Diposkan pada Buku

Beban Kelam 1998 yang Tak Bisa Dilepas  


Koran Jakarta, 8 Januari 2018

Cover.jpg

Judul Laut Bercerita
Penulis Laela S. Chudori
Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan Pertama, Oktober 2017
Tebal x + 379 halaman; 13.5 cm x 20 cm
ISBN 978-602-424-694-5

Karya fiksi ini seorang mahasiswa dari Yogyakarta bernama Biru Laut. Orang tua Laut tak tahu bahwa anak mereka telah bersemayam di dasar perairan ditemani oleh karang dan ikan-ikan. Laut adalah salah satu dari 13 aktivis yang hilang pada masa Orde Baru. Ia sendiri diculik sejak 13 Maret 1998, kemudian dibunuh setelah hampir tiga bulan disekap sekaligus disiksa. Melalui buku ini, Laut menceritakan kisahnya.

Asmara Jati, adik perempuan Laut, menuturkan kesedihannya akan dampak buruk yang menggerogoti kehidupan Ibu dan Bapak setelah hilangnya anak sulung mereka. Orang tuanya terjebak dalam penyangkalan bahwa suatu hari Laut akan mengetuk pintu rumah dan bergabung di meja makan, sebagaimana ritual keluarga itu selalu diadakan di hari Minggu. Terlebih, tidak hanya orang tua Asmara, melainkan keluarga dan sahabat dari 12 orang hilang lainnya juga belum mampu menerima kenyataan pahit tersebut.

Novel ini menarasikan pertanyaan tentang hak asasi manusia yang belum terjawab dan tentang cinta yang tidak pernah luntur. Penulis menggunakan dua sudut pandang, yakni dari Laut dan Asmara. Laut menceritakan alur perjuangan dirinya dan aktivis lainnya yang tergabung dalam organisasi Winatra dan Wirasena. Kisah panjang meliputi pertemuan para anggota, aksi pemberontakan di Blangguan, sampai kematian Laut. Sedangkan sudut pandang Asmara menggambarkan kegelisahan tak berkesudahan mereka yang ditinggalkan oleh 13 aktivis. Pada suatu waktu, mereka yang ditinggalkan pun menyadari bahwa mereka tidak punya pilihan, selain sama-sama berjuang mencari jawaban.

Lazimnya perjalanan hidup manusia, penulis juga memasukkan unsur romantisme khas anak muda. Laut dan Anjani bertemu di Rumah Seyegan, markas baru Winatra dan Wirasena. Keduanya kemudian perlahan menjalin hubungan di tengah geliat pemberontakan. Lain lagi dengan Asmara dan Alex yang bertemu ketika Laut mengundang Alex berkunjung ke rumahnya. Dua sejoli ini seketika larut dalam hubungan yang dibangun secara cepat. Kisah percintaan ini menjadi pokok kedua yang ditampilkan sepanjang buku.

Dalam Laut Bercerita, penulis juga mengangkat sisi feminisme. Tiga tokoh utama wanita: Asmara, Anjani, dan Kinan digambarkan sebagai perempuan yang tangguh, berpendirian, dan mampu memutuskan untuk diri sendiri. Penceritaan dengan alur waktu yang berubah-ubah kembali digunakan oleh Leila seperti halnya dalam buku Pulang (2013).

Tahun 1998 adalah sebuah titik balik. Salah satu periode yang mengukir sejarah kelam di Indonesia. Desaparasidos –penghilangan orang secara paksa–dialami oleh 13 aktivis yang bahkan hingga hampir 20 tahun kemudian lokasi keberadaan tubuh mereka masih belum diketahui.

Mereka yang hilang adalah orang-orang yang pernah berjuang demi mewujudkan mimpi meraih Indonesia yang demokratis, lepas dari bayang-bayang kediktatoran. Namun, mereka pula lah orang-orang yang tidak pernah merasakan buah perjuangannya.

Penulis tidak sembarangan berkisah. Ia melakukan riset yang dimulai pada tahun 2013 agar faktualitas cerita benar-benar merefleksikan sejarah. Ide menulis buku ini sendiri datang setelah penulis meminta Nezar Patria menuliskan pengalamannya saat diculik pada Maret 1998 untuk kemudian dimuat dalam Majalah Tempo Edisi Khusus Soeharto pada Februari 2008.

Sebagai fiksi, penulis sukses mengontruksi jagat baru dari sejarah kelam yang terjadi tahun 1998. Maka, tak heran bahwa pada peluncuran pertama Laut Bercerita di Ubud Writers and Readers Festival 2017, Leila mengungkapkan bahwa buku ini sedang diterjemahkan ke Bahasa Inggris agar dapat dibaca oleh kalangan yang lebih luas. Peristiwa yang menggores penegakan hak asasi manusia di Indonesia ini bukan hanya menorehkan luka pada kerabat yang ditinggalkan, melainkan permasalahan bersama di berbagai belahan dunia bagi mereka yang menjunjung tinggi kemanusiaan.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s