Diposkan pada Jurnal

Hari Pertama KP


Melaporkan dari suatu ruangan di daerah terpencil di barat Jawa Timur. Saya, Sausan Atika Maesara baru saja melaksanakan satu hari sebuah kewajiban akademik yaitu Kerja Praktek (KP). Apa itu KP? Sebuah mata kuliah wajib semester depan (semester 7) 2 SKS yang intinya kita observasi selama minimal 1 bulan di perusahaan/industri tertentu untuk melihat proses tertentu yang berkaitan dengan bidang lingkup per-teknik lingkungan-an.

Saya mau cerita sedikit dulu tentang hari pertama saya menjalankan KP.

Di manakah itu? Saya KP di Pabrik Gondorukem & Terpentin (PGT) Sukun di sebuah desa dalam Kab.Ponorogo, Jawa Timur. Tau? Ya, itu lho Kota Reyog.

Kenapa saya pilih di sini? Alasan utamanya adalah karena objeknya bukan migas atau tambang. Kedua, karena objeknya unik, maksudnya siapa sih anak ITB yang mau menjamah getah pinus, ya objek lain di luar migas dan tambang maksudnya? hehehe. Ketiga, karena malas ngurus administrasi blablabla, maklumlah ini pakai link dari ayah. Sebetulnya saya sangat ingin KP di pabrik tekstil, tapi karena faktor ketiga sangat mendominasi dan ada faktor urusan lain di kampus yang harus dipikirkan makanya gagal. Kecewa lah sama diri sendiri. Payah gw ya. Lain waktu deh lebih berjuang amin.

First Impression

Saya sampai di sini tadi pagi dan segera menuju rumah pegawai yang akan saya tinggali, namanya Pak & Bu Jarkasi. Beliau-beliau ini cuma tinggal berdua. Anak sulungnya tinggal di Makassar dan anak keduanya bekerja di pabrik tempat saya KP juga. Anak keduanya ini bernama Mbak Nita (umur sekitar 31 tahun), tinggal di rumah yang berbeda tapi masih 1 komplek di komplek pegawai sini.

PGT ini terletak desa Sukun, makanya namanya PGT Sukun. Bukan bagian dari kota, oleh karena itu sepi sekali di sini. Akses angkutan umum tidak ada, dan sekelilingnya sebagian besar hanya hutan kayu putih. Adapun rumah-rumah penduduk jarang dan letaknya berjauhan satu sama lain.

Pabriknya pun kecil ternyata. Saya kira gede. Ya, tapi semoga skupnya masih setara dengan teman-teman yang ke pabrik gede.

Kesimpulannya adalah : tempat KP saya terletak di desa ‘agak’ terpencil dan. Simple.

Sesampainya di rumah saya langsung taro barang, ramah tamah dan langsung ke pabrik. Bukan deng. Ke kantornya dulu. Pertama kalinya disambut oleh Pak Sarmanto alias Kaur (Kepala Urusan) Teknis. Beliau bilang nanti saya akan didampingi oleh Pak Dani alias asisten manager alias Kepala Pabrik hahaha gila.

Hari pertama langsung saya diajak keliling lihat proses produksi.

Jadi, pabrik ini merupakan (kalau dalam pohon, istilahnya) rantingnya sebuah pohon bernama Perhutani. Pabrik ini mengolah getah pinus menjadi produk gondorukem dan minyak terpentin. Penasaran? Silakan googling sendiri guys.

Prosesnya sederhana sekali dan mudah dimengerti. Membuat saya agak minder nih sama teman-teman lain yang perusahaannya pasti gede terus pengolahannya pasti rumit blablabla gitu. Ya semoga pikiran selintas ini cuma sementara.

Ma’em Murah Bro

Setelah lihat-lihat proses produksi, saya diajak makan siang oleh Pak Dani dengan ditemani Mbak Nita ke kota. Istilahnya kota cem dari kampung ‘aja hahaha, mau apalagi soalnya pabriknya di desa bukan di kota. Saya naik mobil Pak Dani. Lalu makan di rumah makan lesehan. Enak, anginnya banyak tapi sebelahnya cuma padang ilalang. Ya mungkin itu ya yang membuat udaranya makin sejuk.

Yang mengagetkan adalah, HARGANYA MURAH BET. Maksudnya, harganya harga standar warung-warung pinggiran di Bandung gitu. Padahal tempatnya bagus lho, ada tempat mainan anak kecilnya juga. Kata Pak Dani, “Murah kan? Rumah makan sama warung-warung kalau di sini sih harganya sama lho jadi mending makannya di rumah makan”

Oh saya kira yang di warung lebih murah lagi lho, kalau ayam goreng mungkin di rumah makan ini10 ribu saya kira di warung bisa sampai 6 ribu ternyata sama saja toh. Makanya akhirnya saya pesan ayam goreng, sayur asem dan jus strawberry. Ayam goreng harganya 10 ribu, sayur asem harganya 4 ribu, dan jusnya 4 ribu. Sama ya harganya kayak warung-warung pinggiran di Bandung.

