Diposkan pada Buku, Jurnalisme

Bencana Alam dan Jurnalisme

Jurnalisme Bencana.jpg

Tugas wartawan memproduksi berita, bukan menjadi berita. Keselamatan diri tetap lebih penting dibandingkan dengan harga sebuah berita. Tak seorang pun wartawan yang masih waras menginginkan kematian saat bertugas. Namun, sudahkah kita (wartawan) mengenali tanah tempat kita bertugas yang ternyata selalu di bawah bayang-bayang bencana dan maut? (halaman 20)

Akhir pekan ini saya membaca buku tentang jurnalisme bencana, ditulis oleh seorang wartawan Kompas, Ahmad Arif, yang pernah meliput beberapa kejadian bencana alam di Indonesia.

Pengalaman pertama Ahmad Arif meliput bencana alam adalah peristiwa tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 lalu. Waktu itu ia baru dua tahun bekerja sebagai wartawan dengan hampir satu tahun bahkan dihabiskan hanya untuk pelatihan. Tugas meliput bencana alam sebesar itu membuat ia banyak memperoleh bahan evaluasi yang dapat ditujukan untuk perbaikan jurnalisme bencana ke depannya.

Saya buat tulisan kali ini bukan sebagai resensi, tetapi lebih kepada rangkuman evaluasi yang dipaparkan dalam buku ini. Semoga berguna sebagai spoiler bagi siapapun yang berminat membaca buku ini, terutama bagi para wartawan di Indonesia.

Judul Jurnalisme Bencana, Bencana Jurnalisme
Penulis Ahmad Arif
Genre Nonfiksi
Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
ISBN 978-979-91-0236-2
Bahasa Indonesia
Tebal xxiv + 193 halaman
Sampul Cetakan pertama, April 2010

Sebagaimana judul, sesuai pemahaman saya ada dua poin besar yang tersirat dalam buku ini, yaitu gambaran proses jurnalistik ketika meliput bencana alam dan bencana yang dialami jurnalisme terkait peliputan bencana alam. Kedua poin ini berkaitan, seperti looping saja.

Untuk memudahkan, beberapa evaluasi utama kepada banyak pihak yang terlibat dalam jurnalisme peliputan bencana alam berdasarkan buku ini, saya susun menjadi tiga bagian, yaitu sebelum-saat-sesudah bencana alam itu terjadi.

 

Pre/sebelum

  1. Indonesia jelas merupakan negeri yang sangat rentan mengalami bencana alam, tetapi tidak ada program pemerintah terkait mitigasi yang terintegrasi satu sama lain dan bersifat jangka panjang, baik dari segi infrastruktur (misal, pembangunan gedung dengan prinsip konstruksi tahan gempa) maupun noninfrastruktur (misal, edukasi bagi seluruh warga untuk menghadapi bencana alam).
  2. Perusahaan media di Indonesia, terutama suratkabar, kebanyakan tidak berinvestasi pada infrastruktur untuk mendukung wartawan mereka agar dapat meliput dengan baik di daerah bencana alam. Hal ini umumnya disebabkan keterbatasan biaya yang dimiliki oleh perusahaan media.

 

Present/saat

  1. Ketika bencana alam datang, ketidaksigapan pemerintah dalam menangani korban bencana alam menyulitkan wartawan untuk memperoleh informasi penting yang harus segera disebarluaskan, seperti jumlah dan identitas korban.
  2. Dampak yang muncul akibat poin Pre-1 di atas menyebabkan seringkali terjadi embedded journalism atau jurnalisme menebeng pihak nonmedia, menyebabkan independensi pemberitaan menjadi rancu. Selain itu, berita tidak bisa dikirim ke pusat tepat waktu karena tidak ada perlengkapan memadai (misal: telepon satelit dll.). Terakhir, wartawan tidak dibekali pelatihan yang cukup untuk peliputan bencana alam sehingga kesempatan hidup wartawan itu sendiri bisa-bisa jadi pertaruhan ketika meliput.
  3. Etika dalam menyajikan dokumentasi seputar bencana alam masih sering mengacu pada dokumentasi yang lugas meskipun sadis. Sebaiknya hal ini diperbaiki. Terdapat beberapa contoh bagus yang Ahmad Arif tulis dalam buku ini dari segi foto jurnalistik.

