#2yrsNL WOW! Seorang Perempuan Nekat Bersepeda 11 Jam Diguyur Hujan


Hmm kalimat di atas terkesan seperti sebuah judul clickbait, tetapi cukup menggambarkan salah satu pengalaman paling berkesan yang pernah saya buat seumur hidup.

8

Omafiets cintakuw

Belanda adalah surga bagi para pesepeda. Jalur sepeda dapat ditemukan di sudut kota manapun, bahkan sekelas desa macam Wageningen. Tak bisa dielakkan, di sini jumlah populasi sepeda melebihi jumlah populasi manusia.

 

Berhubung sepeda merupakan alat transportasi utama bagi setiap warga, maka nggak heran kalau salah satu kewajiban fardu ‘ain yang harus dilakukan pelajar sesampainya di Belanda adalah membeli sepeda. Umumnya sih beli yang bekas karena kami belum mampu jadi kaum anti kere-kere club 😦

Gowes ke kampus, ke pasar, ke stasiun, kemanapun sudah jadi kebiasaan di Belanda. Tapi pengalaman bersepeda saya selama 11 jam kali ini terinspirasi dari (kalau sebutan Pak Susetiya sih) duo gila: Pak Alham Samudra dan Pak Imam Dermawan, bapak-bapak di tempat kerja saya dulu.

Kala itu sekitar minggu ketiga Mei 2015, tanpa pikir panjang saya menerima tawaran Mbak Martha, rekan kerja di tempat kerja saya dulu, untuk menggantikan dirinya mendaki ke Semeru bersama rombongan kantor. Tawaran itu datang kurang dari seminggu sebelum keberangkatan. Wk. Memang dasar gw anak impulsif.

 

20

Bersama COPI Panas dkk di Ranu Kumbolo (31 Mei 2015)

 

Sembari menunggu keberangkatan, saya sudah terpapar informasi bahwa dua bapak ini setelah nanjak Semeru berniat langsung gowes ke Jakarta selama kurang lebih 5-6 hari. Saya sih belum mau percaya sampai pada hari H sesampainya kami di Bandara Abdul Rachman Saleh, Malang, saya melihat kardus sepeda beliau-beliau yang digotong bersama mobil rombongan kami menuju kaki gunung Semeru. Lha, beneran mau gowes?

Ditemani cerah terik mentari di padang pasir kawasan Bromo sehari setelah turun dari Semeru, kami pun melepas perjalanan Pak Alham dan Pak Imam mengayuh sepeda menyusul kami yang pulang sore itu ke Jakarta.

Sejak momen itu saya bilang ke Nadia. “Nad, nanti kita sepedaan keliling Belanda yuk. Tiga harian, gitu.”

Nadia ini adalah teman sekantor sekaligus teman bakalan main di Belanda, tepatnya di kota Delft. Menanggapi ajakan ini, Nadia juga nampak excited (iya gitu?) walaupun mungkin dalam hati membatin, ‘Serah lo aja dah, San’. *emot thinking*

Keinginan untuk bersepeda keliling Belanda itu selalu terbersit selama tinggal di Belanda. Tapi maklum lah manusia kan emang suka berwacana ya, jadi keinginan itu hampir tidak pernah direalisasikan benar-benar.

Pre

Siang hari usai presentasi internship yang membuat plong hati sejagad raya, saya mulai terpikir untuk merealisasikan bucketlist yang pernah disusun, termasuk sepedaan keliling Belanda.

Tepatnya di suatu sabtu yang cerah tertanggal 12 Agustus 2017 di kalender, berhubung saya keinget perlu beli souvenir khas Belanda, saya berpikir ‘apa sepedaan ke Delft aja ya, beli souvenir’. Di Delft kata orang-orang sih ada toko yang kasih harga lebih murah dibanding toko-toko lain di Belanda, selain Volendam.

Kemudian saya nge-chat Nadia kurang lebih dengan konten macam begini, ‘Klo numpang nginep tanggal 16 Agustus boleh gak? Pengen ngerasain 17an di KBRI’.  Maklum, ke KBRI perlu waktu 2.5 jam sendiri naik bis & kereta.

Saya lupa ya alasan kenapa pada akhirnya batal 17an di KBRI (kalau nggak salah sih karena tiba-tiba males aja). Walhasil, demi melakukan sesuatu yang berkesan pada peringatan kemerdekaan 17 Agustus (kan saya anak momentum banget gituuuh, massa x kecepatan), saya memutuskan untuk fix sepedaan Wageningen-Delft 17.8.17, tepat satu hari sebelum hari-H.

Kata google maps, jarak Wageningen-Delft sekitar 104.2 km dengan waktu tempuh 6 jam bersepeda.