Ternyata sayur asemnya SUPER BANYAK jadi nggak habis deh. Mana ada tomat sama wortelnya pula kan saya bingung biasanya cuma ada kacang panjang, kacang tanah, daun melinjo, melinjo, labu, sudah. Ini cemacem hahaha. Kalau kata Mbak Nita, itu sayur asemnya jawa. Kalau sayur asemnya sunda baru deh yang nggak pakai tomat sama wortel.

Nah di saat-saat menjelang mau pulang dengan piring yang sudah tak berisi, pastinya yang ditakutin seorang perantau adalah à DUIT. Ya, saya bingung ini siapa yang bakal bayar HAHAHA. Setelah ditanya ‘sudah?’ Pak Dani pergi ke kasir untuk bayar. Saya sampai sms mama, nanya kalau kayak gini duitnya nggak mesti diganti kan? Katro abis nih, nggak enak soalnya dibayarin hehehe.

Sekian tentang makanannya. Habis makan, pulang lagi naik mobil Pak Dani ke pabrik. Berhubung saya dibilang ‘pasti capek ya, mbak’ akhirnya saya nggak diajak ke lapangan lagi tapi disuruh ke kantor. Di kantor saya dikasi 1 kursi tersendiri di sebelah Mbak Nita dan seorang pegawai TU namanya Bu Yuni.

Seketika siang itu setelah saya duduki, Bu Yuni langsung menyuguhkan tempe goreng tipis-tipis yang sangat garing enak maknyus buat dimakan. Ples air putih. Jadi nggak enak lagi, pikir saya dalam hati. Terus bingung kan mau ngapain sambil menunggu jam 3 sore. Akhirnya saya cuma corat coret kertas deh.

Jam 3 Ke Atas

Jam 3 teng saya pulang ke rumah. Oiya saya belum cerita ya? Komplek perumahan pegawai dengan pabrik cuma 5 meter lho, jadi bisa bebas pulang sesuka hati. Kalau jalan kaki mungkin habis waktu sekitar 3 menitan. Saya pulang jalan kaki, niatnya sore ini mau beres-beres koper. Tadi pagi kan cuma ditaro di kamar.

Jadilah saya mendem di kamar dari jam 3 sampai 6, keluar hanya untuk wudlu dan mandi.

Pukul 6 lewat sedikit setelah shalat magrib, Bu Jar (panggilan buat si empunya rumah) ngetok-ngetok pintu ngajak makan malam. Makannya makan pecel, ayam, dan tempe. Tau kan kalau Ponorogo itu sebelahnya Madiun (I guess you’re not :p) otomatis pecelnya enak, ada ciri khasnya tersendiri. Untuk sayurnya, ada bunga turi-nya. Agak pahit tapi enak lah sebagai pelengkap. Toge-nya juga toge yang masih tunasnya kecil banget bro, jadi krenyes-krenyes gitu. Sambelnyaaa yang paling mantap. Enak deh pokoknya nikmat jengjet!

Saya makan berdua sama Bu Jar. Karena Pak Jar sedang ke pabrik. Urusan pabrik memabrik nanti sajala di postingan yang lain.

Nah sambil makan itu saya mikir nih ceritanya dan faktanya betulan mikir sih. Dalam hati saya berharap ini makanannya bukan ‘diada-adain’. Ya taulah maksudnya, kalau misalnya kedatangan tamu apalagi tamu dari kota wah kan maunya menjamu dengan sebaik-baiknya, tapi semoga nggak ya, Bu? Seadanya saja saya juga wong Indonesia tulen kok sukanya mangan sayur.

Habis makan saya nemenin Bu Jar nonton TV dulu. Bu Jar nontonnya sinetron RCTI, apa ya itu? Saya nggak afal abisnya nggak pernah nonton -__________-

Pas jam 8an saya ke kamar mandi deh buat wudlu dan sekalian minta ijin mau langsung tidur. Capek dari pagi belum tidur. Pas sampai di kamar, mendekati paragraf-paragraf terakhir dari postingan ini, saya shalat terus menyalakan laptop dan menemukan fakta bahwasanya MODEM SAYA NGGAK JALAN, karena nggak ada sinyal. Nol besar. Hiks.

Ya sudah deh. Postingan pertama ini saya simpan sampai nanti ketemu internet.

Bye. Goodnight. Have a nice dream. Jangan lupa pasang weker.

Salam remang-remang (lampu tidurnya) dari kamar depan

14 Juni 2011 – 20.56

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s