Diposkan pada Book

Menyingkap Gunung Es Kejahatan

BASABASI.CO, 23 Desember 2017 (click)

tempo_dibalik-investigasi-tempo-02_full02.jpg

Judul Di Balik Investigasi Tempo Jilid 02
Penyunting Muhammad Taufiqurohman
Penulis Muhammad Taufiqurohman, Mustafa Silalahi, Rusman Paraqbueq, Stefanus Pramono
Penerbit Tempo Publishing
Cetakan Pertama, November 2017
Tebal xii + 179 halaman
ISBN 978-602-6773-20-3

Pemberantasan tindak pidana korupsi dalam beberapa dasawarsa terakhir selalu mencuri perhatian publik. Tak ayal, masyarakat pun sering dibuat geleng-geleng kepala oleh kelakuan koruptor yang kerap mengelak setelah ditetapkan sebagai tersangka. Terlebih, main kucing-kucingan untuk menghindari proses hukum. Ragam komentar sana-sini menanggapi kegaduhan ini meyakinkan kita bahwa sense publik akan perilaku-perilaku ganjil para pelaku ternyata masih bekerja.

Pemberitaan mengenai perkembangan kasus-kasus tindak korupsi terus menghiasi layar kaca, layar ponsel, bahkan gaung-gaung radio di dalam mobil Anda, semenjak pengungkapan pertama kali oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hingga ketika para terdakwa resmi mendekam di balik jeruji besi. Namun, apakah penjara sudah efektif untuk meredam kegaduhan? Sayangnya, tidak. Perhatian masyarakat ternyata tidak bisa berhenti pada putusan pengadilan karena rupa-rupanya masih terdapat kejanggalan yang tersembunyi dalam tempat tinggal baru para koruptor tersebut, menunggu-nunggu untuk dibuka.

Berawal dari informasi yang diberikan oleh seorang pengusaha tambang pada Oktober 2009 kepada pihak Tempo mengenai kemewahan sel penjara Artalyta Suryani, Ayin, terdakwa kasus aliran dana Bank Indonesia. Informasi awal ini mendorong Tempo melakukan investigasi terhadap sulap bui menjadi kantor yang dilakukan di Rumah Tahanan Pondok Bambu, Jakarta Timur, sebagaimana diceritakan dalam bab “Pondok Bambu Rasa Istana”.

Di akhir 2015, informasi dari beberapa orang yang dirahasiakan perihal narapidana Sukamiskin yang bebas keluyuran keluar penjara turut mendorong Tempo untuk mengungkap kebenaran informasi tersebut. Hal ini diceritakan dalam bab “Pelesir Gelap Pesakitan Sukamiskin”. Pada bab ini, terdapat hal lain yang disinggung yakni bisnis para narapidana ‘elite’ di dalam area penjara dengan adanya pendirian taman, kafetaria, dan saung-saung.

Selain dua laporan investigasi terkait penjara para koruptor tersebut, buku ini memuat dua laporan investigasi lain terkait human trafficking dengan masing-masing tajuk: (1) “Tenaga Kerja Indonesia Legal” yang mengungkap adanya ‘jalur samping’, yakni jalur masuk imigran gelap Indonesia ke Malaysia melalui Pulau Nunukan dan Sebatik, Kalimantan Utara, dan (2) “Jual-Beli Orang ke Malaysia” yang menguak kongkalikong jual-beli penduduk Nusa Tenggara Timur oleh agen-agen penyalur bodong. Sebagai pelengkap, terdapat pula satu laporan investigasi mengenai perburuan gajah dan harimau di Aceh yang tertuang dalam bab “Penyelundupan Gading dan Kulit Harimau”.

Buku ini memuat total 5 laporan investigasi yang dilakukan oleh Tempo dengan judul bab sebagaimana disebutkan di atas. Fakta hasil investigasi dituturkan dalam bentuk story-tellingsehingga mudah diikuti oleh pembaca. Jauh dari kesan kaku saat mendengar kata ‘laporan investigasi’. Buku ini turut dilengkapi dengan sebuah poster infografis khas Tempo serta dua halaman komik yang mengilustrasikan proses investigasi pelesir napi Sukamiskin.

Kelima hasil investigasi ini sesungguhnya telah dimuat dalam majalah Tempo. Namun, proses ‘di balik layar’ yang dilakukan oleh para wartawan investigasi Tempo serta dampak yang timbul setelah laporan investigasi tersebut diungkap ke publik-lah yang membedakan keluaran buku ini dengan majalahnya. Pada masing-masing bab, penjabaran mengenai kedua aspek tersebut turut disertakan dengan mengambil porsi sekitar seperempat bagian.

Investigasi sering menyoal pertaruhan nyawa. Oleh karena itu, tidak semua wartawan punya nyali melakukannya. Orang yang mendedikasikan diri menjadi wartawan investigasi tidak boleh gentar ketika dihadapkan pada situasi mengancam, baik lisan maupun tulisan, bahkan jika mengalami penahanan. Kejadian apes semasa proses investigasi kelima kasus disampaikan secara gamblang dalam buku ini.

“Kau jangan macam-macam. Aku bisa cari kau ke mana saja lalu aku bunuh,” kata pawang yang berperawakan kecil tapi memiliki tatapan mata tajam itu (hlm 56).

