Diposkan pada Film, Jurnal

Pada Jeda antara Dialog

 

Annisa: Arsitek tuh suka berasa Tuhan. Berasa yang paling tau rancangan terbaik buat manusia. Yang paling tau dan yang terbaik ya… yang ngejalanin sendiri.

Cina: Jenius! Emang arsitek tuh suka berasa Tuhan. Makanya suka nggak kepikiran kalau ada rancangan yang lebih baik.

Bait lagu mulai dimainkan, menandakan sepenggal dialog Annisa dan Cina di perpustakaan itu telah selesai. Aku meraih tangan kiri perempuan di sebelahku sembari berbisik, “Mungkin karena Cina setuju, sekarang Annisa tersenyum-senyum memandangi gambar ini di telunjuknya (Annisa).” Lalu aku menggerakkan telunjukku yang menempel pada telapak tangannya dan mengilustrasikan dengan gerakan berupa dua titik serta satu tarikan garis lengkung ke bawah: seseorang sedang tersenyum.

Lagu yang sama masih diputar, tetapi adegan sudah berganti.

“Sekarang, Annisa dan Cina sedang mendesain detail maket bersama,” bisikku lagi, “sambil curi-curi pandang.”

Perempuan di sebelahku itu tertawa lirih.

Ia bernama Syifa.

Siang itu, kami menonton film Cin(T)a bersama.

 

PhotoGrid_1520508505547[1].jpg
Dokumentasi pribadi

Minggu, 11 Februari 2018, sekitar pukul 12.30, lima orang tunanetra yang diantar oleh seorang sopir Grab telah sampai di parkiran Paviliun 28. Pintu Paviliun 28 dibukakan oleh seseorang dari dalam. Mereka berlima masuk saling berpegangan, tetapi tak berapa lama terpisah karena beberapa orang mulai menawarkan tempat duduk di sisi ruangan yang berbeda. Aku meraih tangan dua orang di antara mereka yang kemudian ku ketahui merupakan sepasang suami-istri. Kepada mereka, aku melafalkan namaku. Mereka balas menjawab: “Syifa” dan “Jejen”.

Mbak Syifa dan Mas Jejen aku pandu untuk menempati bangku panjang di sisi kanan ruangan. Kami duduk berhadapan. Kemudian, mereka disuguhi masing-masing sepiring nasi goreng. Aku mengamati gerak-gerik mereka sejak baru masuk, duduk, selesai melahap makan siang, sampai remah kerupuk terakhir. Aku sendiri tidak mengunyah apa-apa. Tidak ada sepiring nasi goreng di hadapanku. Apalagi kerupuk. Yang ada cuma rasa syukur.

Hari itu, aku terdaftar sebagai relawan Blind Date Cinema, sebuah program nonton bareng film bersama tunanetra yang rutin diadakan sebulan sekali di Paviliun 28. Program ini menjadi unik karena relawan nonton bukan sekedar nonton, tetapi harus membantu teman-teman tunanetra agar bisa turut menikmati cerita dengan memperoleh gambaran tentang film yang ditonton. Relawan ditantang untuk memindahkan adegan yang ditampilkan di layar bioskop ke dalam benak teman-teman tunanetra. Di situlah, pada jeda antara dialog, para relawan berbisik.

 

Blind Date Cinema.jpg
Dokumentasi dari Tim Paviliun 28

 

Film yang diputar siang itu adalah Cin(T)a. Mungkin film ini dipilih karena Februari erat dengan nuansa cinta. Cin(T)a menceritakan dua mahasiswa arsitektur bernama Annisa dan Cina yang saling jatuh cinta, tetapi kemudian menyadari bahwa perbedaan keyakinan harus menjadi penghalang kelanjutan kisah cinta mereka. Kesempatan Blind Date Cinema kali ini menguntungkan bagiku. Aku bisa leluasa berbisik kepada Mbak Syifa karena film itu mengambil lokasi syuting di gedung arsitektur ITB, tepat di sebelah gedung jurusanku. Film itu bahkan dibuat ketika aku masih kuliah di sana. Singkat kata, aku senang karena bisa menjadi orang yang banyak omong. Supaya Mbak Syifa bisa memvisualisasikan film Cin(T)a dengan lengkap dalam benaknya.

Usai pemutaran film, kami masih sejenak melanjutkan obrolan hingga menjelang pukul empat sore, Mbak Syifa dan Mas Jejen pulang, disusul teman-teman tunanetra dan relawan lainnya, termasuk aku. Dalam perjalanan pulang, mau tidak mau aku berkontemplasi. Hari itu, aku mendapat kesempatan langsung berinteraksi lebih dekat dengan teman-teman tunanetra. Selama ini aku penasaran bagaimana mereka menjalani kehidupan. Tampilan apa yang muncul dalam pandangan mereka: gelap pekat atau gradasi hitam-putih yang bergerak-gerak? Apakah mereka tidak bisa mengenal bentuk sejak lahir? Bagaimana cara mereka memesan Grab? Apakah mereka bekerja? Dan rentetan pertanyaan lainnya.

 

DSC_8860-03
Dokumentasi pribadi

 

Berinteraksi dengan teman-teman tunanetra siang itu membuat aku menarik kesimpulan sementara bahwa sesungguhnya tidak ada perbedaan berarti antara kehidupanku dengan kehidupan mereka.

Mereka kuliah, bekerja, dan beberapa main instagram juga.

Jelas kami menjalani kehidupan yang sama. Hanya sedikit berbeda cara.

Dan perbedaanlah yang membuat kita belajar, bukan?

 

 

 

 

Iklan
Diposkan pada Jurnal

Alternatif Kegiatan Malam Tahun Baru yang Anti-Mainstream

Halo, Mas/Jeng!

Berhubung beberapa hari belakangan ini saya merasa sangat penat, nulis receh di blog agaknya bisa jadi salah satu alternatif melepas stres. Sekalian, baru ngeh kalau nggak kerasa tahun baru sudah di depan kalender.

Pict.jpg
Source: media.indiatimes.in

Malam tahun baru identik dengan party dan konser musik. Tinggal pilih mau desak-desakan menikmati panggung musik Ancol, pergi makan-makan cantik di mall, atau ngesot ke warung kopi terdekat, kesemuanya pasti tak luput dari euforia selebrasi. Wabil khusus teruntuk humankind zaman now, perayaan tahun baru musti nampak meriah! Meskipun sekedar duduk-duduk di pinggir alun-alun makan kacang rebus, asalkan cekrek-upload foto kembang api dan posting IG stories, maka semua kriteria menikmati malam tahun baru sudah bisa dicentang.

Bagi Mas/Jeng yang bukan pengikut arus atau sudah bosan dengan ritual tahunan yang itu-itu saja, mencoba hal-hal berikut mungkin bisa dilakukan untuk menemani malam tahun baru.

