Diposkan pada Film

7 Film Terfavorit Garapan Alfred Hitchcock

Akhir tahun 2012 merupakan kali pertama saya menonton film Alfred Hitchcock berjudul Rope (1948). Sutradara yang dikenal sebagai “The Master of Suspense” ini mungkin tidak begitu terdengar familiar di telinga remaja masa kini karena film terakhir yang ia sutradarai, Family Plot (1976) bahkan dirilis 10 tahun sebelum kelahiran generasi milenial. Kecuali, tentu, bagi mereka yang memang penggemar film bergenre suspense, misteri, dan thriller. Atau penikmat film jadoel seperti saya.

Alfred Hitchcock
Gambar 1. Alfred Hitchcock

Setelah lima tahun, melalui tulisan ini saya ingin memberi rekomendasi tujuh film Hitchcock terfavorit versi saya. Barangkali berguna untuk Mas/Jeng yang ingin menghabiskan waktu akhir pekan menuju 2018 di rumah. Meskipun baru menonton 23 dari total 52 film garapan sang sutradara, saya rasa daftar film di tulisan ini cukup merepresentasikan karya-karya terbaik Hitchcock.

7. Rebecca (1940)

Seorang duda kaya bernama Maxim de Winter yang tengah berlibur bertemu seorang perempuan muda di Monte Carlo. Mereka jatuh cinta, menikah, dan tinggal di Manderley, rumah sang duda. Di rumah itu, Mrs. de Winter yang baru merasa terintimidasi karena Mrs. Danvers, pelayan di Manderley, begitu mengagungkan Rebecca, istri pertama Maxim yang sudah meninggal. Terlebih, Mrs. Danvers mengatakan bahwa Mrs. de Winter yang baru tak akan pernah bisa menggantikan posisi Rebecca.

Rebecca
Gambar 2. Mrs. Danvers (kanan) sedang membujuk Mrs. de Winter (kiri) untuk melompat dari jendela

Film hitam-putih ini akan terasa membosankan bagi sebagian orang. Namun, saya pribadi menyukai cerita secara keseluruhan dan plot twist yang terjadi di tengah film. Nuansa hitam-putih ini juga membuat karakter Mrs. Danvers yang kaku dan dingin semakin kuat. Film ini bisa dinikmati oleh Mas/Jeng yang tahan untuk tidak tidur ketika menonton film-film sepi.

6. Rear by Window (1954)

L.B. “Jeff” Jefferies, pewarta foto yang sedang dalam masa pemulihan akibat kaki patah menghabiskan waktu dengan mengamati aktivitas para tetangga lewat jendela apartemennya. Di suatu malam, ia mendengar seorang perempuan berteriak “Jangan!” kemudian mendapati beberapa peristiwa ganjil terjadi selama beberapa hari setelahnya. Jeff membangun hipotesis dan berusaha memecahkan misteri yang terjadi di sekitar apartemennya itu.

Rear Window
Gambar 3. Jeff mengamati aktivitas para tetangga dari balik jendela apartemen

Bagian paling menarik bagi saya ketika menyadari bahwa film ini merupakan one room-set movie yang cuma berkutat di kamar Jeff, seperti halnya 12 Angry Men (1957) yang berkutat di ruang juri saja, tetapi tidak membosankan untuk ditonton. Sudut pandang Jeff sebagai satu-satunya sudut pandang yang disajikan mau tidak mau memaksa penonton untuk tenggelam dalam hipotesisnya.

5. Dial M for Murder (1954)

Tony Wendice, mantan petenis, mengungkapkan keinginannya untuk membunuh sang istri, Margot Wendice. Ia berhasrat menguasai seluruh harta Margot. Mengetahui bahwa Margot selingkuh dengan Mark Halliday membuat Tony semakin yakin dengan rencana pembunuhannya. Ia pun mengancam seorang kawan lama agar mau melakukan tindak kriminal tersebut. Sayangnya, upaya pembunuhan itu tidak berjalan sesuai rencana.

Dial M for Murder
Gambar 4. Sesaat sebelum Margot akan dibunuh oleh pembunuh suruhan sang suami

Hal paling menarik dalam film ini bagi saya adalah adegan-adegan ketika para pemeran, baik Tony, Mark, dan para penyelidik berusaha mengungkap bagaimana pembunuhan itu terjadi. Pembunuhan yang tidak sesuai rencana itu membuat suasana film menjadi seperti melihat orang sedang bermain kucing-kucingan dalam berargumentasi. Permainan menyembunyikan motif ini cukup greget untuk dinikmati.

4. Vertigo (1958)

Detektif John “Scottie” Ferguson memutuskan pensiun karena merasa bersalah tidak dapat menolong rekan kerjanya yang jatuh dari atap bangunan. Kejadian itu lalu membuat ia sering merasakan vertigo. Sahabat Scottie semasa kuliah, Gavin Elster, meminta pensiunan detektif itu untuk mengawasi istrinya yang sering bergelagat aneh. Scottie menolak, tetapi ia luluh juga. Akhirnya, ia mulai memata-matai Madeleine demi sahabatnya.

Vertigo
Gambar 5. (ki-ka) Scottie dan Madeleine

Bagi para kritikus film, Vertigo disebut sebagai masterpiece Hitchcock di samping Psycho (1960). Sinematografi, plot twist, tema yang diangkat, visual effect, dan aspek produksi lain yang digunakan memang apik. Namun, bagi saya pribadi masih ada 3 film Hitchcock lain yang lebih mengesankan. Yak film apa saja kah yang masuk dalam 3 besar tersebut? Cekidot!

3. Rope (1948)

Brandon Shaw dan Phillip Morgan bersama-sama membunuh seorang rekan sekelas, David Kentley, di apartemen mereka tepat sebelum acara makan malam yang mereka gelar di sana. Dua pembunuh tersebut menggunakan peti tempat menaruh mayat David sebagai pengganti meja tempat menaruh makanan. Para tamu sesungguhnya bingung karena David tidak hadir, tetapi mereka tidak menaruh banyak perhatian, kecuali profesor Rupert Cadell. Kecurigaan Prof. Rupert bangkit karena pertanyaan-pertanyaan mengenai ketidakhadiran David dijawab secara tidak konsisten oleh Phillip.

Rope
Gambar 6. (ki-ka) Prof. Rupert Candell, Brandon Shaw, dan Phillip Morgan

Rope merupakan film berwarna pertama besutan Hitchcock. Seperti halnya Rear Window, film ini juga merupakan one room-set movie. Hal yang lebih menarik adalah Hitchcock berhasil membuat Rope seolah diambil dalam satu kali syuting (single continuous shot). Berdasarkan beberapa referensi yang saya baca, film ini memang dilakukan dalam satu kali syuting. Kepiawaian Hitchcock dalam film ini tentu membuktikan kapasitasnya yang mumpuni dalam mengarahkan para pemeran, kameramen, dan seluruh kru produksi selama proses syuting, which is a director’s main jobdesc. Tidak salah, permulaan yang baik bagi saya dalam mengenal karya-karya Hitchcock.

2. The Birds (1963)

Melanie Daniels bertemu Mitch Benner yang sedang mencari lovebirds (salah satu spesies burung) di toko burung di San Fransisco. Melanie kemudian memutuskan untuk diam-diam mengikuti Mitch hingga ke Bodega Bay, tempat laki-laki itu biasa menghabiskan akhir pekan. Tak disangka, terjadi peristiwa ganjil beruntun berupa serangan burung camar dan gagak kepada penduduk Bodega Bay, termasuk kepada Melanie yang sedang singgah sementara.

