Diposkan pada Jurnal

Pendirian Museum Universitas/Lembaga Penelitian, Perlukah?


2
Gambar 1. Media audio-visual di Universiteit Museum Utrecht (sumber: penulis)

Museum dalam paradigma masyarakat identik sebagai sekedar tempat koleksi barang-barang bersejarah. Hal inilah yang (mungkin) kurang menarik minat masyarakat secara umum, terutama di kalangan anak muda. Padahal, museum saat ini tidak melulu seputar pajangan barang-barang kuno, namun dapat ditujukan pula sebagai sarana konservasi budaya seperti di Kampung Naga dan Situ Bagendit, serta sarana transfer perkembangan ilmu pengetahuan seperti museum universitas. Dalam tulisan ini, penulis akan membahas mengenai museum yang terakhir disebut: museum universitas.

Apa perbedaan museum umum dengan museum universitas? Keduanya sama-sama menjadi tempat mendokumentasikan sejarah, namun museum universitas lebih spesifik kepada lingkungan akademis.

Kebetulan saat ini penulis sedang menempuh pendidikan tingkat lanjut di Belanda, sebuah negara dengan luas daratan tidak seberapa namun memiliki lebih dari 300 museum, termasuk lebih dari 10 museum universitas. Dalam tulisan ini, penulis mencoba mengaitkan pengalaman mengunjungi museum universitas di Belanda dan melihat potensi room for improvement bagi museum di Indonesia.

Pentingnya Metode Penyampaian yang Informatif, Efektif, dan Menarik

Salah satu museum universitas yang pernah penulis kunjungi, sekaligus mengubah paradigma penulis terhadap museum adalah Universiteit Museum Utrecht. Museum satu ini bisa dibilang tidak besar, hanya terdiri atas enam (6) ruangan dan satu (1) taman botani. Enam ruangan tersebut adalah Kabinet Bleuland, Lab Science, ArcheoLAB, Down to The Bone, Youth Lab, dan Curiosities Collection.

Ruangan pertama yang penulis kunjungi adalah Kabinet Bleuland. Ruangan ini sesungguhnya amat kecil, terdiri atas 10 lemari kaca berisi penelitian-penelitian yang pernah dilakukan oleh Jon Bleuland. Beliau adalah alumni Universitas Utrecht yang memberi banyak pengaruh terhadap perkembangan ilmu kedokteran di Utrecht semasa hidupnya. Sama sekali tidak ada yang menarik dari ruangan ini. Tidak ada, sampai penulis mulai mendengarkan penjelasan yang disediakan melalui monitor di tengah ruangan.

Penjelasan yang dibawakan melalui dialog interaktif oleh dua orang di monitor tersebut tidak hanya terkait sejarah Bleuland, namun juga penjelasan mengenai perkembangan penelitian Bleuland di masa kini dan potensi penerapan teknologi baru di masa depan. Bahkan, penelitian di bidang kedokteran yang dilakukan di Universitas Utrecht turut disertakan. Penulis sengaja menghabiskan sekitar 45 menit mendengarkan seluruh penjelasan yang disajikan menyangkut Onchology, Neurology, dan Infectious Diseases. Sungguh menarik!

Berbekal dialog yang tidak kaku, percakapan yang mudah dimengerti (menjadi penting karena penulis tidak memiliki latar belakang ilmu kedokteran), dan narator-narator yang ekspresif membuat penulis merasa mendapat sedikit supply ilmu pengetahuan tentang tiga (3) bidang ilmu tersebut. Hal ini menandakan bahwa metode penyampaian informasi yang disediakan oleh museum kepada pengunjung (dalam hal ini, penulis secara pribadi) cukup efektif.

Ruangan selain Kabinet Bleuland tidak kalah informatif. Setiap benda yang dipajang selalu dilabeli informasi dalam Bahasa Belanda dan turut pula disertakan booklet terjemahan dalam Bahasa Inggris. Beberapa dilengkapi dengan video dan alat peraga yang dapat digunakan oleh pengunjung. Hampir kesemuanya disertakan dalam dua bahasa. Pengelola museum ini tahu betul bahwa pengunjung tidak hanya berasal dari dalam negeri, namun juga masyarakat asing.

Metode penyampaian menggunakan tools di atas lah yang membuat tujuan sebuah museum universitas dapat tercapai: menyalurkan perkembangan ilmu pengetahuan terhadap masyarakat luas, terutama ilmu pengetahuan di bidang-bidang yang menjadi fokus universitas. Tentu hal ini menjadi aspek besar untuk pengembangan museum secara umum di Indonesia: bagaimana menentukan metode penyampaian yang informatif, efektif, dan terlihat menarik bagi pengunjung.

Manfaat terhadap Instansi, Masyarakat Sekitar, dan Publik

Mari kita kembali kepada topik awal: perlukah instansi sekelas universitas/lembaga penelitian mendirikan museum? Mengulang kembali pernyataan penulis di awal yang menyebutkan bahwa museum universitas bergerak di lingkungan akademis serta sepotong kalimat spoiler pun telah penulis taruh di paragraf sebelumnya: menyalurkan perkembangan ilmu pengetahuan.

Bagi penulis, universitas dan lembaga penelitian memiliki peran yang amat besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, terutama melalui penelitian-penelitian maupun kegiatan yang dilakukan. Namun, alangkah lebih baik apabila karya-karya yang sudah dipublikasikan tidak mandek hanya di kalangan akademisi yang memiliki akses terhadap publikasi ilmiah, melainkan dirilis kepada khalayak luas.

Manfaat lain dari pendirian museum universitas/lembaga penelitian ialah untuk meningkatkan potensi wisata daerah. Hal ini tentu berdampak pada peningkatan perekonomian masyarakat sekitar.

Satu hal yang patut menjadi concern universitas/lembaga penelitian adalah hak paten atau informasi-informasi yang stricted terhadap publik. Namun, penulis rasa pihak instansi memiliki jauh banyak hal yang bisa dibagikan kepada publik bila dibandingkan dengan karya-karya yang (masih) perlu dilindungi.

1
Gambar 2. Museum Pendidikan Nasional di UPI (sumber: Website Museum)

Saat ini beberapa instansi pendidikan di Indonesia sudah mulai mendirikan museum masing-masing, seperti yang telah dilakukan oleh Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada, Universitas Islam Indonesia, Universitas Pelita Harapan, dsb. Termasuk yang baru saja diresmikan di Universitas Pendidikan Indonesia.

Bagi penulis, hal ini layaknya secercah optimisme: sebuah saluran yang menengahi gap antara lapisan masyarakat akademisi dan nonakademisi. Bagi penulis, saat ini sudah masuk masa di mana universitas/lembaga penelitian perlu membuka pintu gerbang, membuka akses terhadap seluruh lapisan masyarakat untuk turut menimba ilmu, meski tidak melalui jalur formal. Karena… bukankah mencerdaskan kehidupan bangsa adalah tanggung jawab manusia-manusia yang terdidik?

Leeuwarden, 1 Februari 2016

Dipublikasikan terlebih dahulu di Kompasiana: http://www.kompasiana.com/sausanatika/pendirian-museum-universitas-lembaga-penelitian-perlukah_56aea7bc3cafbd7b0ff9b882

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s