Diposkan pada Buku, Jurnalisme

Belajar dari Kiprah The New York Times

NYT Menulis Berita tanpa Takut atau Memihak.jpg

Judul The New York Times: Menulis Berita tanpa Takut atau Memihak
Penulis Ignatius Haryanto
Penerbit Yayasan Obor Indonesia
Cetakan Pertama, Juni 2006
Tebal XXVI + 114 hlm.; 14.5 x 21 cm
ISBN 979-461-591-9

The New York Times, biasa disingkat NYT atau Times, merupakan perusahaan media yang berbasis di Amerika Serikat. Perusahaan yang didirikan pada tahun 1851 ini telah memperoleh lebih dari 100 penghargaan Pulitzer, menjadikan Times sebagai media peraih Pulitzer terbanyak, sekaligus masuk sebagai jajaran media paling terpercaya yang diakui oleh dunia. Tak heran, Ignatius Haryanto yang juga seorang jurnalis di Indonesia merasa perlu berbagi resep di balik kesuksesan Times dalam mempertahankan kualitas jurnalisme. Buku saku ini tentu ditujukan terutama bagi para pelaku jurnalistik di Indonesia.

Bab 1 mengangkat kasus berita bohong jurnalis Times bernama Jason Blair yang terkuak pada pertengahan tahun 2003 lalu. Berdasarkan hasil investigasi internal, Blair ternyata telah membuat 10 berita bohong selama ia bekerja di Times. Kasusnya yang paling menjadi highlight ialah plagiat laporan wartawan koran lain pada April 2003. Hal ini membuat pihak Times melakukan koreksi total yang terdiri dari perombakan struktur internal, termasuk pendirian kelembagaan ombudsman atau public editor yang berfungsi untuk menampung keluhan publik terhadap pemberitaan Times.

Bab 2 mengulik isi dapur Times dari segi kode etik. Kasus Blair membuat kode etik Times diperbarui per Mei 2004. Integritas, Kemampuan, dan Reputasi adalah kata kunci yang dipegang oleh wartawan Times. Kutipan dari salah satu paragraf pembuka dalam kode etik Times ialah keharusan bagi Times dan para staf untuk memelihara standar tertinggi yang mungkin ada untuk memastikan bahwa mereka tidak melakukan hal-hal yang akan mengurangi kesetiaan dan kepercayaan pembaca. Hal ini jelas menyatakan bahwa Times menaruh landasan utama pada kepercayaan pembaca. Kode etik Times sendiri terdiri atas 51 halaman yang memuat 155 pasal untuk 14 bab, jauh melebihi jumlah seluruh kode etik terkait jurnalistik yang berlaku di Indonesia (kode etik Times dapat diakses di www.nytimesco.com).

Bab 3 merupakan napak tilas sejarah perkembangan Times selama lebih dari 100 tahun yang sukses dikelola oleh keluarga Ochs-Sulzberger selama 4 generasi. Pada tahun 1896, Times akan bangkrut. Namun, Adolph Ochs dengan uang pas-pasan membeli media tersebut dan melakukan pembenahan dengan menampilkan jenis pemberitaan di bidang ekonomi, hukum, dan ulasan buku yang kesemuanya dianggap memiliki nilai lebih ketimbang media lain oleh para pembaca. Di samping itu, ia nekat membanting harga Times. Kedua pendekatan ini membuat penjualan Times meningkat drastis. Masuknya wartawan Carr van Anda (kemudian dianggap sebagai arsitektur editorial Times) yang passionate terhadap dunia sains turut menambah khazanah pemberitaan Times.

Bab 4 menjabarkan penghargaan Pulitzer yang diterima Times. Di antara Pulitzer yang pernah diterima, rupanya ada pula yang liputannya tidak disukai oleh wartawan-wartawan Times lainnya, yaitu liputan tentang Rusia yang ditulis Walter Duranty di tahu 1930-an. Mereka mencibir bahwa liputan tersebut dianggap menjilat pemerintah Rusia (kasus ini umum terjadi pada wartawan yang bekerja di negeri tertutup dan otoriter sehingga tidak bisa menulis dengan leluasa).

Bab 5 mengulas Times dan krisis-krisis politik yang terjadi: Perang Dunia I dan II, penyerbuan Teluk Babi, penyerbuan Amerika ke Vietnam, dan Pentagon Papers. Liputan Times pada PD I tak tertandingi berkat kejelian Carr van Anda dalam memprediksi arah pergerakan perang sebelum mengirim wartawan-wartawan Times untuk meliput. Begitu pula masa krisis saat PD II, Times justru menaikkan intensitas peliputan, bukannya menghemat pengeluaran sebagaimana dilakukan oleh koran-koran lainnya. Pada penyerangan Teluk Babi, Times mengalami gejolak internal terkait perbedaan pendapat akan swasensor. Sedangkan pada penyerbuan Vietnam, Times mengalami desakan langsung oleh Presiden J.F. Kennedy. Pentagon Papers adalah puncaknya. Times (serta The Washington Post) dituntut ke pengadilan oleh pemerintah Amerika Serikat karena mempublikasikan dokumen rahasia yang menguak keterlibatan Amerika Serikat pada pemerintahan Vietnam yang korup. Mahkamah Agung saat itu memenangkan Times dan Post.

Bab 6 menyajikan pandangan singkat penulis mengenai tantangan ke depan bagi Times seperti kemunculan internet, lingkungan kerja di kantor yang konservatif, dan kemampuan untuk mempertahankan kualitas jurnalistiknya di tahun-tahun mendatang. Bab 7 merupakan penutup.

Kemahiran penulis dalam bertutur membuat buku ini mudah diikuti dan enak dibaca. Halaman yang tipis menjadikan buku ini sebetulnya tidak begitu komprehensif, lebih cocok sebagai bacaan awal bagi siapapun yang memiliki minat terhadap bidang jurnalistik. Untuk memperdalam ilmu, pembaca bisa mengacu pada buku-buku referensi yang penulis gunakan ketika menulis buku ini. Beberapa buku tersebut penulis sebutkan di bagian Pengantar.

Di tengah maraknya kemunculan media-media baru serta keleluasaan penggunaan internet, tidak dapat dipungkiri bahwa telah terjadi perubahan orientasi perusahaan media dari produk jurnalistik yang menguntungkan pembaca menjadi cenderung kepada orientasi bisnis. Hal ini tentu mempengaruhi kualitas jurnalisme yang seringkali dikesampingkan demi mendulang pemasukan bagi perusahaan. Times menganut prinsip “jika Anda memiliki informasi yang berkualitas, maka keuntungan perusahaan akan mengikutinya”. Di sini media-media di Indonesia seharusnya dapat mengambil pelajaran bahwa kompetisi seharusnya tidak serta merta mempengaruhi keluaran produk jurnalistik.

Situasi politik yang terkadang memungkinkan pemerintah maupun pihak-pihak lain memberi tekanan terhadap kebebasan pers pun kerap dialami, tentu tidak hanya Times melainkan juga media-media di Indonesia. Kiprah Times dalam mempertahankan netralitas dan jurnalisme yang tidak takut atau berpihak selayaknya dapat dijadikan contoh oleh media-media lain, demi memberikan informasi yang berimbang dan berkualitas kepada publik.

Iklan