Diposkan pada Buku

Baca Ribuan Buku Gratis Via Aplikasi iPusnas

“Pengen baca buku tapi lagi kere. Hmm…”

“Duh…mesti cari referensi tapi males ke perpus, jauh.”

Eh jangan sedih. Sekarang kamu bisa baca buku di mana saja, kapan saja, GRATIS pula. Gimana sih? Easy! Tinggal unduh aplikasi iPusnas di HP masing-masing. iPusnas merupakan aplikasi perpustakaan digital yang dilengkapi dengan eReader untuk membaca ebook dan berbasis media sosial yang disediakan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI). Kenapa berbasis media sosial? Karena selain bisa membaca buku, kamu juga bisa berinteraksi dengan sesama pengguna apps ini, seperti memberi ulasan buku, merekomendasikan buku, menambah teman, dsb. Aplikasi ini sendiri sudah tersedia di Play Store sejak tahun 2016.

Registrasi Anggota

Setelah mengunduh iPusnas, kamu mendaftar sebagai anggota. Cara mendaftar amat mudah. Tinggal ketik alamat email yang ingin digunakan atau klik tombol Facebook yang telah disediakan. Jika berhasil, kamu resmi jadi anggota apps iPusnas. Selamat!

Cara Pinjam Buku

Nah, gimana cara membaca buku di iPusnas? Konsep apps ini persis seperti meminjam buku di perpustakaan.

Cari buku yang ingin dipinjam. Jika sudah ketemu, klik sampul buku tersebut. Untuk postingan ini, saya pilih contoh novel Gentayangan karya Intan Paramaditha.

Klik tombol “Borrow”

Klik kategori “Popular”

Klik “Yes” untuk konfirmasi

Klik “Close”

Secara otomatis, buku akan 100% terunduh. Kalau jaringan internetmu sedang kurang bagus atau apps iPusnas sedang lemot, buku tidak terunduh secara otomatis tapi muncul tombol “Download”. Kamu bisa klik tombol tersebut untuk mengunduh.

Jika tombol sudah berganti warna hijau dan tertulis “Read” berarti buku berhasil kamu pinjam dan siap untuk dibaca.

Untuk mengecek daftar buku yang kamu pinjam (Bookshelf), kamu bisa klik ikon ini.

Untuk mengembalikan buku, tinggal klik “Return”

Buku yang dipinjam HANYA BISA DIBACA MELALUI APPS IPUSNAS. Jumlah maksimal buku yang dapat dipinjam sebanyak 3 buku per hari dan waktu peminjaman adalah 3 hari. Lewat dari itu, buku yang sudah dipinjam secara otomatis dikembalikan ke sistem. Jadi, tidak ada denda kalau kamu lupa mengembalikan 🙂

Catatan:

  • Beberapa buku yang banyak peminat memungkinkan kamu untuk ngantri lebih dulu sebelum bisa meminjam buku. Tombol “Borrow” berganti dengan tombol “Queue”. Kalau pun buku sudah dikembalikan, kamu tidak akan dapat notifikasi. Jadi, mesti rajin-rajin ngecek sendiri. Persis seperti di perpustakaan kan?
  • Beberapa buku memang tidak bisa dipinjam. Entah kenapa. Contoh: Animal Farm oleh George Orwell ini. Coba lihat jumlah orang yang antri, sedangkan tidak ada satupun yang pernah membaca buku ini hihihi.

Daftar Buku

Jenis buku yang tersedia di iPusnas bermacam-macam, baik fiksi maupun nonfiksi. Sayangnya banyak pula buku yang mungkin tidak akan kamu temukan di sini. Saya berasumsi Perpusnas RI sudah melakukan kerja sama dengan penerbit-penerbit mayor seperti KPG, GPU, atau Mizan. Sedangkan buku-buku dari penerbit independen semisal Marjin Kiri, Basabasi, atau Indie Book Corner tidak bisa ditemukan.

Buku di apps ini pun tersedia untuk berbagai kalangan, mulai dari anak kecil, remaja, sampai orang dewasa. Saya sendiri sudah hampir khatam buku Seri Cerita Rakyat 34 Provinsi (Bilingual Version) yang notabene merupakan buku cerita anak-anak xixixi.

Oh iya. Awalnya saya kira iPusnas cuma menyediakan buku-buku lama. Ternyata, buku-buku baru bahkan buku yang terbit di akhir tahun 2017 pun bisa dipinjam di sini (ya ini si Gentayangan terbit Okt 2017). Kewreeen! (jangan tanya apa ada ketakutan dari penerbit terhadap penurunan penjualan buku di toko buku dengan adanya iPusnas ini, asumsikan sudah ada komunikasi dari kedua pihak lah).