 

Post/sesudah

  1. Penting untuk mengawal sejauh mana penyaluran bantuan terhadap korban bencana alam sudah dilakukan, baik oleh pemerintah maupun organisasi nonpemerintah karena potensi penyalahgunaan bantuan tersebut sangat rentan terjadi.

 

Pada bagian penutup, Ahmad Arif memberikan beberapa ‘petuah’ bagi wartawan yang akan meliput bencana alam. Saya rasa bagian ini merupakan bagian yang penting sekaligus merangkum pembelajaran dari keseluruhan isi buku.

Waktu saya baca review-review di Goodreads, ada mahasiswa yang bilang dosen program studi jurnalisme yang merekomendasikan buku ini. Saya rasa memang buku ini tepat untuk dijadikan salah satu referensi tentang jurnalisme bencana.

Semoga tulisan saya ini bisa memberi gambaran tentang apa yang ingin disampaikan oleh si penulis. Namun, tentu saja membaca keseluruhan akan membantu Mas/Jeng untuk bisa lebih memahami bagaimana menegangkannya meliput di daerah yang terkena bencana alam.

Akhir kata, selamat membaca!

Iklan
Diposkan pada Buku, Jurnalisme

Belajar dari Kiprah The New York Times

NYT Menulis Berita tanpa Takut atau Memihak.jpg

Judul The New York Times: Menulis Berita tanpa Takut atau Memihak
Penulis Ignatius Haryanto
Penerbit Yayasan Obor Indonesia
Cetakan Pertama, Juni 2006
Tebal XXVI + 114 hlm.; 14.5 x 21 cm
ISBN 979-461-591-9

The New York Times, biasa disingkat NYT atau Times, merupakan perusahaan media yang berbasis di Amerika Serikat. Perusahaan yang didirikan pada tahun 1851 ini telah memperoleh lebih dari 100 penghargaan Pulitzer, menjadikan Times sebagai media peraih Pulitzer terbanyak, sekaligus masuk sebagai jajaran media paling terpercaya yang diakui oleh dunia. Tak heran, Ignatius Haryanto yang juga seorang jurnalis di Indonesia merasa perlu berbagi resep di balik kesuksesan Times dalam mempertahankan kualitas jurnalisme. Buku saku ini tentu ditujukan terutama bagi para pelaku jurnalistik di Indonesia.

Bab 1 mengangkat kasus berita bohong jurnalis Times bernama Jason Blair yang terkuak pada pertengahan tahun 2003 lalu. Berdasarkan hasil investigasi internal, Blair ternyata telah membuat 10 berita bohong selama ia bekerja di Times. Kasusnya yang paling menjadi highlight ialah plagiat laporan wartawan koran lain pada April 2003. Hal ini membuat pihak Times melakukan koreksi total yang terdiri dari perombakan struktur internal, termasuk pendirian kelembagaan ombudsman atau public editor yang berfungsi untuk menampung keluhan publik terhadap pemberitaan Times.

Bab 2 mengulik isi dapur Times dari segi kode etik. Kasus Blair membuat kode etik Times diperbarui per Mei 2004. Integritas, Kemampuan, dan Reputasi adalah kata kunci yang dipegang oleh wartawan Times. Kutipan dari salah satu paragraf pembuka dalam kode etik Times ialah keharusan bagi Times dan para staf untuk memelihara standar tertinggi yang mungkin ada untuk memastikan bahwa mereka tidak melakukan hal-hal yang akan mengurangi kesetiaan dan kepercayaan pembaca. Hal ini jelas menyatakan bahwa Times menaruh landasan utama pada kepercayaan pembaca. Kode etik Times sendiri terdiri atas 51 halaman yang memuat 155 pasal untuk 14 bab, jauh melebihi jumlah seluruh kode etik terkait jurnalistik yang berlaku di Indonesia (kode etik Times dapat diakses di www.nytimesco.com).