The Birds
Gambar 7. Melanie dan seorang murid tengah melarikan diri ketika diserang sekawanan gagak

Film Hitchcock lekat dengan suspense dan alur cerita yang tidak monoton. Namun, ini pengecualian bagi The Birds. Film ini berjalan tanpa alur cerita yang berarti. Namun, menonton film bergenre horror-thriller yang sebagian besar hanya diisi adegan penyerangan sekawanan massal burung-burung ini cukup membuat bergidik. Ditambah lagi dengan mengetahui bahwa adegan-adegan tersebut sebagian besar menggunakan burung asli.

Memorable scene dalam The Birds yakni penyerangan Melanie Daniels oleh sekawanan gagak di loteng dilakukan selama satu minggu menggunakan burung gagak asli demi memperoleh satu menit adegan yang sempurna (ref: telegraph.co.uk). Perlakuan kejam Hitchcock terhadap sang aktris ini konon disebabkan konflik personal, membuat publik menganggap bahwa Hitchcock juga memiliki kepribadian gelap tersendiri.

1. Psycho (1960)

Marion Crane, seorang pegawai real estate, mencuri uang milik klien dan kabur ke tempat sang pacar, Sam Loomis, di luar kota. Dalam perjalanan, Marion memutuskan menginap semalam di sebuah motel di pinggir jalan bernama Bates Motel yang dijaga oleh Norman Bates. Di motel tersebut, Marion dibunuh.  

Psycho1

Psycho2
Gambar 8 (atas) & 9 (bawah). Memorable scene film Psycho: pembunuhan di kamar mandi

Jika Mas/Jeng menyukai serial TV Bates Motel yang sudah ditayangkan sejak tahun 2013, maka nama Norman Bates tidak mungkin terdengar asing. Norman Bates, pengelola Bates Motel, merupakan tokoh utama dalam film Psycho. Serial TV itu sendiri merupakan prekuel dari kehidupan Norman Bates dan sang ibunda yang diangkat dalam film. Bukan disutradarai oleh Hitchcock, tentu, sebab beliau sudah meninggal ketika serial TV ini dibuat.

Plot twist, akting para pemeran, adegan-adegan horror-thrilling disertai musik psychedelic, semua top! Apik secara keseluruhan. Hal ini menjadikan Psycho layak dikatakan sebagai masterpiece Hitchcock. Film ini mendapat sambutan meriah dan menjadi pelopor film-film thriller psikologi lainnya. Meskipun menggunakan format hitam-putih (untuk menghemat biaya produksi kala itu), film ini sama sekali tidak membosankan untuk ditonton. Menurut saya, film hitam-putih yang dirilis tahun 1960 ini bahkan masih lebih baik ketimbang sekuel, remake, dan serial TV berwarna yang menceritakan kehidupan Norman Bates.

Kekuatan Psycho yang paling utama adalah cerita. Oleh karena itu, bagi Mas/Jeng yang ingin menonton Psycho, saya sarankan agar tidak membaca sinopsis film secara keseluruhan sebelum menonton. Nikmati lah hingga menit-menit terakhir. Terbaik!

***

Boleh dibilang, Alfred Hitchcock merupakan sutradara yang karyanya paling banyak saya nikmati, bahkan masih tergiur untuk menyelesaikan sisa film-filmnya yang belum saya tonton. Terlebih, keterlibatan aktor James Stewart sebagai pemeran utama dalam 4 film Hitchcock (3 di antaranya masuk daftar di atas, btw) membuat saya menetapkan bahwa ia adalah aktor jadoel favorit saya 😀

Pesan saya bahwa menonton film jadoel perlu disertai dengan pikiran terbuka karena kualitas sinematografi kala itu sudah pasti tidak sebaik saat ini. Bahkan The Birds (1963) yang mendapat nominasi Academy Award kategori Best Special Visual Effects memiliki kualitas tidak jauh lebih baik dari sinetron Angling Dharma. Jadi, ya, jangan pernah coba membandingkan kualitas sinematografi film jadoel dan film sekarang karena tidak mungkin sepadan.

Terakhir, selamat menonton!

PS: Saya akan memperbarui daftar ini jika saya rasa ada film Hitchcock lain yang belum saya tonton yang ternyata lebih oke dari daftar di atas.

Iklan
Diposkan pada Jurnal

Alternatif Kegiatan Malam Tahun Baru yang Anti-Mainstream

Halo, Mas/Jeng!

Berhubung beberapa hari belakangan ini saya merasa sangat penat, nulis receh di blog agaknya bisa jadi salah satu alternatif melepas stres. Sekalian, baru ngeh kalau nggak kerasa tahun baru sudah di depan kalender.

Pict.jpg
Source: media.indiatimes.in

Malam tahun baru identik dengan party dan konser musik. Tinggal pilih mau desak-desakan menikmati panggung musik Ancol, pergi makan-makan cantik di mall, atau ngesot ke warung kopi terdekat, kesemuanya pasti tak luput dari euforia selebrasi. Wabil khusus teruntuk humankind zaman now, perayaan tahun baru musti nampak meriah! Meskipun sekedar duduk-duduk di pinggir alun-alun makan kacang rebus, asalkan cekrek-upload foto kembang api dan posting IG stories, maka semua kriteria menikmati malam tahun baru sudah bisa dicentang.

Bagi Mas/Jeng yang bukan pengikut arus atau sudah bosan dengan ritual tahunan yang itu-itu saja, mencoba hal-hal berikut mungkin bisa dilakukan untuk menemani malam tahun baru.

  1. Mengerjakan tesis

Opsi ini kudu musti wajib berada di dalam top list, peringkat 1 pula. Masa, sudah kebelet LULUS tahun depan tapi masih leha-leha? Cih… sleding, nih! Percayalah di masa depan, pengalaman mengerjakan tesis ini bakal menjadi cerita mengharukan sekaligus memotivasi untuk anak cucu Mas/Jeng. Mengingatkan betapa gigih leluhur mereka dalam meraih cita-cita menimba ilmu, meskipun perlu diingat bahwa IPK bagus belum tentu menjamin sukses, apalagi yang jelek.

  1. Ketiduran challenge

“Paan sih tahun baru biasa aja lah. Gw mah tidur doang di rumah.”

Ucapan ini pasti sering dilontarkan teman-teman Mas/Jeng yang mengaku anti-mainstream. Percayalah sesungguhnya mereka telah menjadi anti-mainstream yang mainstream karena semua golongan anti-mainstream akan menggunakan alasan tersebut untuk menyatakan ke-anti-mainstream-an mereka. Nah, bagaimana jika muncul golongan anti-mainstream terbaru, yakni mereka yang menghabiskan malam tahun baru bukan dengan (sengaja) tidur, melainkan ketiduran? Saya yakin ketiduran adalah hal yang sulit dilakukan kalau Mas/Jeng sudah niatkan dalam hati. Oleh karena itu, patut disebut challenge.

“Bro, tahun baru mau ngapain?”; “Wah kayaknya gw mau ketiduran aja nih.”;

Coba bayangkan bagaimana ekspresi kawan Mas/Jeng mendengar jawaban tersebut. Ekspresi yang anti-mainstream sekali, bukan? Jangan lupa ajak temanmu ikut challenge ini.

  1. Menertibkan komplek

Mas/Jeng bisa produktif juga lho di malam tahun baru. Meskipun hanya menghabiskan malam di rumah, salah satu kegiatan yang bisa dilakukan adalah dengan berkeliling komplek menyetop mereka yang gemar melempar petasan dan meniup-niup terompet di jalan. Sebagai golongan anti-mainstream yang menjunjung tinggi solidaritas sesama kaum, hal itu sangat bermanfaat demi meredam bising yang merusak suasana kondusif untuk tidur.

