Diposkan pada Jurnal

Modernisasi Cerita Rakyat


Judul                     : Lutung Kasarung

Bintang Tamu    : Laudya Cyntia Bella, Chico Jericho

Pemain                 : Nadhira Ulya, Astri Hapsari, Indra Yogaswara, Indra Andika Arifiana

Sutradara            : Didi Petet

Genre                   : Drama musikal

Lokasi                    : Sasana Budaya Ganesha, Bandung

Durasi                   : 2,5 jam

 

Drama musikal Lutung Kasarung, yang digagas oleh Dede Yusuf, ditampilkan sejak tanggal 27 Desember 2011 – 1 Januari 2012 di Sabuga dengan waktu pertunjukan terbagi dalam 2 shift (tapi tidak semua hari) yakni siang pukul 14.00 dan malam pukul 19.30. Kebetulan saya hadir dalam premiernya, yakni tanggal 27 Desember 2011 malam sehingga berkesempatan mendapatkan pertunjukan perdana dari tim inti (terbagi menjadi 2 tim, tim inti untuk shift malam dan tim2 untuk shift malam).

Drama musikal Lutung Kasarung mengisahkan kembali cerita rakyat Jawa Barat “Lutung Kasarung” dalam gaya modernisasi. Musikal? Ya, seluruh dialog yang terjadi dalam pertunjukan dilantunkan oleh masing-masing pemeran yang (sepertinya) kesemuanya DAPAT BERNYANYI DENGAN MERDU.

Dalam salah satu talkshow di stasiun TV nasional, Didi Petet selaku sutradara mengatakan bahwa seluruh pemeran yang jumlahnya 100-an orang itu ‘bisa nyanyi’. Setelah melihat pertunjukan, hahaha benar saja. Di pipi para pemeran terpasang microphone yang mana menunjukkan bahwa lantunan dialog benar-benar berasal dari mulut mereka.

Selain dialog yang sedap didengar, pertunjukan pun turut sedap dilihat karena kekompakan tarian dan tentu saja (gorgeous) kostum yang begitu ‘wah’ membawa kesan tradisional tapi ala masa kini.

 

foto dari page facebook Musikal Lutung Kasarung

Drama musikal ini diperankan oleh 100 orang lebih dari penjuru Jawa Barat. Setelah melihat booklet yang dibagikan, wah ternyata sebagian besar para pemeran yang berhasil lolos melewati berbagai tahap audisi ini memang punya background yang tak jauh dari dunia entertainment. Ada yang pernah menjadi mojang jajaka, juara menyanyi, serta juara dance & koreografi.

Pertunjukan ini adalah kedua kalinya saya menonton drama musikal (bukan diadakan oleh Unit Kegiatan Mahsiswa di ITB) setelah acara “Napak Tilas Ganesha” yang dulu diprakarsai oleh Purwatjaraka. Tapi, hasilnya jauh hehehe. Memang bakal beda hasil sih antara mahasiswa yang beraktifitas dalam unit seni budaya dengan audisi serius dari profesional skala Jawa Barat. Nyebutnya mah, pasarnya juga beda sih.

Sayangnya, penampilan perdana ini tidak didukung dengan kesiapan teknis yang sangat mumpuni. Beberapa kali mic di pipi pemeran tidak berfungsi dengan baik sehingga harus ada 1 orang nyempil di panggung untuk memberikan mic cadangan.  Selain itu, ada adegan di mana duet tukang bubur favorit rakyat Pasir Batang : Maman & Titin muncul dari sekeliling penonton, yang tidak disorot oleh lampu sorot. Sayaaang sekali. Tapi mungkin di pertunjukan selanjutnya hal ini sudah dibenahi.

Oh iya, satu hal lagi. Saat di Sabuga rasanya saya menjadi pencilan di antara ribuan penonton lain. Mengapa? Karena mayoritas orang tua yang datang menonton hehehe. Semoga ini bukan berarti cerita rakyat sudah tidak menempati hati para pemuda hehehe

Selamat menikmati pertunjukan!

 .

SINOPSIS CERITA RAKYAT : LUTUNG KASARUNG

Alkisah di Negeri Pasir Batang, berdiri kerajaan dipimpin oleh Raja yang arif nan bijaksana. Sang Raja pergi, namun sebelumnya ia bertitah agar kedudukannya digantikan oleh sang bungsu yang dianggap paling pantas karena memiliki tulus hati dan kebijaksanaan, yakni Purbasari. Namun, sembari menunggu Purbasari menjadi insan yang dewasa, Purbararang, sang sulung lah yang memegang tampuk kepemimpinan sementara.