Ancaman itu dikemukakan oleh seorang mantan pawang gajah dan harimau kepada wartawan Tempo yang tengah berusaha mengorek informasi tentang perburuan liar di Aceh.

Disertakan pula narasi penyekapan yang dialami oleh wartawan Tempo pada Februari 2017. Kala itu, ia, Stefanus Pramono, tengah berusaha mengonfirmasi Albert Tei, pemain besar di balik jual beli TKI ilegal ke Malaysia.

Akhirnya, Pramono menggertak balik. “Silakan Anda lapor ke polisi. Saya liputan yang nyaris mati saja pernah. Kalau dipenjarakan, saya tidak takut,” ujarnya menantang, “akan saya laporkan Anda balik karena menyekap kami.” Tak lama kemudian, telepon seluler Pramono berbunyi. Redaktur Eksekutif Tempo, Wahyu Dhyatmika (Komang), meneleponnya. “Kamu disekap? Kasih teleponnya ke Albert,” kata Komang. Telepon itu tidak di-speakerphone-kan, tetapi suara Komang terdengar sangat keras. “If something happen to my reporters, I will find you!” (hlm 150).

Terungkapnya skandal-skandal kejahatan memacu respons positif dari pemerintah, setidaknya untuk kelima kasus di atas. Meskipun, sebagian besar dampak kasus hanya berlaku pasang-surut dalam beberapa bulan awal setelah peliputan. Kasus perburuan liar terhadap gajah dan harimau yang konon kabar digawangi oleh mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka dan telah berlangsung selama puluhan tahun itu juga tidak bisa diberangus hanya dalam beberapa bulan. Tidak jauh berbeda dengan kasus jual-beli manusia. Tidak dapat kita tampik bahwa selama demand masih tinggi, terbatasnya ruang ketersediaan lapangan kerja dalam negeri, terlebih keterlibatan langsung aparat pemerintah telah membuat praktik-praktik gelap semacam ini mustahil diberantas tuntas. Bukankah ini menjadi sebuah potret ironi kebangsaan?

Di samping filosofi mulia yang mendasari penyusunan laporan investigasi dalam dunia jurnalistik, yakni untuk mengungkap fakta yang bernilai besar bagi masyarakat, amat disayangkan bahwa proses investigasi itu sendiri, dalam buku ini lebih banyak menjabarkan peristiwa yang dialami oleh wartawan investigasi Tempo di lapangan. Konfirmasi yang nyata memang sering diperoleh melalui reportase lapangan. Seperti contoh wartawan Tempo yang harus menyamar menjadi imigran gelap agar dapat nimbrung dalam perahu yang membawanya menyusuri ‘jalur samping’ menuju Pulau Nunukan atau pengintaian Ayin lewat gedung rumah sakit yang belum jadi di samping Pondok Bambu.

Dari dalam perahu, Pramono menyaksikan nakhoda kapal cepat yang datang belakangan memberikan duit kepada petugas di dalam kapal milik Malaysia. Terjawab sudah. Salah satu alasan para imigran gelap bisa masuk dengan mudah adalah adanya pemberian suap kepada penjaga perbatasan Malaysia. (hlm 87)

Pengintaian dari gedung (baca: gedung rumah sakit yang sedang dibangun di sebelah penjara Pondok Bambu) dilakukan untuk membuktikan Ayin memperoleh fasilitas khusus di penjara. Budi Riza naik ke bangunan belum jadi di lantai paling atas rumah sakit itu pada akhir 2009. Ia punya misi mengintai aktivitas di dalam aula. Informasi awal sudah dikantongi: tempat itu (aula) menjadi “ruang kerja Ayin”. Pada waktu yang berbeda, fotografer Arnold Simanjuntak tiga hari bolak-balik ke tempat yang sama. Pada hari ketiga, baru ia mendapat foto Ayin yang sedang menggendong bayi. Hasilnya kurang bagus secara visual, tapi lumayan sebagai bukti jurnalistik. (hlm 28).

Penonjolan reportase di lapangan membuat detail lain yang turut mendukung proses investigasi, semisal untuk paper trails, bagaimana memperoleh dokumen transaksi penjualan TKI ilegal, atau penyusunan strategi-strategi dengan rencana terbaik hingga terburuk sebelum pelaksanaan investigasi di lapangan, sedikit dikesampingkan. Tempo mungkin beranggapan bahwa proses di luar lapangan yang tidak terlalu menantang itu kurang menggiurkan untuk diketahui oleh publik. Tidak salah, memang, tetapi pemuatannya sekiranya dapat memberi nilai lebih akan ekspektasi pembaca terhadap judul buku yang tertera: ‘di balik investigasi’.

Bukan rahasia umum bahwa masih terdapat banyak desas-desus skandal kejahatan pada setiap lini kehidupan. Rumor ini kerap dibiarkan berlalu atau bahkan dimaklumi oleh khalayak. Eksistensinya seakan tabu untuk disinggung. Oleh karena itu, produk jurnalistik berupa laporan investigasi menjadi penting untuk sekaligus dapat menempeleng kita bersama bahwa pembiaran terhadap kejahatan-kejahatan di sekitar yang benar-benar nyata tidak bisa tidak diacuhkan.