Kegiatan ini mungkin beresiko tinggi karena alih-alih menertibkan komplek, Mas/Jeng malah bisa dituduh melanggar HAM para penikmat malam tahun baru. Maka, saran saya, Mas/Jeng bisa siapkan secarik kertas berisi nasehat atau ceramah malam tahun baru untuk disampaikan menggunakan toa masjid. Strategi ini tentu lebih aman bin berfaedah.

  1. Membantu ketertiban lalu lintas

Barang tentu malam tahun baru identik dengan macet! Padahal kita sih pengennya anti macet-macet club. Di satu sisi, pernah dengar istilah jadilah bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah kan? Jadi, alangkah mulia jikalau Mas/Jeng bisa turut menjadi solusi dari kemacetan kota di malam tahun baru dengan tidak ikut-ikutan menciptakan kemacetan dengan menjadi pak ogah dadakan. Apalagi pengamen dadakan yang pake dalih lagi ngedanus buat acara kampus. Memang sih malam tahun baru tuh momen yang pasti menjanjikan kantong, berkali lipat dari malam-malam biasa. Tapi, yaa serius lah, kasih kesempatan mereka yang benar-benar butuh arena.

Masih punya ide-ide anti-mainstream lain untuk menikmati malam tahun baru?

Buat tulisan sendiri.

 

Diposkan pada Buku

Dawuk, Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu

Dawuk

Judul                     : Dawuk, Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu

Penulis                 : Mahfud Ikhwan

Genre                   : Fiksi

Kategori               : Novel/Sastra

Penerbit              : CV. Marjin Kiri

ISBN                      : 978-979-1260-69-5

Bahasa                  : Indonesia

Tebal                     : 181 halaman

Sampul                 : Cetakan pertama (Juni 2017)

Rating                   : 4/5

Tentu penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 kategori Prosa Terbaik yang diberikan tanggal 25 Oktober 2017 lalu kepada Mahfud Ikhwan atas novel Dawuk melayangkan perhatian lebih para pembaca kepada buku ini, tak terkecuali saya.

Adalah seorang Warto Kemplung, pembual desa yang gemar mencari perhatian warga, yang menceritakan kepada Mustofa Abdul Wahab, seorang wartawan koran yang tengah mencari berita, serta para pengunjung warung kopi yang siang itu mencuri dengar, tentang perseteruan tragis antara Mat Dawuk dan penduduk Rumbuk Randu. Warto bersikeras bahwa kejadian yang ia ceritakan benar-benar terjadi karena ia sendiri mengaku mengenal Mat Dawuk, meskipun tidak terlalu dekat. Namun, khas penceritaan dari mulut seorang pembual, tidak ada satu pun pendengarnya yang percaya, kecuali sang wartawan yang seolah yakin dan masih berusaha menduga-duga bagaimana peristiwa itu terjadi di dunia nyata.

Mat Dawuk, sebagaimana diceritakan oleh Warto Kemplung, terlahir dengan wajah amat buruk rupa dan segera dibenci oleh ayahnya karena dianggap sebagai pembunuh sang istri yang meninggal selepas melahirkannya. Anak itu juga memiliki kehidupan sosial yang nihil karena tidak satu orang pun yang mau berkawan dengannya. Terlebih lagi, para orang tua gemar menjadikannya guyonan untuk menakut-nakuti anak-anak. Akibatnya, Mat Dawuk memutuskan pergi merantau ke Malaysia. Di sana, ia menjadi preman yang tak segan menerima order untuk membunuh orang.

Takdir baik rupanya sempat berpihak kepada Mat Dawuk ketika ia menolong Innayati, kembang desa Rumbuk Randu yang juga merantau ke Malaysia. Kala itu Innayati sedang melarikan diri dari kejaran suaminya yang entah ke berapa. Ya, oleh Warto, Innayati digambarkan sebagai perempuan yang cantiknya aduhai tetapi kegatelan. Mereka akhirnya menikah dan memutuskan kembali ke Rumbuk Randu. Sialnya, penduduk Rumbuk Randu enggan menerima Mat Dawuk (lagi). Dari titik ini lah konflik sosial yang kian kompleks serta rahasia-rahasia di balik kebencian penduduk terhadap Mat Dawuk satu per satu dikuak.

Mahfud menyajikan kisah Mat Dawuk berdasarkan sudut pandang Warto yang dilengkapi dengan bumbu-bumbu penceritaan khas pembual. Hal ini memberi nilai lebih kepada Mahfud yang berupaya turut menggaet pembaca untuk larut pada kisah Mat Dawuk. Dawuk dituturkan begitu mengalir dan atas bantuan bumbu-bumbu Warto, menjadikan buku ini nyaman untuk terus dibaca. Meskipun, ada beberapa guyonan Warto di luar konteks cerita yang ia tuturkan, terlalu panjang, sehingga terasa membosankan pada bagian tertentu (tetapi saya rasa ini lebih kepada soal selera pembaca).

Soal alur cerita, jujur saya baru merasakan pergolakan emosional setelah menuntaskan hampir setengah isi buku, yang berarti setengah isi buku awal terkesan sebagai narasi yang biasa-biasa saja. Namun, setelahnya emosi ini justru digenjot naik terus hingga akhir cerita, membuat saya sampai berani bilang “Mantap, Bang Mahfud!”

Ditambah, perselisihan antara Mat Dawuk dan penduduk Rumbuk Randu yang seperti gencatan senjata itu tidak hanya berkutat seputar wajah ngeri Mat Dawuk (tidak dapat dinafikan, bagi saya ini merepresentasikan masih kuatnya kecenderungan manusia dalam mengedepankan penilaian fisik terhadap seseorang), tetapi juga mengangkat permasalahan lain seperti isu Tenaga Kerja Indonesia (TKI), persekongkolan petani dan aparat, tradisi ‘serong’ di kehidupan rural, tindak provokasi dan main hakim sendiri (yaa satu ini memang sudah mengakar di masyarakat loh guys), bahkan dendam yang diwariskan turun temurun. Perbincangan yang sangat kaya! Dan hal inilah alasan paling utama yang membuat saya menyukai buku ini 🙂

 

Diposkan pada Buku

Lelaki Harimau

Lelaki Harimau

Judul                     : Lelaki Harimau

Penulis                 : Eka Kurniawan

Genre                   : Fiksi

Kategori               : Novel/Sastra

Penerbit               : PT. Gramedia Pustaka Utama

ISBN                     : 978-602-03-2465-4

Bahasa                 : Indonesia

Tebal                    : 190 halaman

Sampul                : Cetakan ketujuh (Oktober 2016)

Rating                  : 3.5/5

Lelaki Harimau diawali oleh sepotong adegan di mana Kyai Jahro tengah memberi pakan ikan-ikan di kolam sebelum kemudian dijemput oleh Mayor Sadrah yang terengah-engah memintanya agar segera memulai proses pengurusan jenazah Anwar Sadat yang dibunuh oleh Margio. Si pembunuh adalah seorang lelaki berumur 20 tahun yang tak lama sebelumnya kedapatan telah menggigit putus urat leher si korban. Warga yang mengenal, baik Anwar Sadat maupun Margio, tidak memiliki bayangan apapun mengenai motif pembunuhan tersebut dikarenakan hubungan antara keduanya yang nampak baik-baik saja. Hingga dalam suatu proses investigasi setelahnya, motif pembunuhan baru diketahui setelah 190 halaman ini habis Anda baca. Penelusuran motif diceritakan berkutat pada kehidupan keluarga Margio dengan warga kampung lainnya, termasuk Anwar Sadat.

