[RESENSI] Dawuk, Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu


Dawuk

Judul                     : Dawuk, Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu

Penulis                 : Mahfud Ikhwan

Genre                   : Fiksi

Kategori               : Novel/Sastra

Penerbit              : CV. Marjin Kiri

ISBN                      : 978-979-1260-69-5

Bahasa                  : Indonesia

Tebal                     : 181 halaman

Sampul                 : Cetakan pertama (Juni 2017)

Rating                   : 4/5

Tentu penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 kategori Prosa Terbaik yang diberikan tanggal 25 Oktober 2017 lalu kepada Mahfud Ikhwan atas novel Dawuk melayangkan perhatian lebih para pembaca kepada buku ini, tak terkecuali saya.

Adalah seorang Warto Kemplung, pembual desa yang gemar mencari perhatian warga, yang menceritakan kepada Mustofa Abdul Wahab, seorang wartawan koran yang tengah mencari berita, serta para pengunjung warung kopi yang siang itu mencuri dengar, tentang perseteruan tragis antara Mat Dawuk dan penduduk Rumbuk Randu. Warto bersikeras bahwa kejadian yang ia ceritakan benar-benar terjadi karena ia sendiri mengaku mengenal Mat Dawuk, meskipun tidak terlalu dekat. Namun, khas penceritaan dari mulut seorang pembual, tidak ada satu pun pendengarnya yang percaya, kecuali sang wartawan yang seolah yakin dan masih berusaha menduga-duga bagaimana peristiwa itu terjadi di dunia nyata.

Mat Dawuk, sebagaimana diceritakan oleh Warto Kemplung, terlahir dengan wajah amat buruk rupa dan segera dibenci oleh ayahnya karena dianggap sebagai pembunuh sang istri yang meninggal selepas melahirkannya. Anak itu juga memiliki kehidupan sosial yang nihil karena tidak satu orang pun yang mau berkawan dengannya. Terlebih lagi, para orang tua gemar menjadikannya guyonan untuk menakut-nakuti anak-anak. Akibatnya, Mat Dawuk memutuskan pergi merantau ke Malaysia. Di sana, ia menjadi preman yang tak segan menerima order untuk membunuh orang.

Takdir baik rupanya sempat berpihak kepada Mat Dawuk ketika ia menolong Innayati, kembang desa Rumbuk Randu yang juga merantau ke Malaysia. Kala itu Innayati sedang melarikan diri dari kejaran suaminya yang entah ke berapa. Ya, oleh Warto, Innayati digambarkan sebagai perempuan yang cantiknya aduhai tetapi kegatelan. Mereka akhirnya menikah dan memutuskan kembali ke Rumbuk Randu. Sialnya, penduduk Rumbuk Randu enggan menerima Mat Dawuk (lagi). Dari titik ini lah konflik sosial yang kian kompleks serta rahasia-rahasia di balik kebencian penduduk terhadap Mat Dawuk satu per satu dikuak.

Mahfud menyajikan kisah Mat Dawuk berdasarkan sudut pandang Warto yang dilengkapi dengan bumbu-bumbu penceritaan khas pembual. Hal ini memberi nilai lebih kepada Mahfud yang berupaya turut menggaet pembaca untuk larut pada kisah Mat Dawuk. Dawuk dituturkan begitu mengalir dan atas bantuan bumbu-bumbu Warto, menjadikan buku ini nyaman untuk terus dibaca. Meskipun, ada beberapa guyonan Warto di luar konteks cerita yang ia tuturkan, terlalu panjang, sehingga terasa membosankan pada bagian tertentu (tetapi saya rasa ini lebih kepada soal selera pembaca).

Soal alur cerita, jujur saya baru merasakan pergolakan emosional setelah menuntaskan hampir setengah isi buku, yang berarti setengah isi buku awal terkesan sebagai narasi yang biasa-biasa saja. Namun, setelahnya emosi ini justru digenjot naik terus hingga akhir cerita, membuat saya sampai berani bilang “Mantap, Bang Mahfud!”

Ditambah, perselisihan antara Mat Dawuk dan penduduk Rumbuk Randu yang seperti gencatan senjata itu tidak hanya berkutat seputar wajah ngeri Mat Dawuk (tidak dapat dinafikan, bagi saya ini merepresentasikan masih kuatnya kecenderungan manusia dalam mengedepankan penilaian fisik terhadap seseorang), tetapi juga mengangkat permasalahan lain seperti isu Tenaga Kerja Indonesia (TKI), persekongkolan petani dan aparat, tradisi ‘serong’ di kehidupan rural, tindak provokasi dan main hakim sendiri (yaa satu ini memang sudah mengakar di masyarakat loh guys), bahkan dendam yang diwariskan turun temurun. Perbincangan yang sangat kaya! Dan hal inilah alasan paling utama yang membuat saya menyukai buku ini 🙂

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s