  1. Mengerjakan tesis

Opsi ini kudu musti wajib berada di dalam top list, peringkat 1 pula. Masa, sudah kebelet LULUS tahun depan tapi masih leha-leha? Cih… sleding, nih! Percayalah di masa depan, pengalaman mengerjakan tesis ini bakal menjadi cerita mengharukan sekaligus memotivasi untuk anak cucu Mas/Jeng. Mengingatkan betapa gigih leluhur mereka dalam meraih cita-cita menimba ilmu, meskipun perlu diingat bahwa IPK bagus belum tentu menjamin sukses, apalagi yang jelek.

  1. Ketiduran challenge

“Paan sih tahun baru biasa aja lah. Gw mah tidur doang di rumah.”

Ucapan ini pasti sering dilontarkan teman-teman Mas/Jeng yang mengaku anti-mainstream. Percayalah sesungguhnya mereka telah menjadi anti-mainstream yang mainstream karena semua golongan anti-mainstream akan menggunakan alasan tersebut untuk menyatakan ke-anti-mainstream-an mereka. Nah, bagaimana jika muncul golongan anti-mainstream terbaru, yakni mereka yang menghabiskan malam tahun baru bukan dengan (sengaja) tidur, melainkan ketiduran? Saya yakin ketiduran adalah hal yang sulit dilakukan kalau Mas/Jeng sudah niatkan dalam hati. Oleh karena itu, patut disebut challenge.

“Bro, tahun baru mau ngapain?”; “Wah kayaknya gw mau ketiduran aja nih.”;

Coba bayangkan bagaimana ekspresi kawan Mas/Jeng mendengar jawaban tersebut. Ekspresi yang anti-mainstream sekali, bukan? Jangan lupa ajak temanmu ikut challenge ini.

  1. Menertibkan komplek

Mas/Jeng bisa produktif juga lho di malam tahun baru. Meskipun hanya menghabiskan malam di rumah, salah satu kegiatan yang bisa dilakukan adalah dengan berkeliling komplek menyetop mereka yang gemar melempar petasan dan meniup-niup terompet di jalan. Sebagai golongan anti-mainstream yang menjunjung tinggi solidaritas sesama kaum, hal itu sangat bermanfaat demi meredam bising yang merusak suasana kondusif untuk tidur.

Kegiatan ini mungkin beresiko tinggi karena alih-alih menertibkan komplek, Mas/Jeng malah bisa dituduh melanggar HAM para penikmat malam tahun baru. Maka, saran saya, Mas/Jeng bisa siapkan secarik kertas berisi nasehat atau ceramah malam tahun baru untuk disampaikan menggunakan toa masjid. Strategi ini tentu lebih aman bin berfaedah.

  1. Membantu ketertiban lalu lintas

Barang tentu malam tahun baru identik dengan macet! Padahal kita sih pengennya anti macet-macet club. Di satu sisi, pernah dengar istilah jadilah bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah kan? Jadi, alangkah mulia jikalau Mas/Jeng bisa turut menjadi solusi dari kemacetan kota di malam tahun baru dengan tidak ikut-ikutan menciptakan kemacetan dengan menjadi pak ogah dadakan. Apalagi pengamen dadakan yang pake dalih lagi ngedanus buat acara kampus. Memang sih malam tahun baru tuh momen yang pasti menjanjikan kantong, berkali lipat dari malam-malam biasa. Tapi, yaa serius lah, kasih kesempatan mereka yang benar-benar butuh arena.

Masih punya ide-ide anti-mainstream lain untuk menikmati malam tahun baru?

Buat tulisan sendiri.

 

Diposkan pada Jurnal

Ngobrol Kreatif di Balik Imajinasi Agus Noor

“Hiduplah seperti apa yang kita pilih.”

Demikian ujar Agus Noor kepada peserta bincang-bincang proses kreatif di balik penulisan buku “Cinta Tak Pernah Sia-Sia” yang digelar di Graha Bhakti Budaya TIM, Sabtu kemarin, 21 Oktober 2017. Buku “Cinta Tak Pernah Sia-Sia” merupakan kumpulan cerpen Agus Noor yang dimuat dalam koran Kompas Minggu selama 27 tahun menekuni dunia kepenulisan. Buku ini telah dirilis September 2017 lalu.

IMG_20171021_105843863 edit2
(kiri ke kanan): Dewi Ria Utari, Agus Noor, dan Ine Febriyanti

 

Pilihan Agus Noor menjadi seorang seniman sejak zaman kuliah dilandasi oleh kecintaannya terhadap seni dan budaya. Ia pun kala itu sudah hobi menulis untuk majalah-majalah remaja sejak SMA. Pilihan ini membuat orang tuanya kerap bertanya-tanya,

“Kamu yakin bisa ‘hidup’ dari menulis?”

(Saya rasa pun pertanyaan ini masih relevan di zaman now)

Jawaban atas pertanyaan tersebut ia simpulkan lewat pemilihan judul buku “Cinta Tak Pernah Sia-Sia” yang menunjukkan bahwa kecintaannya terhadap menulis mampu mengantarnya kepada pencapaian-pencapaian yang ia peroleh saat ini.

“Tapi kalau mau punya apartemen 12 lantai, yaa jangan jadi penulis hehehe”, sambungnya berkelakar.  

Agus Noor dikenal sebagai salah satu sastrawan yang produktif. Di samping menulis, ia pun telah menyutradarai dan menulis naskah beberapa pementasan teater.

Ia menekankan bahwa hal tersebut dapat dicapai dengan cara menerapkan disiplin yang tinggi. Waktu 24 jam harus mampu dikelola dengan baik. Slot waktu untuk membaca (terutama untuk melakukan riset) dan menulis mesti dialokasikan dalam sehari. Buku bacaan apapun menurutnya layak untuk dibaca, mulai dari prosa, buku-buku nonfiksi, musik, bahkan resep buku masakan!

Kekayaan akan pengetahuan menurutnya akan membantu seorang penulis merangkul tema-tema yang lebih luas. Hal ini ia buktikan melalui perjalanan panjang cerpen-cerpennya yang tidak terpaku pada satu isu tertentu. Fleksibilitas ini membuatnya tidak hanya menulis cerpen bertemakan rural atau romantisme perjuangan masyarakat kelas bawah yang dibalut surealisme-realisme, sebagaimana ia tuangkan pada awal-awal karir menulisnya di Kompas tahun 90an. Namun, kini ia juga merambah tema-tema lain seperti urban yang dibawakan dengan satir. Pun humor politik, belakangan.

Di samping itu, Agus Noor mengakui bahwa ia tidak pernah terpaku pada satu gaya kepenulisan. Baginya, setiap cerita memiliki keunikan masing-masing. Penulis yang baik harus mampu menggali keunikan tersebut, alih-alih memaksakan cara penyajian yang sama terhadap semua cerita.

Dalam diskusi ini hadir pula Dewi Ria Utari, penulis cerpen, yang turut memperkaya diskusi dengan menilik buku “Cinta Tak Pernah Sia-Sia” dari sudut pandangnya.