Bab 3 merupakan napak tilas sejarah perkembangan Times selama lebih dari 100 tahun yang sukses dikelola oleh keluarga Ochs-Sulzberger selama 4 generasi. Pada tahun 1896, Times akan bangkrut. Namun, Adolph Ochs dengan uang pas-pasan membeli media tersebut dan melakukan pembenahan dengan menampilkan jenis pemberitaan di bidang ekonomi, hukum, dan ulasan buku yang kesemuanya dianggap memiliki nilai lebih ketimbang media lain oleh para pembaca. Di samping itu, ia nekat membanting harga Times. Kedua pendekatan ini membuat penjualan Times meningkat drastis. Masuknya wartawan Carr van Anda (kemudian dianggap sebagai arsitektur editorial Times) yang passionate terhadap dunia sains turut menambah khazanah pemberitaan Times.

Bab 4 menjabarkan penghargaan Pulitzer yang diterima Times. Di antara Pulitzer yang pernah diterima, rupanya ada pula yang liputannya tidak disukai oleh wartawan-wartawan Times lainnya, yaitu liputan tentang Rusia yang ditulis Walter Duranty di tahu 1930-an. Mereka mencibir bahwa liputan tersebut dianggap menjilat pemerintah Rusia (kasus ini umum terjadi pada wartawan yang bekerja di negeri tertutup dan otoriter sehingga tidak bisa menulis dengan leluasa).

Bab 5 mengulas Times dan krisis-krisis politik yang terjadi: Perang Dunia I dan II, penyerbuan Teluk Babi, penyerbuan Amerika ke Vietnam, dan Pentagon Papers. Liputan Times pada PD I tak tertandingi berkat kejelian Carr van Anda dalam memprediksi arah pergerakan perang sebelum mengirim wartawan-wartawan Times untuk meliput. Begitu pula masa krisis saat PD II, Times justru menaikkan intensitas peliputan, bukannya menghemat pengeluaran sebagaimana dilakukan oleh koran-koran lainnya. Pada penyerangan Teluk Babi, Times mengalami gejolak internal terkait perbedaan pendapat akan swasensor. Sedangkan pada penyerbuan Vietnam, Times mengalami desakan langsung oleh Presiden J.F. Kennedy. Pentagon Papers adalah puncaknya. Times (serta The Washington Post) dituntut ke pengadilan oleh pemerintah Amerika Serikat karena mempublikasikan dokumen rahasia yang menguak keterlibatan Amerika Serikat pada pemerintahan Vietnam yang korup. Mahkamah Agung saat itu memenangkan Times dan Post.

Bab 6 menyajikan pandangan singkat penulis mengenai tantangan ke depan bagi Times seperti kemunculan internet, lingkungan kerja di kantor yang konservatif, dan kemampuan untuk mempertahankan kualitas jurnalistiknya di tahun-tahun mendatang. Bab 7 merupakan penutup.

Kemahiran penulis dalam bertutur membuat buku ini mudah diikuti dan enak dibaca. Halaman yang tipis menjadikan buku ini sebetulnya tidak begitu komprehensif, lebih cocok sebagai bacaan awal bagi siapapun yang memiliki minat terhadap bidang jurnalistik. Untuk memperdalam ilmu, pembaca bisa mengacu pada buku-buku referensi yang penulis gunakan ketika menulis buku ini. Beberapa buku tersebut penulis sebutkan di bagian Pengantar.