Eka Kurniawan sukses menggaet ketertarikan pembaca sejak halaman-halaman awal buku di mana ia langsung memasuki inti cerita, yakni seorang anak muda yang membunuh korban bagai harimau melenyapkan ruh mangsa. Selanjutnya, alur maju-mundur yang digarap tertata apik sukses menjadikan buku ini dapat saya selesaikan dalam satu waktu dengan diselingi kudapan. Kurang lebih lima jam.

Buku ini mengangkat permasalahan yang saya rasa umum terjadi dalam kehidupan masyarakat, yakni seputar kekerasan dalam rumah tangga, percintaan remaja, perselingkungan, ekonomi, dan printilan topik lain. Hanya saja terdapat penambahan nuansa mistis berupa peliharaan jin harimau putih oleh kakek Margio yang memperkaya alur cerita.

Terlepas dari alur cerita yang smooth, penggambaran kondisi-kondisi dalam buku ini digambarkan dengan sangat detail, bahkan sejak halaman pertama. Semisal area perkebunan Kyai Jahro, yang dideskripsikan hingga berbaris-baris kalimat, membuat pembaca mungkin merasakan kebosanan seperti saat saya memaksa diri menuntaskan penjelasan tersebut.

Secara garis besar, saya rasa tidak ada isu baru yang diangkat dalam buku ini sehingga menjadi menonjol dibandingkan karya sastra lainnya. Di samping itu, potongan-potongan adegan pun tidak terlalu sulit ditebak, pada akhirnya. Namun, saya rasa kekuatan terbesar penulis dalam buku ini terletak pada kemampuan (teknik) mengolah cerita dalam alur maju-mundur sehingga terlihat tetap terstruktur, tidak rumit, tetapi sekaligus menarik untuk terus diikuti. Apalagi klimaks di akhir cerita yang memaksa pembaca untuk, mau tidak mau, mendapatkan jawaban atas motif pembunuhan Anwar Sadat oleh Margio. Ya, membaca buku ini memang harus hingga tuntas!

Selamat beribadah bagi yang berniat membaca Lelaki Harimau 🙂

Diposkan pada Jurnal

Ngobrol Kreatif di Balik Imajinasi Agus Noor

“Hiduplah seperti apa yang kita pilih.”

Demikian ujar Agus Noor kepada peserta bincang-bincang proses kreatif di balik penulisan buku “Cinta Tak Pernah Sia-Sia” yang digelar di Graha Bhakti Budaya TIM, Sabtu kemarin, 21 Oktober 2017. Buku “Cinta Tak Pernah Sia-Sia” merupakan kumpulan cerpen Agus Noor yang dimuat dalam koran Kompas Minggu selama 27 tahun menekuni dunia kepenulisan. Buku ini telah dirilis September 2017 lalu.

IMG_20171021_105843863 edit2
(kiri ke kanan): Dewi Ria Utari, Agus Noor, dan Ine Febriyanti

 

Pilihan Agus Noor menjadi seorang seniman sejak zaman kuliah dilandasi oleh kecintaannya terhadap seni dan budaya. Ia pun kala itu sudah hobi menulis untuk majalah-majalah remaja sejak SMA. Pilihan ini membuat orang tuanya kerap bertanya-tanya,

“Kamu yakin bisa ‘hidup’ dari menulis?”

(Saya rasa pun pertanyaan ini masih relevan di zaman now)

Jawaban atas pertanyaan tersebut ia simpulkan lewat pemilihan judul buku “Cinta Tak Pernah Sia-Sia” yang menunjukkan bahwa kecintaannya terhadap menulis mampu mengantarnya kepada pencapaian-pencapaian yang ia peroleh saat ini.

“Tapi kalau mau punya apartemen 12 lantai, yaa jangan jadi penulis hehehe”, sambungnya berkelakar.  

Agus Noor dikenal sebagai salah satu sastrawan yang produktif. Di samping menulis, ia pun telah menyutradarai dan menulis naskah beberapa pementasan teater.

Ia menekankan bahwa hal tersebut dapat dicapai dengan cara menerapkan disiplin yang tinggi. Waktu 24 jam harus mampu dikelola dengan baik. Slot waktu untuk membaca (terutama untuk melakukan riset) dan menulis mesti dialokasikan dalam sehari. Buku bacaan apapun menurutnya layak untuk dibaca, mulai dari prosa, buku-buku nonfiksi, musik, bahkan resep buku masakan!

Kekayaan akan pengetahuan menurutnya akan membantu seorang penulis merangkul tema-tema yang lebih luas. Hal ini ia buktikan melalui perjalanan panjang cerpen-cerpennya yang tidak terpaku pada satu isu tertentu. Fleksibilitas ini membuatnya tidak hanya menulis cerpen bertemakan rural atau romantisme perjuangan masyarakat kelas bawah yang dibalut surealisme-realisme, sebagaimana ia tuangkan pada awal-awal karir menulisnya di Kompas tahun 90an. Namun, kini ia juga merambah tema-tema lain seperti urban yang dibawakan dengan satir. Pun humor politik, belakangan.

Di samping itu, Agus Noor mengakui bahwa ia tidak pernah terpaku pada satu gaya kepenulisan. Baginya, setiap cerita memiliki keunikan masing-masing. Penulis yang baik harus mampu menggali keunikan tersebut, alih-alih memaksakan cara penyajian yang sama terhadap semua cerita.

Dalam diskusi ini hadir pula Dewi Ria Utari, penulis cerpen, yang turut memperkaya diskusi dengan menilik buku “Cinta Tak Pernah Sia-Sia” dari sudut pandangnya.

Tak diragukan lagi bahwa untuk memperoleh sebuah kolom di Kompas Minggu merupakan arena pertarungan tersengit bagi para penulis cerpen. Maka, Ria menganggap bahwa konsistensi dimuatnya karya Agus Noor di koran Kompas dapat merepresentasikan sejarah perkembangan cerpen sastra di Indonesia. Cerpen di tahun 90an yang sarat dengan kritik sosial terhadap era Orde Baru, hingga gaya hidup urban masa kini.

Menanggapi hal tersebut, Agus Noor berpendapat bahwa sastra adalah penting untuk memperkaya pengalaman batin masyarakat. Sastra yang baik adalah karya yang mampu memberi cara pandang baru terhadap dunia. Oleh karenanya, karya-karya sastra bisa mencakup apapun.

Ngobrol bareng yang berjalan selama dua jam tersebut kemudian ditutup dengan penandatanganan buku-buku Agus Noor, serta tambahan pesan dari Ine Febriyanti selaku moderator,

“Setialah pada pilihan Anda.”

.

.

.

Ditulis oleh pembaca setia cerpen-cerpen Agus Noor tapi masih awam sastra.

Ditulis di Kompasiana

 

Diposkan pada Jurnal

#2yrsNL WOW! Seorang Perempuan Nekat Bersepeda 11 Jam Diguyur Hujan

Hmm kalimat di atas terkesan seperti sebuah judul clickbait, tetapi cukup menggambarkan salah satu pengalaman paling berkesan yang pernah saya buat seumur hidup.

8
Omafiets cintakuw

Belanda adalah surga bagi para pesepeda. Jalur sepeda dapat ditemukan di sudut kota manapun, bahkan sekelas desa macam Wageningen. Tak bisa dielakkan, di sini jumlah populasi sepeda melebihi jumlah populasi manusia.

 

Berhubung sepeda merupakan alat transportasi utama bagi setiap warga, maka nggak heran kalau salah satu kewajiban fardu ‘ain yang harus dilakukan pelajar sesampainya di Belanda adalah membeli sepeda. Umumnya sih beli yang bekas karena kami belum mampu jadi kaum anti kere-kere club 😦

Gowes ke kampus, ke pasar, ke stasiun, kemanapun sudah jadi kebiasaan di Belanda. Tapi pengalaman bersepeda saya selama 11 jam kali ini terinspirasi dari (kalau sebutan Pak Susetiya sih) duo gila: Pak Alham Samudra dan Pak Imam Dermawan, bapak-bapak di tempat kerja saya dulu.