Beberapa teman bilang saya punya determinasi yang tinggi. Saya pribadi sih merasa saya ini orang yang impulsif. Jadi nggak salah ya ada istilah nekat untuk memadukan dua sifat ini.

Semalam sebelum keberangkatan saya mulai menyusun plan.

 

4

And the journey began…

 

Present 

Rencana awal adalah berangkat jam 8 pagi supaya bisa sampai maksimal jam 5 sore. Estimasi total waktu tempuh adalah 9 jam. Enam jam dengan tambahan 3 jam untuk istirahat dan kalau-kalau kecepatan bersepeda terlampau lambat.

Err— pagi itu saya keluar kosan jam setengah 10 pagi.

Beberapa hari sebelum tanggal 17 Agustus adalah hari-hari yang membahagiakan karena matahari selalu bangun dari persembunyiannya di Wageningen. Seribu sayang, saya bertanya-tanya kenapa matahari lama betul bangun Kamis itu, bertepatan dengan tanggal 17 Agustus. Prediksi buienradar.nl hujan, malah.

Pagi itu pun jas hujan yang sudah saya siapkan ketinggalan di meja. Eta terangkanlah.

 

15

Asyik, meskipun apa faedahnya memfoto papan ini

 

Sesi #1. Tiga jam pertama yang menantang

Dalam perjalanan menuju Delft, cihhh diri ini langsung terkoyak-koyak oleh hujan deras yang turun tidak kurang dari satu jam. Untung jaket waterproof setia menghalau basah untukku. Jadi dalam 1.5 jam menggowes itu, sekujur tubuh basah kuyup kecuali yang tertutup oleh jaket. Nggak nunggu reda dulu? Nope. Toh sudah terlanjur basah ya, jadi buat apa mencari naungan teduh.

Cek perkiraan cuaca sebelum berangkat. Kan nggak lucu kalau muncul headline news ‘Astaga! Pelajar Indonesia ditemukan tergosrok di kanal Amsterdam selepas badai katrina’.

Satu jam setelah hujan, sembari terus menggowes, tau-tau celana saya sudah hampir kering. Tapi masih tersisa gerimis.

Pastikan outfit yang digunakan nyaman, ringan di badan, dan gampang kering kalau kebasahan.

Satu hal paling menarik dari 3 jam pertama ini ialah tepat di samping sebuah papan  area bertuliskan Weijdijk, saya menemukan sebuah pemandangan menakjubkan we o we yang membuat saya berhenti. Di sebuah tanah lapang dari kejauhan nampak seekor hewan yang duduk membelakangi saya.

Kanguru! Atau wallaby?

Masa iya sih di Belanda ada kanguru?

1

Dear Lupito (ini nama dari saya buat dia), nengok dong

 

Sudah susah-susah meniru suara ‘nguik nguik’ tapi dianggurin. Mungkin dia malas karena terdengar seperti babi terjerembab pipa kali ya. Karena kelamaan menunggu respon, saya memutuskan untuk pergi. Dah, Lupito!

Tiga jam pertama pedal sepeda terus digowes sambil sesekali si empunya mengecek google maps. Ternyata saya cuma terlambat setengah jam dari waktu yang ditentukan google maps.

‘Sip, bisa nih sampe ontime’, sahut saya dalam hati.

SOK TAU DUA MILIAR.

Tapi at least rasa excited ini membuat level percaya diri naik 7x lipat untuk maju terus.

Rencanakan waktu perjalanan dengan cermat. Buat lah target-target kecil, semisal: setiap 2 jam mas/jeng istirahat; pukul 10.00 sudah mesti sampai di kota A; dsb.

 

9

Melayang di atas kanal dalam perjalanan melintasi Provinsi Utrecht

 

Sesi #2. Dua jam kedua yang mendebarkan

Memasuki sesi kedua, hujan kembali turun derasnya dan saya sudah merasa kecepatan bersepeda jauh melambat. Saya masih terus memaksakan diri sampai perut minta jatah pada jam 2 siang. Pertama kali inilah saya turun dari sepeda untuk beristirahat setelah 5 jam mengayuh sepeda.

Saya menikmati bekal makan siang dan istirahat dengan total 20 menit di sebuah kursi di pinggir jalur sepeda, segera setelah hujan bertransformasi menjadi gerimis.

Siang itu, google maps bilang saya baru menempuh 50.4 km dalam kurun waktu 5 jam. Tentu ini sebuah indikasi bahwa saya sudah kelelahan sampai-sampai pace bersepeda jauh berkurang dibanding 3 jam pertama.

Pastikan mas/jeng membawa peralatan berikut: jas hujan, topi, bekal, dan cemilan penambah energi seperti gula merah atau coklat (saya sendiri selalu bawa gula merah kalau tau perjalanan berat, entah kenapa kali ini lupa karena buru-buru).

