Diposkan pada Jurnal

Duo Turkinese


Baiklah. Sekarang ini, mari sedikit bercerita tentang angan-angan.

Beberapa hari yang lalu, saya mendapati status seorang senior jurusan saya yang menyuratkan bahwa ia sedang berada di Turki. Berpuasa di Turki, lebih tepatnya. WOW. Lalu saya bengong sejenak. Memikirkan angan-angan.

Sebenarnya sudah lama sekali saya ingin singgah ke Turki. Kenapa? Sederhana sekali alasannya. Dan berbeda dari kebanyakan. Bukan karena keindahan negaranya yang ditonjolkan melalui media. Melainkan terdapat 2 orang tokoh yang super saya senangi karyanya, berasal dari negara tersebut.

Jalalu’ddin Rumi dan Orhan Pamuk.

Jalalu’ddin Rumi

Jalalu’ddin Rumi ialah seorang sufi. Silahkan cari sendiri apa itu sufi, ‘kan bisa googling ya. Saya hanya ingin bernarasi kenapa bisa sebegitu mengagumi sosok ini.

Waktu itu kelas 3 SMA, saya berjalan sendirian di malam hari menyusuri koridor lantai 2 Asrama Putri Gedung H. Sesampainya di depan gudang, saya menemukan sebuah buku tak bertuan berjudul “Kucari Cinta Kutemu Tuhan” yakni kumpulan sajak-sajak sejenis dari Kahlil Gibran dan Jalalu’ddin Rumi. Biasalah. Rasa penasaran mendorong saya membolak-balik halaman buku tersebut. Membacanya sekilas. Hingga sampai pada sebuah sajak di awal-awal buku.

Ada orang asing, tergesa-gesa mencari tempat tinggal, seorang teman membawanya ke sebuah rumah rusak.

“Jika rumah ini beratap,” katanya,”kau dapat tinggal di sebelah tempatku. Keluargamu juga akan kerasan di sini, jika di situ ada sebuah kamar lagi.”

“Ya”, katanya, “enak sekali tinggal di sebelah teman-teman, tapi kawanku sayang, orang tak dapat tinggal di dalam ‘jika’.”

Jalalu’ddin Rumi

Layaknya cinta pada pandangan pertama, rasa kagum spontan menyelimuti relung pikiran saya. Sekejap langsung suka saja. Maka saya lanjutkan melahap habis sajak-sajak dalam buku tersebut dan bersikeras ‘saya telah mengagumi syair-syair karya Jalalu’ddin Rumi’ meskipun 50:50 dalam buku tersebut memuat karya Kahlil Gibran pula.

Saking sukanya dengan sajak yang tadi, sampai-sampai saya muat sebagai bagian pembuka di KIR SMA saya (biasanya kalau novel itu, yang ada tulisan pendek ‘untuk anakku’ atau apalah gitu). Benar-benar pembuka.

Ayolah balik lagi. Kenapa bisa Rumi? Kahlil Gibran ‘kan lebih terkenal. W.S.Rendra juga produk lokal. Tidak tahu juga ya. Mungkin karena kesan religius islami yang lebih ditampilkan oleh Rumi dibandingkan penyair lain, lebih mengena bagi saya. Beralasan.

Mengagumi namun bukan fanatik. Cukup dengan membaca ulang dan membeli sedikit buku yang sekiranya memuat syair-syair Rumi, saya lakukan. Pokoknya suka.

Orhan Pamuk

Nah kalau yang tadi sufi, yang ini seorang sastrawan. Pengarang yang pernah mendapat Nobel Sastra di tahun 2006 ini sampai dijuluki ‘Bintang Baru yang telah terbit dari Timur’ oleh The New York Times. Mendengar kata ‘peraih nobel’ sebenarnya Mas/Jeng pasti sudah bisa menebak bagaimana istimewa orang ini.

Namun, bukan karena mendapat nobelnya tapi karena memang karyanya menarik. Tidak bisa pamer sih karena saya baru membaca salah satu karyanya yang juga fenomenal selain Kar (Snow) yakni Benim Adim Kirmidzi (My Name is Red). Sementara yang Kar (Snow) belum pernah ketemu. Jadi, kalau Mas/Jeng menemukan di mana yang jual itu novel, bisa hubungi saya 🙂

My Name is Red mengisahkan pembunuhan seorang Elok Effendi, sederhananya, seorang ilustrator yang ditugaskan Sultan membuat sebuah buku istimewa. Kemudian satu novel ini akan mengisahkan hiruk pikuk penelusuran sang pelaku pembunuhan. Detail.

Pemeran utama dalam novel ini (sepertinya) bernama Hitam. Namun, dengan indahnya Pamuk memberikan plot maju dengan berbagai sudut pandang pelaku pada tiap bab yang ia tuliskan. Maka, jangan heran kalau judul tiap bab akan seperti ini.

Aku Dinamai “Hitam”

Aku, Shekure

Aku Adalah Seekor Anjing

Aku Akan Disebut Seorang Pembunuh

Aku, Setan

Dll.

Sangat seru. Saya langsung terkesima dengan gaya penulisan yang unik seperti ini. Pertama, karena baru kali ini menemukan hal baru (variasi sudut pandang) dari sebuah buku. Kedua, Pamuk bisa mendorong pembacanya untuk ikut menebak siapa pelaku pembunuhan Sang Elok Effendi. Belum lagi nuansa pada rujukan tentang filsafat, ‘ilustrasi’ dan ‘gaya’ zaman Kesultanan Utsmaniyah. Keren lah pokoknya.

Terlepas dari semua penjabaran panjang di atas, ringkasnya adalah saya mengagumi karya kedua tokoh tersebut.

Cukup 1 alasan yang membuat saya ingin ke Turki, tempat yang melahirkan orang-orang istimewa. Semoga tercapai. Amin.

Minggu, 23.39
Masih di tempat berangan-angan
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s