Tak diragukan lagi bahwa untuk memperoleh sebuah kolom di Kompas Minggu merupakan arena pertarungan tersengit bagi para penulis cerpen. Maka, Ria menganggap bahwa konsistensi dimuatnya karya Agus Noor di koran Kompas dapat merepresentasikan sejarah perkembangan cerpen sastra di Indonesia. Cerpen di tahun 90an yang sarat dengan kritik sosial terhadap era Orde Baru, hingga gaya hidup urban masa kini.

Menanggapi hal tersebut, Agus Noor berpendapat bahwa sastra adalah penting untuk memperkaya pengalaman batin masyarakat. Sastra yang baik adalah karya yang mampu memberi cara pandang baru terhadap dunia. Oleh karenanya, karya-karya sastra bisa mencakup apapun.

Ngobrol bareng yang berjalan selama dua jam tersebut kemudian ditutup dengan penandatanganan buku-buku Agus Noor, serta tambahan pesan dari Ine Febriyanti selaku moderator,

“Setialah pada pilihan Anda.”

.

.

.

Ditulis oleh pembaca setia cerpen-cerpen Agus Noor tapi masih awam sastra.

Ditulis di Kompasiana

 

Diposkan pada Jurnal

#2yrsNL WOW! Seorang Perempuan Nekat Bersepeda 11 Jam Diguyur Hujan

Hmm kalimat di atas terkesan seperti sebuah judul clickbait, tetapi cukup menggambarkan salah satu pengalaman paling berkesan yang pernah saya buat seumur hidup.

8
Omafiets cintakuw

Belanda adalah surga bagi para pesepeda. Jalur sepeda dapat ditemukan di sudut kota manapun, bahkan sekelas desa macam Wageningen. Tak bisa dielakkan, di sini jumlah populasi sepeda melebihi jumlah populasi manusia.

 

Berhubung sepeda merupakan alat transportasi utama bagi setiap warga, maka nggak heran kalau salah satu kewajiban fardu ‘ain yang harus dilakukan pelajar sesampainya di Belanda adalah membeli sepeda. Umumnya sih beli yang bekas karena kami belum mampu jadi kaum anti kere-kere club 😦

Gowes ke kampus, ke pasar, ke stasiun, kemanapun sudah jadi kebiasaan di Belanda. Tapi pengalaman bersepeda saya selama 11 jam kali ini terinspirasi dari (kalau sebutan Pak Susetiya sih) duo gila: Pak Alham Samudra dan Pak Imam Dermawan, bapak-bapak di tempat kerja saya dulu.

Kala itu sekitar minggu ketiga Mei 2015, tanpa pikir panjang saya menerima tawaran Mbak Martha, rekan kerja di tempat kerja saya dulu, untuk menggantikan dirinya mendaki ke Semeru bersama rombongan kantor. Tawaran itu datang kurang dari seminggu sebelum keberangkatan. Wk. Memang dasar gw anak impulsif.

 

20
Bersama COPI Panas dkk di Ranu Kumbolo (31 Mei 2015)

 

Sembari menunggu keberangkatan, saya sudah terpapar informasi bahwa dua bapak ini setelah nanjak Semeru berniat langsung gowes ke Jakarta selama kurang lebih 5-6 hari. Saya sih belum mau percaya sampai pada hari H sesampainya kami di Bandara Abdul Rachman Saleh, Malang, saya melihat kardus sepeda beliau-beliau yang digotong bersama mobil rombongan kami menuju kaki gunung Semeru. Lha, beneran mau gowes?

Ditemani cerah terik mentari di padang pasir kawasan Bromo sehari setelah turun dari Semeru, kami pun melepas perjalanan Pak Alham dan Pak Imam mengayuh sepeda menyusul kami yang pulang sore itu ke Jakarta.

Sejak momen itu saya bilang ke Nadia. “Nad, nanti kita sepedaan keliling Belanda yuk. Tiga harian, gitu.”

Nadia ini adalah teman sekantor sekaligus teman bakalan main di Belanda, tepatnya di kota Delft. Menanggapi ajakan ini, Nadia juga nampak excited (iya gitu?) walaupun mungkin dalam hati membatin, ‘Serah lo aja dah, San’. *emot thinking*

Keinginan untuk bersepeda keliling Belanda itu selalu terbersit selama tinggal di Belanda. Tapi maklum lah manusia kan emang suka berwacana ya, jadi keinginan itu hampir tidak pernah direalisasikan benar-benar.

Pre

Siang hari usai presentasi internship yang membuat plong hati sejagad raya, saya mulai terpikir untuk merealisasikan bucketlist yang pernah disusun, termasuk sepedaan keliling Belanda.

Tepatnya di suatu sabtu yang cerah tertanggal 12 Agustus 2017 di kalender, berhubung saya keinget perlu beli souvenir khas Belanda, saya berpikir ‘apa sepedaan ke Delft aja ya, beli souvenir’. Di Delft kata orang-orang sih ada toko yang kasih harga lebih murah dibanding toko-toko lain di Belanda, selain Volendam.

Kemudian saya nge-chat Nadia kurang lebih dengan konten macam begini, ‘Klo numpang nginep tanggal 16 Agustus boleh gak? Pengen ngerasain 17an di KBRI’.  Maklum, ke KBRI perlu waktu 2.5 jam sendiri naik bis & kereta.

Saya lupa ya alasan kenapa pada akhirnya batal 17an di KBRI (kalau nggak salah sih karena tiba-tiba males aja). Walhasil, demi melakukan sesuatu yang berkesan pada peringatan kemerdekaan 17 Agustus (kan saya anak momentum banget gituuuh, massa x kecepatan), saya memutuskan untuk fix sepedaan Wageningen-Delft 17.8.17, tepat satu hari sebelum hari-H.

Kata google maps, jarak Wageningen-Delft sekitar 104.2 km dengan waktu tempuh 6 jam bersepeda.

Beberapa teman bilang saya punya determinasi yang tinggi. Saya pribadi sih merasa saya ini orang yang impulsif. Jadi nggak salah ya ada istilah nekat untuk memadukan dua sifat ini.

Semalam sebelum keberangkatan saya mulai menyusun plan.

 

4
And the journey began…

 

Present 

Rencana awal adalah berangkat jam 8 pagi supaya bisa sampai maksimal jam 5 sore. Estimasi total waktu tempuh adalah 9 jam. Enam jam dengan tambahan 3 jam untuk istirahat dan kalau-kalau kecepatan bersepeda terlampau lambat.

Err— pagi itu saya keluar kosan jam setengah 10 pagi.

Beberapa hari sebelum tanggal 17 Agustus adalah hari-hari yang membahagiakan karena matahari selalu bangun dari persembunyiannya di Wageningen. Seribu sayang, saya bertanya-tanya kenapa matahari lama betul bangun Kamis itu, bertepatan dengan tanggal 17 Agustus. Prediksi buienradar.nl hujan, malah.

Pagi itu pun jas hujan yang sudah saya siapkan ketinggalan di meja. Eta terangkanlah.

