernama Syifa.

Siang itu, kami menonton film Cin(T)a bersama.

 

PhotoGrid_1520508505547[1].jpg
Dokumentasi pribadi

Minggu, 11 Februari 2018, sekitar pukul 12.30, lima orang tunanetra yang diantar oleh seorang sopir Grab telah sampai di parkiran Paviliun 28. Pintu Paviliun 28 dibukakan oleh seseorang dari dalam. Mereka berlima masuk saling berpegangan, tetapi tak berapa lama terpisah karena beberapa orang mulai menawarkan tempat duduk di sisi ruangan yang berbeda. Aku meraih tangan dua orang di antara mereka yang kemudian ku ketahui merupakan sepasang suami-istri. Kepada mereka, aku melafalkan namaku. Mereka balas menjawab: “Syifa” dan “Jejen”.

Mbak Syifa dan Mas Jejen aku pandu untuk menempati bangku panjang di sisi kanan ruangan. Kami duduk berhadapan. Kemudian, mereka disuguhi masing-masing sepiring nasi goreng. Aku mengamati gerak-gerik mereka sejak baru masuk, duduk, selesai melahap makan siang, sampai remah kerupuk terakhir. Aku sendiri tidak mengunyah apa-apa. Tidak ada sepiring nasi goreng di hadapanku. Apalagi kerupuk. Yang ada cuma rasa syukur.

Hari itu, aku terdaftar sebagai relawan Blind Date Cinema, sebuah program nonton bareng film bersama tunanetra yang rutin diadakan sebulan sekali di Paviliun 28. Program ini menjadi unik karena relawan nonton bukan sekedar nonton, tetapi harus membantu teman-teman tunanetra agar bisa turut menikmati cerita dengan memperoleh gambaran tentang film yang ditonton. Relawan ditantang untuk memindahkan adegan yang ditampilkan di layar bioskop ke dalam benak teman-teman tunanetra. Di situlah, pada jeda antara dialog, para relawan berbisik.

 

Blind Date Cinema.jpg
Dokumentasi dari Tim Paviliun 28

 

Film yang diputar siang itu adalah Cin(T)a. Mungkin film ini dipilih karena Februari erat dengan nuansa cinta. Cin(T)a menceritakan dua mahasiswa arsitektur bernama Annisa dan Cina yang saling jatuh cinta, tetapi kemudian menyadari bahwa perbedaan keyakinan harus menjadi penghalang kelanjutan kisah cinta mereka. Kesempatan Blind Date Cinema kali ini menguntungkan bagiku. Aku bisa leluasa berbisik kepada Mbak Syifa karena film itu mengambil lokasi syuting di gedung arsitektur ITB, tepat di sebelah gedung jurusanku. Film itu bahkan dibuat ketika aku masih kuliah di sana. Singkat kata, aku senang karena bisa menjadi orang yang banyak omong. Supaya Mbak Syifa bisa memvisualisasikan film Cin(T)a dengan lengkap dalam benaknya.

Usai pemutaran film, kami masih sejenak melanjutkan obrolan hingga menjelang pukul empat sore, Mbak Syifa dan Mas Jejen pulang, disusul teman-teman tunanetra dan relawan lainnya, termasuk aku. Dalam perjalanan pulang, mau tidak mau aku berkontemplasi. Hari itu, aku mendapat kesempatan langsung berinteraksi lebih dekat dengan teman-teman tunanetra. Selama ini aku penasaran bagaimana mereka menjalani kehidupan. Tampilan apa yang muncul dalam pandangan mereka: gelap pekat atau gradasi hitam-putih yang bergerak-gerak? Apakah mereka tidak bisa mengenal bentuk sejak lahir? Bagaimana cara mereka memesan Grab? Apakah mereka bekerja? Dan rentetan pertanyaan lainnya.

 

DSC_8860-03
Dokumentasi pribadi

 

Berinteraksi dengan teman-teman tunanetra siang itu membuat aku menarik kesimpulan sementara bahwa sesungguhnya tidak ada perbedaan berarti antara kehidupanku dengan kehidupan mereka.

Mereka kuliah, bekerja, dan beberapa main instagram juga.

Jelas kami menjalani kehidupan yang sama. Hanya sedikit berbeda cara.

Dan perbedaanlah yang membuat kita belajar, bukan?

