Diposkan pada Jurnal

Potensi Riya’ di Social Media


Social media (socmed) sepertinya telah menjadi kebutuhan primer bagi masyarakat Indonesia. Dalam sehari rata-rata berapa jam akumulasi kita menggunakan socmed (masuk hitungan meskipun cuma lihat-lihat)? Bahkan socmed digunakan untuk upload foto dan update status layaknya doa sebelum makan maupun sebelum tidur.

Bagi saya, inti dari socmed adalah update status karena wajar kita menginginkan respon bagi siapapun yang membaca (biasanya status ini bersifat lebih personal), atau sekedar berbagi informasi. Nah, yang ingin saya jadikan concern ialah fenomena update status yang berpotensi riya’. Karena penulis juga dulunya pasti pernah melakukan hal yang sama, jadi sekarang markicob (mari kita coba) untuk tidak mengulanginya lagi hehehe.

Apa Sih Riya’?

“Dan (juga) orang-orang yang menginfakkan hartanya karena riya kepada orang lain (ingin dilihat dan dipuji), …” QS. An-Nisa’ : 38

Oleh Syekh Ahmad Rifa’i, beliau mengatakan sebagai berikut.

وَهُوَ قِسْمَانِ : رِيَاءٌ خَالِصٌ كَانَ لاَ يَفْعَلَ الْقُرْبَةَ إِلاَّ لِلنَّاسِ ,

 وَرِيَاءٌ شِرْكٌ كَانَ يَفْعَلَهَا ِللهِ وَلِلنَّاسِ وَهُوَ أَخَفُّ مِنَ الْأَوَّلِ

Riya’ dibagi kedalam dua tingkatan: riya’ kholish yaitu melakukan ibadah semata-mata hanya untuk mendapatkan pujian dari manusia, riya’ syirik yaitu melakukan perbuatan karena niat menjalankan perintah Allah, dan juga karena untuk mendapatkan pujian dari manusia, dan keduanya bercampur(Sumber)

Status yang Berpotensi Riya’

Sebagai awalan, saya coba kasih contoh dua buah status yang (menurut saya) bisa menimbulkan persepsi berbeda.

Status A : “Tahajjud meninggikan derajat muslim.”; “Sampaikanlah walau 1 ayat.”

Status B : “Alhamdulillah bisa tahajjud jam segini.”; “Mau baca Al-Qur’an tapi digangguin adek nih.

Status A bersifat informatif, sehingga (mungkin) sang updater ingin menekankan pentingnya melakukan tahajjud atau berdakwah. Sedangkan status B, inilah yang menurut saya berpotensi menimbulkan riya’ karena hal ini jelas menyatakan bahwa sang updater baru saja melakukan tahajjud atau baru mau baca Al-Qur’an. Lalu, apa concern-nya?

Kalau kita baru saja memulai untuk merutinkan ibadah yaa wajar sih timbul perasaan excited. Beda kan, kalau sesuatu itu sudah rutin kita lakukan maka semakin kecil kemungkinan kita akan publikasi tentang hal tersebut.

Yang paling penting untuk diiingat kembali bahwa, jutaan manusia di dunia ini pasti sudah banyak yang rutin melakukan tahajjud, bahkan sejak mereka belum akil balig. Dan jutaan manusia pula yang sudah khatam berpuluh-puluh kali dan hafal Al-Qur’an, lagi-lagi sejak mereka belum akil balig. Sementara sang updater status B baru saja menyatakan bahwa ‘akhirnya gw tahajjud nih’ atau ‘gw udah mau baca Al-Qur’an tapi banyak gangguan’.

Hmm…bukankah seharusnya kita justru malu atas kekurangan kita dalam menjalankan ibadah selama ini?

Wallahu a’lam bish shawab.

Kunci : Ikhlas

Hal kecil yang menurut saya relevan dengan topik kali ini adalah, pernahkah kita menemukan secara diam-diam orang yang ternyata baik dalam beribadah tapi tidak diketahui secara umum karena ia tidak pernah menyinggung ibadah yang ia lakukan? Saya pernah.

Kesan positif terhadap orang seperti itulah yang lebih kuat dibandingkan dengan orang-orang yang kita tahu dia sudah melakukan ibadah tertentu. Kita terkesan karena kita tahu ada orang-orang yang (mungkin) sudah berhasil untuk ikhlas dalam beribadah sementara kita masih struggle untuk ikhlas (ribet ya kata-katanya hehehe).

Ikhlas adalah hal yang paling sulit untuk diraih di dunia ini karena kita sendiri tidak tahu pasti apakah hati kita benar-benar ikhlas atau akal kita saja yang memaksa untuk berkata bahwa kita sudah ikhlas. Dan mendiamkan ibadah yang sudah kita lakukan bisa jadi salah satu bukti kalau kita sudah ikhlas.

Wallahu a’lam bish shawab.

Semoga tulisan ecek-ecek ini bisa jadi refleksi baik untuk penulis maupun mas/jeng untuk kembali meyakinkan diri apakah segala hal yang kita lakukan ini didasari keikhlasan mengharap ridho Allah SWT atau masih ada syarat lain. Mari sama-sama memperbaiki diri. Cihuy.

 

Iklan

3 tanggapan untuk “Potensi Riya’ di Social Media

  1. Can’t agree more, semoga kita dijauhkan dari riya’ melalui media sosial, karena Ikhlas yang sejati seperti surah Al Ikhlas, judulnya Ikhlas tapi gak pernah ada kata ikhlas di dalamnya #Cihuyjuga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s