#2yrsNL Persiapan Keberangkatan “Lost in Translation & Luggage”


Halo mas/jeng! Lama nih nggak bersua. Sebagaimana janji yang sudah saya kemukakan di sosmed pribadi beberapa waktu lalu, sekarang saya mau mulai menulis kisah gado-gado selama 2 tahun tinggal di Belanda. Kenapa gado-gado? Karena rasa manis, gurih, asam, asin, pahit, sampai yang nggak berasa (kalau di gado-gado ini mah rasa tahu putih, nggak berasa kecuali dipakein bumbu kacang) mau saya share di sini dalam tulisan-tulisan ber-hashtag (ceilah) #2yrsNL.

Saya menghabiskan waktu 2 tahun di Belanda untuk mengikuti program yang bisa mas/jeng baca di Water Technology, intake 2015-2017. Sebetulnya saya sudah diterima untuk intake 2014-2016, namun menjelang keberangkatan saya belum menemukan puing-puing bantingan tulang yang bisa dibarter untuk bekal hidup (baca: beasiswa). Walhasil saya apply kembali program yang sama untuk intake 2015-2017. Alhamdulillah pada akhir tahun 2014, dua pondasi utama untuk pergi ke Belanda (Letter of Acceptance/LoA dan beasiswa) sudah digenggam. Jadi, apa aja neh kk yang disiapin kemarin, eh 2 tahun lalu? Singkat cerita, ini dia:

Les Bahasa Belanda

Segera setelah mendapat kepastian untuk berangkat kuliah, saya mulai memikirkan apa-apa saja yang diperlukan agar bisa survive. Berhubung saya punya waktu 7 bulan sebelum berangkat, saya memutuskan untuk menyisihkan sebagian penghasilan guna mengikuti les Bahasa Belanda (Dutch Course). Kalau mas/jeng tertarik, silakan telusuri website ini: https://www.erasmus-taalcentrum.com/.

Saya yakin tidak banyak lembaga kursus bahasa yang menawarkan program bahasa Belanda, tetapi beruntunglah saya tinggal di Tangerang Selatan (ya Jakarta sonoan ‘dikit lah) karena ada Erasmus Training Center (lokasi tepat di sebelah Kedutaan Besar Kerajaan Belanda di RI) yang membuka kursus Bahasa Belanda mulai dari level basic sampai advance. Berbekal pengetahuan nol tentang Bahasa Belanda, tentunya saya layak dong mengikuti kursus level Basic 1 alias level terendah.

Dalam kursus Basic 1 yang diadakan setiap sabtu pagi selama 3 bulan tersebut, kami para murid belajar kosakata dan basic grammar dalam Dutch. Kursus ini diikuti oleh  17 orang dari beragam latar belakang usia, pekerjaan, dan motivasi. Beberapa di antaranya adalah calon pelajar yang mau berangkat sekolah, yakni selain saya ada Erika (Rijkuniversiteit Groningen), Cisty (Wageningen University), dan Aiyubi (Tilburg University). Ada pula yang mau tinggal di Belanda menyusul suami yang sedang kerja yaitu Rani (ke Eindhoven) dan kak Lia (ke Groningen) yang juga sedang persiapan menyusul (saat itu masih berstatus calon) suami wong londo aseli. Selain itu kebanyakan (kalau nggak salah ya) memang pada dasarnya tertarik aja untuk belajar Dutch.

Les Bahasa Belanda

Foto 1. Para peserta Basic 1 yang kerjaannya beli mie ayam dan siomay depan tempat les

Catatan: Warga Belanda di kota manapun, ternyata mereka mahir berbahasa Inggris jadi nggak perlu takut sama sekali bakal lost in translation. Selain itu, pada umumnya universitas mengadakan program Dutch course di awal-awal perkuliahan. Jadi, menurut pengalaman saya agak-agak sayang sih ikut les Bahasa Belanda sebelum berangkat wkwkwk. Tapi lumayan lah nambah teman apalagi bisa ketemu kak Lia yang inspiring (aku nulis ini serius loh kak :p).

Kelas Akulturasi

Berbeda dengan les bahasa, kelas akulturasi yang dibuka oleh Erasmus Training Center ini dikhususkan bagi calon pelajar yang sudah pasti insya Allah pasti tenan berangkat ke Belanda, dibuktikan dengan melampirkan LoA. Oleh karena itu, kelas akulturasi ini hanya dibuka sekitar bulan Mei-Juli (silakan telusuri di website yang sama).