 

 

 

 

Iklan
Diposkan pada Film

7 Film Terfavorit Garapan Alfred Hitchcock

Akhir tahun 2012 merupakan kali pertama saya menonton film Alfred Hitchcock berjudul Rope (1948). Sutradara yang dikenal sebagai “The Master of Suspense” ini mungkin tidak begitu terdengar familiar di telinga remaja masa kini karena film terakhir yang ia sutradarai, Family Plot (1976) bahkan dirilis 10 tahun sebelum kelahiran generasi milenial. Kecuali, tentu, bagi mereka yang memang penggemar film bergenre suspense, misteri, dan thriller. Atau penikmat film jadoel seperti saya.

Alfred Hitchcock
Gambar 1. Alfred Hitchcock

Setelah lima tahun, melalui tulisan ini saya ingin memberi rekomendasi tujuh film Hitchcock terfavorit versi saya. Barangkali berguna untuk Mas/Jeng yang ingin menghabiskan waktu akhir pekan menuju 2018 di rumah. Meskipun baru menonton 23 dari total 52 film garapan sang sutradara, saya rasa daftar film di tulisan ini cukup merepresentasikan karya-karya terbaik Hitchcock.

7. Rebecca (1940)

Seorang duda kaya bernama Maxim de Winter yang tengah berlibur bertemu seorang perempuan muda di Monte Carlo. Mereka jatuh cinta, menikah, dan tinggal di Manderley, rumah sang duda. Di rumah itu, Mrs. de Winter yang baru merasa terintimidasi karena Mrs. Danvers, pelayan di Manderley, begitu mengagungkan Rebecca, istri pertama Maxim yang sudah meninggal. Terlebih, Mrs. Danvers mengatakan bahwa Mrs. de Winter yang baru tak akan pernah bisa menggantikan posisi Rebecca.

Rebecca
Gambar 2. Mrs. Danvers (kanan) sedang membujuk Mrs. de Winter (kiri) untuk melompat dari jendela

Film hitam-putih ini akan terasa membosankan bagi sebagian orang. Namun, saya pribadi menyukai cerita secara keseluruhan dan plot twist yang terjadi di tengah film. Nuansa hitam-putih ini juga membuat karakter Mrs. Danvers yang kaku dan dingin semakin kuat. Film ini bisa dinikmati oleh Mas/Jeng yang tahan untuk tidak tidur ketika menonton film-film sepi.

6. Rear by Window (1954)

L.B. “Jeff” Jefferies, pewarta foto yang sedang dalam masa pemulihan akibat kaki patah menghabiskan waktu dengan mengamati aktivitas para tetangga lewat jendela apartemennya. Di suatu malam, ia mendengar seorang perempuan berteriak “Jangan!” kemudian mendapati beberapa peristiwa ganjil terjadi selama beberapa hari setelahnya. Jeff membangun hipotesis dan berusaha memecahkan misteri yang terjadi di sekitar apartemennya itu.

Rear Window
Gambar 3. Jeff mengamati aktivitas para tetangga dari balik jendela apartemen

Bagian paling menarik bagi saya ketika menyadari bahwa film ini merupakan one room-set movie yang cuma berkutat di kamar Jeff, seperti halnya 12 Angry Men (1957) yang berkutat di ruang juri saja, tetapi tidak membosankan untuk ditonton. Sudut pandang Jeff sebagai satu-satunya sudut pandang yang disajikan mau tidak mau memaksa penonton untuk tenggelam dalam hipotesisnya.

5. Dial M for Murder (1954)

Tony Wendice, mantan petenis, mengungkapkan keinginannya untuk membunuh sang istri, Margot Wendice. Ia berhasrat menguasai seluruh harta Margot. Mengetahui bahwa Margot selingkuh dengan Mark Halliday membuat Tony semakin yakin dengan rencana pembunuhannya. Ia pun mengancam seorang kawan lama agar mau melakukan tindak kriminal tersebut. Sayangnya, upaya pembunuhan itu tidak berjalan sesuai rencana.

Dial M for Murder
Gambar 4. Sesaat sebelum Margot akan dibunuh oleh pembunuh suruhan sang suami

Hal paling menarik dalam film ini bagi saya adalah adegan-adegan ketika para pemeran, baik Tony, Mark, dan para penyelidik berusaha mengungkap bagaimana pembunuhan itu terjadi. Pembunuhan yang tidak sesuai rencana itu membuat suasana film menjadi seperti melihat orang sedang bermain kucing-kucingan dalam berargumentasi. Permainan menyembunyikan motif ini cukup greget untuk dinikmati.