Kala itu sekitar minggu ketiga Mei 2015, tanpa pikir panjang saya menerima tawaran Mbak Martha, rekan kerja di tempat kerja saya dulu, untuk menggantikan dirinya mendaki ke Semeru bersama rombongan kantor. Tawaran itu datang kurang dari seminggu sebelum keberangkatan. Wk. Memang dasar gw anak impulsif.

 

20
Bersama COPI Panas dkk di Ranu Kumbolo (31 Mei 2015)

 

Sembari menunggu keberangkatan, saya sudah terpapar informasi bahwa dua bapak ini setelah nanjak Semeru berniat langsung gowes ke Jakarta selama kurang lebih 5-6 hari. Saya sih belum mau percaya sampai pada hari H sesampainya kami di Bandara Abdul Rachman Saleh, Malang, saya melihat kardus sepeda beliau-beliau yang digotong bersama mobil rombongan kami menuju kaki gunung Semeru. Lha, beneran mau gowes?

Ditemani cerah terik mentari di padang pasir kawasan Bromo sehari setelah turun dari Semeru, kami pun melepas perjalanan Pak Alham dan Pak Imam mengayuh sepeda menyusul kami yang pulang sore itu ke Jakarta.

Sejak momen itu saya bilang ke Nadia. “Nad, nanti kita sepedaan keliling Belanda yuk. Tiga harian, gitu.”

Nadia ini adalah teman sekantor sekaligus teman bakalan main di Belanda, tepatnya di kota Delft. Menanggapi ajakan ini, Nadia juga nampak excited (iya gitu?) walaupun mungkin dalam hati membatin, ‘Serah lo aja dah, San’. *emot thinking*

Keinginan untuk bersepeda keliling Belanda itu selalu terbersit selama tinggal di Belanda. Tapi maklum lah manusia kan emang suka berwacana ya, jadi keinginan itu hampir tidak pernah direalisasikan benar-benar.

Pre

Siang hari usai presentasi internship yang membuat plong hati sejagad raya, saya mulai terpikir untuk merealisasikan bucketlist yang pernah disusun, termasuk sepedaan keliling Belanda.

Tepatnya di suatu sabtu yang cerah tertanggal 12 Agustus 2017 di kalender, berhubung saya keinget perlu beli souvenir khas Belanda, saya berpikir ‘apa sepedaan ke Delft aja ya, beli souvenir’. Di Delft kata orang-orang sih ada toko yang kasih harga lebih murah dibanding toko-toko lain di Belanda, selain Volendam.

Kemudian saya nge-chat Nadia kurang lebih dengan konten macam begini, ‘Klo numpang nginep tanggal 16 Agustus boleh gak? Pengen ngerasain 17an di KBRI’.  Maklum, ke KBRI perlu waktu 2.5 jam sendiri naik bis & kereta.

Saya lupa ya alasan kenapa pada akhirnya batal 17an di KBRI (kalau nggak salah sih karena tiba-tiba males aja). Walhasil, demi melakukan sesuatu yang berkesan pada peringatan kemerdekaan 17 Agustus (kan saya anak momentum banget gituuuh, massa x kecepatan), saya memutuskan untuk fix sepedaan Wageningen-Delft 17.8.17, tepat satu hari sebelum hari-H.

Kata google maps, jarak Wageningen-Delft sekitar 104.2 km dengan waktu tempuh 6 jam bersepeda.

Beberapa teman bilang saya punya determinasi yang tinggi. Saya pribadi sih merasa saya ini orang yang impulsif. Jadi nggak salah ya ada istilah nekat untuk memadukan dua sifat ini.

Semalam sebelum keberangkatan saya mulai menyusun plan.

 

4
And the journey began…

 

Present 

Rencana awal adalah berangkat jam 8 pagi supaya bisa sampai maksimal jam 5 sore. Estimasi total waktu tempuh adalah 9 jam. Enam jam dengan tambahan 3 jam untuk istirahat dan kalau-kalau kecepatan bersepeda terlampau lambat.

Err— pagi itu saya keluar kosan jam setengah 10 pagi.

Beberapa hari sebelum tanggal 17 Agustus adalah hari-hari yang membahagiakan karena matahari selalu bangun dari persembunyiannya di Wageningen. Seribu sayang, saya bertanya-tanya kenapa matahari lama betul bangun Kamis itu, bertepatan dengan tanggal 17 Agustus. Prediksi buienradar.nl hujan, malah.

Pagi itu pun jas hujan yang sudah saya siapkan ketinggalan di meja. Eta terangkanlah.

 

15
Asyik, meskipun apa faedahnya memfoto papan ini

 

Sesi #1. Tiga jam pertama yang menantang

Dalam perjalanan menuju Delft, cihhh diri ini langsung terkoyak-koyak oleh hujan deras yang turun tidak kurang dari satu jam. Untung jaket waterproof setia menghalau basah untukku. Jadi dalam 1.5 jam menggowes itu, sekujur tubuh basah kuyup kecuali yang tertutup oleh jaket. Nggak nunggu reda dulu? Nope. Toh sudah terlanjur basah ya, jadi buat apa mencari naungan teduh.

Cek perkiraan cuaca sebelum berangkat. Kan nggak lucu kalau muncul headline news ‘Astaga! Pelajar Indonesia ditemukan tergosrok di kanal Amsterdam selepas badai katrina’.

Satu jam setelah hujan, sembari terus menggowes, tau-tau celana saya sudah hampir kering. Tapi masih tersisa gerimis.

Pastikan outfit yang digunakan nyaman, ringan di badan, dan gampang kering kalau kebasahan.

Satu hal paling menarik dari 3 jam pertama ini ialah tepat di samping sebuah papan  area bertuliskan Weijdijk, saya menemukan sebuah pemandangan menakjubkan we o we yang membuat saya berhenti. Di sebuah tanah lapang dari kejauhan nampak seekor hewan yang duduk membelakangi saya.

Kanguru! Atau wallaby?

Masa iya sih di Belanda ada kanguru?

1
Dear Lupito (ini nama dari saya buat dia), nengok dong

 

Sudah susah-susah meniru suara ‘nguik nguik’ tapi dianggurin. Mungkin dia malas karena terdengar seperti babi terjerembab pipa kali ya. Karena kelamaan menunggu respon, saya memutuskan untuk pergi. Dah, Lupito!

Tiga jam pertama pedal sepeda terus digowes sambil sesekali si empunya mengecek google maps. Ternyata saya cuma terlambat setengah jam dari waktu yang ditentukan google maps.

‘Sip, bisa nih sampe ontime’, sahut saya dalam hati.

SOK TAU DUA MILIAR.

Tapi at least rasa excited ini membuat level percaya diri naik 7x lipat untuk maju terus.

Rencanakan waktu perjalanan dengan cermat. Buat lah target-target kecil, semisal: setiap 2 jam mas/jeng istirahat; pukul 10.00 sudah mesti sampai di kota A; dsb.

 

9
Melayang di atas kanal dalam perjalanan melintasi Provinsi Utrecht

 

Sesi #2. Dua jam kedua yang mendebarkan

Memasuki sesi kedua, hujan kembali turun derasnya dan saya sudah merasa kecepatan bersepeda jauh melambat. Saya masih terus memaksakan diri sampai perut minta jatah pada jam 2 siang. Pertama kali inilah saya turun dari sepeda untuk beristirahat setelah 5 jam mengayuh sepeda.

