Diposkan pada Jurnal

Informasikan Jadwal Keberangkatan Kepada Orang Terdekat


Safety Act. Tindak Keselamatan.

or Appeasement Act. Tindak Penenangan?

Dalam tulisan ini saya sekedar ingin berbagi informasi, dalam opini saya, mengenai tindakan yang seharusnya mas/jeng lakukan ketika akan bepergian menempuh jarak yang cukup jauh dengan menggunakan transportasi bus/kereta/pesawat. Sebuah tindakan sederhana namun sebaiknya dilaksanakan.

Yakni menginformasikan jadwal keberangkatan mas/jeng selengkap-lengkapnya kepada orang terdekat yang tidak bersama mas/jeng selama perjalanan, secara tertulis. Hal ini yang selalu saya lakukan beberapa waktu belakangan.

Mulai dari lokasi keberangkatan (terminal/stasiun/bandara), tujuan, jam keberangkatan, jam tiba di lokasi, nomor tempat duduk, serta informasi lain yang tercantum dalam tiket. Misal, bagi mas/jeng yang naik kereta maka informasikanlah nomor gerbong keretanya, apabila mas/jeng naik pesawat maka informasikanlah nomor penerbangannya.

Mengapa ini sebaiknya dilakukan? Mungkin saya terkesan paranoid pada prasarana transportasi? Mungkin juga sih. Tapi setidaknya ini merupakan sebuah tindak keselamatan skala kecil apabila hal terburuk dalam suatu perjalanan terjadi. Kecelakaan.

Penginformasian ini akan memudahkan orang terdekat apabila kita tak kunjung memberi kabar (dalam arti hal terburuk tersebut terjadi) sehingga proses identifikasi dan penelusuran jejak kecelakaan kita tidak serumit dibandingkan apabila informasi detail tersebut tidak kita beritahukan.

Misal, oknum A menaiki pesawat dari Kota A ke Kota B. Selang beberapa waktu kemudian, melalui media elektronik (terutama televisi) telah beredar berita kecelakaan pesawat dengan rute Kota A ke Kota B, maka orang terdekat yang kita informasikan akan lebih mudah aware terhadap segala kemungkinan. Kalau nomor keberangkatan sama seperti yang telah diberitakan, barangkali dapat langsung menghubungi bagian administrasi sarana transportasi yang bersangkutan dan mulailah proses identifikasi korban kecelakaan. Kalau tidak sama, setidaknya kita sudah memberi ketenangan dengan meyakinkan bahwa ‘that wasn’t me. calm.’ Lebih rapi, kan?

Karena setiap pembelian tiket tidak disertai nomor telepon keluarga/teman yang dapat dihubungi oleh administrasi perusahaan transportasi yang bersangkutan apabila ‘something was happened’, betul tidak? Selama ini semua tiket bepergian saya sepertinya begitu.

Sekali lagi mungkin saya terkesan paranoid.

Tapi, memberi ‘petunjuk sederhana’ terhadap orang terdekat tidak ada salahnya, kan?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s