4. Vertigo (1958)

Detektif John “Scottie” Ferguson memutuskan pensiun karena merasa bersalah tidak dapat menolong rekan kerjanya yang jatuh dari atap bangunan. Kejadian itu lalu membuat ia sering merasakan vertigo. Sahabat Scottie semasa kuliah, Gavin Elster, meminta pensiunan detektif itu untuk mengawasi istrinya yang sering bergelagat aneh. Scottie menolak, tetapi ia luluh juga. Akhirnya, ia mulai memata-matai Madeleine demi sahabatnya.

Vertigo
Gambar 5. (ki-ka) Scottie dan Madeleine

Bagi para kritikus film, Vertigo disebut sebagai masterpiece Hitchcock di samping Psycho (1960). Sinematografi, plot twist, tema yang diangkat, visual effect, dan aspek produksi lain yang digunakan memang apik. Namun, bagi saya pribadi masih ada 3 film Hitchcock lain yang lebih mengesankan. Yak film apa saja kah yang masuk dalam 3 besar tersebut? Cekidot!

3. Rope (1948)

Brandon Shaw dan Phillip Morgan bersama-sama membunuh seorang rekan sekelas, David Kentley, di apartemen mereka tepat sebelum acara makan malam yang mereka gelar di sana. Dua pembunuh tersebut menggunakan peti tempat menaruh mayat David sebagai pengganti meja tempat menaruh makanan. Para tamu sesungguhnya bingung karena David tidak hadir, tetapi mereka tidak menaruh banyak perhatian, kecuali profesor Rupert Cadell. Kecurigaan Prof. Rupert bangkit karena pertanyaan-pertanyaan mengenai ketidakhadiran David dijawab secara tidak konsisten oleh Phillip.

Rope
Gambar 6. (ki-ka) Prof. Rupert Candell, Brandon Shaw, dan Phillip Morgan

Rope merupakan film berwarna pertama besutan Hitchcock. Seperti halnya Rear Window, film ini juga merupakan one room-set movie. Hal yang lebih menarik adalah Hitchcock berhasil membuat Rope seolah diambil dalam satu kali syuting (single continuous shot). Berdasarkan beberapa referensi yang saya baca, film ini memang dilakukan dalam satu kali syuting. Kepiawaian Hitchcock dalam film ini tentu membuktikan kapasitasnya yang mumpuni dalam mengarahkan para pemeran, kameramen, dan seluruh kru produksi selama proses syuting, which is a director’s main jobdesc. Tidak salah, permulaan yang baik bagi saya dalam mengenal karya-karya Hitchcock.

2. The Birds (1963)

Melanie Daniels bertemu Mitch Benner yang sedang mencari lovebirds (salah satu spesies burung) di toko burung di San Fransisco. Melanie kemudian memutuskan untuk diam-diam mengikuti Mitch hingga ke Bodega Bay, tempat laki-laki itu biasa menghabiskan akhir pekan. Tak disangka, terjadi peristiwa ganjil beruntun berupa serangan burung camar dan gagak kepada penduduk Bodega Bay, termasuk kepada Melanie yang sedang singgah sementara.

The Birds
Gambar 7. Melanie dan seorang murid tengah melarikan diri ketika diserang sekawanan gagak

Film Hitchcock lekat dengan suspense dan alur cerita yang tidak monoton. Namun, ini pengecualian bagi The Birds. Film ini berjalan tanpa alur cerita yang berarti. Namun, menonton film bergenre horror-thriller yang sebagian besar hanya diisi adegan penyerangan sekawanan massal burung-burung ini cukup membuat bergidik. Ditambah lagi dengan mengetahui bahwa adegan-adegan tersebut sebagian besar menggunakan burung asli.

Memorable scene dalam The Birds yakni penyerangan Melanie Daniels oleh sekawanan gagak di loteng dilakukan selama satu minggu menggunakan burung gagak asli demi memperoleh satu menit adegan yang sempurna (ref: telegraph.co.uk). Perlakuan kejam Hitchcock terhadap sang aktris ini konon disebabkan konflik personal, membuat publik menganggap bahwa Hitchcock juga memiliki kepribadian gelap tersendiri.

1. Psycho (1960)

Marion Crane, seorang pegawai real estate, mencuri uang milik klien dan kabur ke tempat sang pacar, Sam Loomis, di luar kota. Dalam perjalanan, Marion memutuskan menginap semalam di sebuah motel di pinggir jalan bernama Bates Motel yang dijaga oleh Norman Bates. Di motel tersebut, Marion dibunuh.  

