Diposkan pada Jurnal

Keluhan Para Penerima Sponsorship


Celotehan kecil. Dibuat setelah audiensi dengan Tizar, Presiden KM-ITB 2011/2012, setelah beliau curhat tentang obrolannya dengan alumni ITB yang sudah sering berkecimpung dalam proyek-proyek beberapa perusahaan.

“acara yang dibikin anak ITB makin ke sini makin kurang bagus, makin kurang bermanfaat.”

Kalimat di atas pernah disampaikan oleh beberapa alumni ITB yang sudah terlibat proyek dengan perusahaan. Dan pernyataan tersebut sebenarnya bukan terlontar dari alumni saja, tapi lebih tepatnya pernyataan titipan oleh beberapa perusahaan yang mungkin sering atau pernah didatangi oleh mahasiswa ITB untuk ngemis alias menjadi sumber pendanaan acara mereka.

Kalau mengobrol dengan beberapa orang dan melihat trendnya secara langsung dalam beberapa tahun terakhir, sepertinya memang bukannya tidak beralasan ya pernyataan seperti itu tercetus. Sejak saya masuk tahun 2008, sepertinya makin ke sini memang sudah terjadi degradasi format sebagian besar acara anak ITB.

Beberapa contoh acara besar, tahun 2009 ada Ganesha Harmonic dan Olimpiade KM-ITB V. Beranjak pada tahun 2010, sepertinya terpusat semakin semarak dengan adanya Pagelaran Seni Budaya (PSB), ITB FAIR, dan Pasar Seni.

Distrik pun, Himpunan dan Unit tak mau kalah. Untuk unit, dies tiap tahunnya diperingati sebagai bentuk aktualisasi minat-bakat sekaligus sebagai program penyebarluasan dalam rangka menumbuhkan kecintaan terhadap keragaman budaya dan potensi Indonesia, terutama bagi unit-unit yang tergabung dalam rumpun seni budaya. Untuk Himpunan lebih-lebih. Trendnya kemahasiswaan mengusung “pengejawantahan keprofesian”, maka muncullah acara-acara yang berlandaskan keprofesian dengan semangat aktualisasi, pengenalan budaya keprofesian terhadap masyarakat, hingga acara yang dibilang sebagai bentuk pengabdian masyarakat.

Degradasi Format Acara Anak ITB

Gradasi adalah tingkat pergeseran. Dan degradasi adalah pergeseran menurun; kemerosotan.

Bisa dilihat, dan sepertinya sudah banyak yang merasakan juga. Akhir-akhir ini acara anak ITB seolah mengalami kemerosotan, baik dari segi efektivitas (ketepatan sasaran) maupun konsep awal (landasan, tujuan, dan implementasi). Makin banyak yang sekedar menjual tema, tapi tidak diformat dengan konsep yang lebih dalam dan bermakna, serta umumnya dikemas dalam bentuk hura-hura.

Contoh. Temanya keprofesian. Tujuannya adalah pengenalan kepada masyarakat, pamer (bahasa halusnya : aktualisasi) hasil keprofesian, berkontribusi, dll. Kemasannya? Panggung yang tingginya 2 meter, artis ibukota-bayaran-puluhan juta, media instalasi 3D megah, dll deh.

Mulia sekali tujuannya, teman. Tapi sayangnya TIDAK TEPAT SASARAN. Sekedar meninggikan nama dan prestise entitas? Atau memang dirancang untuk memberi hiburan saja? Berapa persen pencapaian tujuannya? Lantas, jadi momentum dua atau tiga hari saja?

Seperti itu ya mewujudkan mimpi mahasiswa…

Besar Pasak Daripada Tiang. Pastinya.

Setelah formatnya, mari kita beralih ke poin terpenting dari acara. DUIT. Sudah jadi trendnya juga mahasiswa ITB nyari-nyari duit ke perusahaan. Beberapa tahun terakhir, dengan kondisi acara mahasiswa ITB yang seperti itu, akhirnya perusahaan gatal juga.

Maka tercetuslah kalimat seperti di awal tulisan ini. (Balik ke atas ya :D)

Proposal yang dikeluarkan anak ITB umumnya dananya lebih dari 20 juta. Ya iyalah pasang instalasi saja keluar berapa juta, belum lagi publikasi, konsumsi, dan biaya terbesar itu manggil artisnya, so pasti.

