Diposkan pada Puisi

Hijrah Seorang Hamba

edittt

Seorang hamba tidak beranggap duniawi bersifat sementara

Karena yang sementara adalah yang melenakan

Kasur ambisi menenggelamkan tubuh jadi lara

Tongkat impian menyeret pikiran jadi lupa

Catatan kesuksesan mencoret jiwa jadi bata

 

Kalau tiba satu waktu

Ketika bisikan nama Allah Taála merasuk bergetar ke dalam kalbu

Seperti sari terserap organ, teralirkan melalui pembuluh darah berhulu

 

Seorang hamba mau berseru

Aku jatuh, sangga-Mu tak pernah runtuh

Aku merintih, Kau selalu dengarkan peluh

Aku sebutir pasir, kuasa-Mu manifestasi alam semesta

Aku tidak mampu, Engkau Maha Perkasa

 

Kalau tiba satu waktu

Bisikan rintihnya menghembuskan nafas kekhilafan

Gema suaranya meluapkan seru taubat

Gemetar tangannya menengadah minta-minta ampunan

Ialah seorang hamba berharap hijrah

.

.

.

Groningen, 27 Mei 2017 21.15, menghadap jendela, menunggu berbuka

Sajak tentang alim dari bukan orang alim untuk meramaikan Ramadhan 1438 H

 

Iklan
Diposkan pada Puisi

Sajak 1 Jam, Iseng #Indonesia65

65.

Masih aku melihat dengan mata hijau.

Bukan sesedikit dua-tiga orang.

Berjuta.

Senyum anak-anak di sepanjang  jalan raya.

Tidak di bangku sekolah.

Menapaki hidup keras mengemis, menjual tangis, mengharap belas kasih.

Dengan ibunya berpeluh, menggaruki dahi.

Lengah mencari sesuap nasi.

Sambil terus menunggu beras kiriman dari kantor orang berstempel. Siapa tahu.

Bapaknya mondar-mandir dengan kemeja sebulan. Bau.

Bermodal ijazah, yang mungkin palsu.

Atau hasil enam, sembilan tahun bertatapan dengan pengajar yang tak jauh berbeda.

Baik yang menghadap papan tulis, baik yang berdiri membelakanginya. Bernasib sama.

Ia dan keluarganya. Dan tetangganya.

Dan jiwanya.

Yang luluh-lantah meratap di balik gedung bertingkat.

Mereka itu para lulusan muda.

Yang mengaku menjunjung idealisme tapi susut terhadap realita.

Menganggur.

.

Lalu orang berdasi berkoar.

Bergerak. Membenahi yang rusak.

Tapi bagai semut di pelupuk mata, tak disentuhnya.

Rakyat yang protes di balik layar 14 inchi.

Barikade yang menutupi jalan. Mereka yang mogok makan.

Orang capek terhadap janji, yang menulisi JUJUR.ADIL.TEGAS. 5 kaki di atas gedung orang-orang yang tidur saat pemimpinnya berbicara.

Yang kantornya mirip kura-kura, kinerja selamban hewannya berjalan.

Kumpulan orang-orang mengatasnamakan RAKYAT.

Tumpuan 250 juta kepala sebenar-benarnya RAKYAT.

Masih aku melihat dengan mata hijau.

.

Jauh dari keluhan, ucapan ketidaksenangan atas bangsaku.

Sepenuh hati aku masih ingin melakukan sesuatu.

Sesungguhnya tidak bisa atas hal-hal besar.

Namun untuk saat ini dapat ‘ku berpikir, dengan itu selemah-lemahnya iman perjuangan.

.

Karena nenek moyangku berkata bahwa sesungguhnya.

Menatap ragam indahmu sedalam lautan.

Tak ubahnya menyelami rupawi surga dunia.

Menyusuri alur Nusantara.

Dengan keramahan dan senyum ikhlas rakyatnya yang dielukan.

.

Indonesia.

Semoga elokmu kembali dan abadi.

Semoga harummu mewangi lagi.

Oleh aku dan kau, calon penegak pilar yang t’lah runtuh.

.
170810 – 10.17, di atas kasur dari orang yang belum merasakan asam-garam kehidupan indonesia, jadi maaf saja kalau sok tahu.