Di tengah maraknya kemunculan media-media baru serta keleluasaan penggunaan internet, tidak dapat dipungkiri bahwa telah terjadi perubahan orientasi perusahaan media dari produk jurnalistik yang menguntungkan pembaca menjadi cenderung kepada orientasi bisnis. Hal ini tentu mempengaruhi kualitas jurnalisme yang seringkali dikesampingkan demi mendulang pemasukan bagi perusahaan. Times menganut prinsip “jika Anda memiliki informasi yang berkualitas, maka keuntungan perusahaan akan mengikutinya”. Di sini media-media di Indonesia seharusnya dapat mengambil pelajaran bahwa kompetisi seharusnya tidak serta merta mempengaruhi keluaran produk jurnalistik.

Situasi politik yang terkadang memungkinkan pemerintah maupun pihak-pihak lain memberi tekanan terhadap kebebasan pers pun kerap dialami, tentu tidak hanya Times melainkan juga media-media di Indonesia. Kiprah Times dalam mempertahankan netralitas dan jurnalisme yang tidak takut atau berpihak selayaknya dapat dijadikan contoh oleh media-media lain, demi memberikan informasi yang berimbang dan berkualitas kepada publik.

Diposkan pada Buku, Jurnalisme

Menyingkap Gunung Es Kejahatan

BASABASI.CO, 23 Desember 2017 (click)

tempo_dibalik-investigasi-tempo-02_full02.jpg

Judul Di Balik Investigasi Tempo Jilid 02
Penyunting Muhammad Taufiqurohman
Penulis Muhammad Taufiqurohman, Mustafa Silalahi, Rusman Paraqbueq, Stefanus Pramono
Penerbit Tempo Publishing
Cetakan Pertama, November 2017
Tebal xii + 179 halaman
ISBN 978-602-6773-20-3

Pemberantasan tindak pidana korupsi dalam beberapa dasawarsa terakhir selalu mencuri perhatian publik. Tak ayal, masyarakat pun sering dibuat geleng-geleng kepala oleh kelakuan koruptor yang kerap mengelak setelah ditetapkan sebagai tersangka. Terlebih, main kucing-kucingan untuk menghindari proses hukum. Ragam komentar sana-sini menanggapi kegaduhan ini meyakinkan kita bahwa sense publik akan perilaku-perilaku ganjil para pelaku ternyata masih bekerja.

Pemberitaan mengenai perkembangan kasus-kasus tindak korupsi terus menghiasi layar kaca, layar ponsel, bahkan gaung-gaung radio di dalam mobil Anda, semenjak pengungkapan pertama kali oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hingga ketika para terdakwa resmi mendekam di balik jeruji besi. Namun, apakah penjara sudah efektif untuk meredam kegaduhan? Sayangnya, tidak. Perhatian masyarakat ternyata tidak bisa berhenti pada putusan pengadilan karena rupa-rupanya masih terdapat kejanggalan yang tersembunyi dalam tempat tinggal baru para koruptor tersebut, menunggu-nunggu untuk dibuka.

Berawal dari informasi yang diberikan oleh seorang pengusaha tambang pada Oktober 2009 kepada pihak Tempo mengenai kemewahan sel penjara Artalyta Suryani, Ayin, terdakwa kasus aliran dana Bank Indonesia. Informasi awal ini mendorong Tempo melakukan investigasi terhadap sulap bui menjadi kantor yang dilakukan di Rumah Tahanan Pondok Bambu, Jakarta Timur, sebagaimana diceritakan dalam bab “Pondok Bambu Rasa Istana”.

Di akhir 2015, informasi dari beberapa orang yang dirahasiakan perihal narapidana Sukamiskin yang bebas keluyuran keluar penjara turut mendorong Tempo untuk mengungkap kebenaran informasi tersebut. Hal ini diceritakan dalam bab “Pelesir Gelap Pesakitan Sukamiskin”. Pada bab ini, terdapat hal lain yang disinggung yakni bisnis para narapidana ‘elite’ di dalam area penjara dengan adanya pendirian taman, kafetaria, dan saung-saung.

