Berjalan Bersama Para Teladan


Hari Pendidikan Nasional merupakan salah satu momentum yang relevan apabila dikaitkan dengan status kawan-kawan seperjuangan saya: pelajar. Pagi di tanggal 2 Mei ini pun media sosial diawali oleh seliweran catatan Bapak Anies Baswedan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, yang berisi motivasi terhadap para pelajar di luar negeri. Terima kasih, Pak! Hari ini memang waktu yang tepat untuk melakukan refleksi terhadap aktivitas kami, termasuk saya yang ingin menulis sesuatu terkait pelajar.

Ki Hajar Dewantara

Sumber: indonesiana.merahputih.com

 

Pendidikan itu menyangkut kebersamaan

Dalam paradigma sebagian besar masyarakat Indonesia, istilah ‘pendidikan’ melekat dengan kemampuan intelektual, yakni pendidikan formal untuk mengenyam bangku sekolah dasar hingga pendidikan tingkat tinggi. Tidak salah, memang. Namun, kemampuan memperoleh pendidikan formal tersebut kemudian dianggap menjadi sebuah pencapaian seorang manusia. Bisa masuk SMA, alhamdulillah. Kuliah S1, luar biasa! Kuliah S2 dan S3? Dewaaa!

Tidak salah, memang. Namun, mari kita renungkan kembali makna peringatan Hari Pendidikan Nasional ini. Berusaha menyelami pikiran Ki Hajar Dewantara dan paguyubannya pada tahun 1922, saya beranggapan bahwa tujuan luhur pendidikan yang ingin beliau tanamkan melalui Perguruan Taman Siswa adalah untuk membangun kesadaran massal. Kesadaran akan tanggung jawab berbangsa dan bermasyarakat. Dengan munculnya kesadaran tersebut, maka terpantiklah keinginan untuk maju. Hal ini selaras dengan semboyan Patrap Triloka yang mereka gulirkan.

Ing ngarsa sung tulada – yang di depan memberikan teladan

Ing madya mangun karsa – yang di tengah membangun kemauan

Tut wuri handayani – yang di belakang memberi dukungan

Pedoman Patrap Triloka tersebut melibatkan tiga posisi berbeda dan tidak fokus untuk membangun insan tertentu (diri sendiri). Hal ini jelas menyiratkan bahwa pendidikan yang ingin digelar oleh para pendiri Taman Siswa adalah untuk menjalankan sebuah sistem bersama demi kemajuan. Sebutlah pada masa kini: bangsa Indonesia.

Belajar dari para teladan

Ingatkah bahwa seragam SD kita kerap diberi emblem tut wuri handayani? Atas dasar itu saya rasa Patrap Triloka dapat dikaitkan dengan tingkat pendidikan di Indonesia: posisi belakang untuk sekolah tingkat dasar, posisi tengah untuk sekolah tingkat menengah, dan posisi depan untuk sekolah tingkat tinggi.

Menarik ketika mengaitkan konsep ing ngarsa sung tuladha dengan kita, para pelajar. Tren kian berubah, begitu pula paradigma. Saya rasa istilah teladan dalam benak pemuda/i erat kaitannya dengan orang-orang tua. Padahal, pemberi teladan sesungguhnya adalah siapapun yang mampu.

Ibarat ilmu padi. Seiring dengan bertambahnya pengetahuan, maka (sepatutnya) semakin mapan kemampuan berpikir seseorang yang berefek pada semakin tinggi pula tingkat kesadaran (mengulangi paragraf tiga). Semakin tinggi kesadaran, kian bertambah lah tanggung jawab untuk menjadi seorang teladan.

Tidak ada cara mendidik yang paling efektif kecuali dengan memberikan contoh. Maka tidak perlu kita kotakkan pendidik sebatas guru, karena kita semua mampu menjadi pendidik. Pendidik tak langsung, seseorang yang dengan keteladanannya (sung tuladha) mampu menstimulasi timbulnya motivasi orang lain (mangun karsa) untuk turut maju bersama mereka yang mendukung (handayani).

Mengejar gelar bukanlah sebuah tujuan akhir, melainkan proses. Oleh karena itu, Kawan… mari kita maknai masa perkuliahan sebagai proses untuk menjadi teladan. Dan ingat-ingat kembali setelah masa ini selesai, jangan berakhir untuk pribadi. Karena keinginan luhur para pencetus adalah untuk memungkinkan kita berjalan bersama atas nama bangsa Indonesia.

2 Mei 2016

Amsterdam

Iklan

One response to “Berjalan Bersama Para Teladan

  1. Mengejar gelar bukanlah sebuah tujuan akhir, melainkan proses. Oleh karena itu, Kawan… mari kita maknai masa perkuliahan sebagai proses untuk menjadi teladan.

    suka banget dengan kalimat diatas 🙂 setuju

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s