Iklan
Diposkan pada Book

Target Baca 2018

Di akhir tahun 2017, saya terdorong untuk membuka kembali akun Goodreads saya yang tidak pernah digunakan lagi sejak tahun 2011, kalau tidak salah. Seperti baru masuk ke peradaban baru, ternyata Goodreads memfasilitasi banyak sekali feature yang menyenangkan. Salah satu yang paling berguna adalah fasilitas untuk memantau target bacaan selama setahun.

Ah saya menyesal sekali meninggalkan Goodreads begitu lama.

Ngilang ke mana aja?!

Saya tidak tahu mau pasang target bacaan berapa buku. Namun, beberapa kali saya sempat melihat banyak orang yang mampu menyelesaikan bahkan sampai 100 buku dalam setahun. Hmm. Menarik. Walhasil, saya langsung menetapkan target bacaan sebanyak 60 buku. Kebetulan sempat baca sebuah artikel yang menyebutkan bahwa seorang CEO rata-rata membaca 60 buku dalam setahun. Saya bukan CEO sih, tetapi tentu ini berarti motivasi yang cukup untuk menunjukkan bahwa di tengah jadwal yang padat, buku sebanyak itu masih sempat dibaca oleh 1 orang lho.

Saya yakin seumur hidup belum pernah menyelesaikan sampai sebegitu banyak buku dalam setahun. Tapi, apa salahnya kan mencoba? Saya menargetkan untuk membaca di setiap sela-sela waktu, perjalanan selama commuting menggunakan KRL, maupun sebelum tidur. Jadi, buku harus menemani ke mana pun, di mana pun.

Sampai saat saya menulis ini, Goodreads merekam bahwa saya sudah memenuhi 17% target (yeay). Berikut sampul 10 buku yang sudah saya baca selama 15 hari pertama di bulan Januari 2018.

Diposkan pada Book

Beban Kelam 1998 yang Tak Bisa Dilepas  

Koran Jakarta, 8 Januari 2018

Cover.jpg

Judul Laut Bercerita
Penulis Laela S. Chudori
Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan Pertama, Oktober 2017
Tebal x + 379 halaman; 13.5 cm x 20 cm
ISBN 978-602-424-694-5

Karya fiksi ini seorang mahasiswa dari Yogyakarta bernama Biru Laut. Orang tua Laut tak tahu bahwa anak mereka telah bersemayam di dasar perairan ditemani oleh karang dan ikan-ikan. Laut adalah salah satu dari 13 aktivis yang hilang pada masa Orde Baru. Ia sendiri diculik sejak 13 Maret 1998, kemudian dibunuh setelah hampir tiga bulan disekap sekaligus disiksa. Melalui buku ini, Laut menceritakan kisahnya.

Asmara Jati, adik perempuan Laut, menuturkan kesedihannya akan dampak buruk yang menggerogoti kehidupan Ibu dan Bapak setelah hilangnya anak sulung mereka. Orang tuanya terjebak dalam penyangkalan bahwa suatu hari Laut akan mengetuk pintu rumah dan bergabung di meja makan, sebagaimana ritual keluarga itu selalu diadakan di hari Minggu. Terlebih, tidak hanya orang tua Asmara, melainkan keluarga dan sahabat dari 12 orang hilang lainnya juga belum mampu menerima kenyataan pahit tersebut.

Novel ini menarasikan pertanyaan tentang hak asasi manusia yang belum terjawab dan tentang cinta yang tidak pernah luntur. Penulis menggunakan dua sudut pandang, yakni dari Laut dan Asmara. Laut menceritakan alur perjuangan dirinya dan aktivis lainnya yang tergabung dalam organisasi Winatra dan Wirasena. Kisah panjang meliputi pertemuan para anggota, aksi pemberontakan di Blangguan, sampai kematian Laut. Sedangkan sudut pandang Asmara menggambarkan kegelisahan tak berkesudahan mereka yang ditinggalkan oleh 13 aktivis. Pada suatu waktu, mereka yang ditinggalkan pun menyadari bahwa mereka tidak punya pilihan, selain sama-sama berjuang mencari jawaban.

Lazimnya perjalanan hidup manusia, penulis juga memasukkan unsur romantisme khas anak muda. Laut dan Anjani bertemu di Rumah Seyegan, markas baru Winatra dan Wirasena. Keduanya kemudian perlahan menjalin hubungan di tengah geliat pemberontakan. Lain lagi dengan Asmara dan Alex yang bertemu ketika Laut mengundang Alex berkunjung ke rumahnya. Dua sejoli ini seketika larut dalam hubungan yang dibangun secara cepat. Kisah percintaan ini menjadi pokok kedua yang ditampilkan sepanjang buku.

Dalam Laut Bercerita, penulis juga mengangkat sisi feminisme. Tiga tokoh utama wanita: Asmara, Anjani, dan Kinan digambarkan sebagai perempuan yang tangguh, berpendirian, dan mampu memutuskan untuk diri sendiri. Penceritaan dengan alur waktu yang berubah-ubah kembali digunakan oleh Leila seperti halnya dalam buku Pulang (2013).

Tahun 1998 adalah sebuah titik balik. Salah satu periode yang mengukir sejarah kelam di Indonesia. Desaparasidos –penghilangan orang secara paksa–dialami oleh 13 aktivis yang bahkan hingga hampir 20 tahun kemudian lokasi keberadaan tubuh mereka masih belum diketahui.

