Diposkan pada Film

7 Film Terfavorit Garapan Alfred Hitchcock


Akhir tahun 2012 merupakan kali pertama saya menonton film Alfred Hitchcock berjudul Rope (1948). Sutradara yang dikenal sebagai “The Master of Suspense” ini mungkin tidak begitu terdengar familiar di telinga remaja masa kini karena film terakhir yang ia sutradarai, Family Plot (1976) bahkan dirilis 10 tahun sebelum kelahiran generasi milenial. Kecuali, tentu, bagi mereka yang memang penggemar film bergenre suspense, misteri, dan thriller. Atau penikmat film jadoel seperti saya.

Alfred Hitchcock
Gambar 1. Alfred Hitchcock

Setelah lima tahun, melalui tulisan ini saya ingin memberi rekomendasi tujuh film Hitchcock terfavorit versi saya. Barangkali berguna untuk Mas/Jeng yang ingin menghabiskan waktu akhir pekan menuju 2018 di rumah. Meskipun baru menonton 23 dari total 52 film garapan sang sutradara, saya rasa daftar film di tulisan ini cukup merepresentasikan karya-karya terbaik Hitchcock.

7. Rebecca (1940)

Seorang duda kaya bernama Maxim de Winter yang tengah berlibur bertemu seorang perempuan muda di Monte Carlo. Mereka jatuh cinta, menikah, dan tinggal di Manderley, rumah sang duda. Di rumah itu, Mrs. de Winter yang baru merasa terintimidasi karena Mrs. Danvers, pelayan di Manderley, begitu mengagungkan Rebecca, istri pertama Maxim yang sudah meninggal. Terlebih, Mrs. Danvers mengatakan bahwa Mrs. de Winter yang baru tak akan pernah bisa menggantikan posisi Rebecca.

Rebecca
Gambar 2. Mrs. Danvers (kanan) sedang membujuk Mrs. de Winter (kiri) untuk melompat dari jendela

Film hitam-putih ini akan terasa membosankan bagi sebagian orang. Namun, saya pribadi menyukai cerita secara keseluruhan dan plot twist yang terjadi di tengah film. Nuansa hitam-putih ini juga membuat karakter Mrs. Danvers yang kaku dan dingin semakin kuat. Film ini bisa dinikmati oleh Mas/Jeng yang tahan untuk tidak tidur ketika menonton film-film sepi.

6. Rear by Window (1954)

L.B. “Jeff” Jefferies, pewarta foto yang sedang dalam masa pemulihan akibat kaki patah menghabiskan waktu dengan mengamati aktivitas para tetangga lewat jendela apartemennya. Di suatu malam, ia mendengar seorang perempuan berteriak “Jangan!” kemudian mendapati beberapa peristiwa ganjil terjadi selama beberapa hari setelahnya. Jeff membangun hipotesis dan berusaha memecahkan misteri yang terjadi di sekitar apartemennya itu.

Rear Window
Gambar 3. Jeff mengamati aktivitas para tetangga dari balik jendela apartemen

Bagian paling menarik bagi saya ketika menyadari bahwa film ini merupakan one room-set movie yang cuma berkutat di kamar Jeff, seperti halnya 12 Angry Men (1957) yang berkutat di ruang juri saja, tetapi tidak membosankan untuk ditonton. Sudut pandang Jeff sebagai satu-satunya sudut pandang yang disajikan mau tidak mau memaksa penonton untuk tenggelam dalam hipotesisnya.

5. Dial M for Murder (1954)

Tony Wendice, mantan petenis, mengungkapkan keinginannya untuk membunuh sang istri, Margot Wendice. Ia berhasrat menguasai seluruh harta Margot. Mengetahui bahwa Margot selingkuh dengan Mark Halliday membuat Tony semakin yakin dengan rencana pembunuhannya. Ia pun mengancam seorang kawan lama agar mau melakukan tindak kriminal tersebut. Sayangnya, upaya pembunuhan itu tidak berjalan sesuai rencana.