Saya menikmati bekal makan siang dan istirahat dengan total 20 menit di sebuah kursi di pinggir jalur sepeda, segera setelah hujan bertransformasi menjadi gerimis.

Siang itu, google maps bilang saya baru menempuh 50.4 km dalam kurun waktu 5 jam. Tentu ini sebuah indikasi bahwa saya sudah kelelahan sampai-sampai pace bersepeda jauh berkurang dibanding 3 jam pertama.

Pastikan mas/jeng membawa peralatan berikut: jas hujan, topi, bekal, dan cemilan penambah energi seperti gula merah atau coklat (saya sendiri selalu bawa gula merah kalau tau perjalanan berat, entah kenapa kali ini lupa karena buru-buru).

Momen setelah mengecek HP itu pun membuat saya mulai deg-degan, persis ketika kesambit chat dari supervisor menjelang deadline. Eta.

Dengan penuh tekad, kalau saja selama sisa perjalanan saya bisa mempertahankan pace seperti pada 3 jam pertama, maka saya bisa sampai di Delft pukul 6 sore. Hari belum gelap.

 

 

 

16
“Beli telor sini aja tapi tutup klo Minggu”, di sebuah komplek menuju Venendaal-De Klomp

Sesi #3. Enam jam terakhir yang super-depresif

 

Selepas makan siang, saya berhasil keluar dari provinsi Utrecht dan masuk ke provinsi Zuid-Holland. Di daerah ini, google maps kerap membawa saya menyusuri jalur sepeda di pinggir jalan tol.

Dan di sinilah saya mulai kewalahan mencari jalur yang benar.

 

10
Selamat datang di South-Holland

 

Sepanjang perjalanan di Zuid-Holland, lebih tepatnya setelah melewati Gouda sembari menuju Den Haag, setidaknya ada empat titik ketika saya diterpa kebingungan mencari jalan. Total waktu yang diperlukan untuk nyasar sana sini kurang lebih 2 jam! Fiuh, such a waste. 

Nyasar ini disebabkan adanya beberapa jalur sepeda yang ditutup karena sedang perbaikan. Ohhh rasanya ingin mencerca. Hal ini memaksa saya untuk improvisasi mencari jalur lain.

Belanda menyediakan peta fietsen network dengan papan-papan nomor di jalan yang bisa mas/jeng temukan sepanjang perjalanan jika mengikuti arah peta tersebut. Peta ini tentu lebih menjanjikan ketimbang mengandalkan google maps.

Berikut ini salah dua nyasar yang berkesan buat saya.

Dalam perjalanan menuju Den Haag, saya diarahkan google maps untuk melewati sebuah rel kereta api. Ternyata sore itu pagar rel kereta api digembok. Sebetulnya kurang sampe otak saya kenapa google maps menganggap rel kereta di atas gundukan ladang bisa dipertimbangkan sebagai sebagai jalur sepeda *emot thinking*

Saya mondar-mandir ke arah kiri dan kanan dari jalur sepeda utama sampai ratusan meter, berusaha mencari jalan lain dan (lagi-lagi) hujan turun dengan derasnya. Beruntunglah nampak sepasang sepeda muda-mudi bergaya hippie dengan barang bawaan segambreng (bawa-bawa gitar pula).

Saya untit mereka dari kejauhan.

Ketika mereka berhenti dan memutuskan untuk beristirahat setelah hujan agak reda, saya memberanikan diri untuk bertanya yang mana jalur menuju Delft. Rupanya mereka pun tidak tahu karena bukan warga Belanda.

Mereka berasal dari Prancis dan sudah gowes selama SEMINGGU dari negara tersebut. WOW! Ternyata di sekeliling saya bukan cuma Pak Alham dan Pak Imam yang gila.

Mereka berencana bermalam di Den Haag malam itu dan mengajak saya untuk gowes bersama. Saya tentu saja menolak karena kecepatan bersepeda yang jauuuh lebih lambat dari mereka, alih-alih malah menghambat perjalanan. Masa’ udah stranger, nyusahin pula.

Usai pamit dan tak lupa mengucapkan good luck, saya nyelonong pergi.

Sayang sekali saya lupa nama mereka.

Hindari mengisi keranjang sepeda dengan barang-barang yang sudah pasti tidak dipakai karena ini pasti menambah beban dalam mengayuh. Barang yang saya bawa kurang lebih ini: bekal makan siang, sebotol air putih, dompet, mini towel, lotion sunscreen, baju ganti untuk 1 hari, alat mandi yang nggak bisa untuk sharing bareng seperti sikat gigi dan showerpuff, serta jas hujan (yang terlupakan).

 

12
Jembatan Nelson Mandela, menuju Den Haag. Hmm apakah doi yang meresmikan ini?

 

Nyasar yang lain terjadi tepat di bawah jalan tol. Saya rasa momen ini menempatkan mental saya di paling bawah selama perjalanan. Jalur sepeda sesuai arahan google maps ternyata sedang ditutup. Saya pun bolak balik menghabiskan waktu dan energi lebih dari setengah jam untuk mencari jalan lain yang benar.

Beruntung dari kejauhan ada sepasang kakek-nenek menggunakan kursi roda elektrik (umum sekali dipakai di sana) sedang mengemudi ke arah saya. Spontan, saya bertanya pada mereka. Rupanya mereka (sepenangkapan saya) tidak terlalu paham Bahasa Inggris dan ketika saya menuliskan Delft di HP, mereka saling bersitatap lalu menunjuk-nunjuk ke arah yang saling berlawanan, sembari bergumam dalam Bahasa Belanda.

Oh Tuhan, cukup hati ini aja yang nyasar. Jangan ditambah se badan-badan.

 

5
Ladang rumput yang dilewati antara Den Haag menuju Delft

 

Tapi untung memang Tuhan Maha Baik. Tidak lama setelah merenungi nasib sejenak, saya melihat sepotong kepala mencuat dari balik rerumputan berjarak 250 meter (ya kira-kira segitu) sedang bergerak menjauh ke satu arah yang memang belum saya telusuri. Finally, kehidupan!

Meskipun mempertaruhkan nasib pada sekelebat kepala orang, ternyata benda itu kepala pembawa berkah.

Hujan tidak lagi turun dan gerimis hanya sesekali. Langit pun sedang cantik karena matahari muncul sebentar untuk menemani saya mengayuh memasuki area dengan plang ini!

 

2
Kebahagiaan HQQ

 

I made it after 10 hours! (termasuk 2×20 menit istirahat)

Memasuki kota Delft, saya diarahkan kembali menyusuri area perumahan dan sesekali ladang tempat ngangon kambing. Setelah laporan ke Nadia, saya mampir ke centrum (pusat pertokoan) untuk membeli cemilan dan ayam chicken (ini istilah Nadia dkk buat ayam goreng crispy yang dijual di kedai Turki).

Sekitar pukul 20.30 atau setelah 11 jam perjalanan, saya sampai di kosan Nadia. Tidak berapa lama kemudian masuk waktu magrib.

 

17
Ternyata nggak cuma Jembatan Pasopati aja yang jadi tempat muda-mudi pacaran. Can you spot them? Di sebuah jembatan menuju Delft.

 

Post

Setelah tunai semua kegiatan mengisi perut dan bersih-bersih badan, saya mengambil posisi telentang di atas karpet dan baru merasakan kalau astaga, badan gw remuk.

Malam itu saya tidur normal, sekitar 7-8 jam.

Satu hari pasca bersepeda 11 jam, saya terbangun tanpa merasakan pegal-pegal. WOW!  (kok kesal ya nulis wow ini). Cuma ngantuk dan merasa lelah saja.

