Diposkan pada Jurnal

Pengembangan Komunitas, Sudah Mulaikah Kita?


Tulisan ini sebenarnya sudah saya buat sekitar bulan Desember 2009-Januari 2010, lupa. Ya sebagai artikel untuk buletin ITB FAIR. Kontennya didapat dari notulensi Talkshow Community Development yang diadakan ITB FAIR waktu itu. Berhubung akhir-akhir ini ada sekitar 3/4 orang yang entah kenapa tiba-tiba bertanya tentang pengembangan komunitas, jadi saya mau sharing sedikit saja nih soal isu ini.

PENGEMBANGAN KOMUNITAS, SUDAH MULAIKAH KITA?

Tanggal 9 Desember 2009, ITB FAIR 2010 kembali dengan  rangkaian acaranya yakni Talkshow CDC yang dilaksanakan di R.26 CC Barat pukul 11.00-16.00. Pembicara yang hadir adalah ibu Tri Mumpuni, Lendo Novo (pendiri Sekolah Alam), dan Okta (alumni ITB, aktifis LSM). Dalam talkshow ini dibahas mengenai pentingnya Community Development bagi bangsa Indonesia serta kendala dalam pengaplikasiannya.

Pada dasarnya, awal dari ComDev adalah sudut pandang tepat dari pelakunya, yakni berpikir bahwa kegiatan membangun masyarakat adalah menjadi kaya dengan menjadikan orang lain kaya, dengan cara mendidik dan membangun potensi orang lain. Bagi warga di daerah yang dikembangkan sendiri pun, mereka sebaiknya melaksanakan Active Participation Research, metode yang disarankan dalam ComDev. Tidak sekedar menerima tapi juga aktif berpartisipasi membangun daerahnya.

Dilihat dari prakteknya, Ibu Tri Mumpuni mengungkapkan, ada beberapa contoh desa yang sudah dapat mengembangkan dirinya sendiri sehingga memiliki PADes (Pendapatan Asli Desa) sendiri. Usaha yang dilakukan antara lain pembangkit listrik mikrohidro dan pemanfaatan biogas. Dengan adanya PADes,  desa mampu memberikan pelayanan kesehatan gratis dan beasiswa kepada penduduknya.

Lain halnya dengan cerita Okta.

Berawal dari curhat anggota DPRD Blora kepada kawannya (Pak Edi Suwono) di LPPM ITB, “Mengapa Blora sebagai penghasil kayu jati terbesar di Indonesia tidak bisa hidup semapan yang seharusnya?”

Ternyata, bisnis kayu jati di Blora rata-rata korup. Dan rakyat sekitar hanya memanfaatkan kayu jati untuk dijadikan arang karena tidak memiliki keterampilan untuk memanfaatkannya lebih baik

Okta dan tim dari ITB yang berjumlah belasan orang mahasiswa pun tergerak untuk membantu Community Development di Blora. Okta mengajarkan masyarakat setempat untuk membudidayakan jamur dan perwakilan dari Teknik Sipil membantu memperbaiki bendungan di daerah setempat.

Selain aplikasi, talkshow ini juga menyinggung alasan kurangnya perhatian warga mengenai ComDev yang dilaksanakan di Indonesia. Disebutkan bahwa sebenarnya bangsa Indonesia memiliki potensi untuk menjadi bangsa yang besar. Namun, orang-orangnya tidak amanah sehingga masih saja ada 100 juta rakyat Indonesia yang miskin.  Problematika lain adalah kurangnya empati bangsa. Hal tersebut dapat dilihat dari masih kurangnya pabrik ramah lingkungan yang sebenarnya sudah bisa dikembangkan, akan tetapi bangsa kita terus-menerus membuat pabrik yang merusak alam.

Hal penting yang patut disadari bahwa ComDev itu bersifat universal (luas secara makna dan pemaknaan), tidak harus bersifat global. Pada praktiknya memang ada organisasi yang melakukannya secara global, seperti PBB. Namun, jangan melihat dari cakupan praktikannya karena ComDev sendiri dapat dimulai dari hal yang kecil asalkan dipilih secara selektif agar dampak baiknya bisa dirasakan oleh orang banyak. Jadi, sesungguhnya kita sendiri pun bisa memulainya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s