Psycho1

Psycho2
Gambar 8 (atas) & 9 (bawah). Memorable scene film Psycho: pembunuhan di kamar mandi

Jika Mas/Jeng menyukai serial TV Bates Motel yang sudah ditayangkan sejak tahun 2013, maka nama Norman Bates tidak mungkin terdengar asing. Norman Bates, pengelola Bates Motel, merupakan tokoh utama dalam film Psycho. Serial TV itu sendiri merupakan prekuel dari kehidupan Norman Bates dan sang ibunda yang diangkat dalam film. Bukan disutradarai oleh Hitchcock, tentu, sebab beliau sudah meninggal ketika serial TV ini dibuat.

Plot twist, akting para pemeran, adegan-adegan horror-thrilling disertai musik psychedelic, semua top! Apik secara keseluruhan. Hal ini menjadikan Psycho layak dikatakan sebagai masterpiece Hitchcock. Film ini mendapat sambutan meriah dan menjadi pelopor film-film thriller psikologi lainnya. Meskipun menggunakan format hitam-putih (untuk menghemat biaya produksi kala itu), film ini sama sekali tidak membosankan untuk ditonton. Menurut saya, film hitam-putih yang dirilis tahun 1960 ini bahkan masih lebih baik ketimbang sekuel, remake, dan serial TV berwarna yang menceritakan kehidupan Norman Bates.

Kekuatan Psycho yang paling utama adalah cerita. Oleh karena itu, bagi Mas/Jeng yang ingin menonton Psycho, saya sarankan agar tidak membaca sinopsis film secara keseluruhan sebelum menonton. Nikmati lah hingga menit-menit terakhir. Terbaik!

***

Boleh dibilang, Alfred Hitchcock merupakan sutradara yang karyanya paling banyak saya nikmati, bahkan masih tergiur untuk menyelesaikan sisa film-filmnya yang belum saya tonton. Terlebih, keterlibatan aktor James Stewart sebagai pemeran utama dalam 4 film Hitchcock (3 di antaranya masuk daftar di atas, btw) membuat saya menetapkan bahwa ia adalah aktor jadoel favorit saya 😀

Pesan saya bahwa menonton film jadoel perlu disertai dengan pikiran terbuka karena kualitas sinematografi kala itu sudah pasti tidak sebaik saat ini. Bahkan The Birds (1963) yang mendapat nominasi Academy Award kategori Best Special Visual Effects memiliki kualitas tidak jauh lebih baik dari sinetron Angling Dharma. Jadi, ya, jangan pernah coba membandingkan kualitas sinematografi film jadoel dan film sekarang karena tidak mungkin sepadan.

Terakhir, selamat menonton!

PS: Saya akan memperbarui daftar ini jika saya rasa ada film Hitchcock lain yang belum saya tonton yang ternyata lebih oke dari daftar di atas.

Diposkan pada Film

The Impossible

The Impossible (2012) merupakan film drama keluarga arahan sutradara Juan Antonio Bayona dengan setting bencana tsunami yang melanda wilayah sekitar Samudera Hindia tanggal 26 Desember 2004 lalu. Film ini diangkat dari kisah nyata yang dialami oleh keluarga Belon.

The Impossible

Dikisahkan keluarga Bennet yang terdiri dari Henry dan Maria serta ketiga anak laki-lakinya, Lucas, Thomas, dan Simon, pergi ke Thailand untuk menghabiskan waktu libur Natal-Tahun Baru. Mereka menginap di hotel yang terletak tepat di pinggir laut. Pada tanggal 26 Desember 2004, aktivitas para pengunjung berlangsung seperti biasa, tak terkecuali keluarga Bennet. Mereka sedang menghabiskan waktu di kolam renang ketika tiba-tiba seluruh benda di sekitar bergetar dengan hebatnya. Rupanya dari kejauhan nampak laut menggulung diri melebihi tinggi pohon kelapa sedang mengarah ke hotel tempat mereka menginap. Tidak sempat melarikan diri, semua tersapu oleh air laut.

Lucas, sang sulung, berhasil bertahan dan menemukan Maria sang ibu dan Daniel, seorang anak kecil yang ikut terdampar. Mereka bertahan di sebuah pohon, menunggu siapapun datang menolong. Ketika air sudah surut, penghuni setempat melakukan eksplorasi dan menemukan ketiganya. Maria yang mengalami luka parah pada kaki dan dadanya segera dibawa ke rumah sakit.

