Kenyamanan dan Kesempatan


Halo! Sebelumnya, peringatan keras bagi mas/jeng yang sedang tidak ingin baca hal yang banyak basa-basi, sebaiknya lewatkan saja paragraf sebelum gambar yang tertera di tulisan ini. Sabab musabab mereka sebetulnya cuma merangkai sebuah curhatan (ceilah). Di akhir tulisan barulah saya menuangkan hasil kontemplasi ketika sedang berada di local minimum point. Ehm, kalau dalam Kalkulus bisa dibilang sebagai titik terendah dari suatu range kondisi tertentu.

Kondisi ini berawal dari minggu pertama di bulan Maret 2016, ketika salah satu teman sekelas saya datang membawa sebuah penawaran yang amat menarik: membantu penulisan sebuah bab untuk buku ilmiah, untuk selanjutnya sebut saja proyek book chapter. Meskipun sudah diwanti-wanti tidak akan ada royalti yang diperoleh dari penulisan buku ini, namun saya rasa hal ini merupakan kesempatan yang baik untuk setidaknya meninggalkan ‘jejak’ di dunia akademik level internasional. Usai membahas konsep penulisan, kami pun sepakat mengatur tenggat waktu draft tulisan pertama: 30 Maret 2016.

Masih di minggu pertama Maret 2016, tiba-tiba salah seorang kawan lama mengajak saya untuk join proyek penulisan atas nama alumni (sebuah institusi) yang doyan ngeblog. Berhubung serpihan hati saya sudah tertanam di institusi tersebut, nggak mungkin lah nolak. Dalam kurun waktu 2 minggu (meskipun waktu efektif yang saya gunakan mungkin hanya sekitar 3-5 hari karena load akademik pun sedang tinggi), terkirimlah 2 buah tulisan sederhana ala kadar. Huft.

Menjelang dan hingga 30 Maret 2016, tak disangka ternyata load akademik selesai mendaki hingga puncak dan ia mendirikan tenda selama beberapa hari di situ (baca: menuju deadline tugas). Selepas deadline tugas, saya memutuskan mengambil 1 hari off dari laptop sebelum benar-benar fokus kepada proyek book chapter yang selama 2 minggu lebih tidak pernah disentuh. Akhirnya, kurang lebih 3.5 hari saya alokasikan sepenuhnya untuk screening jurnal-jurnal, menerka alur penulisan, dan tentunya mulai nge-draft. Hasil dari SKTM (Sistem Kebut Tiga Malam)? Tentu saja nggak selesaiiiii. Kebetulan ingat pula kalau dalam seminggu ke depan ternyata sudah masuk exam week a.k.a belum mulai mencicil materi ujian. Double huft plus cry emoticon. Nah kurang nestapa apa tuh.

Dari situlah kemudian saya merasa terjerumus pada local minimum point: karena gagal menepati janji dari suatu target bersama (kalau target sendiri mah sabodo teuing). Hmm detik-detik ini merupakan waktu yang krusial karena kalimat ‘San, bilang nyerah aja’ atau versi lebih halus, ‘Ehm kayaknya gw cuma bakal menghambat progres lo deh. Jadi mungkin lo bisa pertimbangin apakah lebih nyaman ngerjain sendiri atau gimana ya?’ mulai berseliweran di kepala.

Kemudian detik dan menit berlalu mengiringi saya yang tengah menatap kosong langit-langit kamar dari kursi belajar. Menyadari kalau melamunnya kelamaan, saya pun membuka website hiburan sejuta umat, facebook, sekedar mencari barangkali ada hal yang mampu mendistraksi pikiran sejenak di sana. Scroll atas-bawah, klik kanan-kiri, sampai saya menemukan kutipan berikut.

Karno

Gambar 1. Kutipan dari Bung Karno (sumber: pinterest.com)

Mungkin Tuhan sedang memberi arah agar saya tidak terlalu larut dalam kekecewaan (duileh). Kutipan tersebut sepintas melayang-layang dalam benak, hingga sampailah saya pada kesimpulan bahwa terjun di lautan yang dalam ibarat memberanikan diri keluar dari zona nyaman. Hal ini kemudian menyentik saya bahwa telah lewat 7 bulan mengenyam pendidikan di luar negeri, namun saya (seperti) masih berada di zona nyaman. Lantas, indikator apa yang bisa diukur untuk menyatakan sebuah zona nyaman?