 

15
Asyik, meskipun apa faedahnya memfoto papan ini

 

Sesi #1. Tiga jam pertama yang menantang

Dalam perjalanan menuju Delft, cihhh diri ini langsung terkoyak-koyak oleh hujan deras yang turun tidak kurang dari satu jam. Untung jaket waterproof setia menghalau basah untukku. Jadi dalam 1.5 jam menggowes itu, sekujur tubuh basah kuyup kecuali yang tertutup oleh jaket. Nggak nunggu reda dulu? Nope. Toh sudah terlanjur basah ya, jadi buat apa mencari naungan teduh.

Cek perkiraan cuaca sebelum berangkat. Kan nggak lucu kalau muncul headline news ‘Astaga! Pelajar Indonesia ditemukan tergosrok di kanal Amsterdam selepas badai katrina’.

Satu jam setelah hujan, sembari terus menggowes, tau-tau celana saya sudah hampir kering. Tapi masih tersisa gerimis.

Pastikan outfit yang digunakan nyaman, ringan di badan, dan gampang kering kalau kebasahan.

Satu hal paling menarik dari 3 jam pertama ini ialah tepat di samping sebuah papan  area bertuliskan Weijdijk, saya menemukan sebuah pemandangan menakjubkan we o we yang membuat saya berhenti. Di sebuah tanah lapang dari kejauhan nampak seekor hewan yang duduk membelakangi saya.

Kanguru! Atau wallaby?

Masa iya sih di Belanda ada kanguru?

1
Dear Lupito (ini nama dari saya buat dia), nengok dong

 

Sudah susah-susah meniru suara ‘nguik nguik’ tapi dianggurin. Mungkin dia malas karena terdengar seperti babi terjerembab pipa kali ya. Karena kelamaan menunggu respon, saya memutuskan untuk pergi. Dah, Lupito!

Tiga jam pertama pedal sepeda terus digowes sambil sesekali si empunya mengecek google maps. Ternyata saya cuma terlambat setengah jam dari waktu yang ditentukan google maps.

‘Sip, bisa nih sampe ontime’, sahut saya dalam hati.

SOK TAU DUA MILIAR.

Tapi at least rasa excited ini membuat level percaya diri naik 7x lipat untuk maju terus.

Rencanakan waktu perjalanan dengan cermat. Buat lah target-target kecil, semisal: setiap 2 jam mas/jeng istirahat; pukul 10.00 sudah mesti sampai di kota A; dsb.

 

9
Melayang di atas kanal dalam perjalanan melintasi Provinsi Utrecht

 

Sesi #2. Dua jam kedua yang mendebarkan

Memasuki sesi kedua, hujan kembali turun derasnya dan saya sudah merasa kecepatan bersepeda jauh melambat. Saya masih terus memaksakan diri sampai perut minta jatah pada jam 2 siang. Pertama kali inilah saya turun dari sepeda untuk beristirahat setelah 5 jam mengayuh sepeda.

Saya menikmati bekal makan siang dan istirahat dengan total 20 menit di sebuah kursi di pinggir jalur sepeda, segera setelah hujan bertransformasi menjadi gerimis.

Siang itu, google maps bilang saya baru menempuh 50.4 km dalam kurun waktu 5 jam. Tentu ini sebuah indikasi bahwa saya sudah kelelahan sampai-sampai pace bersepeda jauh berkurang dibanding 3 jam pertama.

Pastikan mas/jeng membawa peralatan berikut: jas hujan, topi, bekal, dan cemilan penambah energi seperti gula merah atau coklat (saya sendiri selalu bawa gula merah kalau tau perjalanan berat, entah kenapa kali ini lupa karena buru-buru).

Momen setelah mengecek HP itu pun membuat saya mulai deg-degan, persis ketika kesambit chat dari supervisor menjelang deadline. Eta.

Dengan penuh tekad, kalau saja selama sisa perjalanan saya bisa mempertahankan pace seperti pada 3 jam pertama, maka saya bisa sampai di Delft pukul 6 sore. Hari belum gelap.

 

 

 

16
“Beli telor sini aja tapi tutup klo Minggu”, di sebuah komplek menuju Venendaal-De Klomp

Sesi #3. Enam jam terakhir yang super-depresif

 

Selepas makan siang, saya berhasil keluar dari provinsi Utrecht dan masuk ke provinsi Zuid-Holland. Di daerah ini, google maps kerap membawa saya menyusuri jalur sepeda di pinggir jalan tol.

Dan di sinilah saya mulai kewalahan mencari jalur yang benar.

 

10
Selamat datang di South-Holland

 

Sepanjang perjalanan di Zuid-Holland, lebih tepatnya setelah melewati Gouda sembari menuju Den Haag, setidaknya ada empat titik ketika saya diterpa kebingungan mencari jalan. Total waktu yang diperlukan untuk nyasar sana sini kurang lebih 2 jam! Fiuh, such a waste. 

Nyasar ini disebabkan adanya beberapa jalur sepeda yang ditutup karena sedang perbaikan. Ohhh rasanya ingin mencerca. Hal ini memaksa saya untuk improvisasi mencari jalur lain.

Belanda menyediakan peta fietsen network dengan papan-papan nomor di jalan yang bisa mas/jeng temukan sepanjang perjalanan jika mengikuti arah peta tersebut. Peta ini tentu lebih menjanjikan ketimbang mengandalkan google maps.

Berikut ini salah dua nyasar yang berkesan buat saya.

Dalam perjalanan menuju Den Haag, saya diarahkan google maps untuk melewati sebuah rel kereta api. Ternyata sore itu pagar rel kereta api digembok. Sebetulnya kurang sampe otak saya kenapa google maps menganggap rel kereta di atas gundukan ladang bisa dipertimbangkan sebagai sebagai jalur sepeda *emot thinking*

Saya mondar-mandir ke arah kiri dan kanan dari jalur sepeda utama sampai ratusan meter, berusaha mencari jalan lain dan (lagi-lagi) hujan turun dengan derasnya. Beruntunglah nampak sepasang sepeda muda-mudi bergaya hippie dengan barang bawaan segambreng (bawa-bawa gitar pula).

Saya untit mereka dari kejauhan.

Ketika mereka berhenti dan memutuskan untuk beristirahat setelah hujan agak reda, saya memberanikan diri untuk bertanya yang mana jalur menuju Delft. Rupanya mereka pun tidak tahu karena bukan warga Belanda.

Mereka berasal dari Prancis dan sudah gowes selama SEMINGGU dari negara tersebut. WOW! Ternyata di sekeliling saya bukan cuma Pak Alham dan Pak Imam yang gila.

Mereka berencana bermalam di Den Haag malam itu dan mengajak saya untuk gowes bersama. Saya tentu saja menolak karena kecepatan bersepeda yang jauuuh lebih lambat dari mereka, alih-alih malah menghambat perjalanan. Masa’ udah stranger, nyusahin pula.

Usai pamit dan tak lupa mengucapkan good luck, saya nyelonong pergi.

Sayang sekali saya lupa nama mereka.

Hindari mengisi keranjang sepeda dengan barang-barang yang sudah pasti tidak dipakai karena ini pasti menambah beban dalam mengayuh. Barang yang saya bawa kurang lebih ini: bekal makan siang, sebotol air putih, dompet, mini towel, lotion sunscreen, baju ganti untuk 1 hari, alat mandi yang nggak bisa untuk sharing bareng seperti sikat gigi dan showerpuff, serta jas hujan (yang terlupakan).