Di sisi lain, Henry sang ayah berhasil menemukan kedua anaknya, Thomas dan Simon, dalam keadaan sehat. Setelah mereka sampai di tempat pengungsian, Henry bersikeras pergi ke tempat pengungsian lain untuk mencari Maria dan Lucas. Hingga akhir film diceritakan mengenai perjuangan masing-masing keluarga Bennet dalam bertahan hidup dan saling menemukan satu sama lain.

Menurut saya film ini sarat akan pesan moral, beberapa contoh di antaranya:

Toleransi sesama korban bencana alam. Ketika Henry perlu untuk menelepon keluarganya di Spanyol pasca tsunami, pengungsi lain rela meminjamkan handphone-nya meskipun baterainya akan habis.

Kegigihan seorang ayah dalam memastikan keselamatan seluruh anggota keluarga. Bisa dilihat dari Henry yang tidak pernah menyerah berkeliling rumah sakit untuk mencari Maria dan Lucas.

Kebaikan yang terpendam dalam diri seseorang yang keras kepala. Poin ini khusus untuk Lucas, si sulung yang keras kepala namun pasca-tsunami mampu berubah menjadi anak yang berjuang merawat sang ibu, bahkan membantu pengungsi lain untuk menemukan anggota keluarganya.

Di samping cerita yang memang menyedihkan, akting para pemain juga bagus sehingga mampu menggerus emosi penonton sepanjang film (bener-bener sepanjang film loh, jadi siap-siap sapu tangan ya). Happy ending yang didasarkan pada kisah nyata pastinya juga semakin nambah poin!

In another way, meskipun dalam film ini banyak diperlihatkan kondisi pasca-tsunami di Thailand termasuk luka-luka para korban, berkat pengambilan gambar yang cukup bagus rasanya tidak ada yang terlalu mengganggu.

Overall, film ini bisa ditonton siapa ‘aja karena ceritanya yang nggak mikir, seingat saya no sex or violence scene, dan banyak pesan moral yang bisa diambil. Selamat menikmati!

 

Diposkan pada Film

Fish Story

Fish Story (2009) merupakan sebuah film drama Jepang yang diangkat dari kumpulan cerpen Kotaro Isaka berjudul sama. Film ini terdiri atas 5 cerita dengan setting tahun yang berbeda-beda dan berlangsung dengan alur campuran.

Fish StoryFilm diawali oleh cerita pertama dengan setting tahun 2012. Kala itu diberitakan akan terjadi kehancuran dunia akibat benturan komet ke bumi. Oleh karena itu, seluruh penduduk Jepang telah mengungsi ke Gunung Fuji. Di kota hanya tersisa Taniguchi dan dua orang (penjual dan pembeli) di toko kaset. Taniguchi memperingatkan kepada kedua orang di toko kaset tersebut bahwa dalam lima jam ke depan akan terjadi kehancuran dunia dan mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya.

Mengetahui bahwa kehancuran dunia akan terjadi sebentar lagi, maka dua laki-laki tersebut memilih untuk pasrah. Sang penjual kemudian mengeluarkan piringan hitam dengan album berjudul Fish Story dari band indie “Gekirin”. Sebuah album keluaran tahun 1975 yang kemudian tidak pernah dijual secara umum. Sembari menunggu kehancuran dunia, mereka mendengarkan lagu berjudul Fish Story.

Plot berlanjut kepada cerita ke-2 dengan setting pada tahun 1983. Di sebuah kafe, dikisahkan seorang driver bernama Masashi diramalkan akan menjadi seseorang yang berperan dalam menyelamatkan dunia. Sepulang dari kafe, pada malam itu ia mencegah sebuah pemerkosaan di pinggir jalan. Terdapat pula cerita dengan setting pada tahun 1999. Kala itu, sebuah kapal menuju Hokkaido tengah dibajak. Di tengah kepanikan para penumpang, Segawa, sang koki kapal, yang bercita-cita menjadi penegak keadilan sejak kecil berusaha memutar keadaan dengan memberantas para pembajak. Cerita terakhir merupakan latar belakang proses rekaman lagu “Fish Story” yang digubah oleh Shigeki, leader Gekirin.

Pada akhir film, akan diungkap mengenai korelasi antar cerita.

Film ini kental dengan khas watak aktor-aktor Jepang yang less ekspresif dan cukup kaku. Sepanjang film tidak ada cerita yang menonjol sehingga menimbulkan kesan bahwa film ini memiliki alur yang datar. Bahkan ketika mencapai klimaks dari masing-masing cerita, sisi emosional penonton (menurut saya) belum dapat dijamah. Namun, film ini memiliki ending yang sangat mengejutkan, yakni ketika dilakukan pemaparan atas korelasi dari masing-masing cerita.  Ending inilah yang menjadi bagian paling berkesan sepanjang film.