Momen setelah mengecek HP itu pun membuat saya mulai deg-degan, persis ketika kesambit chat dari supervisor menjelang deadline. Eta.

Dengan penuh tekad, kalau saja selama sisa perjalanan saya bisa mempertahankan pace seperti pada 3 jam pertama, maka saya bisa sampai di Delft pukul 6 sore. Hari belum gelap.

 

 

 

16

“Beli telor sini aja tapi tutup klo Minggu”, di sebuah komplek menuju Venendaal-De Klomp

Sesi #3. Enam jam terakhir yang super-depresif

 

Selepas makan siang, saya berhasil keluar dari provinsi Utrecht dan masuk ke provinsi Zuid-Holland. Di daerah ini, google maps kerap membawa saya menyusuri jalur sepeda di pinggir jalan tol.

Dan di sinilah saya mulai kewalahan mencari jalur yang benar.

 

10

Selamat datang di South-Holland

 

Sepanjang perjalanan di Zuid-Holland, lebih tepatnya setelah melewati Gouda sembari menuju Den Haag, setidaknya ada empat titik ketika saya diterpa kebingungan mencari jalan. Total waktu yang diperlukan untuk nyasar sana sini kurang lebih 2 jam! Fiuh, such a waste. 

Nyasar ini disebabkan adanya beberapa jalur sepeda yang ditutup karena sedang perbaikan. Ohhh rasanya ingin mencerca. Hal ini memaksa saya untuk improvisasi mencari jalur lain.

Belanda menyediakan peta fietsen network dengan papan-papan nomor di jalan yang bisa mas/jeng temukan sepanjang perjalanan jika mengikuti arah peta tersebut. Peta ini tentu lebih menjanjikan ketimbang mengandalkan google maps.

Berikut ini salah dua nyasar yang berkesan buat saya.

Dalam perjalanan menuju Den Haag, saya diarahkan google maps untuk melewati sebuah rel kereta api. Ternyata sore itu pagar rel kereta api digembok. Sebetulnya kurang sampe otak saya kenapa google maps menganggap rel kereta di atas gundukan ladang bisa dipertimbangkan sebagai sebagai jalur sepeda *emot thinking*

Saya mondar-mandir ke arah kiri dan kanan dari jalur sepeda utama sampai ratusan meter, berusaha mencari jalan lain dan (lagi-lagi) hujan turun dengan derasnya. Beruntunglah nampak sepasang sepeda muda-mudi bergaya hippie dengan barang bawaan segambreng (bawa-bawa gitar pula).

Saya untit mereka dari kejauhan.

Ketika mereka berhenti dan memutuskan untuk beristirahat setelah hujan agak reda, saya memberanikan diri untuk bertanya yang mana jalur menuju Delft. Rupanya mereka pun tidak tahu karena bukan warga Belanda.

Mereka berasal dari Prancis dan sudah gowes selama SEMINGGU dari negara tersebut. WOW! Ternyata di sekeliling saya bukan cuma Pak Alham dan Pak Imam yang gila.

Mereka berencana bermalam di Den Haag malam itu dan mengajak saya untuk gowes bersama. Saya tentu saja menolak karena kecepatan bersepeda yang jauuuh lebih lambat dari mereka, alih-alih malah menghambat perjalanan. Masa’ udah stranger, nyusahin pula.

Usai pamit dan tak lupa mengucapkan good luck, saya nyelonong pergi.

Sayang sekali saya lupa nama mereka.

Hindari mengisi keranjang sepeda dengan barang-barang yang sudah pasti tidak dipakai karena ini pasti menambah beban dalam mengayuh. Barang yang saya bawa kurang lebih ini: bekal makan siang, sebotol air putih, dompet, mini towel, lotion sunscreen, baju ganti untuk 1 hari, alat mandi yang nggak bisa untuk sharing bareng seperti sikat gigi dan showerpuff, serta jas hujan (yang terlupakan).

 

12

Jembatan Nelson Mandela, menuju Den Haag. Hmm apakah doi yang meresmikan ini?

 

Nyasar yang lain terjadi tepat di bawah jalan tol. Saya rasa momen ini menempatkan mental saya di paling bawah selama perjalanan. Jalur sepeda sesuai arahan google maps ternyata sedang ditutup. Saya pun bolak balik menghabiskan waktu dan energi lebih dari setengah jam untuk mencari jalan lain yang benar.

Beruntung dari kejauhan ada sepasang kakek-nenek menggunakan kursi roda elektrik (umum sekali dipakai di sana) sedang mengemudi ke arah saya. Spontan, saya bertanya pada mereka. Rupanya mereka (sepenangkapan saya) tidak terlalu paham Bahasa Inggris dan ketika saya menuliskan Delft di HP, mereka saling bersitatap lalu menunjuk-nunjuk ke arah yang saling berlawanan, sembari bergumam dalam Bahasa Belanda.

