Diposkan pada Jurnal

Qalbun Salim Milik Nabi Muhammad SAW


Artikel kali ini adalah kutipan-kutipan ceramah Aa Gym (kemudian saya modifikasi menjadi sebuah tulisan) dalam rangka meperingati maulid Nabi Muhammad SAW dalam majelis Darul Islah di komplek rumah yang saya hadiri ba’da magrib. Supaya nggak cuma orang-orang yang tadi bisa hadir yang dapat ilmunya, jadi saya coba ringkas untuk di-share di blog. Semoga bermanfaat bagi mas/jeng atau siapapun 🙂

Bismillahirrohmanirrohim.

Jadi yaa mas/jeng yang budiman, beberapa waktu lalu kita telah melewati suatu hari di mana hari tersebut bertepatan dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW (12 Rabiul Awal). Meskipun beliau sudah tidak ada secara fisik, namun ajarannya masih tetap masih berlanjut hingga kini. Maulid Nabi Muhammad SAW bukanlah untuk diperingati, melainkan dijadikan momentum untuk menilik kembali ketauladanan beliau. Salah satu hal yang paling patut kita teladani dari beliau adalah qalbun salim, hati yang bersih.

Dikatakan dalam Q.S. Asy-Syu’ara 87-89:

وَلاَ تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ * يَوْمَ لاَ يَنْفَعُ مَالٌ وَلاَ بَنُونَ* إِلاَّ مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”

Karena sesungguhnya yang bisa bertemu Allah di surga bukanlah yang paling banyak ilmunya, paling banyak hartanya, paling tinggi kedudukannya, melainkan yang paling bersih hatinya.

Hati manusia terbagi menjadi 3, yaitu:

  1. Qalbun mayyit, yang hatinya mati. Empunya hati ini seperti orang-orang yang telah kehilangan hati nurani. Ya bisa dilihat di acara kriminal di TV. Banyak ya yang seperti itu.
  2. Qalbun marid, yang hatinya sakit. Empunya hati ini seperti orang-orang pada umumnya, yang memelihara penyakit-penyakit riya’, sombong, dengki, kikir, dsb.
  3. Qalbun salim, yang hatinya bersih. Empunya hati ini tentu saja Nabi Muhammad SAW.

Ilmu tentang hati itu tidak perlu didengar, tidak perlu dilihat, tidak perlu dirasakan. Toh kita tidak pernah lihat film Rasul atau sekalipun mendengar langsung suara Rasul, tapi ajarannya tetap sampai di hati kita.

*

Rasul pernah ditanya, “Ya Muhammad, mengapa engkau diutus ke dunia?”

Maka Rasul menjawab, “Innama bu`istu liutammima makarimal akhlak.”

(Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak)

Akhlak, dalam bahasa sederhana, adalah reaksi spontan atas apapun yang terjadi terhadap manusia. Akhlak yang baik milik seseorang ialah ketika dalam situasi apapun, yang keluar dari mulutnya adalah baik dan yang dilakukan oleh perilakunya adalah hal yang baik.

Bukanlah ahli ibadah bagi orang yang paling banyak ilmu, paling banyak harta, maupun paling lama menangis ketika berdoa, melainkan seseorang yang paling baik akhlaknya. Karena sesungguhnya keluaran ibadah adalah akhlak.

[Trivia] Seorang ayah dan ibu sedang mengendarai motor di jalan, tiba-tiba bannya kempes.

Ibu: “Yah…gimana ini bannya kempes.”

Ayah: “Inna lillahi…semua memang ada waktunya, Bu.”

Ibu: “Tapi meletus lho, Yah.”

Ayah: “Ga apa-apa, Bu. Tandanya ada rejeki tukang tambal ban masih ada di dompet kita.”

Ibu: “ Tapi kan masih jauh, Yah.”

Ayah: “Berarti Tuhan tahu kita selama ini kurang olahraga. Ayo Bu, kita bawa motor ini. Ibu yang dorong, Bapak yang naik.” hehehe

 *

Sumber: ieylaenola.blogspot.com
Sumber: ieylaenola.blogspot.com

Kunci memelihara akhlak yang baik itu sederhana, asalkan jangan TENGIL: Takabur, Egois, Norak, Galak, Iri, dan Licik.

1.       Takabur

“Tidak akan masuk surga orang dengan kesombongan sedikit pun”.

Biar nggak sombong pakai rumus tukang parkir. Mobil ganti-ganti biasa ‘aja. Mobil diambil sampe abis tapi tidak sakit hati. Karena ia tahu itu semua cuma titipan.