So…overall, kalau mau nonton film ini harus sampai habis ya karena bagian paling seru ada di terakhir-terakhir.

Diposkan pada Film

One Flew Over The Cuckoo’s Nest

One Flew

One flew east

One flew west

One flew over the cuckoo’s nest

Citra pasien dalam Rumah Sakit Jiwa (RSJ) dalam pandangan masyarakat awam kurang lebih mengacu kepada manusia yang memiliki keterbelakangan mental maupun hilang kesadaran, sehingga tidak mampu memberikan interaksi efektif kepada lingkungan sosialnya. RSJ menjadi lembaga yang berfungsi untuk menampung membimbing pasien-pasien tersebut sehingga kemampuan interaksi sosial mereka dapat kembali seperti semula.

Diangkat dari novel berjudul One Flew Over The Cuckoo’s Nest (1960), Ken Kesey ingin memberikan gambaran yang berbeda mengenai kehidupan dalam RSJ. Dikisahkan Randle McMurphy (Jack Nicholson), seorang tertuduh pemerkosaan anak di bawah umur berpura-pura menjadi gila agar tidak diseret ke dalam hukum. McMurphy dikirim ke sebuah RSJ untuk ditampung selama beberapa bulan hingga petugas di sana menyatakan bahwa ia cukup stabil untuk dibebaskan. McMurphy, yang mana sebenarnya tidak memiliki permasalahan mental, cepat berbaur dengan para pasien di RSJ. Ia mencoba berkomunikasi dengan siapa saja termasuk The Chief (Will Sampson), seorang Indian yang sesungguhnya waras namun berpura-pura bisu-tuli.

Sore hari merupakan saat di mana para pasien menjalani kegiatan rutin sesi terapi, dipandu oleh Suster Ratched (Lousie Fletcher) yang memiliki karakter konvensional dan diktator. Kegiatan tersebut mirip sebuah diskusi dengan topik permasalahan pribadi para pasien. Pada suatu sesi, McMurphy menyatakan permohonannya agar televisi boleh dinyalakan karena pada malam itu ajang pertandingan baseball favoritnya, World Series, akan dimulai. Suster Ratched dengan tegas menolak. Esok harinya, McMurphy meminta hal yang sama. Suster Ratchet mengatakan bahwa ia akan mengizinkan apabila separuh lebih dari total pasien setuju. Maka diadakanlah sebuah voting. Jumlah voters adalah 10 dari 18 orang, akan tetapi Suster Ratchet terlanjur menutup sesi terapi ketika McMurphy sedang membujuk voters ke-10.

Berbagai kejadian yang bertentangan dengan kemauan pasien menimbulkan pertanyaan pada McMurphy. Tempat tersebut sesungguhnya bukanlah tempat yang tepat untuk menyembuhkan orang-orang dengan mental bermasalah, dan ia merasa terkukung. Ia menyiapkan rencana untuk melarikan diri dan mengajak serta The Chief. Atas bantuan Candy (Marya Small) sang kekasih dan Rose, temannya, McMurphy mengelabui Trucker sang penjaga malam dan menyiapkan sebuah pesta perpisahan kepada para pasien sebelum ia pergi. Mereka berdansa dan mabuk hingga larut malam.

Sesaat sebelum McMurphy dan The Chief melarikan diri, Billy Bibbit (Brad Dourif), seorang pasien muda memohon pada McMurphy agar ia dapat diberi waktu sejenak bersama Candy. Pada akhirnya McMurphy, The Chief, dan pasien lain tertidur sembari menunggu mereka berhubungan seks, sehingga pada pagi hari mereka semua tertangkap basah oleh Suster Ratched dan para penjaga.

Setelah kejadian tersebut, McMurphy dibawa oleh pihak RSJ dan dikembalikan ke tempat tidurnya pada malam hari. The Chief yang sudah lama menunggu, mengajaknya kembali untuk melarikan diri. Namun, ia terkejut ketika melihat jahitan di kepala McMurphy. Pihak RSJ rupanya menilai McMurphy sebagai pasien yang amat berbahaya dan memutuskan ia harus menjalani operasi pembedahan otak lobotomi.

one fle over

Film ini ditutup oleh The Chief yang membunuh McMurphy dengan bantal karena tidak tega melihat sahabatnya menjalani sisa hidup tanpa jiwanya yang seperti dahulu, lalu melarikan diri sendiri dari tempat tersebut.