Oh Tuhan, cukup hati ini aja yang nyasar. Jangan ditambah se badan-badan.

 

5

Ladang rumput yang dilewati antara Den Haag menuju Delft

 

Tapi untung memang Tuhan Maha Baik. Tidak lama setelah merenungi nasib sejenak, saya melihat sepotong kepala mencuat dari balik rerumputan berjarak 250 meter (ya kira-kira segitu) sedang bergerak menjauh ke satu arah yang memang belum saya telusuri. Finally, kehidupan!

Meskipun mempertaruhkan nasib pada sekelebat kepala orang, ternyata benda itu kepala pembawa berkah.

Hujan tidak lagi turun dan gerimis hanya sesekali. Langit pun sedang cantik karena matahari muncul sebentar untuk menemani saya mengayuh memasuki area dengan plang ini!

 

2

Kebahagiaan HQQ

 

I made it after 10 hours! (termasuk 2×20 menit istirahat)

Memasuki kota Delft, saya diarahkan kembali menyusuri area perumahan dan sesekali ladang tempat ngangon kambing. Setelah laporan ke Nadia, saya mampir ke centrum (pusat pertokoan) untuk membeli cemilan dan ayam chicken (ini istilah Nadia dkk buat ayam goreng crispy yang dijual di kedai Turki).

Sekitar pukul 20.30 atau setelah 11 jam perjalanan, saya sampai di kosan Nadia. Tidak berapa lama kemudian masuk waktu magrib.

 

17

Ternyata nggak cuma Jembatan Pasopati aja yang jadi tempat muda-mudi pacaran. Can you spot them? Di sebuah jembatan menuju Delft.

 

Post

Setelah tunai semua kegiatan mengisi perut dan bersih-bersih badan, saya mengambil posisi telentang di atas karpet dan baru merasakan kalau astaga, badan gw remuk.

Malam itu saya tidur normal, sekitar 7-8 jam.

Satu hari pasca bersepeda 11 jam, saya terbangun tanpa merasakan pegal-pegal. WOW!  (kok kesal ya nulis wow ini). Cuma ngantuk dan merasa lelah saja.

Jam 11, saya dan Nadia bersepeda menuju TU Delft karena ia ada kumpul angkatan. Kami lalu lanjut nobar Game of Thrones S07E06 bersama Bramka. Sorenya, saya diajak nonton festival kembang api sekali setahun di Scheveningen. Kembali menggunakan sepeda menuju Stasiun Delft. Di sini personil bertambah Timothy, Templank, dan Radit. Bersama kami menunggu tram menuju Den Haag.

Di Den Haag, kami berjalan kaki mengitari centrum untuk makan malam dan jajan es krim sebelum menuju Scheveningen. Lewat pukul 11 malam, saya dan Nadia bersepeda kembali sepulangnya dari Stasiun Delft.

 

14

Firework Festival di Scheveningen

 

Sabtu pagi, saya masih kuat mengitari centrum untuk makan kibbeling dan BELI SOUVENIR (baru sekarang laaah).

Sore itu pun TERNYATA masih harus bersepeda 45 menit ke Den Haag (sebelum benar-benar bisa pulang naik kereta ke Wageningen) karena kereta di Delft sedang tidak beroperasi.

 

19

Still a long way to go home

 

Satu saja yang mau saya sampaikan dalam penjabaran di atas adalah… ternyata aktivitas gowes 11 jam tidak membuat badan drop-drop amat setelahnya. Jadi, jangan takut untuk mencoba :p

***

Nah bagi mas/jeng yang mau mencoba bersepeda keliling kota, cukup jadikan pengalaman saya sebagai bahan pelajaran, bukan patokan. Ingat ya, persiapan penuh lebih baik ketimbang tanpa persiapan.

Terlebih kalau mau sepedaan di Indonesia, butuh persiapan lebih ya terutama untuk memastikan segi safety dan security.  Kalau ini sih tanya yang pro aja deh.

13

Angkot Caheum-Ciroyom di Delft. Kiri payun, Aa’!

 

Di baris-baris akhir menulis cerita ini, saya baru meng”oh iya juga”kan respon beberapa teman yang menyayangkan waktu bersepeda saya selama 11 jam tanpa bertandang menikmati keunikan sudut-sudut kota yang dilalui.

Well, saya rasa justru itulah bagian yang paling menarik.

Tepat seperti kata Forrest Gump, “…I just felt like running cycling.”

.

.

.

Good luck!

 

Iklan

4 responses to “#2yrsNL WOW! Seorang Perempuan Nekat Bersepeda 11 Jam Diguyur Hujan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s