Diposkan pada Jurnal

Ketika Saya Dibuat Terharu oleh Penjual Koran


Minggu, 13 Desember 2009 sekitar pukul 5 pagi saya sudah merencanakan untuk beli koran. Lama sekali sepertinya barang cem itu tidak tersentuh sejak masuk tahun kedua perkuliahan. Pokoknya harus baca koran hari ini, kata saya dalam hati. Usai shalat subuh langsung deh cao keluar buat beli koran sama sarapan. Sesampainya di tukang koran di belokan Cisitu Lama, rada aneh nih yang ada cuma majalah. Pas saya tanya ternyata memang koran-koran itu belum datang, lagi diambil si agen, jadilah saya balik ke kosan.

Jam 6 pun datang. Saya keluar lagi ke tukang koran. Eh ternyata belum datang juga korannya. Akhirnya saya bungkus sarapan dulu terus balik lagi ke kosan. Tak terasa sambil nonton TV jam di HP menunjukkan pukul 07.50. Wah pasti korannya ‘dah sampai nih. Saya pun keluar lagi untuk ketiga kalinya buat beli koran.

Alhamdulillah ternyata koran-korannya sudah datang. Saat sedang melihat-lihat koran, saya terkejut dengan sebuah kertas bergambar di samping bapak penjual koran. Itu adalah kertas ukuran A3 dengan lambang angkatan saya, Teknik Lingkungan ITB 2008 (Bhupalaka). Jelas aneh, kok ada di sini? Saya bertanya-tanya dalam hati.

Saya menanyakan pada si penjual koran darimana gambar tersebut berasal. Beliau yang sudah separuh baya menjawab, “Oh waktu itu jatuh, Dek, dari mobil pas lagi lewat mobilnya.”

Saya meraih gambar yang masih berada dalam plastik tersebut. Wow. Ternyata di dalamnya tak hanya lambang angkatan tapi ada juga lambang HMTL. Saya pun teringat saat-saat menjelang Pengabdian Masyarakat (PM) angkatan pada tanggal 22 November 2009 lalu.

Pagi-pagi di hari pengmas, Inad dan Becky, selaku anggota Bhupalaka yang dapat tugas nge-print lambang angkatan dan HMTL untuk dipajang di spanduk PM sempat panik gara-gara kedua lambang tersebut (yang sudah di-print, pastinya) hilang.

Oh…ternyata jatuh di dekat basecamp toh, jawab saya dalam hati.

Pastinya pula bapak penjual koran itu merasa aneh, tiba-tiba ada yang menanyakan gambar temuannya. Beliau pun bertanya,

“Itu punya Adek? Ambil ‘aja. Saya teh waktu itu sempat ngejar mobilnya tapi ga kekejar. Jadi saya simpan siapa tahu ya Dek, dicari lagi sama yang punya.”

Saya : “Ini kapan ya, Pak jatuhnya?”

Beliau : “Oh lama sekali, Dek. Ga tau…seminggu mungkin ada.”

Saya :”Ini Bapak simpen terus?”

Beliau :”Lha iya dibawa pulang. Tapi kalau siang suka saya tempel itu di tiang itu, Dek…(sembari menunjuk tiang besi setinggi kira-kira 1,5 meter) siapa tahu yang punya mau ambil lagi. Kasian, Dek, yang punya pasti cari-cari.”

Saya berpikir sejenak. PM itu tanggal 22 November, hari ini tanggal 13 Desember. Mungkin saya tidak pernah sadar gambar itu dipajang, karena memang saya tidak pernah/jarang pulang siang hari ke kosan. Kalau dihitung, berarti sudah 3 minggu lambang ini hilang. Dan Bapak ini dengan murah hati berkenan menyimpan plus menaruhnya di tiang agar terbaca oleh kendaraan/orang yang lewat jalan tersebut, setiap hari, mungkin. SELAMA TIGA MINGGU. Subhanallah.

Beliau berkata lagi, “Kenal sama yang punya, Dek?”

Saya :”Iya, Pak. Kebetulan temen saya ‘dah lama bilang dia kehilangan gambar kayak gini.”

Beliau :”Oh ya ambil ‘aja, Dek.”

Usai membayar koran, saya cao ke kosan lagi bersama lambang Bhupalaka dan HMTL di tangan. Plus perasaan terharu atas perlakuan si Bapak Penjual Koran terhadap benda di tangan saya ini.

Apa jadinya kalau bukan bapak itu yang menemukan gambar ini? Kalau orang lain sepertinya sudah masa bodoh, termasuk saya, mungkin. Ya gimana, 3 minggu tanpa ada petunjuk orang yang punya, gitu. Dibawa pulang ke rumah dan dibawa balik lagi ke tempat kerja (baca: stand koran) plus dipajang di tiang. Kurang mulia apa perlakuan beliau terhadap barang yang datang padanya entah darimana itu?

Alhamdulillah pagi-pagi saya sudah diingatkan lagi untuk bersyukur. Bersyukur bahwa masih banyak orang-orang baik di dunia ini. Dan saya mendapat pelajaran dari salah satu orang jenis itu bahwa segala kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas pasti mendapat jawaban dari Allah berupa perantara apapun.

Saya tahu saya bisa menjadi perantara bagi Bapak penjual koran tersebut.

Saya kembali tak berapa lama untuk memberinya sedikit rezeki sebagai tanda terima kasih. Terima kasih yang utama adalah bukan atas jasanya menjaga benda milik angkatan saya, tapi kemuliaan dan keikhlasannya perlakuannya terhadap benda yang bukan miliknya serta pengajaran yang ia berikan pada saya dan teman-teman yang saya bagi kisah ini.

Mungkin kamu bisa berpikir hal ini berlebihan. Tapi setidaknya saya mau jujur, bagi saya, orang seperti beliau jarang saya temukan dalam kehidupan saya.

Bandung tepatnya di kosan sambil baca koran yang baru dibeli, 13 Desember 2009 pukul 09.23
Iklan

3 tanggapan untuk “Ketika Saya Dibuat Terharu oleh Penjual Koran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s