One Flew Over The Cuckoo’s Nest pada tahun 1975 sukses menerima penghargaan Academy Awards untuk 5 kategori tertinggi (Best Picture, Best Director, Best Actor, Best Actress, dan Best Writing Adapted Screenplay). Plot dengan klimaks tak terduga, teknik pengambilan gambar, dan paradigma sosial mengenai kehidupan RSJ (sebagai topik non umum untuk film) yang ingin dikuak oleh Milos Forman, sang sutradara, menjadi nilai tambah. Satu hal yang menurut saya patut disayangkan ialah akting para pemeran utama yang kurang dapat menimbulkan keterikatan emosional dengan penonton, terutama pada bagian klimaks.

Overall, rating yang saya berikan adalah 4 dari 5. Yeay, selamat!

Diposkan pada Buku, Film

Keberanian

To Kill A Mockingbird

Keberanian adalah saat kau tahu kau akan kalah sebelum memulai, tetapi kau tetap memulai dan kau merampungkannya, apa pun yang terjadi. Kau jarang menang, tetapi kadang-kadang kau bisa menang.

“To Kill A Mockingbird” by Harper Lee

Diposkan pada Buku, Film

3 Tokoh Detektif dengan Karakter Paling Menarik

Dari berbagai genre fiksi seperti petualangan, fantasi, keluarga, persahabatan, romance, dsb., saya paling menyukai genre crime/suspense. Cerita dengan genre tersebut umumnya memiliki tokoh-tokoh utama yakni seorang detektif dengan gaya khas masing-masing. Berikut ini saya akan mereview tokoh detektif paling menarik versi saya. Tiga teratas merupakan urutan yang paling menarik, tapi 4 nomor sisanya tidak. Check it out!

1. Detektif Robert “Bobby” Goren dalam serial TV “Law & Order: Criminal Intent”

Robert Goren

Serial “Law & Order: Criminal Intent” disutradarai oleh Dick Wolf. Tokoh utama dalam serial ini adalah detektif Robert Goren (pria) dan detektif Alexandra Eames (wanita). Namun, detektif dengan karakter lebih menonjol dalam serial adalah si pria. Umumnya detektif digambarkan dalam dua karakter, yakni 1) rapi, teratur, detail, dan serius; atau 2) santai, nyeleneh, dan nyentrik. Yang manakah Robert Gorden? Tidak keduanya.

Cukup dengan menonton 2-3 episode saja, mas/jeng pasti langsung mengetahui karakter apa yang membuatnya menjadi menarik. Karakter paling kuat yang dimiliki Bobby adalah ia senang memaksa. Dalam bahasa halus ialah mempersuasi orang yang diinterogasi untuk mengakui peristiwa kriminal, melalui sindirannya yang memojokkan sehingga mampu memunculkan beban psikologis bagi orang yang diinterogasi. Saya suka melihat gesture-nya ketika melakukan hal tersebut hehehe. Ia juga memiliki kecerdasan luar biasa dan wawasan dalam bidang apapun yang amat luas sehingga dapat mempercepat proses investigasi.

2. Miss Marple dalam serial novel Agatha Christie

miss marple

Siapa tak kenal Agatha Christie? Penulis novel detektif paling popular di dunia. Dalam novelnya, ia menciptakan tokoh-tokoh seperti Hercule Poirot, Miss Marple, dan Tommy-Tuppence. Dari ketiga detektif tersebut saya paling menyukai Miss Marple. Bukan tipikal detektif pada umumnya.

Miss Marple sebenarnya memang bukanlah seorang detektif, hanya saja terkadang ia diminta oleh kepolisian untuk membantu memecahkan kasus. Ia merupakan seorang wanita paruh baya yang senang merajut, berkebun, bahkan pikun seperti wanita tua pada umumnya. Namun, di balik perangai tersebut ternyata nalarnya amat kuat. Ia lebih sering duduk, mengamati kejadian, mengobrol, dan menggunakan pendekatan psikologis dalam memecahkan kasus.

3. Hajime Kindaichi dalam serial manga “Detektif Kindaichi”

kindaichi

Manga “Detektif Kindaichi” dikarang oleh Yozaburo Kanari, Fumiya Sato, dan Seimaru Amagi. Hajime Kindaichi adalah seorang anak SMU yang pemalas dan mesum. Di sekolah, prestasinya biasa-biasa saja. Namun, ketika sudah menghadapi kasus, ia mengeluarkan tajinya yakni kecerdasan yang mencapai IQ 180 sehingga dengan logikanya ia mampu memecahkan kasus.

