Diposkan pada Cerpen

Negeri Di Awan


Tulisan ini saya dapat ketika sedang browsing pada tahun 2007, waktu masih kelas 2 SMA kalau tidak salah. File ini terselamatkan karena saya simpan di MP3 Player saya yang masih bertahan sampai sekarang. Untuk ukuran anak SMA, tulisan ini sangat bagus menurut saya kala itu. Sekarang, ketika membaca ulang sepertinya menjadi biasa saja karena sudah muncul banyak tulisan-tulisan sejenis. Biarpun begitu, tetap saja sajak ini sangat berkesan (terutama bagian Bahasa Indonesia, Matematika, dan Arsitektur). Selamat membaca!

Sumber : Unknown

Dokumentasi Pribadi
Dokumentasi Pribadi

Teruntuk Indonesiaku

 

Salam Sejahtera Selalu,

Hai Indonesiaku, bagaimana kabarmu ?

Sebelumnya, maaf aku tidak menulis hari, tanggal, bulan, juga tahun. Sebab, di negeri baruku, negeri di awan, tidak pernah ada perhitungan tentang itu. Juga maaf, baru sekarang aku bisa mengirim surat sebab negeri baruku sangatlah indah hingga wajar kalau aku lupa tentang Tanah Air Indonesia yang sangat membosankan.

Di negeri baruku, negeri di awan, kehidupan sungguh sangat indah. Pemimpin kami, Penguasa Seluruh Alam. Seluruh warga patuh pada Firman-Nya. Ia bukan seorang lelaki yang gila tahta dan kuasa, sebab kekuasaan-Nya adalah tak terbatas. Ia tak mempunyai keturunan yang serakah. Yang selalu berusaha menumpuk harta. Ia juga bukan wanita gendut bertahi lalat yang hanya bisa tersenyum. Yang berjalan terseok-seok memikul nama besar bapaknya.

Di negeri baruku, negeri di awan, kami tak terpisah oleh Suku, Agama, Ras atau Golongan. Kami hidup berdampingan. Bebas dari ancaman bom, kerusuhan, apalagi apalagi yang namanya pemberotakan bersenjata. Sebab itu, kami tak perlu Brimob, Paskhas, Kopassus, bahkan Laskar Jihad atau Pam Swakarsa sekalipun.

Di sini, hutan kami hijau sebab tak ada HPH, juga penebang liar. Kami sangat bebas dari ancaman banjir. Siang, kami disinari mentari, disejukkan oleh hembusan angin. Kami tak perlu AC atau sekadar kipas angin. Malam kami diterangi cahaya rembulan, dihiasi gemerlap bintang bintang. Jadi, kami tak pernah dipusingkan oleh ancaman kenaikan tarif dasar listrik. Sebab kami memang tak butuh listrik. Di sini, juga tak ada gedung bertingkat. Rumah kami tak perlu dipagari tembok yang tinggi. Suara kami selalu terbawa angin. Jadi, kami tak butuh telepon. Persetan dengan ancaman kenaikan tarif telepon 2003.

Yang lebih mengayikkan, di sini, kehidupan terus mengalir seperti air. Kami berjalan menelusuri pelangi. Tak pernah ada kemacetan yang membosankan. Dapat dipastikan, di kiri-kanan jalan kami, tak pernah ada bendera hijau, merah, kuning yang semrawut. Juga tak ada spanduk yang mengotori. Kehidupan kami serba kecukupan karena tak pernah ada korupsi. Anak cucu kami juga tentang karena kami tidak dibebani pinjaman hutang luar negeri.

Oh ya, bagaimana keadaan Ibu Kota Tanah Air Indonesia saat ini ? Masih terbitkah koran yang namanya lampu merah itu ? Lalu, bagaimana caranya supaya aku bisa berlangganan ? Sebab, di negeri baruku,  tak ada yang namanya copet, jambret, garong, maling, atau pemerkosa. Jadi tak ada berita tentang itu. Kehidupan seks kami juga sangat mengasyikkan. Tentunya kami tak butuh iklan Mak Erot dkk.

Di sini, di negeri diawan, tak ada penunggang banteng lapar bertanduk lancip yang mengancam dengan sorotan mata merah. Juga tak ada pohon beringin yang angker. Yang dihuni oleh iblis-iblis laknat. Juga tak ada pinokio lapar dkk. Jadi, uang kami aman dan subsidi berjalan lancar. Sekolah tak mengenal uang SPP, uang gedung, atau siluman lain-lain. Jadi, kami tak perlu membaca berita provokatif seperti isi koran Rakyat Merdeka.

Di sekolah, anak kami belajar dengan santai. Sebab mereka hanya mengenal tiga pata pelajaran. Pelajaran Bahasa, Matematika, Asitektur. Dari pelajaran bahasa, mereka benar-benar tahu bagaimana berbahasa yang baik dan benar. Bukan baik tapi tidak benar atau benar tapi tidak baik. Karena guru bahasanya lebih ahli dari Anton W. Kusuma. Bahkan lebih ahli dari JS. Badoedoe. Dari pelajaran matematika, anak kami benar-benar bisa menghitung dengan benar sebab mereka tidak diajari menghitung komisi atau catut mencatut. Dari pelajaran Arsitektur, mereka benar-benar tahu bagaimana merencang sebuah kota yang berwawasan lingkungan. Bukan kota yang penuh sampah, limbah serta polusi.

Aduh, maaf, sungguh panjang ceritaku. Bagaimana kabar Republik Indonesia sekarang ? Masih adakah pengamen, pengemis, atau pemeras yang selalu mengganggu itu ?

Kurasa, cukup sampai di sini bakar dariku. Jika ada waktu, kirimlah kabar tentang Indonesia untukku. Bagaimanapun, aku rindu tanah tempat air kelahiranku. Tapi, bagaimana caranya. Sebab aku tak boleh memberitahu dimana alamatku di negeri baruku, negeri di awan. Sebab, maaf, negeri baruku tertutup untuk mereka yang tak pernah bersujud dengan ikhlas mengharap ridho-Nya.

Salam

 

Iklan

2 tanggapan untuk “Negeri Di Awan

  1. judulnya bikin inget sama lagu berjudul sama yg dinyanyiin sama katon bagaskara can >_< kirain bakal ngebahas lagu itu, hehe

    btw browsing kamu browsing apaan can ampe nemu tulisan bagus begitu? *wondering*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s