Sejauh ini, pengalaman membaca di iPusnas sangat menyenangkan meskipun kadang-kadang apps ini rada lemot. Boleh dicoba BANGET!

Semoga informasi ini bermanfaat yes.

PS: berhubung mata punya keterbatasan untuk melihat layar HP, lebih baik baca buku betulan di perpustakaan betulan dong, terutama buat buku-buku yang cukup tebal. Kalau di Jakarta, saya merekomendasikan Perpustakaan Kemendikbud atau Perpusnas RI. Ciao!

 

Iklan
Diposkan pada Buku, Jurnalisme

Belajar dari Kiprah The New York Times

NYT Menulis Berita tanpa Takut atau Memihak.jpg

Judul The New York Times: Menulis Berita tanpa Takut atau Memihak
Penulis Ignatius Haryanto
Penerbit Yayasan Obor Indonesia
Cetakan Pertama, Juni 2006
Tebal XXVI + 114 hlm.; 14.5 x 21 cm
ISBN 979-461-591-9

The New York Times, biasa disingkat NYT atau Times, merupakan perusahaan media yang berbasis di Amerika Serikat. Perusahaan yang didirikan pada tahun 1851 ini telah memperoleh lebih dari 100 penghargaan Pulitzer, menjadikan Times sebagai media peraih Pulitzer terbanyak, sekaligus masuk sebagai jajaran media paling terpercaya yang diakui oleh dunia. Tak heran, Ignatius Haryanto yang juga seorang jurnalis di Indonesia merasa perlu berbagi resep di balik kesuksesan Times dalam mempertahankan kualitas jurnalisme. Buku saku ini tentu ditujukan terutama bagi para pelaku jurnalistik di Indonesia.

Bab 1 mengangkat kasus berita bohong jurnalis Times bernama Jason Blair yang terkuak pada pertengahan tahun 2003 lalu. Berdasarkan hasil investigasi internal, Blair ternyata telah membuat 10 berita bohong selama ia bekerja di Times. Kasusnya yang paling menjadi highlight ialah plagiat laporan wartawan koran lain pada April 2003. Hal ini membuat pihak Times melakukan koreksi total yang terdiri dari perombakan struktur internal, termasuk pendirian kelembagaan ombudsman atau public editor yang berfungsi untuk menampung keluhan publik terhadap pemberitaan Times.

Bab 2 mengulik isi dapur Times dari segi kode etik. Kasus Blair membuat kode etik Times diperbarui per Mei 2004. Integritas, Kemampuan, dan Reputasi adalah kata kunci yang dipegang oleh wartawan Times. Kutipan dari salah satu paragraf pembuka dalam kode etik Times ialah keharusan bagi Times dan para staf untuk memelihara standar tertinggi yang mungkin ada untuk memastikan bahwa mereka tidak melakukan hal-hal yang akan mengurangi kesetiaan dan kepercayaan pembaca. Hal ini jelas menyatakan bahwa Times menaruh landasan utama pada kepercayaan pembaca. Kode etik Times sendiri terdiri atas 51 halaman yang memuat 155 pasal untuk 14 bab, jauh melebihi jumlah seluruh kode etik terkait jurnalistik yang berlaku di Indonesia (kode etik Times dapat diakses di www.nytimesco.com).

Bab 3 merupakan napak tilas sejarah perkembangan Times selama lebih dari 100 tahun yang sukses dikelola oleh keluarga Ochs-Sulzberger selama 4 generasi. Pada tahun 1896, Times akan bangkrut. Namun, Adolph Ochs dengan uang pas-pasan membeli media tersebut dan melakukan pembenahan dengan menampilkan jenis pemberitaan di bidang ekonomi, hukum, dan ulasan buku yang kesemuanya dianggap memiliki nilai lebih ketimbang media lain oleh para pembaca. Di samping itu, ia nekat membanting harga Times. Kedua pendekatan ini membuat penjualan Times meningkat drastis. Masuknya wartawan Carr van Anda (kemudian dianggap sebagai arsitektur editorial Times) yang passionate terhadap dunia sains turut menambah khazanah pemberitaan Times.

Bab 4 menjabarkan penghargaan Pulitzer yang diterima Times. Di antara Pulitzer yang pernah diterima, rupanya ada pula yang liputannya tidak disukai oleh wartawan-wartawan Times lainnya, yaitu liputan tentang Rusia yang ditulis Walter Duranty di tahu 1930-an. Mereka mencibir bahwa liputan tersebut dianggap menjilat pemerintah Rusia (kasus ini umum terjadi pada wartawan yang bekerja di negeri tertutup dan otoriter sehingga tidak bisa menulis dengan leluasa).