 

12
Jembatan Nelson Mandela, menuju Den Haag. Hmm apakah doi yang meresmikan ini?

 

Nyasar yang lain terjadi tepat di bawah jalan tol. Saya rasa momen ini menempatkan mental saya di paling bawah selama perjalanan. Jalur sepeda sesuai arahan google maps ternyata sedang ditutup. Saya pun bolak balik menghabiskan waktu dan energi lebih dari setengah jam untuk mencari jalan lain yang benar.

Beruntung dari kejauhan ada sepasang kakek-nenek menggunakan kursi roda elektrik (umum sekali dipakai di sana) sedang mengemudi ke arah saya. Spontan, saya bertanya pada mereka. Rupanya mereka (sepenangkapan saya) tidak terlalu paham Bahasa Inggris dan ketika saya menuliskan Delft di HP, mereka saling bersitatap lalu menunjuk-nunjuk ke arah yang saling berlawanan, sembari bergumam dalam Bahasa Belanda.

Oh Tuhan, cukup hati ini aja yang nyasar. Jangan ditambah se badan-badan.

 

5
Ladang rumput yang dilewati antara Den Haag menuju Delft

 

Tapi untung memang Tuhan Maha Baik. Tidak lama setelah merenungi nasib sejenak, saya melihat sepotong kepala mencuat dari balik rerumputan berjarak 250 meter (ya kira-kira segitu) sedang bergerak menjauh ke satu arah yang memang belum saya telusuri. Finally, kehidupan!

Meskipun mempertaruhkan nasib pada sekelebat kepala orang, ternyata benda itu kepala pembawa berkah.

Hujan tidak lagi turun dan gerimis hanya sesekali. Langit pun sedang cantik karena matahari muncul sebentar untuk menemani saya mengayuh memasuki area dengan plang ini!

 

2
Kebahagiaan HQQ

 

I made it after 10 hours! (termasuk 2×20 menit istirahat)

Memasuki kota Delft, saya diarahkan kembali menyusuri area perumahan dan sesekali ladang tempat ngangon kambing. Setelah laporan ke Nadia, saya mampir ke centrum (pusat pertokoan) untuk membeli cemilan dan ayam chicken (ini istilah Nadia dkk buat ayam goreng crispy yang dijual di kedai Turki).

Sekitar pukul 20.30 atau setelah 11 jam perjalanan, saya sampai di kosan Nadia. Tidak berapa lama kemudian masuk waktu magrib.

 

17
Ternyata nggak cuma Jembatan Pasopati aja yang jadi tempat muda-mudi pacaran. Can you spot them? Di sebuah jembatan menuju Delft.

 

Post

Setelah tunai semua kegiatan mengisi perut dan bersih-bersih badan, saya mengambil posisi telentang di atas karpet dan baru merasakan kalau astaga, badan gw remuk.

Malam itu saya tidur normal, sekitar 7-8 jam.

Satu hari pasca bersepeda 11 jam, saya terbangun tanpa merasakan pegal-pegal. WOW!  (kok kesal ya nulis wow ini). Cuma ngantuk dan merasa lelah saja.

Jam 11, saya dan Nadia bersepeda menuju TU Delft karena ia ada kumpul angkatan. Kami lalu lanjut nobar Game of Thrones S07E06 bersama Bramka. Sorenya, saya diajak nonton festival kembang api sekali setahun di Scheveningen. Kembali menggunakan sepeda menuju Stasiun Delft. Di sini personil bertambah Timothy, Templank, dan Radit. Bersama kami menunggu tram menuju Den Haag.

Di Den Haag, kami berjalan kaki mengitari centrum untuk makan malam dan jajan es krim sebelum menuju Scheveningen. Lewat pukul 11 malam, saya dan Nadia bersepeda kembali sepulangnya dari Stasiun Delft.

 

14
Firework Festival di Scheveningen

 

Sabtu pagi, saya masih kuat mengitari centrum untuk makan kibbeling dan BELI SOUVENIR (baru sekarang laaah).

Sore itu pun TERNYATA masih harus bersepeda 45 menit ke Den Haag (sebelum benar-benar bisa pulang naik kereta ke Wageningen) karena kereta di Delft sedang tidak beroperasi.

 

19
Still a long way to go home

 

Satu saja yang mau saya sampaikan dalam penjabaran di atas adalah… ternyata aktivitas gowes 11 jam tidak membuat badan drop-drop amat setelahnya. Jadi, jangan takut untuk mencoba :p

***

Nah bagi mas/jeng yang mau mencoba bersepeda keliling kota, cukup jadikan pengalaman saya sebagai bahan pelajaran, bukan patokan. Ingat ya, persiapan penuh lebih baik ketimbang tanpa persiapan.

Terlebih kalau mau sepedaan di Indonesia, butuh persiapan lebih ya terutama untuk memastikan segi safety dan security.  Kalau ini sih tanya yang pro aja deh.

13
Angkot Caheum-Ciroyom di Delft. Kiri payun, Aa’!

 

Di baris-baris akhir menulis cerita ini, saya baru meng”oh iya juga”kan respon beberapa teman yang menyayangkan waktu bersepeda saya selama 11 jam tanpa bertandang menikmati keunikan sudut-sudut kota yang dilalui.

Well, saya rasa justru itulah bagian yang paling menarik.

Tepat seperti kata Forrest Gump, “…I just felt like running cycling.”

.

.

.

Good luck!

 

Diposkan pada Jurnal

#2yrsNL Persiapan Keberangkatan “Lost in Translation & Luggage”

Halo mas/jeng! Lama nih nggak bersua. Sebagaimana janji yang sudah saya kemukakan di sosmed pribadi beberapa waktu lalu, sekarang saya mau mulai menulis kisah gado-gado selama 2 tahun tinggal di Belanda. Kenapa gado-gado? Karena rasa manis, gurih, asam, asin, pahit, sampai yang nggak berasa (kalau di gado-gado ini mah rasa tahu putih, nggak berasa kecuali dipakein bumbu kacang) mau saya share di sini dalam tulisan-tulisan ber-hashtag (ceilah) #2yrsNL.

Saya menghabiskan waktu 2 tahun di Belanda untuk mengikuti program yang bisa mas/jeng baca di Water Technology, intake 2015-2017. Sebetulnya saya sudah diterima untuk intake 2014-2016, namun menjelang keberangkatan saya belum menemukan puing-puing bantingan tulang yang bisa dibarter untuk bekal hidup (baca: beasiswa). Walhasil saya apply kembali program yang sama untuk intake 2015-2017. Alhamdulillah pada akhir tahun 2014, dua pondasi utama untuk pergi ke Belanda (Letter of Acceptance/LoA dan beasiswa) sudah digenggam. Jadi, apa aja neh kk yang disiapin kemarin, eh 2 tahun lalu? Singkat cerita, ini dia:

Les Bahasa Belanda

Segera setelah mendapat kepastian untuk berangkat kuliah, saya mulai memikirkan apa-apa saja yang diperlukan agar bisa survive. Berhubung saya punya waktu 7 bulan sebelum berangkat, saya memutuskan untuk menyisihkan sebagian penghasilan guna mengikuti les Bahasa Belanda (Dutch Course). Kalau mas/jeng tertarik, silakan telusuri website ini: https://www.erasmus-taalcentrum.com/.