Dalam pandangan pribadi, saya ingin mengatakan bahwa keluar dari zona nyaman dapat diukur dari seberapa banyak kesempatan yang diambil. Terdengar ambisius? Pasti. Tapi bagaimanapun menurut saya hal ini sangat relevan (btw ambisius yang dipakai di sini sesuai paradigma umum ya, padahal kalau cek di KBBI definisi ambisius itu mirip dengan ikhtiar IMO).

Mungkin sering mas/jeng dengar ungkapan berikut: hidup yang monoton identik dengan mengukung diri di zona nyaman. Benarkah? Tentu tidak, kecuali ketika mas/jeng dihadapkan pada kesempatan yang terbentang di depan mata lalu tidak berusaha mengambilnya. Contoh, para pemulung yang menghabiskan tahunan usia mereka untuk memulung sampah. Apakah mereka hidup dalam sebuah kemonotonan? Ya. Namun, apakah mereka mengukung diri dalam zona nyaman? Saya rasa tidak. Hal ini semata-mata di mata saya, mereka tidak dihadapkan pada kesempatan di luar dari apa yang telah mereka miliki saat ini. Kebutuhan dasar yakni pendidikan formal saja mereka tidak punya, lantas apakah kita bisa berharap mereka punya kemampuan berpikir yang mantap untuk melihat peluang dan mengubah nasib?

Maka, zona nyaman yang saya singgung agaknya lebih relevan disandingkan dengan kalangan menengah ke atas. Macam saya dan mas/jeng, barangkali.

Usai membaca kutipan tersebut dan mengingat-ingat kembali tujuan awal kuliah di luar negeri membuat saya berpikir bahwa sesungguhnya terlampau banyak ragam kesempatan untuk pelajar yang bertebaran dimana-mana, yang telah saya lewatkan. Mulai dari kesempatan kecil seperti belajar bahasa sampai benar-benar bisa berkomunikasi dengan warga lokal, menjalin persahabatan (bukan sekedar bergaul ya, tapi bersahabat) dengan pelajar internasional, memiliki kemampuan memasak (nggak harus sejago koki juga cyin) untuk mengenalkan makanan khas Indonesia, dll. Sampai kesempatan besar seperti submit abstrak/paper/poster dalam konferensi internasional (ternyata konferensi internasional itu buanyak ya), join penelitian yang bukan semata-mata demi memenuhi kredit tesis/internship, dsb.

Sekali lagi, terdengar ambisius? Pasti.

Tapi, hidup memang nggak selayaknya dihabiskan dengan berdiam diri di satu tempat ‘kan?

Kembali pada kata ‘kontemplasi’ dan curhatan di awal tulisan. Dipikir-pikir, meyedihkan sekali ya kalau ternyata bendera putih harus dilambaikan untuk memotong kesempatan dan demi mengalah oleh ego, bukan oleh keadaan. Ego semata-mata karena merasa lelah, tidak sanggup menyelesaikan garis finish, bukan oleh keadaan mendesak di mana tiba-tiba dunia hancur diserang oleh negara api yang membuat semua komponen di bumi terbakar #lebay.

Akhir kata (macam pidato aja), saya merasa bahwa setiap manusia yang dianugerahi kemampuan berpikir perlu ingat kembali, betapa kelewat sayangnya jika kita tidak menghiraukan sebuah kesempatan demi mengalah pada ego untuk tetap berada di zona nyaman. Karena, sesungguhnya dari sebuah kesempatan yang diambil, maka akan terbuka kesempatan baru lainnya.

Leeuwarden, 1 April 2016

.

PS: Di tulisan ini saya beberapa kali menyinggung kata ambisius, mohon diresapi bahwa saya jelas bukan orang yang ambisius dan nggak pernah sekalipun merasa. Cuma kagum sama orang-orang ambisius (terlebih kalau berperangai tenang) yang berani ambil banyak kesempatan untuk menaikkan level diri, bahkan membuat perubahan (ceilaaah). Tapi buat mas/jeng yang ambisius, kalau kata Mbah Pidi Baiq, ‘Kalau kau terlalu ambisius ingin berhasil, dengan sendirinya kau sedang menciptakan rasa takut mendapatkan kegagalan‘. Jadi, ambisiuslah terhadap proses ya, bukan hasil 🙂 Okeeeh?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s