Selain dua laporan investigasi terkait penjara para koruptor tersebut, buku ini memuat dua laporan investigasi lain terkait human trafficking dengan masing-masing tajuk: (1) “Tenaga Kerja Indonesia Legal” yang mengungkap adanya ‘jalur samping’, yakni jalur masuk imigran gelap Indonesia ke Malaysia melalui Pulau Nunukan dan Sebatik, Kalimantan Utara, dan (2) “Jual-Beli Orang ke Malaysia” yang menguak kongkalikong jual-beli penduduk Nusa Tenggara Timur oleh agen-agen penyalur bodong. Sebagai pelengkap, terdapat pula satu laporan investigasi mengenai perburuan gajah dan harimau di Aceh yang tertuang dalam bab “Penyelundupan Gading dan Kulit Harimau”.

Buku ini memuat total 5 laporan investigasi yang dilakukan oleh Tempo dengan judul bab sebagaimana disebutkan di atas. Fakta hasil investigasi dituturkan dalam bentuk story-tellingsehingga mudah diikuti oleh pembaca. Jauh dari kesan kaku saat mendengar kata ‘laporan investigasi’. Buku ini turut dilengkapi dengan sebuah poster infografis khas Tempo serta dua halaman komik yang mengilustrasikan proses investigasi pelesir napi Sukamiskin.

Kelima hasil investigasi ini sesungguhnya telah dimuat dalam majalah Tempo. Namun, proses ‘di balik layar’ yang dilakukan oleh para wartawan investigasi Tempo serta dampak yang timbul setelah laporan investigasi tersebut diungkap ke publik-lah yang membedakan keluaran buku ini dengan majalahnya. Pada masing-masing bab, penjabaran mengenai kedua aspek tersebut turut disertakan dengan mengambil porsi sekitar seperempat bagian.

Investigasi sering menyoal pertaruhan nyawa. Oleh karena itu, tidak semua wartawan punya nyali melakukannya. Orang yang mendedikasikan diri menjadi wartawan investigasi tidak boleh gentar ketika dihadapkan pada situasi mengancam, baik lisan maupun tulisan, bahkan jika mengalami penahanan. Kejadian apes semasa proses investigasi kelima kasus disampaikan secara gamblang dalam buku ini.

“Kau jangan macam-macam. Aku bisa cari kau ke mana saja lalu aku bunuh,” kata pawang yang berperawakan kecil tapi memiliki tatapan mata tajam itu (hlm 56).

Ancaman itu dikemukakan oleh seorang mantan pawang gajah dan harimau kepada wartawan Tempo yang tengah berusaha mengorek informasi tentang perburuan liar di Aceh.

Disertakan pula narasi penyekapan yang dialami oleh wartawan Tempo pada Februari 2017. Kala itu, ia, Stefanus Pramono, tengah berusaha mengonfirmasi Albert Tei, pemain besar di balik jual beli TKI ilegal ke Malaysia.

Akhirnya, Pramono menggertak balik. “Silakan Anda lapor ke polisi. Saya liputan yang nyaris mati saja pernah. Kalau dipenjarakan, saya tidak takut,” ujarnya menantang, “akan saya laporkan Anda balik karena menyekap kami.” Tak lama kemudian, telepon seluler Pramono berbunyi. Redaktur Eksekutif Tempo, Wahyu Dhyatmika (Komang), meneleponnya. “Kamu disekap? Kasih teleponnya ke Albert,” kata Komang. Telepon itu tidak di-speakerphone-kan, tetapi suara Komang terdengar sangat keras. “If something happen to my reporters, I will find you!” (hlm 150).

