Diposkan pada Jurnal

Percakapan dengan Tukang Reparasi Komputer


Dua minggu lalu saya pergi ke sebuah mall di daerah BSD untuk preparasi laptop saya yang nge-hang semalaman. Ternyata penjaga oultlet reparasi komputer itu bilang kalau laptop saya harus diinstal ulang. Dengan meminjam hardisk ayah, saya minta supaya data dalam komputer agar bisa dibackup. Menit-menit pertama suasana hening karena saya yang gaptek ini sibuk memperhatikan lamat-lamat layar komputer, mengamati perkembangan proses backup *yang sesungguhnya nggak penting untuk diamati*.

Proses backup berjalan agak lama, sudah lewat sekitar 15 menit dan kami berdua tetap berada dalam keheningan *ceilah*. Setelah merasa awkward sejenak, saya akhirnya mencoba memulai percakapan.

S alias saya: “Mas, kalau backup data gini berapa lama ya kira-kira?”

M alias si Mas: “Itu tulisannya sih 8 jam, Mbak. Filenya banyak sih.”

Dalam hati, ‘Waduh tau gitu ditinggal daritadi’. Lalu si Mas bertanya,

M: “Ini semua harus satu-satu folder dipindahinnya. Mau folder yang mana aja, Mbak, yang dibackup?”

S: “Oh yang A, B, C, dll aja, mas.”

Sambil mengotak-atik komputer, si mas bertanya lagi,

M: “Kuliah di mana, Mbak? Udah semester berapa?” Pertanyaan ini muncul pastinya setelah melihat folder KULIAH di laptop saya.

S: “ITB, Mas. Baru lulus.”

Lalu perbincangan kami berlanjut. Si Mas (yang 2 minggu kemudian saya lupa namanya, tetap sebut saja si Mas) ini mengatakan bahwa ia adalah seorang lulusan D3 Teknik Mesin Otomotif yang setelah lulus dikirim ke Amerika Serikat untuk bekerja membantu proyek pembuatan robot. Ia bekerja selama 4 tahun dan setelah sekian lama di negeri orang, tercetus keinginannya untuk kembali ke Indonesia. Selain faktor kangen keluarga, ingin berkeluarga, juga pastinya muncul ke-tidak enak hati-an bekerja untuk negara lain.

Sayang beribu sayang, sesampainya di Indonesia si Mas justru kesulitan untuk mendapat pekerjaan. Ia harus bersaing dengan para lulusan SMK yang di masa kini dianggap telah memiliki ketrampilan mencukupi, dan para fresh graduate lainnya. Ia mengatakan bahwa sebagian besar perusahaan yang ia datangi lebih memilih mereka ketimbang ia yang sudah berpengalaman di luar negeri. Hingga akhirnya ia harus berakhir dengan menjadi tukang reparasi komputer dalam sebuah outlet kecil di sudut mall ini.

Muncul banyak spekulasi dalam otak saya. Apakah faktor si Mas yang masih kekurangan akses untuk mendapat informasi lowongan pekerjaan yang cocok dengan kualifikasi yang ia miliki, background bidang robotik yang masih jarang di Indonesia, dalih perusahaan yang tidak mau merekrut orang berpengalaman agar gaji yang dikeluarkan tidak terlampau besar, atau faktor-faktor lainnya.

Namun, dari sekian banyak media yang memberitakan mengenai contoh-contoh atlet Indonesia yang kini berjibaku dengan nasib untuk dapat terus menyambung hidup, para insinyur yang melarikan diri ke luar negeri, para aktivis yang tiba-tiba menghilang seperti ditelan bumi, dan lain sebagainya.

Satu hal yang benar hanyalah selama berpuluh tahun alangkah meruginya bangsa ini tidak pernah bisa memanfaatkan potensi sumber daya manusia yang dimiliki.

Sekian orang mengatakan, ‘Bangsa kita bangsa yang kaya karena punya sumber daya alam dan sumber daya manusia yang melimpah. Lantas, kenapa tidak bisa kita berdiri di atas kaki sendiri?

Dokumentasi Pribadi
Dokumentasi Pribadi

Pertanyaan yang patut kita renungkan dalam diri masing-masing sebagai Warga Negara Indonesia.

Iklan

2 tanggapan untuk “Percakapan dengan Tukang Reparasi Komputer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s