Dalam kelas yang berisi maksimal 20 orang ini, kami para murid tidak hanya dikenalkan dengan pembelajaran bahasa tetapi juga kondisi geografis dan sosial warga Dutch. Yap, karena tujuan diadakannya kelas ini adalah untuk mengurangi culture shock calon pelajar sesampainya di Belanda. Dari kelas inilah awal mula saya bisa: mengunduh aplikasi 9292 bahkan sebelum sampai di Belanda (yes gan!), tahu bahwa warga Dutch senang mengamati prakiraan cuaca (bisa nih buat modal ngobrol basa-basi), ngeluarin sepeda berdebu di garasi rumah buat ngetes diri sendiri masih bisa gowes apa nggak, bisa memperkirakan barang-barang yang perlu masuk koper, dsb.

IMG20150624160533

Foto 2. Para peserta kelas akulturasi C-6 yang ntap-ntap dan bahagia abis gajian (baca: uang deposit balik) plus dapat kaos gratisan.

Catatan: Ikut kelas ini berguna banget deh pokoknya. Gratis pun karena memang deposit di awal aja (2 tahun lalu deposit 1 juta) tapi dikembalikan di akhir asalkan kehadiran >80%.

King Packing!

Bagian terpenting dari persiapan selain mental adalah fisik, tentunya! Terutama bagi WNI yang cuma pernah kenal 2 musim (1 musim aja sih cuma beda satu periode sering hujan, satu periode enggak), tiba-tiba pindah ke negara 4 musim dengan karakteristik cuaca tertentu pasti perlu untuk segera beradaptasi. Waktu itu saya naik Garuda Indonesia sehingga dapat banyak jatah bagasi (40 kg tjuy) dan kabin 7 kg. Singkat cerita, saya bismillah aja karena nggak punya timbangan untuk mengecek berat koper. Ternyata total bawaan saya 50 kg (40 kg dalam 1 koper 28 inch dan 10 kg dalam 1 carrier punggung). Beruntunglah mbak-mbak petugas nggak ngasih tambahan charge karena kelebihan beban 3 kg. But, please, jangan dicontoh ya mas/jeng. Patuhilah peraturan dengan lebih cermat 🙂

Nah, berikut ini barang-barang yang saya yakin mas/jeng pikir-pikir untuk dibawa, namun berdasarkan pengalaman dan sepemantauan selama 2 tahun, sebaiknya tidak diprioritaskan untuk masuk ke dalam koper.

  • Cover shoes (jas hujan untuk sepatu)
Cover shoes

Foto 3. Nih cover shoes. Fix nggak usah beli.

 

Hmm jadi kata meneer-mevrouw (tuan-nyonya) di kelas akulturasi, Belanda itu sering betul diguyur hujan. Layaknya Indonesia yang kalau diguyur hujan sering becek, walhasil saya memutuskan beli cover shoes sebelum pergi. Asliii nggak penting. Hujan di Belanda ternyata lebih sering gerimis deras (atau hujan ringan kali ya), bukan hujan deras. Ditambah lagi sistem drainase di jalan-jalan sudah lebih baik dibandingkan Indonesia sehingga minim genangan. Jadi, punya sepatu tahan air saja sudah cukup kok.

  • Travel adapter

Colokan listrik negara-negara di eropa mah sama kayak di Indonesia (2 lubang) jadi nggak perlu repot-repot bawa.

  • WiFi router

Pilihan menggunakan internet di student housing itu ada: (1) tinggal masukin username-password untuk WiFi, (2) pakai kabel LAN, atau (3) lebih enak kalau pakai WiFi router. Nah untuk mencegah ketidakcocokan setting WiFi router produk beli di Indonesia ketika dipakai di Belanda, lebih baik beli di Belanda aja. Banyak kok yang jual.

  • Rice cooker

Di beberapa negara sepertinya rice cooker bukanlah barang elektronik yang mudah ditemukan, tapi tidak di Belanda. Saya pernah lihat barang ini dijual di Blokker dan MediaMarkt (nama beberapa toko ternama yang tersedia di penjuru kota Belanda), sebagai contoh. Lebih enak lagi kalau bisa dapat second atau (opsi terbaik) hibahan dari senior.