Bukanlah karakter Kindaichi-nya yang menarik bagi saya, tapi manga Kindaichi itu sendiri. Mungkin orang-orang lebih mengenal manga Detektif Conan, tapi bagi saya manga yang satu ini lebih menarik karena kasusnya seringkali lebih rumit, ilustrasinya lebih vulgar, dan banyak terdapat humor di dalamnya.

Yang menarik lainnya …

Serial TV karya Sir Alfred Joseph Hitchcock

alfred

Biasa dikenal dengan nama Alfred Hitchcock. Ia adalah sutradara film-film dengan genre suspense, yang mencakup drama, komedi, thriller, dan misteri. Tidak ada tokoh detektif permanen yang ia tampilkan, hanya cerita pendek mengenai kasus-kasus kriminal. Serial yang saya tonton adalah “Alfred Hicthcock Presents”. Disajikan masih dalam format hitam-putih dan dirilis pada tahun 1950-an.

Detektif Sherlock Holmes dalam serial novel “Sherlock Holmes”

Sherlock

Siapa tak kenal Sherlock Holmes, detektif fiktif karangan Sir Arthur Conan Doyle? Ia adalah tokoh detektif paling populer sepanjang masa, dilanjutkan dengan Hercule Poirot. Holmes (yang digambarkan dengan pas oleh Robert Downey, Jr.) tentu saja masuk pada detektif jenis kedua: nyentrik dan nyeleneh, bahkan ia pecandu obat-obatan. Ia merupakan detektif yang memecahkan kasus secara induksi (penarikan kesimpulan dari detail-detail khusus ke umum). Nilai tambah dari seorang Sherlock ialah ia adalah seorang ahli kimia dan forensik sehingga kerap membantunya memecahkan kasus.

Detektif Hercule Poirot dalam serial novel Agatha Christie

Hercule_Poirot

Bagi saya, Hercule Poirot lebih menarik daripada Sherlock Holmes meskipun Sherlock lebih populer. Perbedaan Poirot dengan Sherlock terletak pada style dan pendekatan kriminologi. Apabila Sherlock digambarkan sebagai detektif yang nyentrik dan nyeleneh, Poirot berbeda 180 derajat. Ia sangat rapi dan sistematis. Bahkan posisi asbak yang bergeser sedikit saja dapat mengganggu pandangannya dan membuatnya mengomel.

Secara penekatan, Sherlock kerap berkeliling ke sana kemari untuk mencari bukti-bukti lalu merangkainya menjadi sebuah kesimpulan. Poirot justru menyindir pendekatan tersebut. Ia lebih senang berpikir terlebih dahulu (ia biasa menyebutnya ‘menggunakan sel abu-abuku’) barulah mengeluarkan energi dengan pergi mencari bukti. Itupun jika benar-benar diperlukan.

Novel “My Name is Red” karya Orhan Pamuk

red

Berjudul asli “Benim Adim Kirmizi”, dikarang oleh novelis pemenang Nobel Sastra dari Turki, Orhan Pamuk. Novel ini menceritakan tentang pembunuhan seorang miniaturis (seniman yang memberikan ilustrasi dan aksesori pada buku-buku) dalam setting abad ke-16 pada masa Kerajaan Utsmaniyah. Hal yang paling menarik dari novel ini ialah gaya bertutur melalui penyusunan bab yang disesuaikan dengan sudut pandang masing-masing tokoh, termasuk bab berjudul “Aku Adalah Pembunuh”. Tentu saja dengan adanya penyusunan bab seperti ini mendorong pembaca untuk ikut serta memecahkan teka-teki siapakah pembunuh miniaturis tersebut.

.

Sebenarnya masih banyak bacaan-bacaan maupun serial TV yang menarik. Tapi karena keterbatasan tekad untuk menulis, jadi cukup segitu saja. Contoh manga dengen genre sejenis selain Conan dan Kindaichi ada Detektif School Q, Q.E.D, Detektif Loki. Untuk novel masih ada karangan John Grisham, Mary Higgins Clark, Sidney Sheldon, Shoji Shimada (Jepang). Yang lokal pun ada yaitu S. Mara Gd. Untuk serial TV masih ada NCIS, CSI Miami, The Mentalist, The Listeners, Bones, Criminal Mind, Castle, Ace Ventura, maupun film-film jaman dulu seperti McGyver, The A Team, dsb. Selamat menikmati!