Diposkan pada Jurnal

Cerita Biasa


Sebenarnya ini sebuah cerita-bukan-apa-apa yang saya alami waktu SMA.

Kelas 3 SMA, saya disuruh orang tua untuk les Bahasa Inggris atas rekomendasi seorang temannya Ibu mengenai tempat les yang bagus dengan lokasi tak jauh dari asrama saya. Waktu itu semester 5, kalau tidak salah. Ya. Hitung-hitung sebagai persiapan UAN SMA.

Saya biasa keluar dari asrama sekitar pukul 15.30 usai shalat Ashar, dijemput oleh Ibu. Sedangkan lesnya dimulai pukul 16.00 dan berakhir pukul 18.00.

Pernah suatu sore, selesai les, saya harus kembali ke asrama sendiri naik angkot. Sangat sudah biasa. Tapi, waktu itu menjengkelkan sekali karena saya sudah menunggu begitu lama namun angkot yang kosong tidak muncul-muncul, penuh semua. Mana berdiri pula, mungkin setengah jam lebih pasti ada. Belum lagi gerimis dan saya tidak bawa payung. Pokoknya waktu itu dongkol sekali, kerjanya mau lempar-lempar barang saja.

Bukan saya sendiri sih , sepertinya masih ada beberapa orang yang bahkan mungkin sudah menunggu lebih lama.

Sembari merengut, dari kejauhan akhirnya tampak lagi moncong mobil angkot yang dinantikan. Saya mengamatinya dalam-dalam, berusaha menerka ada tidaknya jatah kosong ya walaupun setengah pantat saja juga boleh deh.

Ternyata ada.

Jatah satu orang di kursi paling dekat pintu terbukanya angkot. Saya berlari kecil ke arah angkot tapi ternyata kurang cepat, keduluan oleh seorang mas-mas yang sudah menaikkan kaki kanannya ke angkot. Namun, baru selangkah mas-mas itu langsung menurunkan kakinya dan berkata,

“Oh…mbak saja yang duluan.”

Balasnya sembari mengulurkan tangan kanan ke arah kursi kosong.

Saya kaget, sempat melongo sebentar. Dengan tidak lupa mengucapkan terima kasih, barulah saya mendudukkan diri di kursi kosong tersebut. Dan melajulah si angkot.

Saya berdoa dalam hati agar Mas-nya itu cepat ketemu angkot. Dan hidupnya diridhoi.

Tiba-tiba mata saya berkaca-kaca. Mungkin sudah ada yang menetes bahkan.

.

.

.

Terima kasih Mas, yang berbaik hati entah karena kasihan lihat tampang saya yang sudah sekusut itu atau mungkin memang Anda adalah laki-laki sejati. Padahal saya tahu Anda menunggu lebih lama, pastinya lebih dongkol dari saya ya?!

Terima kasih angin dan gerimis yang meleburkan air mata saya saat itu supaya saya tidak malu dikira nangis betulan oleh penumpang lain dalam angkot.

Saya terharu padahal yang seperti ini sebenarnya bukan kejadian apa-apa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s