Diposkan pada Jurnal

Kebingungan Atas Maraknya Tindak Protes Individual


Siang ini saya sempat membaca berita mengenai seorang WNI yang nekat memanjat tower listrik karena merasa kecewa terhadap pemerintah yang tidak memberikan ganti rugi lahan di NTT, daerah asalnya, yang rusak atas semburan uap dari PLTU. Dalam berita tersebut dikatakan bahwa ia dan teman-temannya pada Agustus 2012 lalu sempat bertemu dengan presiden namun hingga kini belum ada tindak lanjut terhadap permasalahan ganti rugi tersebut. Akibatnya, ia melakukan sebuah ‘gertakan’ dengan memanjat tower listrik tersebut hingga aspirasinya didengar.

Terus terang saya merasa terganggu dengan berita di atas. Pertama, saya membingungkan soal WNI yang nekat tersebut. Sepertinya sudah terlampau banyak orang yang kecewa terhadap kinerja pemerintahan saat ini, jika ditinjau dari media sosial. Tapi, apa ya manfaatnya melakukan gertakan yang membahayakan diri sendiri secara individu? (Selain media yang mendapat pemberitaan).

Dulu awalnya saya terenyuh dengan pemberitaan mengenai orang-orang tersebut yang berani dan tulus mengekspresikan kekecewaannya dengan tindakan yang nyentrik. Namun, semenjak kian marak tindakan-tindakan nyentrik individual tersebut, terlepas dari ketulusan niat menyampaikan aspirasi, sekarang saya jadi bingung sendiri dengan keputusan orang-orang yang mengekspresikan bentuk kekecewaan secara individu misalnya dengan: membakar diri, memanjat tower, berjalan kaki dari ujung timur ke ujung barat pulau Jawa, dsb. Sederhananya sih, kalau kamu kehilangan nyawa karena melakukan tindakan tersebut, apa kamu bisa melihat hasilnya jika terjadi perubahan? Tuhan menciptakan raga bukan untuk kamu sakiti, melainkan pendukung aktivitas yang kamu kerjakan di dunia. Apa kamu tidak bersyukur?

Secara umum, jelas tindak komunal akan berdampak lebih besar dibandingkan tindak individual. Jadi patut lah kalau mau protes, pikirkan bentuk tindak komunal yang sekiranya sama-sama nyentrik dan tidak membahayakan diri sendiri. Demonstrasi (pastinya yang tertib, terencana, dan sesuai peraturan yang berlaku) menurut saya masih lebih baik, selain dilegalkan pula di Indonesia.

Kedua, saya rasa menjadi WNI juga harus lebih toleran dalam menentukan sasaran keluhan. Apakah semua orang harus menuntut kepada Pak Presiden yang notabene memiliki menteri-menteri, deputi-deputi, dan struktural lain yang lebih berwenang mengerjakan hal-hal teknis.

Memang semua tahu bahwa RI-1 adalah orang yang paling bertanggung jawab terhadap semua carut marut yang ada di negeri ini, tapi tentunya permasalahan yang diajukan secara individual tersebut mungkin hanya 0,001% dari seluruh permasalahan (yang saya yakin), dipikirkan juga oleh presiden. Perekonomian, perbatasan pulau, korupsi, dan topik-topik lain yang memberi dampak lebih kompleks dan menurut saya lebih prioritas untuk dipertimbangkan oleh seorang presiden.

Tulisan ini merupakan sebuah opini yang perlu diperkaya oleh sudut pandang lain. Semoga kita sebagai WNI bisa lebih bijak dalam menyikapi persoalan di negeri ini. Never give up to this country. Terima kasih! 🙂

Sumber : www.successculpting.com
Sumber : http://www.successculpting.com
Iklan

Satu tanggapan untuk “Kebingungan Atas Maraknya Tindak Protes Individual

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s