Dial M for Murder
Gambar 4. Sesaat sebelum Margot akan dibunuh oleh pembunuh suruhan sang suami

Hal paling menarik dalam film ini bagi saya adalah adegan-adegan ketika para pemeran, baik Tony, Mark, dan para penyelidik berusaha mengungkap bagaimana pembunuhan itu terjadi. Pembunuhan yang tidak sesuai rencana itu membuat suasana film menjadi seperti melihat orang sedang bermain kucing-kucingan dalam berargumentasi. Permainan menyembunyikan motif ini cukup greget untuk dinikmati.

4. Vertigo (1958)

Detektif John “Scottie” Ferguson memutuskan pensiun karena merasa bersalah tidak dapat menolong rekan kerjanya yang jatuh dari atap bangunan. Kejadian itu lalu membuat ia sering merasakan vertigo. Sahabat Scottie semasa kuliah, Gavin Elster, meminta pensiunan detektif itu untuk mengawasi istrinya yang sering bergelagat aneh. Scottie menolak, tetapi ia luluh juga. Akhirnya, ia mulai memata-matai Madeleine demi sahabatnya.

Vertigo
Gambar 5. (ki-ka) Scottie dan Madeleine

Bagi para kritikus film, Vertigo disebut sebagai masterpiece Hitchcock di samping Psycho (1960). Sinematografi, plot twist, tema yang diangkat, visual effect, dan aspek produksi lain yang digunakan memang apik. Namun, bagi saya pribadi masih ada 3 film Hitchcock lain yang lebih mengesankan. Yak film apa saja kah yang masuk dalam 3 besar tersebut? Cekidot!

3. Rope (1948)

Brandon Shaw dan Phillip Morgan bersama-sama membunuh seorang rekan sekelas, David Kentley, di apartemen mereka tepat sebelum acara makan malam yang mereka gelar di sana. Dua pembunuh tersebut menggunakan peti tempat menaruh mayat David sebagai pengganti meja tempat menaruh makanan. Para tamu sesungguhnya bingung karena David tidak hadir, tetapi mereka tidak menaruh banyak perhatian, kecuali profesor Rupert Cadell. Kecurigaan Prof. Rupert bangkit karena pertanyaan-pertanyaan mengenai ketidakhadiran David dijawab secara tidak konsisten oleh Phillip.

Rope
Gambar 6. (ki-ka) Prof. Rupert Candell, Brandon Shaw, dan Phillip Morgan

Rope merupakan film berwarna pertama besutan Hitchcock. Seperti halnya Rear Window, film ini juga merupakan one room-set movie. Hal yang lebih menarik adalah Hitchcock berhasil membuat Rope seolah diambil dalam satu kali syuting (single continuous shot). Berdasarkan beberapa referensi yang saya baca, film ini memang dilakukan dalam satu kali syuting. Kepiawaian Hitchcock dalam film ini tentu membuktikan kapasitasnya yang mumpuni dalam mengarahkan para pemeran, kameramen, dan seluruh kru produksi selama proses syuting, which is a director’s main jobdesc. Tidak salah, permulaan yang baik bagi saya dalam mengenal karya-karya Hitchcock.

2. The Birds (1963)

Melanie Daniels bertemu Mitch Benner yang sedang mencari lovebirds (salah satu spesies burung) di toko burung di San Fransisco. Melanie kemudian memutuskan untuk diam-diam mengikuti Mitch hingga ke Bodega Bay, tempat laki-laki itu biasa menghabiskan akhir pekan. Tak disangka, terjadi peristiwa ganjil beruntun berupa serangan burung camar dan gagak kepada penduduk Bodega Bay, termasuk kepada Melanie yang sedang singgah sementara.