Di bawah kepemimpinan Purbararang, rakyat Pasir Batang perlahan mengalami transformasi kesejahteraan hidup. Purbararang membuat kebijakan untuk menaikkan pajak dengan dalih agar rakyat Pasir Batang hidup sederhana. Padahal dana pajak pun digunakan untuk kepentingan istana. Hal ini menyebabkan rakyat mulai sering berdemo meminta agar Purbararang segera digantikan oleh Purbasari.

Purbararang jengah. Ia menjebak Purbasari dengan memberinya lulur beracun agar kulit Purbasari rusak. Gadis itu berganti menjadi seorang yang buruk rupa sehingga diusir dari istana. Ia lari ke dalam hutan belantara. Untunglah sang Inang, Ibu pengasuh, menemaninya sehingga ia tak sendirian.

Di tengah hutan, Purbasari & Inang bertemu dengan seekor lutung sakti yang dapat berbicara. Tak lama, datang Aki Panyumpit ke dalam hutan, seekor laki paruh baya yang disuruh Purbararang menangkap lutung untuk dimakan pada pesta memperingati kepergian Purbasari.  Lutung Kasarung rela menyerahkan diri karena iba terhadap sangsi yang akan diberikan kepada Aki Panyumpit jika tidak pulang membawa lutung : penggal kepala.

Di istana, Lutung Kasarung malah berbuat onar dan melarikan diri kembali ke hutan sebelum ia disembelih. Purbararang tentu saja murka. Disuruhnya prajurit istana menangkap Lutung Kasarung.

Pada saat yang bersamaan, rakyat Pasir Batang yang sudah tak tahan lagi terhadap kepemimpinan Purbararang mengadakan demonstrasi besar-besaran. Momen inilah yang menarik simpati Lutung Kasarung untuk mengajak Purbasari segera kembali ke istana dalam rangka memulihkan keadaan Negara.

Dengan kepasrahan dan doa, kulit Purbasari berangsur-angsur kembali bersih dan ia turut mendapat kepercayaan diri atas dorongan Inang dan Lutung Kasarung. Maka, pergilah ia ke istana Pasir Batang.

Sesampainya di istana, Purbararang yang telah menduga kedatangan Purbasari, telah menyiapkan tiga buah tantangan. Jika ia berhasil memenangkan seluruh tantangan, maka kursi kepemimpinan akan Purbararang serahkan padanya.

Tantangan pertama adalah menjahit sebanyak-banyaknya kain. Purbararang berhasil menjahit 35 helai kain dengan corak yang beragam. Namun, dengan bantuan doa Lutung, Purbasari ternyata berhasil melampauinya dengan menjahit 80 helai kain.

Tantangan kedua adalah menjinakkan banteng berkulit tebal. Purbasari awalnya enggan, namun Lutung Kasarung dan Inang menyakinkannya kembali. Ketika dihadapkan kepada Purbasari, sekejap banteng tersebut justru terpana dengan paras cantiknya, dan menjadi jinak. Purbasari lagi-lagi berhasil melewati tantangan Purbararang.

Tantangan ketiga adalah membandingkan pasangan. Purbararang bersuamikan Indrajaya, pangeran negeri seberang yang telah diakui ketampanannya, melawan Lutung Kasarung. Juri memutuskan pemenang adalah Purbararang.

Keputusan yang aneh dilontarkan oleh juri, yakni Purbararang sebagai pemenang tantangan karena telah menang dalam tantangan terakhir. Maka, konsekuensinya adalah penggal kepala Purbasari. Lutung Kasarung marah. Terjadi perkelahian antara Lutung dengan Indrajaya dan prajurit yang mengakibatkan Lutung terbunuh.

Sembari Purbasari dan rakyat menangisi Lutung, datanglah Sunan Ampu. Ia adalah dewi yang mengutuk Lutung. Setelah mengamati perilaku Lutung yang santun dan ketulusan hatinya membantu Purbasari, ia mengembalikan wujud Lutung menjadi seorang pangeran serta menghidupkannya kembali.

Rakyat bersukacita dan menyerang istana. Akhirnya, Purbararang dapat dijatuhkan. Purbasari, sesuai dengan amanah ayahanda, kemudian menjadi pemimpin Negeri Pasir Batang dan hidup bahagia bersama sang pangeran.

Iklan

Satu tanggapan untuk “Modernisasi Cerita Rakyat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s