Ngobrol Kreatif di Balik Imajinasi Agus Noor


“Hiduplah seperti apa yang kita pilih.”

Demikian ujar Agus Noor kepada peserta bincang-bincang proses kreatif di balik penulisan buku “Cinta Tak Pernah Sia-Sia” yang digelar di Graha Bhakti Budaya TIM, Sabtu kemarin, 21 Oktober 2017. Buku “Cinta Tak Pernah Sia-Sia” merupakan kumpulan cerpen Agus Noor yang dimuat dalam koran Kompas Minggu selama 27 tahun menekuni dunia kepenulisan. Buku ini telah dirilis September 2017 lalu.

IMG_20171021_105843863 edit2

(kiri ke kanan): Dewi Ria Utari, Agus Noor, dan Ine Febriyanti

 

Pilihan Agus Noor menjadi seorang seniman sejak zaman kuliah dilandasi oleh kecintaannya terhadap seni dan budaya. Ia pun kala itu sudah hobi menulis untuk majalah-majalah remaja sejak SMA. Pilihan ini membuat orang tuanya kerap bertanya-tanya,

“Kamu yakin bisa ‘hidup’ dari menulis?”

(Saya rasa pun pertanyaan ini masih relevan di zaman now)

Jawaban atas pertanyaan tersebut ia simpulkan lewat pemilihan judul buku “Cinta Tak Pernah Sia-Sia” yang menunjukkan bahwa kecintaannya terhadap menulis mampu mengantarnya kepada pencapaian-pencapaian yang ia peroleh saat ini.

“Tapi kalau mau punya apartemen 12 lantai, yaa jangan jadi penulis hehehe”, sambungnya berkelakar.  

Agus Noor dikenal sebagai salah satu sastrawan yang produktif. Di samping menulis, ia pun telah menyutradarai dan menulis naskah beberapa pementasan teater.

Ia menekankan bahwa hal tersebut dapat dicapai dengan cara menerapkan disiplin yang tinggi. Waktu 24 jam harus mampu dikelola dengan baik. Slot waktu untuk membaca (terutama untuk melakukan riset) dan menulis mesti dialokasikan dalam sehari. Buku bacaan apapun menurutnya layak untuk dibaca, mulai dari prosa, buku-buku nonfiksi, musik, bahkan resep buku masakan!

Kekayaan akan pengetahuan menurutnya akan membantu seorang penulis merangkul tema-tema yang lebih luas. Hal ini ia buktikan melalui perjalanan panjang cerpen-cerpennya yang tidak terpaku pada satu isu tertentu. Fleksibilitas ini membuatnya tidak hanya menulis cerpen bertemakan rural atau romantisme perjuangan masyarakat kelas bawah yang dibalut surealisme-realisme, sebagaimana ia tuangkan pada awal-awal karir menulisnya di Kompas tahun 90an. Namun, kini ia juga merambah tema-tema lain seperti urban yang dibawakan dengan satir. Pun humor politik, belakangan.

Di samping itu, Agus Noor mengakui bahwa ia tidak pernah terpaku pada satu gaya kepenulisan. Baginya, setiap cerita memiliki keunikan masing-masing. Penulis yang baik harus mampu menggali keunikan tersebut, alih-alih memaksakan cara penyajian yang sama terhadap semua cerita.

Dalam diskusi ini hadir pula Dewi Ria Utari, penulis cerpen, yang turut memperkaya diskusi dengan menilik buku “Cinta Tak Pernah Sia-Sia” dari sudut pandangnya.

Tak diragukan lagi bahwa untuk memperoleh sebuah kolom di Kompas Minggu merupakan arena pertarungan tersengit bagi para penulis cerpen. Maka, Ria menganggap bahwa konsistensi dimuatnya karya Agus Noor di koran Kompas dapat merepresentasikan sejarah perkembangan cerpen sastra di Indonesia. Cerpen di tahun 90an yang sarat dengan kritik sosial terhadap era Orde Baru, hingga gaya hidup urban masa kini.

Menanggapi hal tersebut, Agus Noor berpendapat bahwa sastra adalah penting untuk memperkaya pengalaman batin masyarakat. Sastra yang baik adalah karya yang mampu memberi cara pandang baru terhadap dunia. Oleh karenanya, karya-karya sastra bisa mencakup apapun.

Ngobrol bareng yang berjalan selama dua jam tersebut kemudian ditutup dengan penandatanganan buku-buku Agus Noor, serta tambahan pesan dari Ine Febriyanti selaku moderator,

“Setialah pada pilihan Anda.”

.

.

.

Ditulis oleh pembaca setia cerpen-cerpen Agus Noor tapi masih awam sastra.

Ditulis di Kompasiana

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s