Diposkan pada Jurnal

A Girl’s Feeling is A Girl’s Thought


Senang ya ketika kita sedang sendiri dan duduk termenung, pasti banyak hal terlintas kembali dalam pikiran kita. Termasuk hal-hal kecil tapi indah meskipun sudah lewat. Salah satunya kenangan-kenangan mengenai diri sendiri. Kalau untuk saya, ini salah satunya.

Sekitar setahun yang lalu ketika seorang teman TPB saya yang sekarang di Sipil, Ratri 😀 tersenyum sembari mengungkapkan, mengenai cara berpikir saya yang menurut dia ‘sedikit’ berbeda dengan kawan-kawan lain seumuran. Hanya selintas memang tapi pernyataannya tertanam di benak saya lho.

Selanjutnya di awal Agustus 2009, seorang teman mengatakan bahwa dalam sepenglihatannya, saya adalah 1 dari 3 perempuan seumur yang tidak mengedepankan perasaan dalam pertimbangan dan menjalani hidup. FYI saja dua orang lain itu anak 2008 juga, Tyas AR ‘08 dan Amal EL ‘08. Si pengungkapnya ya sebut saja Kamil :D, nama sebenarnya. Boleh dibilang ini mendukung kata-kata Ratri tadi.

Kalau mau jujur saya merasa sedikit ada benarnya dengan kedua ungkapan tersebut. Sedikit sekali pula merasa setuju. Kenapa sedikit? Karena saya merasa sebenarnya bukan hal-hal besar kok yang saya pikirkan, melainkan hal-hal kecil berpengaruh yang mungkin teman-teman kurang sadari. Misalnya pernyataan ayo belajar buat ujian tapi pentingnya bukan berorientasi pada nilai yang seingat saya pernah saya kemukakan ke beberapa teman (efeknya saya dibilang terlalu santai kalau mau ujian) atau yang sangat sederhana saja, kenapa sih kita tidak coba menahan kantuk untuk mendengarkan hearing calon pemilihan ketua? Kamu datang itu yang mau didapat memenuhi kuorumnya atau mengenal calonnya?

Sebenarnya mengenai pandangan seperti yang dikatakan dua teman tadi, memang saya yang menginginkannya sendiri untuk bisa berpikir lebih jauh dan menyeluruh serta berpikir lebih ideal meskipun saya merasa saya bukan idealis. Dan tidak pantas disebut idealis, sepertinya.

Tapi untuk bisa mendapat pandangan seperti itu, dari dulu saya tidak merasa berusaha. Maksudnya, memang ketertarikan untuk lebih aware sudah muncul dari sananya. Bukan saya yang mengusahakan ada. Apakah ini bawaan keluarga? Saya sempat berpikir ini turunan dari ayah dan pengaruh saudara laki-laki tua saya. Atau apa? Tidak tahu ya. Tidak penting.

And Her New Community

Sedikit bercerita tentang komunitas baru saya. Apa yang terlintas di benak mas/jeng tentang jurusan Teknik Lingkungan? Identik dengan cewek-cewek? Pastinya.

Saya mau curhat sedikit.

Ada pengaruh jurusan yang besar di sini. Banyak tugas, banyak tuntutan. Jadilah kami (kami, karena saya pun merasa sudah terseret sedikit ke dalamnya) manusia-manusia laporan yang sering mengeluhkan kekurangan kertas reuse.

Selain itu, karena ini mayoritas cewek-cewek, teman perempuan saya bertambah di sini (yang ini jelas lah ya). Semakin banyak teman, semakin banyak cerita yang bisa saya dengar. Sayangnya, ceritanya seputar itu-itu saja. Perasaan dengan lawan jenis terutama. Ada banyak sisi positifnya, saya belajar menjadi lebih terbuka dan tidak memendam masalah sendirian seperti dulu-dulu. Kalau mau pamer, saya jadi merasa bisa lebih peka dan peduli dengan kawan-kawan. Tapi sangat tidak nyaman karena topik ini bisa menjadi sangat berpengaruh. Bahkan pada suatu waktu pernah membuat saya gelisah.

In places no one will find, all your feelings so deep inside

Banyak waktu melancong, banyak waktu beraktivitas, banyak waktu merenung jadi berkurang karenanya. Bukan maksudnya komunitas baru ini melunturkan pandangan saya, tapi aneh ketika sekarang bahkan saat saya menulis kata ini, saya merasa kalau ada perubahan yang terjadi. Ada lebih banyak perasaan, ada lebih banyak melankolis yang saya keluarkan dalam menjalani kehidupan. Tidak patut menyalahkan, malah harus bersyukur karenanya.

Ya walaupun sebenarnya toh perempuan memang sangat lazim berlaku seperti ini. Asalkan bisa dikendalikan, pasti efek positifnya besar. Tidak heran kan orang-orang sering menyatakan ada sosok wanita yang penyayang, perhatian, dan keibuan. Karena beliau-beliau itu dapat mengendalikan sekaligus melimpahkan perasaannya kepada orang lain. Siapa sih yang tidak kagum dengan sosok seperti itu? Padahal modalnya hanya perasaan lho.

Ya bagi saya inilah salah satu keistimewaan menjadi seorang perempuan. Mungkin itulah alasannya ada kata-kata “Behind A Great Man, There Was A Great Woman”

Wouldn’t be the perfect one

but learn to be a great woman

is a perfect way to thank of life

Iklan

3 tanggapan untuk “A Girl’s Feeling is A Girl’s Thought

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s