Kembali lagi. Perusahaan lah yang kewalahan menerima tawaran sponsorship anak ITB. Maka, timbullah paradigma bahwa “acara anak ITB kurang manfaat, kok kayak gini ya?”. Dampak dari paradigma tersebut adalah timbul ketidakpercayaan perusahaan dalam menerima tawaransponsorship yang diajukan oleh mahasiswa ITB.

Sudah dasarnya membuat acaranya nggak jelas, dana yang dikeluarkan berlebihan, tidak sebanding dengan ketercapaian tujuan, nggak ngasih manfaat banyak pula.

Efek dominonya, maka timbul pula perspektif perusahaan yang menyiratkan bahwa alumni ITB dirasa kurang tanggung jawab. Maksud kurang tanggung jawab di sini adalah ketika uang yang diberikan kepada mereka tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Ya itu, karena semasa jadi mahasiswa, mereka bikin acara yang kurang bermanfaat.

Nah lho. Salah siapa? :p

Mari Kembali Menyusun Format Yang “Benar” Meskipun “Tantangan”nya Berat

Sudah saatnya kembali memperhitungkan alasan kita mengadakan acara. Merumuskan kembali tujuannya, dan bijak dalam mengonsep kemasannya seefektif & seefisien mungkin. Terutama masalah pendanaan, jangan sampai menimbulkan ketidakenakan atau bahkan merugikan pihak-pihak tertentu (misal, perusahaan yang bersangkutan). Sebab, masalah itu semacam akar serabut,berabe bisa menjalar ke mana-mana. Karena kurang bijak ngonsep acara, jadilah cetakan alumni kita dibilang kurang tanggung jawab. Siapa sih yang mau disebut begitu?

Setelah membenahi secara internal, coba ditabrakkan dengan kondisi eksternal. Langsung deh biasanya merasa hopeless. Pasti terpikir, memangnya acara bakal ramai kalau kemasannya tidak mewah? Mau tidak mau di situlah tantangannya.

Sudah jelas kalau anak ITB sebagian besar tergolong ekonomi menengah ke atas.

Hidupnya nyaman dan sejahtera. Bahkan kebutuhan yang jaman SMP dulu disebut sebagai kebutuhan tersier sekarang sudah dengan mudah dapat diakses oleh anak ITB, digeser jadi kebutuhan primer!

Hal ini menuntut kekreatifan dan kerja keras untuk mengajak teman-teman lain, dan lebih luasnya masyarakat untuk berpatisipasi. Bukan cuma anak SR yang bisa kreatif, semua juga bisa asal mau putar otak.

Sebelum mengakar lebih dalam, menyusun format acara yang kurang jelas itu harus diubah sebelum kebiasaan ini menjelma menjadi template format acara-acara kemahasiswaan lainnya.

Seperti pepatah sunda,

cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok

(kucuran air menimpa sebuah batu, lama-lama menjadi lubang)

Karena batu yang berlubang tidak bisa dipakai untuk menjadi bahan baku “pondasi bangunan”.

.

"duh, level kereta doang nih. nggak kesampean nampil di ITB"
Iklan

4 tanggapan untuk “Keluhan Para Penerima Sponsorship

  1. Bagus banget tuh mbak tulisannya, sering-sering aje buat tulisan yang kayak gini, biar semua anak ITB pada kembali ke jalan yang “benar” hhe

  2. sangat menarik dan banyak benarnya..
    saya juga melihat banyak (tidak semua) kegiatan yang hanya mengacu pada proker rutin, bukan TUJUANnya..

    izin repost..

  3. hayu atuh kembalikan lagi ITB ke fitrahnya semula.. gimana caranya mari kita pikirkan dan laksanakan bersama.. sedih juga denger kabar dari adik2 tingkat yang sekarang masih ngampus.. katanya mau dibawa kemana ITB kita?? sebagai alumni yang juga belum lama lulus, sedikit kawatir tapi menyadari belum banyak yang bisa dilakukan karena melihat situasinya nampaknya mahasiswa2 angkatan yang sekarang lah yang bisa bergerak lebih banyak dan lebih leluasa.. ayo dek!!! tularkan smangatmu kepada yang lain..

    salam kenal
    Iin Parlina, TK 05

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s