Diposkan pada Jurnal

Katanya Sadar, Tapi Nggak Gaul


Cuma celotehan tentang anak umur 20 tahun yang nggak gaul.

Kemarin tepatnya tanggal 18 Juli 2011 saya, untuk pertama kalinya mengalami operasi gigi. Harus, karena terlanjur impaksi. Apa itu impaksi? Nanti bakal saya posting artikel tentang impaksi gigi, sebab musabab, asal muasal, dan teteng bengeknya. Di lain posting. Tapi nggak tau kapan.

Jadi, sejak sekitar satu minggu sebelumnya ketika saya bertandang ke rumah praktek seorang dokter gigi untuk sekedar membersihkan karang gigi, ternyata sang dokter dengan kagetnya AAAAAAAAAA mengatakan kalau saya harus dioperasi.

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

F!

Dalam dunia kesehatan dan perpenyakitan, saya bukan paling takut sama demam, flu, pilek (ini adalah penyakit most-denial!!!), DB, tipus, berat badan, cungkring, kelaparan, puasa, darah, dll tapi sebuah besi cilik berdiameter nggak sampai 1 milimeter yang senantiasa mengucurkan cairan penyembuh bernama jarum suntik.

Cairan penyembuh Atau cairan penenang. How relaxing mendengarnya *senyum-kedip-kedip* tapi itu semua cuma bayangan semu semata sementara. Jarum suntik tetap jarum!

 .

Jadi, saking takutnya sama jarum suntik, ketika sudah duduk dan membuka mulut, sudah diolesi gel pengurang rasa sakit, tapi begitu melihat ujung jarum suntik di tangan dokter…saya menutup mulut lagi. Dan perlu sekitar 15 menitan lebih menunggu saya cemberut, menitikkan air mata, dan menenangkan diri sebelum memulai operasi (malu aing, malu…)

Dokter mengajak saya ngobrol, seperti biasa layaknya orang tua pasti bertanya tentang “pendidikan”. Agak lama juga obrolannya sampai beliau nyindir nih kayaknya, “Oh ITB ya? Pinter dong. Tapi emang ya kalau pinter tu banyak yang dipikirin. Makanya sekarang rileks ‘aja, nggak usah mikir macem-macem”.

Inilah indikasi saya disuruh jadi orang bego sementara atau sebaiknya keluar ITB dulu.

Nah, ceritanya gara-gara saya menitikkan air mata walhasil badan saya jadi agak kaku karena tegang. Atau sedih? Taulah. Ceritanya juga karena sepertinya dokter sudah tidak sabar waktunya dihabiskan nongkrongin oknum penakut di hadapannya itu, akhirnya mau-tak-mau saya mengikhlaskan diri untuk diobrak abrik ini mulut.

Arssjnwwnw…aays73sgws..ja29jkmqmmqaqqe….

Begitu ceritanya saya meng-aduh-aduh kesakitan saat disuntik.

Setelah disuntik, didiamkan dulu sebentar sambil saya nyengar nyengir (tetap masih ada air mata keluar). Malu aing, malu…dan akhirnya operasi berjalan lancar selama satu jam. Oiya, di sela-sela operasi itu kan gusi saya dibelek dulu baru giginya ditarik-tarik, nah berhubung ini impaksi yang dekat saraf, otomatis ada ngilu-ngilu gitu kerasa pas diangkat.

Sfaykkznl…hzudy3d1cjjiikd….

Saya meng-aduh-aduh lagi sama si dokter.

Kenapa? Ngilu? Aku kasih bius lagi kl gitu ya…

ASSFWWTWYHXBXJXDKD….AAW82JWJSNXNX,XLL.W.W.SD27SJMX…..

Tapi terlanjur rupanya dokter tidak menghiraukan geramanku. Hiks, sedih. Meskipun ternyata samsek nggak ada rasanya itu jarum. Jadi apa? Jadi tambah malu aing, malu…

 .

