Diposkan pada Jurnal

Spirit TRI HITA KARANA : Relevansi Dengan Permasalahan Global


Pertama kali saya mengenal istilah Tri Hita Karana pada awal semester 8 perkuliahan dari seorang dosen yang juga seorang Duta Besar Indonesia untuk UNESCO (Organisasi Pendidikan, Keilmuan, Dan Kebudayaan dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa). Di dalam kelas beliau sempat bercerita mengenai istilah tersebut, yang saat ini sedang diajukan sebagai world heritage (warisan budaya dunia) kepada UNESCO.

Kunci Kesejahteraan
Dalam Islam, dikenal suatu pola hubungan hablum minannas (hubungan manusia dengan sesama) dan hablum minallah (hubungan manusia dengan Allah). Begitu pula dengan agama lain, salah satunya ialah Hindu, juga memiliki konsep yang sama. Hanya saja, sejak berpuluh tahun yang lalu umat Hindu di Bali memberi kedudukan yang sama pentingnya terhadap penambahan sebuah aspek lain dari pola hubungan tersebut, yang kemudian diperkenalkan dengan istilah Tri Hita Karana. Konsep yang sebenarnya secara tak sadar telah diimplementasikan sejak berabad-abad lalu, namun untuk pertama kalinya diistilahkan oleh masyarakat Bali pada tanggal 11 November 1966 saat diselenggarakan Konferensi Daerah I Badan Perjuangan Umat Hindu Bali di Kota Denpasar.

Tri = Tiga
Hita = Sejahtera
Karana = Penyebab

Tiga Kunci Kesejahteraan yang diyakini oleh masyarakat Bali, ialah terciptanya keharmonisan hubungan antara :
1. Manusia dengan Tuhannya
2. Manusia dengan sesamanya
3. Manusia dengan alam lingkungannya

Dengan menerapkan Tri Hita Karana maka diyakini dapat terwujud kehidupan harmonis yang meliputi pembangunan manusia seutuhnya yang berbakti terhadap Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa), cinta kepada kelestarian lingkungan serta rukun dan damai dengan sesamanya.

Masyarakat Bali Dengan Nilai Budaya Yang Adiluhung
Hingga kini, Tri Hita Karana masih dipegang teguh oleh masyarakat Bali. Perwujudan budaya yang telah disepakati tersebut tak tanggung-tanggung. Berbagai institusi (perusahaan, pariwisata, dll) kerap ‘memegang’ konsep tersebut dalam aktivitas sehari-hari institusi. Pemerintah provinsi pun turut mendukung, salah satunya ialah dengan memberikan apresiasi terhadap para pelaku melalui penghargaan Tri Hita Karana.
Kemudian, saya teringat dengan sebuah buku fenomenal berjudul “The Limits To Growth” yang diterbitkan pada tahun 1970-an, membahas mengenai permodelan collapse-nya Bumi dalam beberapa tahun mendatang akibat ketidakseimbangan antara populasi manusia dengan sumber daya yang makin terkuras.
Beberapa tahun sebelum Sekjen PBB, U Thant, pada tahun 1969 pertama kali mengemukakan kegelisahannya mengenai kehancuran sumber daya yang sebagian besar dieksploitasi untuk kebutuhan perang dunia, masyarakat Bali telah membuat sebuah jawaban sekaligus komitmen terhadap permasalahan tersebut.

Maka, memang sudah selayaknya ‘menyebarkan kunci kesejahteraan’ dalam pengaruh yang lebih luas lagi melalui pengakuan dunia, atas keberhasilan masyarakat Bali yang telah melahirkan sebuah nilai adiluhung terhadap permasalahan global yang santer diperdebatkan dalam beberapa dekade terakhir ini.

Dukung Tri Hita Karana sebagai World Heritage! 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s