Saya yakin tidak banyak lembaga kursus bahasa yang menawarkan program bahasa Belanda, tetapi beruntunglah saya tinggal di Tangerang Selatan (ya Jakarta sonoan ‘dikit lah) karena ada Erasmus Training Center (lokasi tepat di sebelah Kedutaan Besar Kerajaan Belanda di RI) yang membuka kursus Bahasa Belanda mulai dari level basic sampai advance. Berbekal pengetahuan nol tentang Bahasa Belanda, tentunya saya layak dong mengikuti kursus level Basic 1 alias level terendah.

Dalam kursus Basic 1 yang diadakan setiap sabtu pagi selama 3 bulan tersebut, kami para murid belajar kosakata dan basic grammar dalam Dutch. Kursus ini diikuti oleh  17 orang dari beragam latar belakang usia, pekerjaan, dan motivasi. Beberapa di antaranya adalah calon pelajar yang mau berangkat sekolah, yakni selain saya ada Erika (Rijkuniversiteit Groningen), Cisty (Wageningen University), dan Aiyubi (Tilburg University). Ada pula yang mau tinggal di Belanda menyusul suami yang sedang kerja yaitu Rani (ke Eindhoven) dan kak Lia (ke Groningen) yang juga sedang persiapan menyusul (saat itu masih berstatus calon) suami wong londo aseli. Selain itu kebanyakan (kalau nggak salah ya) memang pada dasarnya tertarik aja untuk belajar Dutch.

Les Bahasa Belanda
Foto 1. Para peserta Basic 1 yang kerjaannya beli mie ayam dan siomay depan tempat les

Catatan: Warga Belanda di kota manapun, ternyata mereka mahir berbahasa Inggris jadi nggak perlu takut sama sekali bakal lost in translation. Selain itu, pada umumnya universitas mengadakan program Dutch course di awal-awal perkuliahan. Jadi, menurut pengalaman saya agak-agak sayang sih ikut les Bahasa Belanda sebelum berangkat wkwkwk. Tapi lumayan lah nambah teman apalagi bisa ketemu kak Lia yang inspiring (aku nulis ini serius loh kak :p).

Kelas Akulturasi

Berbeda dengan les bahasa, kelas akulturasi yang dibuka oleh Erasmus Training Center ini dikhususkan bagi calon pelajar yang sudah pasti insya Allah pasti tenan berangkat ke Belanda, dibuktikan dengan melampirkan LoA. Oleh karena itu, kelas akulturasi ini hanya dibuka sekitar bulan Mei-Juli (silakan telusuri di website yang sama).

Dalam kelas yang berisi maksimal 20 orang ini, kami para murid tidak hanya dikenalkan dengan pembelajaran bahasa tetapi juga kondisi geografis dan sosial warga Dutch. Yap, karena tujuan diadakannya kelas ini adalah untuk mengurangi culture shock calon pelajar sesampainya di Belanda. Dari kelas inilah awal mula saya bisa: mengunduh aplikasi 9292 bahkan sebelum sampai di Belanda (yes gan!), tahu bahwa warga Dutch senang mengamati prakiraan cuaca (bisa nih buat modal ngobrol basa-basi), ngeluarin sepeda berdebu di garasi rumah buat ngetes diri sendiri masih bisa gowes apa nggak, bisa memperkirakan barang-barang yang perlu masuk koper, dsb.

IMG20150624160533
Foto 2. Para peserta kelas akulturasi C-6 yang ntap-ntap dan bahagia abis gajian (baca: uang deposit balik) plus dapat kaos gratisan.

Catatan: Ikut kelas ini berguna banget deh pokoknya. Gratis pun karena memang deposit di awal aja (2 tahun lalu deposit 1 juta) tapi dikembalikan di akhir asalkan kehadiran >80%.

King Packing!

Bagian terpenting dari persiapan selain mental adalah fisik, tentunya! Terutama bagi WNI yang cuma pernah kenal 2 musim (1 musim aja sih cuma beda satu periode sering hujan, satu periode enggak), tiba-tiba pindah ke negara 4 musim dengan karakteristik cuaca tertentu pasti perlu untuk segera beradaptasi. Waktu itu saya naik Garuda Indonesia sehingga dapat banyak jatah bagasi (40 kg tjuy) dan kabin 7 kg. Singkat cerita, saya bismillah aja karena nggak punya timbangan untuk mengecek berat koper. Ternyata total bawaan saya 50 kg (40 kg dalam 1 koper 28 inch dan 10 kg dalam 1 carrier punggung). Beruntunglah mbak-mbak petugas nggak ngasih tambahan charge karena kelebihan beban 3 kg. But, please, jangan dicontoh ya mas/jeng. Patuhilah peraturan dengan lebih cermat 🙂

Nah, berikut ini barang-barang yang saya yakin mas/jeng pikir-pikir untuk dibawa, namun berdasarkan pengalaman dan sepemantauan selama 2 tahun, sebaiknya tidak diprioritaskan untuk masuk ke dalam koper.

  • Cover shoes (jas hujan untuk sepatu)
Cover shoes
Foto 3. Nih cover shoes. Fix nggak usah beli.

 

Hmm jadi kata meneer-mevrouw (tuan-nyonya) di kelas akulturasi, Belanda itu sering betul diguyur hujan. Layaknya Indonesia yang kalau diguyur hujan sering becek, walhasil saya memutuskan beli cover shoes sebelum pergi. Asliii nggak penting. Hujan di Belanda ternyata lebih sering gerimis deras (atau hujan ringan kali ya), bukan hujan deras. Ditambah lagi sistem drainase di jalan-jalan sudah lebih baik dibandingkan Indonesia sehingga minim genangan. Jadi, punya sepatu tahan air saja sudah cukup kok.

  • Travel adapter

Colokan listrik negara-negara di eropa mah sama kayak di Indonesia (2 lubang) jadi nggak perlu repot-repot bawa.

  • WiFi router

Pilihan menggunakan internet di student housing itu ada: (1) tinggal masukin username-password untuk WiFi, (2) pakai kabel LAN, atau (3) lebih enak kalau pakai WiFi router. Nah untuk mencegah ketidakcocokan setting WiFi router produk beli di Indonesia ketika dipakai di Belanda, lebih baik beli di Belanda aja. Banyak kok yang jual.

  • Rice cooker

Di beberapa negara sepertinya rice cooker bukanlah barang elektronik yang mudah ditemukan, tapi tidak di Belanda. Saya pernah lihat barang ini dijual di Blokker dan MediaMarkt (nama beberapa toko ternama yang tersedia di penjuru kota Belanda), sebagai contoh. Lebih enak lagi kalau bisa dapat second atau (opsi terbaik) hibahan dari senior.