Nah…ini dia bayinya keluar juga akhirnya. Doyan ngumpet nih dia.”

“Sebentar ya, aku ratain dulu tulangmu.”

“Aku jahit dulu ya biar rapi, srrrt…srrrt….(suara benang ditarik, dikencengin masuk gusi)”

 .

Dan akhirnya kelar juga operasi setelah satu jam plus 15 menit lebih. Kemudian saya diperlihatkan kepada sang bayi.

*foto menyusul deh*

Pukul setengah 11 lah kira-kira keluar dari ruangan. Sesampainya di rumah, saya rebahan karena dibilang jangan banyak gerak dulu. Pas rebahan baru saya sadar kalau ternyata dada saya sesak. Karena tegang gemetaran sejak bertatap muka dengan jarum suntik. Jantung juga berdegup kencang. God ini bahkan melebihi degupan jantung waktu papasan sama gebetan dulu. Ya ampun, semoga pacar nggak merasa terpalingkan oleh jarum suntik semata *berdoa

Ceritanya lagi, berhubung dada sakit otomatis ngapa-ngapain kan nggak enak. Saya nonton-nonton TV dulu, sampai nggak terasa sudah jam setengah satu. Wah, ternyata dada masih sakit juga. Mulailah saya mengatur nafas supaya lebih rileks. Sampai jam 1 baru ngerasa nggak sesak lagi. Lama juga tuh, untung buang udara nggak sampe nggak kentut-kentut.

Itu baru dada sesaknya, belum jantung berdebar-debar. Sesudah countdown pemulihn dada sesak, akhirnya sekitar pukul 2 siang baru merasa lega, jantung berdebar lebih rapi.

Canggih cing!

Nah, supaya mas/jeng nggak merasa sia-sia baca tulisan ini maka saya mau kasih pesan moral sedikit. Jadi, saya sebetulnya sadar betul kalau yang namanya anestesi lokal itu di mana-mana sekarang masih pake jarum suntik, apalagi kalau bedah. Dan kalau operasi impaksi nggak perlu sampai anestesi total. Oleh karena itu, sudah lewat satu minggu seharusnya saya sudah siap batin bahkan ketika sedetik sebelum jarum menyentuh air ludah pun, itu kudu siap harusnya. Karena sudah sadar apa-apa yang bakal terjadi.

Kedua, masalah sugesti.

Pengalaman ini semakin meyakinkan kalau istilah “we are what we think” itu tepat. Coba, malu nggak tuh waktu suntikan ketiga saya masih meringis mau bilang ‘ogah’ padahal di seluruh jagad raya sedunia mah kalau masih dalam pengaruh obat bius mana ada jarum suntik kerasa sakit. Malu dong ah.

Sugesti buruk tentang alat kedokteran yang satu ini juga yang menyebabkan selama operasi saya tegang, pascaoperasi pun jantung berdebar-debar. Situasi rileks sebetulnya sempat saya sugestikan di tengah-tengah operasi, tapi terbuyarkan lagi-lagi sama jarum suntik ketiga. Payah deh umur 20 tahun masih takut sama jarum suntik. Itu tuh alat kedokteran nomor wahid padahal! Obatnya semua dunia perbedahan –> jarum suntik isi obat bius. Nggak gaul banget deh.

Kayak sindirannya 7icons nih, “Katanya sadar…tapi nggak g4vL

 .

Ya…semoga operasi gigi selanjutnya dua/tiga bulan lagi saya sudah g4vL u’yeah! (‘o’m/

Iklan

5 tanggapan untuk “Katanya Sadar, Tapi Nggak Gaul

  1. saya jg mau cabut gigi geraham belakang saya niih, mbak. Kata dokter sih numbuhnya miring udah gitu berlubang pula. Saat ini lg nyiapin mental aja buat ngadepin jarum suntik dan kawan2.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s