Kesalahan dan Kerendahan Hati


DSC_3155.JPGMomen menjelang bulan Ramadhan mungkin selalu menjadi waktu yang kontemplatif bagi sebagian besar muslim, termasuk saya pribadi. Banyak yang memasang target ibadah A, B, C, dsb. agar bisa memaksimalkan keuntungan yang dijanjikan selama bulan Ramadhan, yakni pahala berlipat-lipat. Saya pun termasuk salah satu orang yang selalu punya target, meskipun tidak muluk-muluk. Namun, bulan puasa kali ini agaknya menjadi Ramadhan paling personal yang pernah saya jalani sejauh ini.

Beberapa hari sebelum memasuki Ramadhan, saya memutuskan untuk mencoba menjernihkan pikiran agar bisa berdamai dengan diri sendiri. Alkisah, saya sadar bahwa otak saya ini sering bisa menyimpan memori terhadap hal-hal kecil yang bahkan masih bisa diingat hingga bertahun-tahun kemudian. Tidak sedikit pula teman-teman yang meng”iya”kan (p.s.: sayang hal ini nggak berlaku buat materi-materi akademik 😦 ). Hal ini yang kemudian membuat saya sering terbersit pikiran sendiri tentang kesalahan-kesalahan terhadap sesama di masa lalu, baik yang besar maupun yang kecil. Bagian yang paling mengusik adalah fakta bahwa saya belum pernah minta maaf kepada orang-orang yang bersangkutan.

Kesalahan yang saya maksud di sini bukan sekedar perkataan atau perbuatan yang mungkin melukai perasaan orang, tapi turut berprasangka buruk. Coba ya dipikir-pikir, berprasangka buruk terhadap Allah SWT saja mudah apalagi berprasangka buruk ke sesama manusia. Perihal melakukan kesalahan, baik diketahui/tidak oleh orang yang bersangkutan, bagi saya adalah teramat penting karena muara dari penyakit ini adalah kesombongan. Kalau boleh mengutip sebuah hadits,

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan meskipun seberat biji sawi.” Lalu seseorang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai pakaian dan sandal yang bagus?” Rasul menjawab, “Sesungguhnya Allah menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR Muslim)

Dalam sepemahaman saya, sombong di sini terkait pada dua hal yakni sombong terhadap kebenaran sehingga mampu merusak hablum minallah dan sombong terhadap sesama manusia sehingga mampu merusak hablum minannas. Nah eta. Memiliki kesadaran penuh telah berbuat salah namun tidak mau meminta maaf ialah seperti menganggap remeh hati orang lain.

Sayangnya, satu hal yang paling sering terlintas terutama ketika kesalahan yang diperbuat terhitung sudah lama sekali, yaitu secara sepihak mengasumsikan bahwa ‘ah mungkin dia sudah lupa’. Hmm bisa iya, bisa tidak. Jadi, lebih baik dikonfirmasi saja dengan melakukan pernyataan maaf ya, Mas/Jeng.

Kalau kembali pada cerita “Ramadhan paling personal”, target minta maaf ini sudah saya mulai sejak hari pertama puasa kemarin. Kalau Hannah punya 13 daftar orang yang ia benci sebelum bunuh diri (baca: 13 Reasons Why), saya punya buanyaaak daftar orang yang mungkin benci sama saya terutama orang-orang yang berada dalam lingkup perkuliahan S1. Biasa lah, namanya juga kenakalan remaja di era informatika :p.

Hari pertama puasa saya awali dengan minta maaf ke orang yang pernah saya prasangkai amat buruk semasa kuliah. Hei kalau kebetulan kamu baca tulisan ini, cukup ditertawakan saja ya hahaha. Rupanya yang bersangkutan sudah tidak ingat detail kejadian ricuh waktu itu (ya iya laaah udah lewat sekitar 7 tahun lalu mungkin).

Terus buat apa minta maaf kalau orang itu pun lupa? Kalau minta maaf pun, kamu yakin akan dimaafkan? Pikiran macam ini nih yang tidak sehat karena terlalu kencang nyangkutnya di otak.

Bagi saya minta maaf bukan pada persoalan akhir dimaafkan atau tidak, namun upaya kita untuk merendahkan hati di mata manusia, sesederhana itu.

Terus, gimana? Jangan kebanyakan mikir, cukup dilakukan. Nanti Mas/Jeng bakal merasa lega luar biasa mau apapun hasil yang diperoleh.

Terakhir, kalau kebetulan membaca tulisan ini, jangan kaget kalau mungkin suatu saat di antara Mas/Jeng dapat surat cinta dari penulis :p. Dan kalau Mas/Jeng kebetulan membaca tulisan ini, saya akan sangat berterima kasih apabila secara personal diingatkan semisal saya pernah punya salah perkataan/perbuatan yang menyinggung perasaan, baik yang sudah bertahun-tahun atau bahkan baru terjadi beberapa detik lalu.

Karena bukankah tidak ada silaturahmi yang terbaik daripada sesama manusia yang saling mengingatkan pada kebajikan, bukan?

.

.

.

Groningen, 28 Mei 2017, menghadap jendela, menunggu berbuka

 

Iklan

One response to “Kesalahan dan Kerendahan Hati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s