[RESENSI] Lelaki Harimau


Lelaki Harimau

Judul                     : Lelaki Harimau

Penulis                 : Eka Kurniawan

Genre                   : Fiksi

Kategori               : Novel/Sastra

Penerbit               : PT. Gramedia Pustaka Utama

ISBN                     : 978-602-03-2465-4

Bahasa                 : Indonesia

Tebal                    : 190 halaman

Sampul                : Cetakan ketujuh (Oktober 2016)

Rating                  : 3.5/5

Lelaki Harimau diawali oleh sepotong adegan di mana Kyai Jahro tengah memberi pakan ikan-ikan di kolam sebelum kemudian dijemput oleh Mayor Sadrah yang terengah-engah memintanya agar segera memulai proses pengurusan jenazah Anwar Sadat yang dibunuh oleh Margio. Si pembunuh adalah seorang lelaki berumur 20 tahun yang tak lama sebelumnya kedapatan telah menggigit putus urat leher si korban. Warga yang mengenal, baik Anwar Sadat maupun Margio, tidak memiliki bayangan apapun mengenai motif pembunuhan tersebut dikarenakan hubungan antara keduanya yang nampak baik-baik saja. Hingga dalam suatu proses investigasi setelahnya, motif pembunuhan baru diketahui setelah 190 halaman ini habis Anda baca. Penelusuran motif diceritakan berkutat pada kehidupan keluarga Margio dengan warga kampung lainnya, termasuk Anwar Sadat.

Eka Kurniawan sukses menggaet ketertarikan pembaca sejak halaman-halaman awal buku di mana ia langsung memasuki inti cerita, yakni seorang anak muda yang membunuh korban bagai harimau melenyapkan ruh mangsa. Selanjutnya, alur maju-mundur yang digarap tertata apik sukses menjadikan buku ini dapat saya selesaikan dalam satu waktu dengan diselingi kudapan. Kurang lebih lima jam.

Buku ini mengangkat permasalahan yang saya rasa umum terjadi dalam kehidupan masyarakat, yakni seputar kekerasan dalam rumah tangga, percintaan remaja, perselingkungan, ekonomi, dan printilan topik lain. Hanya saja terdapat penambahan nuansa mistis berupa peliharaan jin harimau putih oleh kakek Margio yang memperkaya alur cerita.

Terlepas dari alur cerita yang smooth, penggambaran kondisi-kondisi dalam buku ini digambarkan dengan sangat detail, bahkan sejak halaman pertama. Semisal area perkebunan Kyai Jahro, yang dideskripsikan hingga berbaris-baris kalimat, membuat pembaca mungkin merasakan kebosanan seperti saat saya memaksa diri menuntaskan penjelasan tersebut.

Secara garis besar, saya rasa tidak ada isu baru yang diangkat dalam buku ini sehingga menjadi menonjol dibandingkan karya sastra lainnya. Di samping itu, potongan-potongan adegan pun tidak terlalu sulit ditebak, pada akhirnya. Namun, saya rasa kekuatan terbesar penulis dalam buku ini terletak pada kemampuan (teknik) mengolah cerita dalam alur maju-mundur sehingga terlihat tetap terstruktur, tidak rumit, tetapi sekaligus menarik untuk terus diikuti. Apalagi klimaks di akhir cerita yang memaksa pembaca untuk, mau tidak mau, mendapatkan jawaban atas motif pembunuhan Anwar Sadat oleh Margio. Ya, membaca buku ini memang harus hingga tuntas!

Selamat beribadah bagi yang berniat membaca Lelaki Harimau 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s