Diposkan pada Jurnal

Persepsi tentang Obral Janji


Banyak orang mengatakan bahwa masa kampanye adalah masa serba salah bagi kandidat dan serba benar bagi pemilih. Karena apa-apa yang dilontarkan oleh kandidat seakan tidak pernah ideal di mata pemilih. Apalagi kalau hanya satu kandidat, lawannya adalah kesempurnaan.

Saya adalah orang yang pernah menjadi kandidat dan pernah menjadi pemilih dalam skala KM-ITB. Kandidat, setahun yang lalu ketika mencalonkan diri menjadi senator. Pemilih, sudah 3 tahun terakhir.

Beberapa bulan setelah melewati masa kampanye kala itu saya merasa amat jijik dengan metode kampanye yang saya lakukan dengan memasang poster diri di mana-mana serta berbicara selangit, layaknya metode-metode kampanye pada umumnya. Pencitraan, kalau orang bilang.

Bahkan saya sempat merasa ganjil dengan diri sendiri ketika berusaha mengingat apa saja obralan janji pada masa kampanye tersebut.

Ya sama-sama taulah, sekarang orang jenuh dengan yang namanya janji-janji manis karena semakin berumur tapi tidak merasa terjadi perubahan signifikan dari sebuah kepengurusan, baik untuk organisasi mahasiswa maupun pemerintahan skala daerah dan nasional.

 

Sekarang, ketika sudah masuk masa kampanye lain dalam KM-ITB, saya mencoba mengosongkan pikiran, mengulas kenangan setahun lalu dan tiba-tiba terpikirkan. Tidak sepenuhnya keganjilan mengenai obral janji terletak pada kandidat.

Sebut saja saat Hearing.

Hearing bagi saya adalah momen pemaparan visi-misi-strategi bagi kandidat sekaligus ajang mencari tahu pandangan sang kandidat tentang organisasinya bagi audiens. Lalu apa yang ganjil? Menurut saya, ketika konten yang sesungguhnya merupakan pemaparan visi-misi-strategi tersebut ‘dipersepsikan’ menjadi ‘janji’ bagi audiens.

Coba dengarkan dengan seksama kalimat yang dilontarkan oleh kandidat.

“Menurut saya…”

“Saya ingin…”

“Strateginya adalah…”

Kalimat di atas lebih banyak muncul dibandingkan dengan,

“Saya jamin…”

Bedakan antara “pemaparan” dengan “menjanjikan sesuatu”.

Lalu… apa yang mengesankan kandidat mengobral janji?

Persepsi audien

Ble’e sih, kan ‘udah tau hearing tujuannya mengenali kandidat lebih jauh. Jadi mau tidak mau harus mendengarkan “gagasan selangit dan perkataan manis” karena itulah harapan sang kandidat.

Lalu… ada yang lucu lagi. Kalaupun ada kandidat yang obral janji, apakah hal tersebut merupakan keinginannya? Ataukah keinginan massa?

Sadar nggak sih, ada beberapa pertanyaan yang memang memaksa kandidat untuk menjanjikan sesuatu. Misal,

Apa yang akan kalian berikan kepada lembaga kami ketika terpilih?” (mungkin lebih tepat menjadi “Apa yang ingin kalian lakukan terhadap lembaga kami?”)

Bisa jamin nggak segitu massanya? Oke gw tagih omongan lo nanti” (mungkin cukup menjadi “Berapa orang yang dibutuhkan, dan kenapa segitu?”), dll.

Yaelah audien sendiri juga, gitu, yang minta dikasih janji. Kasian ‘aja sih sama kandidat, dipaksa jawab demi menyenangkan audien dengan dalih ‘Kami perlu jawaban Anda untuk tahu seberapa besar keyakinan & kesiapan Anda mencalonkan diri’.

hehehe

Iklan

3 tanggapan untuk “Persepsi tentang Obral Janji

  1. Gampangnya sih ya…
    Kalo emang nggak mau obral janji, si calon berani lah ngejawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu dengan “saya nggak janji bakal ngasih lalala tapi kalau situ butuh bantuan dan masih ada dalam kapabilitas saya, akan saya bantu.” Ketika nggak bisa jamin, ya jawab, “saya nggak bisa jamin, tapi saya mengusahakan yang terbaik,” atau sekalian, “kabinet aing kumaha aing.” =))
    Nggak bermaksud sotoy sih, maaf-maaf aja kalau nggak enak di hati. ;;)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s