Mereka yang hilang adalah orang-orang yang pernah berjuang demi mewujudkan mimpi meraih Indonesia yang demokratis, lepas dari bayang-bayang kediktatoran. Namun, mereka pula lah orang-orang yang tidak pernah merasakan buah perjuangannya.

Penulis tidak sembarangan berkisah. Ia melakukan riset yang dimulai pada tahun 2013 agar faktualitas cerita benar-benar merefleksikan sejarah. Ide menulis buku ini sendiri datang setelah penulis meminta Nezar Patria menuliskan pengalamannya saat diculik pada Maret 1998 untuk kemudian dimuat dalam Majalah Tempo Edisi Khusus Soeharto pada Februari 2008.

Sebagai fiksi, penulis sukses mengontruksi jagat baru dari sejarah kelam yang terjadi tahun 1998. Maka, tak heran bahwa pada peluncuran pertama Laut Bercerita di Ubud Writers and Readers Festival 2017, Leila mengungkapkan bahwa buku ini sedang diterjemahkan ke Bahasa Inggris agar dapat dibaca oleh kalangan yang lebih luas. Peristiwa yang menggores penegakan hak asasi manusia di Indonesia ini bukan hanya menorehkan luka pada kerabat yang ditinggalkan, melainkan permasalahan bersama di berbagai belahan dunia bagi mereka yang menjunjung tinggi kemanusiaan.

 

 

Diposkan pada Film

7 Film Terfavorit Garapan Alfred Hitchcock

Akhir tahun 2012 merupakan kali pertama saya menonton film Alfred Hitchcock berjudul Rope (1948). Sutradara yang dikenal sebagai “The Master of Suspense” ini mungkin tidak begitu terdengar familiar di telinga remaja masa kini karena film terakhir yang ia sutradarai, Family Plot (1976) bahkan dirilis 10 tahun sebelum kelahiran generasi milenial. Kecuali, tentu, bagi mereka yang memang penggemar film bergenre suspense, misteri, dan thriller. Atau penikmat film jadoel seperti saya.

Alfred Hitchcock
Gambar 1. Alfred Hitchcock

Setelah lima tahun, melalui tulisan ini saya ingin memberi rekomendasi tujuh film Hitchcock terfavorit versi saya. Barangkali berguna untuk Mas/Jeng yang ingin menghabiskan waktu akhir pekan menuju 2018 di rumah. Meskipun baru menonton 23 dari total 52 film garapan sang sutradara, saya rasa daftar film di tulisan ini cukup merepresentasikan karya-karya terbaik Hitchcock.

7. Rebecca (1940)

Seorang duda kaya bernama Maxim de Winter yang tengah berlibur bertemu seorang perempuan muda di Monte Carlo. Mereka jatuh cinta, menikah, dan tinggal di Manderley, rumah sang duda. Di rumah itu, Mrs. de Winter yang baru merasa terintimidasi karena Mrs. Danvers, pelayan di Manderley, begitu mengagungkan Rebecca, istri pertama Maxim yang sudah meninggal. Terlebih, Mrs. Danvers mengatakan bahwa Mrs. de Winter yang baru tak akan pernah bisa menggantikan posisi Rebecca.

Rebecca
Gambar 2. Mrs. Danvers (kanan) sedang membujuk Mrs. de Winter (kiri) untuk melompat dari jendela

Film hitam-putih ini akan terasa membosankan bagi sebagian orang. Namun, saya pribadi menyukai cerita secara keseluruhan dan plot twist yang terjadi di tengah film. Nuansa hitam-putih ini juga membuat karakter Mrs. Danvers yang kaku dan dingin semakin kuat. Film ini bisa dinikmati oleh Mas/Jeng yang tahan untuk tidak tidur ketika menonton film-film sepi.

6. Rear by Window (1954)

L.B. “Jeff” Jefferies, pewarta foto yang sedang dalam masa pemulihan akibat kaki patah menghabiskan waktu dengan mengamati aktivitas para tetangga lewat jendela apartemennya. Di suatu malam, ia mendengar seorang perempuan berteriak “Jangan!” kemudian mendapati beberapa peristiwa ganjil terjadi selama beberapa hari setelahnya. Jeff membangun hipotesis dan berusaha memecahkan misteri yang terjadi di sekitar apartemennya itu.

Rear Window
Gambar 3. Jeff mengamati aktivitas para tetangga dari balik jendela apartemen

Bagian paling menarik bagi saya ketika menyadari bahwa film ini merupakan one room-set movie yang cuma berkutat di kamar Jeff, seperti halnya 12 Angry Men (1957) yang berkutat di ruang juri saja, tetapi tidak membosankan untuk ditonton. Sudut pandang Jeff sebagai satu-satunya sudut pandang yang disajikan mau tidak mau memaksa penonton untuk tenggelam dalam hipotesisnya.

5. Dial M for Murder (1954)

Tony Wendice, mantan petenis, mengungkapkan keinginannya untuk membunuh sang istri, Margot Wendice. Ia berhasrat menguasai seluruh harta Margot. Mengetahui bahwa Margot selingkuh dengan Mark Halliday membuat Tony semakin yakin dengan rencana pembunuhannya. Ia pun mengancam seorang kawan lama agar mau melakukan tindak kriminal tersebut. Sayangnya, upaya pembunuhan itu tidak berjalan sesuai rencana.