The Birds
Gambar 7. Melanie dan seorang murid tengah melarikan diri ketika diserang sekawanan gagak

Film Hitchcock lekat dengan suspense dan alur cerita yang tidak monoton. Namun, ini pengecualian bagi The Birds. Film ini berjalan tanpa alur cerita yang berarti. Namun, menonton film bergenre horror-thriller yang sebagian besar hanya diisi adegan penyerangan sekawanan massal burung-burung ini cukup membuat bergidik. Ditambah lagi dengan mengetahui bahwa adegan-adegan tersebut sebagian besar menggunakan burung asli.

Memorable scene dalam The Birds yakni penyerangan Melanie Daniels oleh sekawanan gagak di loteng dilakukan selama satu minggu menggunakan burung gagak asli demi memperoleh satu menit adegan yang sempurna (ref: telegraph.co.uk). Perlakuan kejam Hitchcock terhadap sang aktris ini konon disebabkan konflik personal, membuat publik menganggap bahwa Hitchcock juga memiliki kepribadian gelap tersendiri.

1. Psycho (1960)

Marion Crane, seorang pegawai real estate, mencuri uang milik klien dan kabur ke tempat sang pacar, Sam Loomis, di luar kota. Dalam perjalanan, Marion memutuskan menginap semalam di sebuah motel di pinggir jalan bernama Bates Motel yang dijaga oleh Norman Bates. Di motel tersebut, Marion dibunuh.  

Psycho1

Psycho2
Gambar 8 (atas) & 9 (bawah). Memorable scene film Psycho: pembunuhan di kamar mandi

Jika Mas/Jeng menyukai serial TV Bates Motel yang sudah ditayangkan sejak tahun 2013, maka nama Norman Bates tidak mungkin terdengar asing. Norman Bates, pengelola Bates Motel, merupakan tokoh utama dalam film Psycho. Serial TV itu sendiri merupakan prekuel dari kehidupan Norman Bates dan sang ibunda yang diangkat dalam film. Bukan disutradarai oleh Hitchcock, tentu, sebab beliau sudah meninggal ketika serial TV ini dibuat.

Plot twist, akting para pemeran, adegan-adegan horror-thrilling disertai musik psychedelic, semua top! Apik secara keseluruhan. Hal ini menjadikan Psycho layak dikatakan sebagai masterpiece Hitchcock. Film ini mendapat sambutan meriah dan menjadi pelopor film-film thriller psikologi lainnya. Meskipun menggunakan format hitam-putih (untuk menghemat biaya produksi kala itu), film ini sama sekali tidak membosankan untuk ditonton. Menurut saya, film hitam-putih yang dirilis tahun 1960 ini bahkan masih lebih baik ketimbang sekuel, remake, dan serial TV berwarna yang menceritakan kehidupan Norman Bates.

Kekuatan Psycho yang paling utama adalah cerita. Oleh karena itu, bagi Mas/Jeng yang ingin menonton Psycho, saya sarankan agar tidak membaca sinopsis film secara keseluruhan sebelum menonton. Nikmati lah hingga menit-menit terakhir. Terbaik!

***

Boleh dibilang, Alfred Hitchcock merupakan sutradara yang karyanya paling banyak saya nikmati, bahkan masih tergiur untuk menyelesaikan sisa film-filmnya yang belum saya tonton. Terlebih, keterlibatan aktor James Stewart sebagai pemeran utama dalam 4 film Hitchcock (3 di antaranya masuk daftar di atas, btw) membuat saya menetapkan bahwa ia adalah aktor jadoel favorit saya 😀

Pesan saya bahwa menonton film jadoel perlu disertai dengan pikiran terbuka karena kualitas sinematografi kala itu sudah pasti tidak sebaik saat ini. Bahkan The Birds (1963) yang mendapat nominasi Academy Award kategori Best Special Visual Effects memiliki kualitas tidak jauh lebih baik dari sinetron Angling Dharma. Jadi, ya, jangan pernah coba membandingkan kualitas sinematografi film jadoel dan film sekarang karena tidak mungkin sepadan.

Terakhir, selamat menonton!

PS: Saya akan memperbarui daftar ini jika saya rasa ada film Hitchcock lain yang belum saya tonton yang ternyata lebih oke dari daftar di atas.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s