Diposkan pada Film, Jurnal

Pada Jeda antara Dialog


 

Annisa: Arsitek tuh suka berasa Tuhan. Berasa yang paling tau rancangan terbaik buat manusia. Yang paling tau dan yang terbaik ya… yang ngejalanin sendiri.

Cina: Jenius! Emang arsitek tuh suka berasa Tuhan. Makanya suka nggak kepikiran kalau ada rancangan yang lebih baik.

Bait lagu mulai dimainkan, menandakan sepenggal dialog Annisa dan Cina di perpustakaan itu telah selesai. Aku meraih tangan kiri perempuan di sebelahku sembari berbisik, “Mungkin karena Cina setuju, sekarang Annisa tersenyum-senyum memandangi gambar ini di telunjuknya (Annisa).” Lalu aku menggerakkan telunjukku yang menempel pada telapak tangannya dan mengilustrasikan dengan gerakan berupa dua titik serta satu tarikan garis lengkung ke bawah: seseorang sedang tersenyum.

Lagu yang sama masih diputar, tetapi adegan sudah berganti.

“Sekarang, Annisa dan Cina sedang mendesain detail maket bersama,” bisikku lagi, “sambil curi-curi pandang.”

Perempuan di sebelahku itu tertawa lirih.

Ia bernama Syifa.

Siang itu, kami menonton film Cin(T)a bersama.

 

PhotoGrid_1520508505547[1].jpg
Dokumentasi pribadi

Minggu, 11 Februari 2018, sekitar pukul 12.30, lima orang tunanetra yang diantar oleh seorang sopir Grab telah sampai di parkiran Paviliun 28. Pintu Paviliun 28 dibukakan oleh seseorang dari dalam. Mereka berlima masuk saling berpegangan, tetapi tak berapa lama terpisah karena beberapa orang mulai menawarkan tempat duduk di sisi ruangan yang berbeda. Aku meraih tangan dua orang di antara mereka yang kemudian ku ketahui merupakan sepasang suami-istri. Kepada mereka, aku melafalkan namaku. Mereka balas menjawab: “Syifa” dan “Jejen”.

Mbak Syifa dan Mas Jejen aku pandu untuk menempati bangku panjang di sisi kanan ruangan. Kami duduk berhadapan. Kemudian, mereka disuguhi masing-masing sepiring nasi goreng. Aku mengamati gerak-gerik mereka sejak baru masuk, duduk, selesai melahap makan siang, sampai remah kerupuk terakhir. Aku sendiri tidak mengunyah apa-apa. Tidak ada sepiring nasi goreng di hadapanku. Apalagi kerupuk. Yang ada cuma rasa syukur.

Hari itu, aku terdaftar sebagai relawan Blind Date Cinema, sebuah program nonton bareng film bersama tunanetra yang rutin diadakan sebulan sekali di Paviliun 28. Program ini menjadi unik karena relawan nonton bukan sekedar nonton, tetapi harus membantu teman-teman tunanetra agar bisa turut menikmati cerita dengan memperoleh gambaran tentang film yang ditonton. Relawan ditantang untuk memindahkan adegan yang ditampilkan di layar bioskop ke dalam benak teman-teman tunanetra. Di situlah, pada jeda antara dialog, para relawan berbisik.

 

Blind Date Cinema.jpg
Dokumentasi dari Tim Paviliun 28

 

Film yang diputar siang itu adalah Cin(T)a. Mungkin film ini dipilih karena Februari erat dengan nuansa cinta. Cin(T)a menceritakan dua mahasiswa arsitektur bernama Annisa dan Cina yang saling jatuh cinta, tetapi kemudian menyadari bahwa perbedaan keyakinan harus menjadi penghalang kelanjutan kisah cinta mereka. Kesempatan Blind Date Cinema kali ini menguntungkan bagiku. Aku bisa leluasa berbisik kepada Mbak Syifa karena film itu mengambil lokasi syuting di gedung arsitektur ITB, tepat di sebelah gedung jurusanku. Film itu bahkan dibuat ketika aku masih kuliah di sana. Singkat kata, aku senang karena bisa menjadi orang yang banyak omong. Supaya Mbak Syifa bisa memvisualisasikan film Cin(T)a dengan lengkap dalam benaknya.

Usai pemutaran film, kami masih sejenak melanjutkan obrolan hingga menjelang pukul empat sore, Mbak Syifa dan Mas Jejen pulang, disusul teman-teman tunanetra dan relawan lainnya, termasuk aku. Dalam perjalanan pulang, mau tidak mau aku berkontemplasi. Hari itu, aku mendapat kesempatan langsung berinteraksi lebih dekat dengan teman-teman tunanetra. Selama ini aku penasaran bagaimana mereka menjalani kehidupan. Tampilan apa yang muncul dalam pandangan mereka: gelap pekat atau gradasi hitam-putih yang bergerak-gerak? Apakah mereka tidak bisa mengenal bentuk sejak lahir? Bagaimana cara mereka memesan Grab? Apakah mereka bekerja? Dan rentetan pertanyaan lainnya.

 

DSC_8860-03
Dokumentasi pribadi

 

Berinteraksi dengan teman-teman tunanetra siang itu membuat aku menarik kesimpulan sementara bahwa sesungguhnya tidak ada perbedaan berarti antara kehidupanku dengan kehidupan mereka.

Mereka kuliah, bekerja, dan beberapa main instagram juga.

Jelas kami menjalani kehidupan yang sama. Hanya sedikit berbeda cara.

Dan perbedaanlah yang membuat kita belajar, bukan?

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s