Dial M for Murder
Gambar 4. Sesaat sebelum Margot akan dibunuh oleh pembunuh suruhan sang suami

Hal paling menarik dalam film ini bagi saya adalah adegan-adegan ketika para pemeran, baik Tony, Mark, dan para penyelidik berusaha mengungkap bagaimana pembunuhan itu terjadi. Pembunuhan yang tidak sesuai rencana itu membuat suasana film menjadi seperti melihat orang sedang bermain kucing-kucingan dalam berargumentasi. Permainan menyembunyikan motif ini cukup greget untuk dinikmati.

4. Vertigo (1958)

Detektif John “Scottie” Ferguson memutuskan pensiun karena merasa bersalah tidak dapat menolong rekan kerjanya yang jatuh dari atap bangunan. Kejadian itu lalu membuat ia sering merasakan vertigo. Sahabat Scottie semasa kuliah, Gavin Elster, meminta pensiunan detektif itu untuk mengawasi istrinya yang sering bergelagat aneh. Scottie menolak, tetapi ia luluh juga. Akhirnya, ia mulai memata-matai Madeleine demi sahabatnya.

Vertigo
Gambar 5. (ki-ka) Scottie dan Madeleine

Bagi para kritikus film, Vertigo disebut sebagai masterpiece Hitchcock di samping Psycho (1960). Sinematografi, plot twist, tema yang diangkat, visual effect, dan aspek produksi lain yang digunakan memang apik. Namun, bagi saya pribadi masih ada 3 film Hitchcock lain yang lebih mengesankan. Yak film apa saja kah yang masuk dalam 3 besar tersebut? Cekidot!

3. Rope (1948)

Brandon Shaw dan Phillip Morgan bersama-sama membunuh seorang rekan sekelas, David Kentley, di apartemen mereka tepat sebelum acara makan malam yang mereka gelar di sana. Dua pembunuh tersebut menggunakan peti tempat menaruh mayat David sebagai pengganti meja tempat menaruh makanan. Para tamu sesungguhnya bingung karena David tidak hadir, tetapi mereka tidak menaruh banyak perhatian, kecuali profesor Rupert Cadell. Kecurigaan Prof. Rupert bangkit karena pertanyaan-pertanyaan mengenai ketidakhadiran David dijawab secara tidak konsisten oleh Phillip.

Rope
Gambar 6. (ki-ka) Prof. Rupert Candell, Brandon Shaw, dan Phillip Morgan

Rope merupakan film berwarna pertama besutan Hitchcock. Seperti halnya Rear Window, film ini juga merupakan one room-set movie. Hal yang lebih menarik adalah Hitchcock berhasil membuat Rope seolah diambil dalam satu kali syuting (single continuous shot). Berdasarkan beberapa referensi yang saya baca, film ini memang dilakukan dalam satu kali syuting. Kepiawaian Hitchcock dalam film ini tentu membuktikan kapasitasnya yang mumpuni dalam mengarahkan para pemeran, kameramen, dan seluruh kru produksi selama proses syuting, which is a director’s main jobdesc. Tidak salah, permulaan yang baik bagi saya dalam mengenal karya-karya Hitchcock.

2. The Birds (1963)

Melanie Daniels bertemu Mitch Benner yang sedang mencari lovebirds (salah satu spesies burung) di toko burung di San Fransisco. Melanie kemudian memutuskan untuk diam-diam mengikuti Mitch hingga ke Bodega Bay, tempat laki-laki itu biasa menghabiskan akhir pekan. Tak disangka, terjadi peristiwa ganjil beruntun berupa serangan burung camar dan gagak kepada penduduk Bodega Bay, termasuk kepada Melanie yang sedang singgah sementara.

The Birds
Gambar 7. Melanie dan seorang murid tengah melarikan diri ketika diserang sekawanan gagak

Film Hitchcock lekat dengan suspense dan alur cerita yang tidak monoton. Namun, ini pengecualian bagi The Birds. Film ini berjalan tanpa alur cerita yang berarti. Namun, menonton film bergenre horror-thriller yang sebagian besar hanya diisi adegan penyerangan sekawanan massal burung-burung ini cukup membuat bergidik. Ditambah lagi dengan mengetahui bahwa adegan-adegan tersebut sebagian besar menggunakan burung asli.

Memorable scene dalam The Birds yakni penyerangan Melanie Daniels oleh sekawanan gagak di loteng dilakukan selama satu minggu menggunakan burung gagak asli demi memperoleh satu menit adegan yang sempurna (ref: telegraph.co.uk). Perlakuan kejam Hitchcock terhadap sang aktris ini konon disebabkan konflik personal, membuat publik menganggap bahwa Hitchcock juga memiliki kepribadian gelap tersendiri.

1. Psycho (1960)

Marion Crane, seorang pegawai real estate, mencuri uang milik klien dan kabur ke tempat sang pacar, Sam Loomis, di luar kota. Dalam perjalanan, Marion memutuskan menginap semalam di sebuah motel di pinggir jalan bernama Bates Motel yang dijaga oleh Norman Bates. Di motel tersebut, Marion dibunuh.  

