Diposkan pada Jurnal

Baleendah dan Cikapundung


17 April 2010, Sabtu Pagi

Hari itu adalah hari yang melelahkan bagi saya. Cuma mau cerita-cerita sih. Hari itu saya awali dengan beberes ransel ya walaupun sedikit barang bawaannya. Rencananya saya diajak Kak Mirna, Kadiv Comdev Departemen Pengmas HMTL ITB ikutan ke Baleendah buat survei2. HMTL rencananya juga, mau membuat semacam alat pengolahan air bersih untuk daerah Baleendah yang memang sedang hangat-hangatnya dibicarakan sebagai lokasi bencana [manusia] sejak 3 bulan terakhir.

Saya datang jam 8 pagi lewat sedikit di Gerbang Ganesha, ternyata di sana baru ada kakak2 : Mirna, Adhiet BW, dan Fatur. Yah baru segini, alamat telat berangkat ini sih…pikir saya dalam hati. Yah pokoknya sampai jam 9 pagi saya cuma duduk menunggu bersama beberapa orang lain, ada Dida dan kakak2 : Mirna, Adhiet BW, Seli, Mitha, Karinta, Ade. Fatur cao memang tidak ikut. Siapa yang ditunggu nih? Ternyata biangnya adalah kakak2 : Igoy dan Afne. Mereka ketiduran di himpunan, katanya sih jam 8 dikira jam setengah 8. Ya pantes telat. Okelah lanjut.

Mengingat sudah jam 9 lewat sedikit dan ketika saya mempertimbangkan kembali untuk ikut, akhirnya saya memutuskan pilihan tidak ikut ke Baleendah. Karena jam 1 siang saya sudah harus ada lagi di kampus, praktikum Mekanika Fluida di Sungai Cikapundung. Takutnya nggak sempat. Perjalanan ke Baleendah memakan waktu satu setengah jam lebih soalnya.  Belum lagi karena itu hari Sabtu, kemungkinan macet lebih besar.

Okelah saya ditinggal sendirian. Tapi tak berapa lama kemudian Kak Mirna menelepon, katanya saya disuruh ikut saja karena dijanjikannya habis dzuhur langsung pulang. Estimasi saya sampai ke kampus bisa jam setengah 2. Kebetulan banget Kak Andi selaku Kadept.Pengmas sekaligus PJ Modul praktikum saya siang itu memberi keringanan sampai jam 2 siang. Gila. Kak Andi Nepotisme nih. Hahaha untunglah, tapi nggak baik nih.

Saya naik mobil Kak Adhiet BW sama Igoy, Afne, dan Dida. Perjalanan berangkat memakan waktu satu setengah jam. Di Bojongsoang [kalau nggak salah], datanglah Kak Bokir membawa motornya, menyusul karena rumahnya memang di daerah sana. Kami lanjut sampai berhenti di Kantor Kecamatan Baleendah. Di sana bertemu dengan Pak-Siapa-Lupa-Yang-Pasti-Bukan-Pak-Camatnya.

Mari saya kasih sedikit informasi yang saya dapat dari papan data di kantor kecamatan tersebut. Pada tanggal 13 April, di kelurahan Andir dan Baleendah, air pasang dengan total 699 rumah terendam. Tanggal 15 April air pasang lagi dengan total 328 rumah terendam pada dua kelurahan tersebut. Baru dua hari berlalu sejak air surut kembali, saya berkunjung ke sana.

Beliau, Pak-Siapa-Lupa-Yang-Pasti-Bukan-Pak-Camatnya menceritakan kondisi bahwa di sana banjir bisa pasang dan surut sewaktu-waktu. Dan hingga saat ini pun, masih ada sekitar 300-an rumah di kelurahan Baleendah, yang terendam lumpur. Ya. Bukan air banjir tapi lumpur, tepatnya.

Sekedar informasi juga, di halaman kantor kecamatan tersebut terdapat sebuah alat pengolahan air bersih buatan Belanda, kata si Bapak. Alat itu didatangkan ke Indonesia sejak terjadinya tsunami Aceh, dioper ke-apa-lagi-ya-bencananya-saya-lupa, barulah pada bulan Maret 2010 kemarin dipindahkan ke Baleendah. Sumber airnya diambil dari kolam di samping kantor, diolah, dan hasilnya ditampung dalam sebuah bak superbesar untuk kemudian dapat dikeluarkan melalui keran pada bagian bawahnya untuk mengalirkan air.  Jujur saja sih ya, airnya masih sedikit kuning kalau yang saya lihat dengan mata sendiri.

Ini dia alat olahan air bersih Turun-Temurun-Bencana
 
 
Sumpah ini nggak pake efek foto apapun, kuning ‘kan kuning?