2.       Egois

Contoh kecil orang egois ialah para perokok. Mereka enak sendiri ketika menebarkan racun ke udara. Satu-satunya perokok yang tidak egois adalah yang menutupi kepala rokoknya dengan kresek hehehe.

Lagipula kalau dihitung-hitung, merokok sehari bisa mengeluarkan uang 10 ribu. Berarti sebulan 300 ribu. Setahun 3 juta 650 ribu. Kalau jumatan? Sehari seribu. Sebulan 4 ribu. Setahun 48 ribu.

Ehm itulah betapa egoisnya para perokok, banyakan pengeluaran untuk rokok (padahal nggak termasuk kebutuhan primer) dibanding sedekah hehehe.

3.       Norak

Norak, atau riya’. Apapun yang dilakukan ingin dilihat oleh orang lain.

Kunci dari menghindari norak cuma satu: Jangan pengen dipuji. Jangan takut dicaci. Kalau nggak hati-hati terima pujian orang, bisa-bisa jadi munafik. Na’udzubillahi min dzalik.

Alkisah ada seorang istri yang hidup dengan suami tunanetra. Ia gemar membersihkan rumah, merawat kebun, dan berpakaian yang indah. Para tetangga bertanya mengapa ia senang melakukannya padahal sang suami tidak bisa melihat hasil kerjanya.

Sang istri menjawab, “Saya senang bersih-bersih rumah karena saya tahu Allah suka itu. Begitu pula terhadap suami. Bukannya begitu menyukai suami saya, tapi karena Allah yang membolak-balikkan hati saya sehingga memilih hidup bersama dia.”

Kisah ini mengajarkan, bahkan terhadap orang terdekat pun tidak perlu kita bersikap riya’.

4.       Galak

Kunci dari mencegah sikap galak adalah mengupayakan untuk tegas.

Marah itu asalnya nafsu, berujung pada zalim.

Tegas itu asalnya fakta, berujung pada aturan.

Contoh paling sederhana ialah ketika anak merajuk minta ini-itu. Jangan marah, atau mengalah. Bersikaplah tegas, karena anak melihat orang tua sebagaimana orang tua menatap sang anak.

5.       Iri

Kadang kita terusik dengan orang-orang yang tidak suka melihat kita senang. Orang yang sebal dengan kita sebetulnya adalah orang yang mengingat kita terus siang dan malam. Harusnya kita kirim bolu sebagai apresiasi terhadap mereka hehehe.

Lagipula, dihina bukanlah sesuatu yang luar biasa. Rasul saja banyak yang hina, masa manusia yang memang hina nggak ada yang ngehina?

Dan…begitu pula sebaliknya.

Orang bodoh itu orang yang mikirin hal-hal yang nggak perlu dipikirin, yang komen hal-hal yang nggak perlu dikomen, dan yang ngurusin hal-hal yang nggak perlu diurusin. Kutipan satu ini relevan juga sama gibah! Nah jadi inget kesalahan-kesalahan lalu suka ngomongin orang ya. Astaghfirullah >.<

Jadi nggak perlu iri (ataupun gibah, keduanya dekat) karena takdir mah nggak akan ketuker.

6.       Licik

Contoh paling sederhana terangkum dalam percakapan berikut.

Ayah: “Bu, mau nggak punya suami jujur?”

Ibu: “Ya mau lah!”

Ayah: “Klo gitu, ibu juga harus jadi orang jujur.”

Ibu: “…..”

Ayah: “Bu, siap nggak kalau saya ungkapin semua secara jujur sekarang?”

Ibu: “………………..”

Nah loh gimana nih bangsa ini mau maju kalau ibu-ibunya plin plan hahaha [Trivia aja :p].

Licik itu ialah ketika kita menginginkan sesuatu yang baik, tapi tidak mau berubah menjadi baik pula. Tidak mau berusaha menjadi orang yang pantas untuk diberikan hal tersebut. Hal ini berlaku dalam segala aspek baik dalam rezeki, jodoh, maupun perlakuan orang lain terhadap kita.

 *

Okeee mas/jeng, sepertinya semua inti sudah dirangkum. Akhir kata, tulisan ini hanya perlu ditutup dengan kalimat retoris.

Sudahkah kita berupaya menjadi manusia yang memiliki qalbun salim? Ataukah hati kita yang memang belum siap dibersihkan dari penyakit-penyakit?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s