Psycho1

Psycho2
Gambar 8 (atas) & 9 (bawah). Memorable scene film Psycho: pembunuhan di kamar mandi

Jika Mas/Jeng menyukai serial TV Bates Motel yang sudah ditayangkan sejak tahun 2013, maka nama Norman Bates tidak mungkin terdengar asing. Norman Bates, pengelola Bates Motel, merupakan tokoh utama dalam film Psycho. Serial TV itu sendiri merupakan prekuel dari kehidupan Norman Bates dan sang ibunda yang diangkat dalam film. Bukan disutradarai oleh Hitchcock, tentu, sebab beliau sudah meninggal ketika serial TV ini dibuat.

Plot twist, akting para pemeran, adegan-adegan horror-thrilling disertai musik psychedelic, semua top! Apik secara keseluruhan. Hal ini menjadikan Psycho layak dikatakan sebagai masterpiece Hitchcock. Film ini mendapat sambutan meriah dan menjadi pelopor film-film thriller psikologi lainnya. Meskipun menggunakan format hitam-putih (untuk menghemat biaya produksi kala itu), film ini sama sekali tidak membosankan untuk ditonton. Menurut saya, film hitam-putih yang dirilis tahun 1960 ini bahkan masih lebih baik ketimbang sekuel, remake, dan serial TV berwarna yang menceritakan kehidupan Norman Bates.

Kekuatan Psycho yang paling utama adalah cerita. Oleh karena itu, bagi Mas/Jeng yang ingin menonton Psycho, saya sarankan agar tidak membaca sinopsis film secara keseluruhan sebelum menonton. Nikmati lah hingga menit-menit terakhir. Terbaik!

***

Boleh dibilang, Alfred Hitchcock merupakan sutradara yang karyanya paling banyak saya nikmati, bahkan masih tergiur untuk menyelesaikan sisa film-filmnya yang belum saya tonton. Terlebih, keterlibatan aktor James Stewart sebagai pemeran utama dalam 4 film Hitchcock (3 di antaranya masuk daftar di atas, btw) membuat saya menetapkan bahwa ia adalah aktor jadoel favorit saya 😀

Pesan saya bahwa menonton film jadoel perlu disertai dengan pikiran terbuka karena kualitas sinematografi kala itu sudah pasti tidak sebaik saat ini. Bahkan The Birds (1963) yang mendapat nominasi Academy Award kategori Best Special Visual Effects memiliki kualitas tidak jauh lebih baik dari sinetron Angling Dharma. Jadi, ya, jangan pernah coba membandingkan kualitas sinematografi film jadoel dan film sekarang karena tidak mungkin sepadan.

Terakhir, selamat menonton!

PS: Saya akan memperbarui daftar ini jika saya rasa ada film Hitchcock lain yang belum saya tonton yang ternyata lebih oke dari daftar di atas.

Diposkan pada Journal

Alternatif Kegiatan Malam Tahun Baru yang Anti-Mainstream

Halo, Mas/Jeng!

Berhubung beberapa hari belakangan ini saya merasa sangat penat, nulis receh di blog agaknya bisa jadi salah satu alternatif melepas stres. Sekalian, baru ngeh kalau nggak kerasa tahun baru sudah di depan kalender.

Pict.jpg
Source: media.indiatimes.in

Malam tahun baru identik dengan party dan konser musik. Tinggal pilih mau desak-desakan menikmati panggung musik Ancol, pergi makan-makan cantik di mall, atau ngesot ke warung kopi terdekat, kesemuanya pasti tak luput dari euforia selebrasi. Wabil khusus teruntuk humankind zaman now, perayaan tahun baru musti nampak meriah! Meskipun sekedar duduk-duduk di pinggir alun-alun makan kacang rebus, asalkan cekrek-upload foto kembang api dan posting IG stories, maka semua kriteria menikmati malam tahun baru sudah bisa dicentang.

Bagi Mas/Jeng yang bukan pengikut arus atau sudah bosan dengan ritual tahunan yang itu-itu saja, mencoba hal-hal berikut mungkin bisa dilakukan untuk menemani malam tahun baru.

  1. Mengerjakan tesis

Opsi ini kudu musti wajib berada di dalam top list, peringkat 1 pula. Masa, sudah kebelet LULUS tahun depan tapi masih leha-leha? Cih… sleding, nih! Percayalah di masa depan, pengalaman mengerjakan tesis ini bakal menjadi cerita mengharukan sekaligus memotivasi untuk anak cucu Mas/Jeng. Mengingatkan betapa gigih leluhur mereka dalam meraih cita-cita menimba ilmu, meskipun perlu diingat bahwa IPK bagus belum tentu menjamin sukses, apalagi yang jelek.

  1. Ketiduran challenge

“Paan sih tahun baru biasa aja lah. Gw mah tidur doang di rumah.”

Ucapan ini pasti sering dilontarkan teman-teman Mas/Jeng yang mengaku anti-mainstream. Percayalah sesungguhnya mereka telah menjadi anti-mainstream yang mainstream karena semua golongan anti-mainstream akan menggunakan alasan tersebut untuk menyatakan ke-anti-mainstream-an mereka. Nah, bagaimana jika muncul golongan anti-mainstream terbaru, yakni mereka yang menghabiskan malam tahun baru bukan dengan (sengaja) tidur, melainkan ketiduran? Saya yakin ketiduran adalah hal yang sulit dilakukan kalau Mas/Jeng sudah niatkan dalam hati. Oleh karena itu, patut disebut challenge.