Jam 11, saya dan Nadia bersepeda menuju TU Delft karena ia ada kumpul angkatan. Kami lalu lanjut nobar Game of Thrones S07E06 bersama Bramka. Sorenya, saya diajak nonton festival kembang api sekali setahun di Scheveningen. Kembali menggunakan sepeda menuju Stasiun Delft. Di sini personil bertambah Timothy, Templank, dan Radit. Bersama kami menunggu tram menuju Den Haag.

Di Den Haag, kami berjalan kaki mengitari centrum untuk makan malam dan jajan es krim sebelum menuju Scheveningen. Lewat pukul 11 malam, saya dan Nadia bersepeda kembali sepulangnya dari Stasiun Delft.

 

14
Firework Festival di Scheveningen

 

Sabtu pagi, saya masih kuat mengitari centrum untuk makan kibbeling dan BELI SOUVENIR (baru sekarang laaah).

Sore itu pun TERNYATA masih harus bersepeda 45 menit ke Den Haag (sebelum benar-benar bisa pulang naik kereta ke Wageningen) karena kereta di Delft sedang tidak beroperasi.

 

19
Still a long way to go home

 

Satu saja yang mau saya sampaikan dalam penjabaran di atas adalah… ternyata aktivitas gowes 11 jam tidak membuat badan drop-drop amat setelahnya. Jadi, jangan takut untuk mencoba :p

***

Nah bagi mas/jeng yang mau mencoba bersepeda keliling kota, cukup jadikan pengalaman saya sebagai bahan pelajaran, bukan patokan. Ingat ya, persiapan penuh lebih baik ketimbang tanpa persiapan.

Terlebih kalau mau sepedaan di Indonesia, butuh persiapan lebih ya terutama untuk memastikan segi safety dan security.  Kalau ini sih tanya yang pro aja deh.

13
Angkot Caheum-Ciroyom di Delft. Kiri payun, Aa’!

 

Di baris-baris akhir menulis cerita ini, saya baru meng”oh iya juga”kan respon beberapa teman yang menyayangkan waktu bersepeda saya selama 11 jam tanpa bertandang menikmati keunikan sudut-sudut kota yang dilalui.

Well, saya rasa justru itulah bagian yang paling menarik.

Tepat seperti kata Forrest Gump, “…I just felt like running cycling.”

.

.

.

Good luck!

 

Diposkan pada Jurnal

#2yrsNL Persiapan Keberangkatan “Lost in Translation & Luggage”

Halo mas/jeng! Lama nih nggak bersua. Sebagaimana janji yang sudah saya kemukakan di sosmed pribadi beberapa waktu lalu, sekarang saya mau mulai menulis kisah gado-gado selama 2 tahun tinggal di Belanda. Kenapa gado-gado? Karena rasa manis, gurih, asam, asin, pahit, sampai yang nggak berasa (kalau di gado-gado ini mah rasa tahu putih, nggak berasa kecuali dipakein bumbu kacang) mau saya share di sini dalam tulisan-tulisan ber-hashtag (ceilah) #2yrsNL.

Saya menghabiskan waktu 2 tahun di Belanda untuk mengikuti program yang bisa mas/jeng baca di Water Technology, intake 2015-2017. Sebetulnya saya sudah diterima untuk intake 2014-2016, namun menjelang keberangkatan saya belum menemukan puing-puing bantingan tulang yang bisa dibarter untuk bekal hidup (baca: beasiswa). Walhasil saya apply kembali program yang sama untuk intake 2015-2017. Alhamdulillah pada akhir tahun 2014, dua pondasi utama untuk pergi ke Belanda (Letter of Acceptance/LoA dan beasiswa) sudah digenggam. Jadi, apa aja neh kk yang disiapin kemarin, eh 2 tahun lalu? Singkat cerita, ini dia:

Les Bahasa Belanda

Segera setelah mendapat kepastian untuk berangkat kuliah, saya mulai memikirkan apa-apa saja yang diperlukan agar bisa survive. Berhubung saya punya waktu 7 bulan sebelum berangkat, saya memutuskan untuk menyisihkan sebagian penghasilan guna mengikuti les Bahasa Belanda (Dutch Course). Kalau mas/jeng tertarik, silakan telusuri website ini: https://www.erasmus-taalcentrum.com/.

Saya yakin tidak banyak lembaga kursus bahasa yang menawarkan program bahasa Belanda, tetapi beruntunglah saya tinggal di Tangerang Selatan (ya Jakarta sonoan ‘dikit lah) karena ada Erasmus Training Center (lokasi tepat di sebelah Kedutaan Besar Kerajaan Belanda di RI) yang membuka kursus Bahasa Belanda mulai dari level basic sampai advance. Berbekal pengetahuan nol tentang Bahasa Belanda, tentunya saya layak dong mengikuti kursus level Basic 1 alias level terendah.

Dalam kursus Basic 1 yang diadakan setiap sabtu pagi selama 3 bulan tersebut, kami para murid belajar kosakata dan basic grammar dalam Dutch. Kursus ini diikuti oleh  17 orang dari beragam latar belakang usia, pekerjaan, dan motivasi. Beberapa di antaranya adalah calon pelajar yang mau berangkat sekolah, yakni selain saya ada Erika (Rijkuniversiteit Groningen), Cisty (Wageningen University), dan Aiyubi (Tilburg University). Ada pula yang mau tinggal di Belanda menyusul suami yang sedang kerja yaitu Rani (ke Eindhoven) dan kak Lia (ke Groningen) yang juga sedang persiapan menyusul (saat itu masih berstatus calon) suami wong londo aseli. Selain itu kebanyakan (kalau nggak salah ya) memang pada dasarnya tertarik aja untuk belajar Dutch.

Les Bahasa Belanda
Foto 1. Para peserta Basic 1 yang kerjaannya beli mie ayam dan siomay depan tempat les

Catatan: Warga Belanda di kota manapun, ternyata mereka mahir berbahasa Inggris jadi nggak perlu takut sama sekali bakal lost in translation. Selain itu, pada umumnya universitas mengadakan program Dutch course di awal-awal perkuliahan. Jadi, menurut pengalaman saya agak-agak sayang sih ikut les Bahasa Belanda sebelum berangkat wkwkwk. Tapi lumayan lah nambah teman apalagi bisa ketemu kak Lia yang inspiring (aku nulis ini serius loh kak :p).

Kelas Akulturasi

Berbeda dengan les bahasa, kelas akulturasi yang dibuka oleh Erasmus Training Center ini dikhususkan bagi calon pelajar yang sudah pasti insya Allah pasti tenan berangkat ke Belanda, dibuktikan dengan melampirkan LoA. Oleh karena itu, kelas akulturasi ini hanya dibuka sekitar bulan Mei-Juli (silakan telusuri di website yang sama).

Dalam kelas yang berisi maksimal 20 orang ini, kami para murid tidak hanya dikenalkan dengan pembelajaran bahasa tetapi juga kondisi geografis dan sosial warga Dutch. Yap, karena tujuan diadakannya kelas ini adalah untuk mengurangi culture shock calon pelajar sesampainya di Belanda. Dari kelas inilah awal mula saya bisa: mengunduh aplikasi 9292 bahkan sebelum sampai di Belanda (yes gan!), tahu bahwa warga Dutch senang mengamati prakiraan cuaca (bisa nih buat modal ngobrol basa-basi), ngeluarin sepeda berdebu di garasi rumah buat ngetes diri sendiri masih bisa gowes apa nggak, bisa memperkirakan barang-barang yang perlu masuk koper, dsb.