Lalu, kami serombongan pergi menuju daerah Cieunteung, daerah yang baru saya tahu menjadi daerah paling parah efeknya. Sayangnya sesayang-sayangnya, sepatu bot cuma ada 4 dan ternyata medan tidak sesuai dengan yang kami bayangkan. Lumpur masih terlalu dalam untuk ditapaki sandal/sepatu apalagi dengan mahasiswa-mahasiswa elit [ya ya ya saya akui ini] yang tidak biasa berkutat dengan lumpur. Bahkan tak jauh berapa meter ada 2 buah kano kecil. Tahu ‘kan ya maksudnya? Ya untuk alat transportasi. Dan pada akhirnya cuma kakak cowok2 : Adhiet BW, Igoy, Afne, dan Bokir yang masuk ke dalam Cieunteung untuk bertemu dengan Pak RW, menanyakan kondisi setempat.

Sekitar sejam menunggu, kami cewek2 menunggu sembari duduk di luar jendela sebuah rumah yang lembab dengan lantai penuh lumpur kering. Saya sempat foto pintunya. Ini dia, ternyata si lumpur pernah membuat sejarah bagi rumah ini dengan menempelkan endapan-endapannya hingga ketinggian lebih dari setengah daun pintu alias se-alis saya kira-kira. Itu baru endapan lumpur, belum air banjirnya lho. Cemana lah tingginya.

Sekitar jam 12 rombongan cowok2 datang. Yang dilakukan pertama adalah mengeluarkan air berlumpur dari dalam sepatu bot. Lalu berjalan kaki menuju SPBU setempat untuk mencuci kaki. Kak Adhiet BW menceritakan kondisi di dalam sana. Jadi, dalam mushola terdapat sebuah bak setinggi kira2 dada Kak Adhiet BW, yang berfungsi sebagai alat kelola air bersih. Alat itu dikhususkan ditempatkan di mushola untuk kemudahan akses rumah-rumah setempat mendapatkan air bersih jika banjir sedang pasang, tidak perlu ke kantor kecamatan.

Mekanismenya adalah air banjir diambil, dimasukkan ke dalam bak, lalu dibubuhi kaporit, PAC, dan-lupa-satu-macam-lagi, ya pokoknya begitu sampai endapannya jatuh dan air bisa dikonsumsi untuk kebutuhan sehari-hari. Kalau untuk air minum, ya pakai air itu tapi dimasak lagi.

Kak Adhiet BW menceritakan bahwa si Bapak di mushola sana bilang kalau yang paling sulit didapatkan adalah makanan. Ya mau bagaimana juga ya, dipikir2 memang kalau sedang pasang, warga mana bisa keluar rumah jauh-jauh untuk cari makanan? Akses mendapatkan air bersih kan bisa didapat di mushola, lha kalau makanan?

Dengan hasil survei tersebut dan bermodal dokumentasi, kami pun kembali menuju kampus. Rencananya, hasil survei ini akan dibawakan kepada Bu Ogi, salah satu dosen Teknik Lingkungan, untuk dibahas bersama.

Melelahkan. Pusing karena kepanasan. Semangat juga menurun sedikit karena tidak bisa masuk ke dalam gang. Ya yang penting dapat sedikit manfaat lah. Sedih sih melihat seorang bapak-bapak yang mengkayuh gerobak mau masuk ke dalam tapi memutuskan diri untuk keluar gang lagi hanya beberapa meter dari jarak saya berdiri, karena lumpurnya memang terlalu dalam, tidak bisa itu dimasuki gerobak.

Ada pula beberapa anak kecil baru pulang sekolah, melepaskan sepatunya dan mengangkat celananya, mulai menerobos lumpur. Tinggi mereka cuma sekitar seperut saya. Bayangkan, kalau setiap hari mereka harus bolak-balik seperti itu, berapa jumlah air bersih mereka habis dipakai hanya untuk cuci seragam?

Dengan kondisi badan yang menurun karena kelaparan dan kepanasan, akhirnya kami kembali ke kampus. Saya masih bersama Dida dan kakak2 cowok : Adhiet BW, Afne, Igoy. Bokir pulang pakai motor ke rumahnya. Walaupun mepet tapi saya sih santai-santai saja melihat jam. Pukul 1 lewat. Pasti telat praktikum sih ini, pikir saya.

SO GEBS-nya adalah mobil Kak Adhiet BW tiba-tiba MOGOK DI TENGAH JALAN di daerah Bojongsoang kalau nggak salah lihat papan-papan toko. Dengan perasaan nggak enak, saya memutuskan naik angkot demi mengejar praktikum yang sebenarnya sudah pasti telat. Benar-benar nggak enak meninggalkan kakak2 itu mengurusi mobil ya walaupun saya juga pasti gabut sih di sana. Dida juga. Malah ikut dia naik angkot sama saya, berhubung pasti gabut dan cewek sendiri nantinya.

Okelah akhirnya kami naik angkot dua kali menuju depan SMA 3 Bandung, lanjut angkot Kalapa-Dago. Dida terus ke Kanayakan [nggak praktikum shift Sabtu siang, dia] saya terus naik angkot Caheum-Ciroyom menuju jembatan Babakan Siliwangi, TKP [Tempat Kejadian Praktikum].

Dan waktu di jam tangan saya telah menunjukkan pukul 14.21

To Be Continued

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s