“Bro, tahun baru mau ngapain?”; “Wah kayaknya gw mau ketiduran aja nih.”;

Coba bayangkan bagaimana ekspresi kawan Mas/Jeng mendengar jawaban tersebut. Ekspresi yang anti-mainstream sekali, bukan? Jangan lupa ajak temanmu ikut challenge ini.

  1. Menertibkan komplek

Mas/Jeng bisa produktif juga lho di malam tahun baru. Meskipun hanya menghabiskan malam di rumah, salah satu kegiatan yang bisa dilakukan adalah dengan berkeliling komplek menyetop mereka yang gemar melempar petasan dan meniup-niup terompet di jalan. Sebagai golongan anti-mainstream yang menjunjung tinggi solidaritas sesama kaum, hal itu sangat bermanfaat demi meredam bising yang merusak suasana kondusif untuk tidur.

Kegiatan ini mungkin beresiko tinggi karena alih-alih menertibkan komplek, Mas/Jeng malah bisa dituduh melanggar HAM para penikmat malam tahun baru. Maka, saran saya, Mas/Jeng bisa siapkan secarik kertas berisi nasehat atau ceramah malam tahun baru untuk disampaikan menggunakan toa masjid. Strategi ini tentu lebih aman bin berfaedah.

  1. Membantu ketertiban lalu lintas

Barang tentu malam tahun baru identik dengan macet! Padahal kita sih pengennya anti macet-macet club. Di satu sisi, pernah dengar istilah jadilah bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah kan? Jadi, alangkah mulia jikalau Mas/Jeng bisa turut menjadi solusi dari kemacetan kota di malam tahun baru dengan tidak ikut-ikutan menciptakan kemacetan dengan menjadi pak ogah dadakan. Apalagi pengamen dadakan yang pake dalih lagi ngedanus buat acara kampus. Memang sih malam tahun baru tuh momen yang pasti menjanjikan kantong, berkali lipat dari malam-malam biasa. Tapi, yaa serius lah, kasih kesempatan mereka yang benar-benar butuh arena.

Masih punya ide-ide anti-mainstream lain untuk menikmati malam tahun baru?

Buat tulisan sendiri.

 

Diposkan pada Book

Dawuk, Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu

Dawuk

Judul                     : Dawuk, Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu

Penulis                 : Mahfud Ikhwan

Genre                   : Fiksi

Kategori               : Novel/Sastra

Penerbit              : CV. Marjin Kiri

ISBN                      : 978-979-1260-69-5

Bahasa                  : Indonesia

Tebal                     : 181 halaman

Sampul                 : Cetakan pertama (Juni 2017)

Rating                   : 4/5

Tentu penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 kategori Prosa Terbaik yang diberikan tanggal 25 Oktober 2017 lalu kepada Mahfud Ikhwan atas novel Dawuk melayangkan perhatian lebih para pembaca kepada buku ini, tak terkecuali saya.

Adalah seorang Warto Kemplung, pembual desa yang gemar mencari perhatian warga, yang menceritakan kepada Mustofa Abdul Wahab, seorang wartawan koran yang tengah mencari berita, serta para pengunjung warung kopi yang siang itu mencuri dengar, tentang perseteruan tragis antara Mat Dawuk dan penduduk Rumbuk Randu. Warto bersikeras bahwa kejadian yang ia ceritakan benar-benar terjadi karena ia sendiri mengaku mengenal Mat Dawuk, meskipun tidak terlalu dekat. Namun, khas penceritaan dari mulut seorang pembual, tidak ada satu pun pendengarnya yang percaya, kecuali sang wartawan yang seolah yakin dan masih berusaha menduga-duga bagaimana peristiwa itu terjadi di dunia nyata.

Mat Dawuk, sebagaimana diceritakan oleh Warto Kemplung, terlahir dengan wajah amat buruk rupa dan segera dibenci oleh ayahnya karena dianggap sebagai pembunuh sang istri yang meninggal selepas melahirkannya. Anak itu juga memiliki kehidupan sosial yang nihil karena tidak satu orang pun yang mau berkawan dengannya. Terlebih lagi, para orang tua gemar menjadikannya guyonan untuk menakut-nakuti anak-anak. Akibatnya, Mat Dawuk memutuskan pergi merantau ke Malaysia. Di sana, ia menjadi preman yang tak segan menerima order untuk membunuh orang.

Takdir baik rupanya sempat berpihak kepada Mat Dawuk ketika ia menolong Innayati, kembang desa Rumbuk Randu yang juga merantau ke Malaysia. Kala itu Innayati sedang melarikan diri dari kejaran suaminya yang entah ke berapa. Ya, oleh Warto, Innayati digambarkan sebagai perempuan yang cantiknya aduhai tetapi kegatelan. Mereka akhirnya menikah dan memutuskan kembali ke Rumbuk Randu. Sialnya, penduduk Rumbuk Randu enggan menerima Mat Dawuk (lagi). Dari titik ini lah konflik sosial yang kian kompleks serta rahasia-rahasia di balik kebencian penduduk terhadap Mat Dawuk satu per satu dikuak.