  • Winter jacket, boat, atau winter clothing lainnya (kemarin nggak bawa ini sih tapi penting untuk ditekankan)

Indonesia bukan negara 4 musim, jadi maklum lah kalau winter clothing sulit ditemukan dan kalaupun ada, dijual dengan harga yang tidak murah. Kalau tujuan mas/jeng berkunjung ke Belanda saat winter sebagai turis, otomatis beli barang-barang ini di Indonesia adalah kewajiban. Namun, untuk pelajar yang bakal kuliah sebaiknya nggak usah beli di Indonesia.

Menjelang musim dingin, adalah suatu keniscayaan toko-toko maupun senior mulai menawarkan winter sale (baik barang baru atau second). Dan harga yang ditawarkan bisa jauh lebih murah dibandingkan harga yang dijual di Indonesia. Selain itu, model yang berseliweran pun lebih match & blend sama style orang eropa. Modal paling penting adalah nggak gengsi pakai barang second ya mas/jeng. Asalkan masih bersih, fungsional, dan layak pakai sih nggak usah lah itu gengsi-gengsian.

  • Atasan thermal/long john

Baju thermal/long john adalah pakaian (atasan maupun bawahan) yang digunakan untuk penambah hangat badan ketika musim dingin tiba. Nah kalau ini sepertinya disesuaikan dengan kemampuan tubuh masing-masing dalam menahan dingin ya. Kalau saya pribadi, bagian atas tubuh lebih tahan dingin dibandingkan bagian bawah. Jadi, atasan long john saya tidak pernah dipakai (bawahan aja).

Selain itu, umumnya atasan long john ini memang tidak perlu digunakan kalau sebagian besar waktu dihabiskan di dalam ruangan (baca: kuliah atau group work, secara ruangan di kampus pakai heater. Nanti yang ada malah keringetan). Winter jacket, syal leher, dan sarung tangan bagi saya sudah cukup. Oh iya di Belanda pun banyak kok yang jual baju long john dengan harga standar. Jadi, nggak usah maksain kalau nggak nemu long john yang murah di Indonesia (hamdallah di Mangga Dua nemu 70 ribu buat 1 paket atasan & bawahan enak-anget sih hahaha).

  • Mainan anak

Berhubung semasa internship saya sempat tinggal dengan satu keluarga Indonesia yang memiliki 1 bayi (Mas Lana, Mbak Arum, dan Asa), Mbak Arum pernah cerita bahwa ia membawa banyak mainan bayi di dalam koper karena ragu apakah bisa menemukan mainan untuk Asa yang masih sekitar 1 tahun. Nah, buat para keluarga Indonesia yang mau membawa anak, jangan cemas karena warga Dutch masih ada yang mau punya anak kok #ifyouknowwhatimean :p. Mainan anak bisa ditemukan di banyak toko. Tenang aja.

Apalagi ya. Mungkin kalau inget barang-barang lain, saya bakal update postingan ini.

Saya cuma merasa perlu menekankan bahwa persiapan untuk adaptasi fisik itu penting tapi disesuaikan saja dengan… beban bagasi pesawat. Perlu diingat bahwa semua jenis pakaian dan peralatan dijual komplit kok di Belanda, baik yang baru atau murah ala-ala secondhand (he, pake barang second? Tunggu postingan #2yrsNL lain ye). Tapi makanan, obat-obatan, dan bumbu-bumbu lokal itu jauuuh lebih penting untuk dibawa karena kalau mau memanjakan lidah nggak bakalan deh dapat yang seenak rasa asli Indonesia.

*

Baiklah, saya kira tiga hal tersebut sudah cukup merangkum persiapan keberangkatan terkait hal-hal di luar akademik. Untuk persiapan keberangkatan menyangkut akademik agaknya malas saya tulis karena tiap universitas dan beasiswa punya ketentuan berbeda-beda, jadi kurang berasa general kalau saya share. Tapi kalau ada mas/jeng yang mau tanya-tanya lebih detail, silakan kontak saya melalui email: sausan.atika@gmail.com.

Akhir kata, saya harap ini menjadi salah satu postingan yang bermanfaat karena postingan-postingan selanjutnya tidak sedikit yang berisi konten-konten lebih personal (ceilah).

Tot later!

(Dutch: sampai jumpa nanti (later)! Disampaikan ke lawan bicara apabila kamu tahu bakalan segera bertemu lagi dengan lawan bicara tersebut).

Diposkan pada Jurnal

Kesalahan dan Kerendahan Hati

DSC_3155.JPGMomen menjelang bulan Ramadhan mungkin selalu menjadi waktu yang kontemplatif bagi sebagian besar muslim, termasuk saya pribadi. Banyak yang memasang target ibadah A, B, C, dsb. agar bisa memaksimalkan keuntungan yang dijanjikan selama bulan Ramadhan, yakni pahala berlipat-lipat. Saya pun termasuk salah satu orang yang selalu punya target, meskipun tidak muluk-muluk. Namun, bulan puasa kali ini agaknya menjadi Ramadhan paling personal yang pernah saya jalani sejauh ini.

Beberapa hari sebelum memasuki Ramadhan, saya memutuskan untuk mencoba menjernihkan pikiran agar bisa berdamai dengan diri sendiri. Alkisah, saya sadar bahwa otak saya ini sering bisa menyimpan memori terhadap hal-hal kecil yang bahkan masih bisa diingat hingga bertahun-tahun kemudian. Tidak sedikit pula teman-teman yang meng”iya”kan (p.s.: sayang hal ini nggak berlaku buat materi-materi akademik 😦 ). Hal ini yang kemudian membuat saya sering terbersit pikiran sendiri tentang kesalahan-kesalahan terhadap sesama di masa lalu, baik yang besar maupun yang kecil. Bagian yang paling mengusik adalah fakta bahwa saya belum pernah minta maaf kepada orang-orang yang bersangkutan.

Kesalahan yang saya maksud di sini bukan sekedar perkataan atau perbuatan yang mungkin melukai perasaan orang, tapi turut berprasangka buruk. Coba ya dipikir-pikir, berprasangka buruk terhadap Allah SWT saja mudah apalagi berprasangka buruk ke sesama manusia. Perihal melakukan kesalahan, baik diketahui/tidak oleh orang yang bersangkutan, bagi saya adalah teramat penting karena muara dari penyakit ini adalah kesombongan. Kalau boleh mengutip sebuah hadits,

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan meskipun seberat biji sawi.” Lalu seseorang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai pakaian dan sandal yang bagus?” Rasul menjawab, “Sesungguhnya Allah menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR Muslim)

Dalam sepemahaman saya, sombong di sini terkait pada dua hal yakni sombong terhadap kebenaran sehingga mampu merusak hablum minallah dan sombong terhadap sesama manusia sehingga mampu merusak hablum minannas. Nah eta. Memiliki kesadaran penuh telah berbuat salah namun tidak mau meminta maaf ialah seperti menganggap remeh hati orang lain.