  • Winter jacket, boat, atau winter clothing lainnya (kemarin nggak bawa ini sih tapi penting untuk ditekankan)

Indonesia bukan negara 4 musim, jadi maklum lah kalau winter clothing sulit ditemukan dan kalaupun ada, dijual dengan harga yang tidak murah. Kalau tujuan mas/jeng berkunjung ke Belanda saat winter sebagai turis, otomatis beli barang-barang ini di Indonesia adalah kewajiban. Namun, untuk pelajar yang bakal kuliah sebaiknya nggak usah beli di Indonesia.

Menjelang musim dingin, adalah suatu keniscayaan toko-toko maupun senior mulai menawarkan winter sale (baik barang baru atau second). Dan harga yang ditawarkan bisa jauh lebih murah dibandingkan harga yang dijual di Indonesia. Selain itu, model yang berseliweran pun lebih match & blend sama style orang eropa. Modal paling penting adalah nggak gengsi pakai barang second ya mas/jeng. Asalkan masih bersih, fungsional, dan layak pakai sih nggak usah lah itu gengsi-gengsian.

  • Atasan thermal/long john

Baju thermal/long john adalah pakaian (atasan maupun bawahan) yang digunakan untuk penambah hangat badan ketika musim dingin tiba. Nah kalau ini sepertinya disesuaikan dengan kemampuan tubuh masing-masing dalam menahan dingin ya. Kalau saya pribadi, bagian atas tubuh lebih tahan dingin dibandingkan bagian bawah. Jadi, atasan long john saya tidak pernah dipakai (bawahan aja).

Selain itu, umumnya atasan long john ini memang tidak perlu digunakan kalau sebagian besar waktu dihabiskan di dalam ruangan (baca: kuliah atau group work, secara ruangan di kampus pakai heater. Nanti yang ada malah keringetan). Winter jacket, syal leher, dan sarung tangan bagi saya sudah cukup. Oh iya di Belanda pun banyak kok yang jual baju long john dengan harga standar. Jadi, nggak usah maksain kalau nggak nemu long john yang murah di Indonesia (hamdallah di Mangga Dua nemu 70 ribu buat 1 paket atasan & bawahan enak-anget sih hahaha).

  • Mainan anak

Berhubung semasa internship saya sempat tinggal dengan satu keluarga Indonesia yang memiliki 1 bayi (Mas Lana, Mbak Arum, dan Asa), Mbak Arum pernah cerita bahwa ia membawa banyak mainan bayi di dalam koper karena ragu apakah bisa menemukan mainan untuk Asa yang masih sekitar 1 tahun. Nah, buat para keluarga Indonesia yang mau membawa anak, jangan cemas karena warga Dutch masih ada yang mau punya anak kok #ifyouknowwhatimean :p. Mainan anak bisa ditemukan di banyak toko. Tenang aja.

Apalagi ya. Mungkin kalau inget barang-barang lain, saya bakal update postingan ini.

Saya cuma merasa perlu menekankan bahwa persiapan untuk adaptasi fisik itu penting tapi disesuaikan saja dengan… beban bagasi pesawat. Perlu diingat bahwa semua jenis pakaian dan peralatan dijual komplit kok di Belanda, baik yang baru atau murah ala-ala secondhand (he, pake barang second? Tunggu postingan #2yrsNL lain ye). Tapi makanan, obat-obatan, dan bumbu-bumbu lokal itu jauuuh lebih penting untuk dibawa karena kalau mau memanjakan lidah nggak bakalan deh dapat yang seenak rasa asli Indonesia.

*

Baiklah, saya kira tiga hal tersebut sudah cukup merangkum persiapan keberangkatan terkait hal-hal di luar akademik. Untuk persiapan keberangkatan menyangkut akademik agaknya malas saya tulis karena tiap universitas dan beasiswa punya ketentuan berbeda-beda, jadi kurang berasa general kalau saya share. Tapi kalau ada mas/jeng yang mau tanya-tanya lebih detail, silakan kontak saya melalui email: sausan.atika@gmail.com.

Akhir kata, saya harap ini menjadi salah satu postingan yang bermanfaat karena postingan-postingan selanjutnya tidak sedikit yang berisi konten-konten lebih personal (ceilah).

Tot later!

(Dutch: sampai jumpa nanti (later)! Disampaikan ke lawan bicara apabila kamu tahu bakalan segera bertemu lagi dengan lawan bicara tersebut).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s