Mahfud menyajikan kisah Mat Dawuk berdasarkan sudut pandang Warto yang dilengkapi dengan bumbu-bumbu penceritaan khas pembual. Hal ini memberi nilai lebih kepada Mahfud yang berupaya turut menggaet pembaca untuk larut pada kisah Mat Dawuk. Dawuk dituturkan begitu mengalir dan atas bantuan bumbu-bumbu Warto, menjadikan buku ini nyaman untuk terus dibaca. Meskipun, ada beberapa guyonan Warto di luar konteks cerita yang ia tuturkan, terlalu panjang, sehingga terasa membosankan pada bagian tertentu (tetapi saya rasa ini lebih kepada soal selera pembaca).

Soal alur cerita, jujur saya baru merasakan pergolakan emosional setelah menuntaskan hampir setengah isi buku, yang berarti setengah isi buku awal terkesan sebagai narasi yang biasa-biasa saja. Namun, setelahnya emosi ini justru digenjot naik terus hingga akhir cerita, membuat saya sampai berani bilang “Mantap, Bang Mahfud!”

Ditambah, perselisihan antara Mat Dawuk dan penduduk Rumbuk Randu yang seperti gencatan senjata itu tidak hanya berkutat seputar wajah ngeri Mat Dawuk (tidak dapat dinafikan, bagi saya ini merepresentasikan masih kuatnya kecenderungan manusia dalam mengedepankan penilaian fisik terhadap seseorang), tetapi juga mengangkat permasalahan lain seperti isu Tenaga Kerja Indonesia (TKI), persekongkolan petani dan aparat, tradisi ‘serong’ di kehidupan rural, tindak provokasi dan main hakim sendiri (yaa satu ini memang sudah mengakar di masyarakat loh guys), bahkan dendam yang diwariskan turun temurun. Perbincangan yang sangat kaya! Dan hal inilah alasan paling utama yang membuat saya menyukai buku ini 🙂

 

Diposkan pada Book

Lelaki Harimau

Lelaki Harimau

Judul                     : Lelaki Harimau

Penulis                 : Eka Kurniawan

Genre                   : Fiksi

Kategori               : Novel/Sastra

Penerbit               : PT. Gramedia Pustaka Utama

ISBN                     : 978-602-03-2465-4

Bahasa                 : Indonesia

Tebal                    : 190 halaman

Sampul                : Cetakan ketujuh (Oktober 2016)

Rating                  : 3.5/5

Lelaki Harimau diawali oleh sepotong adegan di mana Kyai Jahro tengah memberi pakan ikan-ikan di kolam sebelum kemudian dijemput oleh Mayor Sadrah yang terengah-engah memintanya agar segera memulai proses pengurusan jenazah Anwar Sadat yang dibunuh oleh Margio. Si pembunuh adalah seorang lelaki berumur 20 tahun yang tak lama sebelumnya kedapatan telah menggigit putus urat leher si korban. Warga yang mengenal, baik Anwar Sadat maupun Margio, tidak memiliki bayangan apapun mengenai motif pembunuhan tersebut dikarenakan hubungan antara keduanya yang nampak baik-baik saja. Hingga dalam suatu proses investigasi setelahnya, motif pembunuhan baru diketahui setelah 190 halaman ini habis Anda baca. Penelusuran motif diceritakan berkutat pada kehidupan keluarga Margio dengan warga kampung lainnya, termasuk Anwar Sadat.

Eka Kurniawan sukses menggaet ketertarikan pembaca sejak halaman-halaman awal buku di mana ia langsung memasuki inti cerita, yakni seorang anak muda yang membunuh korban bagai harimau melenyapkan ruh mangsa. Selanjutnya, alur maju-mundur yang digarap tertata apik sukses menjadikan buku ini dapat saya selesaikan dalam satu waktu dengan diselingi kudapan. Kurang lebih lima jam.

Buku ini mengangkat permasalahan yang saya rasa umum terjadi dalam kehidupan masyarakat, yakni seputar kekerasan dalam rumah tangga, percintaan remaja, perselingkungan, ekonomi, dan printilan topik lain. Hanya saja terdapat penambahan nuansa mistis berupa peliharaan jin harimau putih oleh kakek Margio yang memperkaya alur cerita.

Terlepas dari alur cerita yang smooth, penggambaran kondisi-kondisi dalam buku ini digambarkan dengan sangat detail, bahkan sejak halaman pertama. Semisal area perkebunan Kyai Jahro, yang dideskripsikan hingga berbaris-baris kalimat, membuat pembaca mungkin merasakan kebosanan seperti saat saya memaksa diri menuntaskan penjelasan tersebut.

Secara garis besar, saya rasa tidak ada isu baru yang diangkat dalam buku ini sehingga menjadi menonjol dibandingkan karya sastra lainnya. Di samping itu, potongan-potongan adegan pun tidak terlalu sulit ditebak, pada akhirnya. Namun, saya rasa kekuatan terbesar penulis dalam buku ini terletak pada kemampuan (teknik) mengolah cerita dalam alur maju-mundur sehingga terlihat tetap terstruktur, tidak rumit, tetapi sekaligus menarik untuk terus diikuti. Apalagi klimaks di akhir cerita yang memaksa pembaca untuk, mau tidak mau, mendapatkan jawaban atas motif pembunuhan Anwar Sadat oleh Margio. Ya, membaca buku ini memang harus hingga tuntas!

Selamat beribadah bagi yang berniat membaca Lelaki Harimau 🙂