Sayangnya, satu hal yang paling sering terlintas terutama ketika kesalahan yang diperbuat terhitung sudah lama sekali, yaitu secara sepihak mengasumsikan bahwa ‘ah mungkin dia sudah lupa’. Hmm bisa iya, bisa tidak. Jadi, lebih baik dikonfirmasi saja dengan melakukan pernyataan maaf ya, Mas/Jeng.

Kalau kembali pada cerita “Ramadhan paling personal”, target minta maaf ini sudah saya mulai sejak hari pertama puasa kemarin. Kalau Hannah punya 13 daftar orang yang ia benci sebelum bunuh diri (baca: 13 Reasons Why), saya punya buanyaaak daftar orang yang mungkin benci sama saya terutama orang-orang yang berada dalam lingkup perkuliahan S1. Biasa lah, namanya juga kenakalan remaja di era informatika :p.

Hari pertama puasa saya awali dengan minta maaf ke orang yang pernah saya prasangkai amat buruk semasa kuliah. Hei kalau kebetulan kamu baca tulisan ini, cukup ditertawakan saja ya hahaha. Rupanya yang bersangkutan sudah tidak ingat detail kejadian ricuh waktu itu (ya iya laaah udah lewat sekitar 7 tahun lalu mungkin).

Terus buat apa minta maaf kalau orang itu pun lupa? Kalau minta maaf pun, kamu yakin akan dimaafkan? Pikiran macam ini nih yang tidak sehat karena terlalu kencang nyangkutnya di otak.

Bagi saya minta maaf bukan pada persoalan akhir dimaafkan atau tidak, namun upaya kita untuk merendahkan hati di mata manusia, sesederhana itu.

Terus, gimana? Jangan kebanyakan mikir, cukup dilakukan. Nanti Mas/Jeng bakal merasa lega luar biasa mau apapun hasil yang diperoleh.

Terakhir, kalau kebetulan membaca tulisan ini, jangan kaget kalau mungkin suatu saat di antara Mas/Jeng dapat surat cinta dari penulis :p. Dan kalau Mas/Jeng kebetulan membaca tulisan ini, saya akan sangat berterima kasih apabila secara personal diingatkan semisal saya pernah punya salah perkataan/perbuatan yang menyinggung perasaan, baik yang sudah bertahun-tahun atau bahkan baru terjadi beberapa detik lalu.

Karena bukankah tidak ada silaturahmi yang terbaik daripada sesama manusia yang saling mengingatkan pada kebajikan, bukan?

.

.

.

Groningen, 28 Mei 2017, menghadap jendela, menunggu berbuka

 

Diposkan pada Jurnal

Berjalan Bersama Para Teladan

Hari Pendidikan Nasional merupakan salah satu momentum yang relevan apabila dikaitkan dengan status kawan-kawan seperjuangan saya: pelajar. Pagi di tanggal 2 Mei ini pun media sosial diawali oleh seliweran catatan Bapak Anies Baswedan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, yang berisi motivasi terhadap para pelajar di luar negeri. Terima kasih, Pak! Hari ini memang waktu yang tepat untuk melakukan refleksi terhadap aktivitas kami, termasuk saya yang ingin menulis sesuatu terkait pelajar.

Ki Hajar Dewantara
Sumber: indonesiana.merahputih.com

 

Pendidikan itu menyangkut kebersamaan

Dalam paradigma sebagian besar masyarakat Indonesia, istilah ‘pendidikan’ melekat dengan kemampuan intelektual, yakni pendidikan formal untuk mengenyam bangku sekolah dasar hingga pendidikan tingkat tinggi. Tidak salah, memang. Namun, kemampuan memperoleh pendidikan formal tersebut kemudian dianggap menjadi sebuah pencapaian seorang manusia. Bisa masuk SMA, alhamdulillah. Kuliah S1, luar biasa! Kuliah S2 dan S3? Dewaaa!

Tidak salah, memang. Namun, mari kita renungkan kembali makna peringatan Hari Pendidikan Nasional ini. Berusaha menyelami pikiran Ki Hajar Dewantara dan paguyubannya pada tahun 1922, saya beranggapan bahwa tujuan luhur pendidikan yang ingin beliau tanamkan melalui Perguruan Taman Siswa adalah untuk membangun kesadaran massal. Kesadaran akan tanggung jawab berbangsa dan bermasyarakat. Dengan munculnya kesadaran tersebut, maka terpantiklah keinginan untuk maju. Hal ini selaras dengan semboyan Patrap Triloka yang mereka gulirkan.

Ing ngarsa sung tulada – yang di depan memberikan teladan

Ing madya mangun karsa – yang di tengah membangun kemauan

Tut wuri handayani – yang di belakang memberi dukungan

Pedoman Patrap Triloka tersebut melibatkan tiga posisi berbeda dan tidak fokus untuk membangun insan tertentu (diri sendiri). Hal ini jelas menyiratkan bahwa pendidikan yang ingin digelar oleh para pendiri Taman Siswa adalah untuk menjalankan sebuah sistem bersama demi kemajuan. Sebutlah pada masa kini: bangsa Indonesia.

Belajar dari para teladan

Ingatkah bahwa seragam SD kita kerap diberi emblem tut wuri handayani? Atas dasar itu saya rasa Patrap Triloka dapat dikaitkan dengan tingkat pendidikan di Indonesia: posisi belakang untuk sekolah tingkat dasar, posisi tengah untuk sekolah tingkat menengah, dan posisi depan untuk sekolah tingkat tinggi.

Menarik ketika mengaitkan konsep ing ngarsa sung tuladha dengan kita, para pelajar. Tren kian berubah, begitu pula paradigma. Saya rasa istilah teladan dalam benak pemuda/i erat kaitannya dengan orang-orang tua. Padahal, pemberi teladan sesungguhnya adalah siapapun yang mampu.

Ibarat ilmu padi. Seiring dengan bertambahnya pengetahuan, maka (sepatutnya) semakin mapan kemampuan berpikir seseorang yang berefek pada semakin tinggi pula tingkat kesadaran (mengulangi paragraf tiga). Semakin tinggi kesadaran, kian bertambah lah tanggung jawab untuk menjadi seorang teladan.

Tidak ada cara mendidik yang paling efektif kecuali dengan memberikan contoh. Maka tidak perlu kita kotakkan pendidik sebatas guru, karena kita semua mampu menjadi pendidik. Pendidik tak langsung, seseorang yang dengan keteladanannya (sung tuladha) mampu menstimulasi timbulnya motivasi orang lain (mangun karsa) untuk turut maju bersama mereka yang mendukung (handayani).

Mengejar gelar bukanlah sebuah tujuan akhir, melainkan proses. Oleh karena itu, Kawan… mari kita maknai masa perkuliahan sebagai proses untuk menjadi teladan. Dan ingat-ingat kembali setelah masa ini selesai, jangan berakhir untuk pribadi. Karena keinginan luhur para pencetus adalah untuk memungkinkan kita berjalan bersama atas nama bangsa Indonesia.

2 Mei 2016

Amsterdam