Diposkan pada Jurnal

Trip to Dieng (Part 1)


Trip to Dieng dalam rangka tahun baru 2013 dilakukan oleh tiga anak bernama Sausan alias si empunya blog, Dida, dan Icon. Perjalanan dimulai pada tanggal 30 Desember 2012 dengan duduk manis dalam Bis Malino jurusan Wonosobo yang berangkat pukul 17.00 dari terminal Lebak Bulus. Ternyata hingga pukul 18.30 kami cuma diajak muter-muter Jakarta ke terminal Rawamangun dan disuruh ganti Bis Malino yang kali ini BENAR-BENAR jurusan Wonosobo karena tarif parkir 1 bis di Lebak Bulus bisa sampai ratusan ribu.  Damn. Hampir 2 jam waktu terbuang sia-sia.

Esoknya, kami turun di perempatan Wonosobo sekitar pukul 06.30. Jalan sedikit menuju alun-alun dan menikmati sarapan soto ayam. Dari alun-alun, pukul 08.00 kami jalan sedikit menuju pertigaan untuk nyegat minibus ke arah Dieng.  Perjalanannya menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam. Kami turun di pertigaan yang sebelah kanannya (sebagai patokan) bertuliskan “Penginapan Bu Djono”. Selanjutnya kami jalan kaki ke arah Dieng Kulon sampai di Homestay Cantigi, penginapan yang sudah saya booking seminggu sebelumnya. Bagi yang mau ke Dieng pas masa-masa libur nasional, emang harus booking dari jauh-jauh hari karena pasti penuh.

Sepanjang jalan merupakan penginapan. Selain warung-warung, ada 1 toko Indomaret, jangan khawatir. O iya, bagi yang mau ke Dieng sebaiknya sudah siap uang di dompet karena yang ada hanya ATM BRI dan itupun jarang berfungsi.

Homestay kami terdiri dari 3 kamar dan saat itu diisi semua. Selain oleh kami, ada juga 3 cewek Bandung dan 2 cowok Jogja. Jadi dalam 1 rumah ada 3 rombongan. Namanya rumah ya pasti ada fasilitas TV, dapur, dan kamar mandi (tanpa air panas dan letaknya di luar kamar). Biasanya bagi yang homestay, fasilitas-fasilitas tersebut dapat digunakan kapan saja kecuali untuk dapur harus nyediain sendiri bahan-bahannya (misal: mi rebus & telur).

IMG_9593
suasana Homestay Cantigi

Sekitar pukul 10.00 kami langsung cabs keliling Zona 1. Di Dieng, terdapat 2 zona wisata yaitu Zona 1 (Utara) dan Zona 2 (Selatan). Zona 1 adalah kawasan yang dekat dengan penginapan jadi bisa dijangkau dengan jalan kaki.

.

ZONA 1 —

Kompleks Candi Arjuna. Di sini tersebar beberapa candi. Ada jasa pula untuk foto bersama Teletubbies karena rumputnya mirip dengan rumput di serial Teletubbies serta grup Hanoman. Biayanya 10.000 untuk foto langsung jadi dan 5.000 untuk foto dengan kamera milik sendiri. Di belakang kompleks Candi Arjuna terdapat Museum Dieng, tapi kami nggak berminat mampir.

candi-candi
candi-candi
Foto sama Teletubbies uhuy
Foto sama Teletubbies uhuy

Dari museum jalan belok ke kanan sekitar 1,5 – 2 km menuju Telaga Warna.

Telaga Warna. Di dalam Telaga Warna bukan hanya telaga saja yang dapat dilihat, tetapi juga beberapa gua kecil. Telaga Warna dinamakan seperti itu karena warnanya dapat berubah-ubah tergantung pada cuaca dan temperatur. Kami mendapati warna telaga pada bagian pinggir berwarna hijau seperti warna susu melon (tapi lebih tua) tetapi pada bagian tengah warnanya menjadi hijau jernih lalu bening hingga membentuk cermin bagi bukit di pinggirnya.

Dari pinggir telaga
Dari pinggir telaga
Bagian tengah
Bagian tengah
Seberang, menuju perbukitan
Seberang, menuju perbukitan

Usai dari Telaga Warna kami ishoma di seberang karena hujan deras. Perjalanan dilanjutkan sekitar pukul 13.30 jalan kaki sekitar 1 km menuju Kawah Sikidang.

Kawah Sikidang. Kawah ini areanya sangat luas namun kolam kawahnya sendiri tidak terlalu luas. Di sini terdapat jasa foto bareng kuda (hitam maupun putih) dengan tarif sama seperti halnya Teletubbies di Candi Arjuna. Jangan lupa menggunakan masker karena bau belerang yang menyengat.

Kawah Sikidang, masih ngebul
Kawah Sikidang, masih ngebul
Perbukitan sekitar Kawah Sikidang
Perbukitan sekitar Kawah Sikidang

Usai dari Kawah Sikidang, karena sudah sore dan capek jalan kaki, kami memutuskan naik ojek menuju Homestay dengan tarif 10.000. Beres-beres, shalat magrib lalu pergi makan malam.

.

MAKANAN KHAS

Mi Ongklok. Berupa mi dengan kuah kental seperti kuah Lo Mie. Lebih pas disajikan dengan sate sapi. Kata empunya Homestay, mi ongklok lebih enak di Wonosobo daripada di Dieng.

Purwaceng. Kalau mas/jeng googling2 tentang Dieng pasti banyak rekomendasi untuk mencoba minuman Purwaceng. Tapi jangan tertipu karena minuman ini sebenarnya merupakan minuman penambah stamina khusus pria hehehe. Dibuat dari tanaman bernama sejenis.

Carica Dieng. Berupa manisan buah carica. Buah ini pohonnya sangat mirip pepaya tapi ukuran buahnya kecil dan tekstur daging buahnya lebih mirip nangka. Buah carica dapat ditemukan juga di Negara Peru (jauh amat ya, Indonesia cuma Dieng punya)

.

Budget Hari 1

Bis (tanpa makan malam) = 80.000

Minibus ke Dieng = 10.000

Homestay 1 malam = 175.000/3 orang

Tiket kompleks Candi Arjuna = 10.000

Tiket Telaga Warna = 7.000

Tiket Kawah Sikidang = 10.000

Ojek pulang = 10.000

Makan 3x = 30.000

Mi ongklok = 15.000

TOTAL = Rp 232.000

.

Bersambung ke Part 2

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s