IMG20150624160533
Foto 2. Para peserta kelas akulturasi C-6 yang ntap-ntap dan bahagia abis gajian (baca: uang deposit balik) plus dapat kaos gratisan.

Catatan: Ikut kelas ini berguna banget deh pokoknya. Gratis pun karena memang deposit di awal aja (2 tahun lalu deposit 1 juta) tapi dikembalikan di akhir asalkan kehadiran >80%.

King Packing!

Bagian terpenting dari persiapan selain mental adalah fisik, tentunya! Terutama bagi WNI yang cuma pernah kenal 2 musim (1 musim aja sih cuma beda satu periode sering hujan, satu periode enggak), tiba-tiba pindah ke negara 4 musim dengan karakteristik cuaca tertentu pasti perlu untuk segera beradaptasi. Waktu itu saya naik Garuda Indonesia sehingga dapat banyak jatah bagasi (40 kg tjuy) dan kabin 7 kg. Singkat cerita, saya bismillah aja karena nggak punya timbangan untuk mengecek berat koper. Ternyata total bawaan saya 50 kg (40 kg dalam 1 koper 28 inch dan 10 kg dalam 1 carrier punggung). Beruntunglah mbak-mbak petugas nggak ngasih tambahan charge karena kelebihan beban 3 kg. But, please, jangan dicontoh ya mas/jeng. Patuhilah peraturan dengan lebih cermat 🙂

Nah, berikut ini barang-barang yang saya yakin mas/jeng pikir-pikir untuk dibawa, namun berdasarkan pengalaman dan sepemantauan selama 2 tahun, sebaiknya tidak diprioritaskan untuk masuk ke dalam koper.

  • Cover shoes (jas hujan untuk sepatu)
Cover shoes
Foto 3. Nih cover shoes. Fix nggak usah beli.

 

Hmm jadi kata meneer-mevrouw (tuan-nyonya) di kelas akulturasi, Belanda itu sering betul diguyur hujan. Layaknya Indonesia yang kalau diguyur hujan sering becek, walhasil saya memutuskan beli cover shoes sebelum pergi. Asliii nggak penting. Hujan di Belanda ternyata lebih sering gerimis deras (atau hujan ringan kali ya), bukan hujan deras. Ditambah lagi sistem drainase di jalan-jalan sudah lebih baik dibandingkan Indonesia sehingga minim genangan. Jadi, punya sepatu tahan air saja sudah cukup kok.

  • Travel adapter

Colokan listrik negara-negara di eropa mah sama kayak di Indonesia (2 lubang) jadi nggak perlu repot-repot bawa.

  • WiFi router

Pilihan menggunakan internet di student housing itu ada: (1) tinggal masukin username-password untuk WiFi, (2) pakai kabel LAN, atau (3) lebih enak kalau pakai WiFi router. Nah untuk mencegah ketidakcocokan setting WiFi router produk beli di Indonesia ketika dipakai di Belanda, lebih baik beli di Belanda aja. Banyak kok yang jual.

  • Rice cooker

Di beberapa negara sepertinya rice cooker bukanlah barang elektronik yang mudah ditemukan, tapi tidak di Belanda. Saya pernah lihat barang ini dijual di Blokker dan MediaMarkt (nama beberapa toko ternama yang tersedia di penjuru kota Belanda), sebagai contoh. Lebih enak lagi kalau bisa dapat second atau (opsi terbaik) hibahan dari senior.

  • Winter jacket, boat, atau winter clothing lainnya (kemarin nggak bawa ini sih tapi penting untuk ditekankan)

Indonesia bukan negara 4 musim, jadi maklum lah kalau winter clothing sulit ditemukan dan kalaupun ada, dijual dengan harga yang tidak murah. Kalau tujuan mas/jeng berkunjung ke Belanda saat winter sebagai turis, otomatis beli barang-barang ini di Indonesia adalah kewajiban. Namun, untuk pelajar yang bakal kuliah sebaiknya nggak usah beli di Indonesia.

Menjelang musim dingin, adalah suatu keniscayaan toko-toko maupun senior mulai menawarkan winter sale (baik barang baru atau second). Dan harga yang ditawarkan bisa jauh lebih murah dibandingkan harga yang dijual di Indonesia. Selain itu, model yang berseliweran pun lebih match & blend sama style orang eropa. Modal paling penting adalah nggak gengsi pakai barang second ya mas/jeng. Asalkan masih bersih, fungsional, dan layak pakai sih nggak usah lah itu gengsi-gengsian.

  • Atasan thermal/long john

Baju thermal/long john adalah pakaian (atasan maupun bawahan) yang digunakan untuk penambah hangat badan ketika musim dingin tiba. Nah kalau ini sepertinya disesuaikan dengan kemampuan tubuh masing-masing dalam menahan dingin ya. Kalau saya pribadi, bagian atas tubuh lebih tahan dingin dibandingkan bagian bawah. Jadi, atasan long john saya tidak pernah dipakai (bawahan aja).

Selain itu, umumnya atasan long john ini memang tidak perlu digunakan kalau sebagian besar waktu dihabiskan di dalam ruangan (baca: kuliah atau group work, secara ruangan di kampus pakai heater. Nanti yang ada malah keringetan). Winter jacket, syal leher, dan sarung tangan bagi saya sudah cukup. Oh iya di Belanda pun banyak kok yang jual baju long john dengan harga standar. Jadi, nggak usah maksain kalau nggak nemu long john yang murah di Indonesia (hamdallah di Mangga Dua nemu 70 ribu buat 1 paket atasan & bawahan enak-anget sih hahaha).

  • Mainan anak

Berhubung semasa internship saya sempat tinggal dengan satu keluarga Indonesia yang memiliki 1 bayi (Mas Lana, Mbak Arum, dan Asa), Mbak Arum pernah cerita bahwa ia membawa banyak mainan bayi di dalam koper karena ragu apakah bisa menemukan mainan untuk Asa yang masih sekitar 1 tahun. Nah, buat para keluarga Indonesia yang mau membawa anak, jangan cemas karena warga Dutch masih ada yang mau punya anak kok #ifyouknowwhatimean :p. Mainan anak bisa ditemukan di banyak toko. Tenang aja.

Apalagi ya. Mungkin kalau inget barang-barang lain, saya bakal update postingan ini.

Saya cuma merasa perlu menekankan bahwa persiapan untuk adaptasi fisik itu penting tapi disesuaikan saja dengan… beban bagasi pesawat. Perlu diingat bahwa semua jenis pakaian dan peralatan dijual komplit kok di Belanda, baik yang baru atau murah ala-ala secondhand (he, pake barang second? Tunggu postingan #2yrsNL lain ye). Tapi makanan, obat-obatan, dan bumbu-bumbu lokal itu jauuuh lebih penting untuk dibawa karena kalau mau memanjakan lidah nggak bakalan deh dapat yang seenak rasa asli Indonesia.

*

Baiklah, saya kira tiga hal tersebut sudah cukup merangkum persiapan keberangkatan terkait hal-hal di luar akademik. Untuk persiapan keberangkatan menyangkut akademik agaknya malas saya tulis karena tiap universitas dan beasiswa punya ketentuan berbeda-beda, jadi kurang berasa general kalau saya share. Tapi kalau ada mas/jeng yang mau tanya-tanya lebih detail, silakan kontak saya melalui email: sausan.atika@gmail.com.

Akhir kata, saya harap ini menjadi salah satu postingan yang bermanfaat karena postingan-postingan selanjutnya tidak sedikit yang berisi konten-konten lebih personal (ceilah).

Tot later!

(Dutch: sampai jumpa nanti (later)! Disampaikan ke lawan bicara apabila kamu tahu bakalan segera bertemu lagi dengan lawan bicara tersebut).