Terungkapnya skandal-skandal kejahatan memacu respons positif dari pemerintah, setidaknya untuk kelima kasus di atas. Meskipun, sebagian besar dampak kasus hanya berlaku pasang-surut dalam beberapa bulan awal setelah peliputan. Kasus perburuan liar terhadap gajah dan harimau yang konon kabar digawangi oleh mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka dan telah berlangsung selama puluhan tahun itu juga tidak bisa diberangus hanya dalam beberapa bulan. Tidak jauh berbeda dengan kasus jual-beli manusia. Tidak dapat kita tampik bahwa selama demand masih tinggi, terbatasnya ruang ketersediaan lapangan kerja dalam negeri, terlebih keterlibatan langsung aparat pemerintah telah membuat praktik-praktik gelap semacam ini mustahil diberantas tuntas. Bukankah ini menjadi sebuah potret ironi kebangsaan?

Di samping filosofi mulia yang mendasari penyusunan laporan investigasi dalam dunia jurnalistik, yakni untuk mengungkap fakta yang bernilai besar bagi masyarakat, amat disayangkan bahwa proses investigasi itu sendiri, dalam buku ini lebih banyak menjabarkan peristiwa yang dialami oleh wartawan investigasi Tempo di lapangan. Konfirmasi yang nyata memang sering diperoleh melalui reportase lapangan. Seperti contoh wartawan Tempo yang harus menyamar menjadi imigran gelap agar dapat nimbrung dalam perahu yang membawanya menyusuri ‘jalur samping’ menuju Pulau Nunukan atau pengintaian Ayin lewat gedung rumah sakit yang belum jadi di samping Pondok Bambu.

Dari dalam perahu, Pramono menyaksikan nakhoda kapal cepat yang datang belakangan memberikan duit kepada petugas di dalam kapal milik Malaysia. Terjawab sudah. Salah satu alasan para imigran gelap bisa masuk dengan mudah adalah adanya pemberian suap kepada penjaga perbatasan Malaysia. (hlm 87)

Pengintaian dari gedung (baca: gedung rumah sakit yang sedang dibangun di sebelah penjara Pondok Bambu) dilakukan untuk membuktikan Ayin memperoleh fasilitas khusus di penjara. Budi Riza naik ke bangunan belum jadi di lantai paling atas rumah sakit itu pada akhir 2009. Ia punya misi mengintai aktivitas di dalam aula. Informasi awal sudah dikantongi: tempat itu (aula) menjadi “ruang kerja Ayin”. Pada waktu yang berbeda, fotografer Arnold Simanjuntak tiga hari bolak-balik ke tempat yang sama. Pada hari ketiga, baru ia mendapat foto Ayin yang sedang menggendong bayi. Hasilnya kurang bagus secara visual, tapi lumayan sebagai bukti jurnalistik. (hlm 28).

Penonjolan reportase di lapangan membuat detail lain yang turut mendukung proses investigasi, semisal untuk paper trails, bagaimana memperoleh dokumen transaksi penjualan TKI ilegal, atau penyusunan strategi-strategi dengan rencana terbaik hingga terburuk sebelum pelaksanaan investigasi di lapangan, sedikit dikesampingkan. Tempo mungkin beranggapan bahwa proses di luar lapangan yang tidak terlalu menantang itu kurang menggiurkan untuk diketahui oleh publik. Tidak salah, memang, tetapi pemuatannya sekiranya dapat memberi nilai lebih akan ekspektasi pembaca terhadap judul buku yang tertera: ‘di balik investigasi’.

Bukan rahasia umum bahwa masih terdapat banyak desas-desus skandal kejahatan pada setiap lini kehidupan. Rumor ini kerap dibiarkan berlalu atau bahkan dimaklumi oleh khalayak. Eksistensinya seakan tabu untuk disinggung. Oleh karena itu, produk jurnalistik berupa laporan investigasi menjadi penting untuk sekaligus dapat menempeleng kita bersama bahwa pembiaran terhadap kejahatan-kejahatan di sekitar yang benar-benar nyata tidak bisa tidak diacuhkan.