Diposkan pada Puisi

Sajak 1 Jam, Iseng #Indonesia65


65.

Masih aku melihat dengan mata hijau.

Bukan sesedikit dua-tiga orang.

Berjuta.

Senyum anak-anak di sepanjang  jalan raya.

Tidak di bangku sekolah.

Menapaki hidup keras mengemis, menjual tangis, mengharap belas kasih.

Dengan ibunya berpeluh, menggaruki dahi.

Lengah mencari sesuap nasi.

Sambil terus menunggu beras kiriman dari kantor orang berstempel. Siapa tahu.

Bapaknya mondar-mandir dengan kemeja sebulan. Bau.

Bermodal ijazah, yang mungkin palsu.

Atau hasil enam, sembilan tahun bertatapan dengan pengajar yang tak jauh berbeda.

Baik yang menghadap papan tulis, baik yang berdiri membelakanginya. Bernasib sama.

Ia dan keluarganya. Dan tetangganya.

Dan jiwanya.

Yang luluh-lantah meratap di balik gedung bertingkat.

Mereka itu para lulusan muda.

Yang mengaku menjunjung idealisme tapi susut terhadap realita.

Menganggur.

.

Lalu orang berdasi berkoar.

Bergerak. Membenahi yang rusak.

Tapi bagai semut di pelupuk mata, tak disentuhnya.

Rakyat yang protes di balik layar 14 inchi.

Barikade yang menutupi jalan. Mereka yang mogok makan.

Orang capek terhadap janji, yang menulisi JUJUR.ADIL.TEGAS. 5 kaki di atas gedung orang-orang yang tidur saat pemimpinnya berbicara.

Yang kantornya mirip kura-kura, kinerja selamban hewannya berjalan.

Kumpulan orang-orang mengatasnamakan RAKYAT.

Tumpuan 250 juta kepala sebenar-benarnya RAKYAT.

Masih aku melihat dengan mata hijau.

.

Jauh dari keluhan, ucapan ketidaksenangan atas bangsaku.

Sepenuh hati aku masih ingin melakukan sesuatu.

Sesungguhnya tidak bisa atas hal-hal besar.

Namun untuk saat ini dapat ‘ku berpikir, dengan itu selemah-lemahnya iman perjuangan.

.

Karena nenek moyangku berkata bahwa sesungguhnya.

Menatap ragam indahmu sedalam lautan.

Tak ubahnya menyelami rupawi surga dunia.

Menyusuri alur Nusantara.

Dengan keramahan dan senyum ikhlas rakyatnya yang dielukan.

.

Indonesia.

Semoga elokmu kembali dan abadi.

Semoga harummu mewangi lagi.

Oleh aku dan kau, calon penegak pilar yang t’lah runtuh.

.
170810 – 10.17, di atas kasur dari orang yang belum merasakan asam-garam kehidupan indonesia, jadi maaf saja kalau sok tahu.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s