Bab 5 mengulas Times dan krisis-krisis politik yang terjadi: Perang Dunia I dan II, penyerbuan Teluk Babi, penyerbuan Amerika ke Vietnam, dan Pentagon Papers. Liputan Times pada PD I tak tertandingi berkat kejelian Carr van Anda dalam memprediksi arah pergerakan perang sebelum mengirim wartawan-wartawan Times untuk meliput. Begitu pula masa krisis saat PD II, Times justru menaikkan intensitas peliputan, bukannya menghemat pengeluaran sebagaimana dilakukan oleh koran-koran lainnya. Pada penyerangan Teluk Babi, Times mengalami gejolak internal terkait perbedaan pendapat akan swasensor. Sedangkan pada penyerbuan Vietnam, Times mengalami desakan langsung oleh Presiden J.F. Kennedy. Pentagon Papers adalah puncaknya. Times (serta The Washington Post) dituntut ke pengadilan oleh pemerintah Amerika Serikat karena mempublikasikan dokumen rahasia yang menguak keterlibatan Amerika Serikat pada pemerintahan Vietnam yang korup. Mahkamah Agung saat itu memenangkan Times dan Post.

Bab 6 menyajikan pandangan singkat penulis mengenai tantangan ke depan bagi Times seperti kemunculan internet, lingkungan kerja di kantor yang konservatif, dan kemampuan untuk mempertahankan kualitas jurnalistiknya di tahun-tahun mendatang. Bab 7 merupakan penutup.

Kemahiran penulis dalam bertutur membuat buku ini mudah diikuti dan enak dibaca. Halaman yang tipis menjadikan buku ini sebetulnya tidak begitu komprehensif, lebih cocok sebagai bacaan awal bagi siapapun yang memiliki minat terhadap bidang jurnalistik. Untuk memperdalam ilmu, pembaca bisa mengacu pada buku-buku referensi yang penulis gunakan ketika menulis buku ini. Beberapa buku tersebut penulis sebutkan di bagian Pengantar.

Di tengah maraknya kemunculan media-media baru serta keleluasaan penggunaan internet, tidak dapat dipungkiri bahwa telah terjadi perubahan orientasi perusahaan media dari produk jurnalistik yang menguntungkan pembaca menjadi cenderung kepada orientasi bisnis. Hal ini tentu mempengaruhi kualitas jurnalisme yang seringkali dikesampingkan demi mendulang pemasukan bagi perusahaan. Times menganut prinsip “jika Anda memiliki informasi yang berkualitas, maka keuntungan perusahaan akan mengikutinya”. Di sini media-media di Indonesia seharusnya dapat mengambil pelajaran bahwa kompetisi seharusnya tidak serta merta mempengaruhi keluaran produk jurnalistik.

Situasi politik yang terkadang memungkinkan pemerintah maupun pihak-pihak lain memberi tekanan terhadap kebebasan pers pun kerap dialami, tentu tidak hanya Times melainkan juga media-media di Indonesia. Kiprah Times dalam mempertahankan netralitas dan jurnalisme yang tidak takut atau berpihak selayaknya dapat dijadikan contoh oleh media-media lain, demi memberikan informasi yang berimbang dan berkualitas kepada publik.

Diposkan pada Buku

Menyingkap Gunung Es Kejahatan

BASABASI.CO, 23 Desember 2017 (click)

tempo_dibalik-investigasi-tempo-02_full02.jpg

Judul Di Balik Investigasi Tempo Jilid 02
Penyunting Muhammad Taufiqurohman
Penulis Muhammad Taufiqurohman, Mustafa Silalahi, Rusman Paraqbueq, Stefanus Pramono
Penerbit Tempo Publishing
Cetakan Pertama, November 2017
Tebal xii + 179 halaman
ISBN 978-602-6773-20-3

Pemberantasan tindak pidana korupsi dalam beberapa dasawarsa terakhir selalu mencuri perhatian publik. Tak ayal, masyarakat pun sering dibuat geleng-geleng kepala oleh kelakuan koruptor yang kerap mengelak setelah ditetapkan sebagai tersangka. Terlebih, main kucing-kucingan untuk menghindari proses hukum. Ragam komentar sana-sini menanggapi kegaduhan ini meyakinkan kita bahwa sense publik akan perilaku-perilaku ganjil para pelaku ternyata masih bekerja.

Pemberitaan mengenai perkembangan kasus-kasus tindak korupsi terus menghiasi layar kaca, layar ponsel, bahkan gaung-gaung radio di dalam mobil Anda, semenjak pengungkapan pertama kali oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hingga ketika para terdakwa resmi mendekam di balik jeruji besi. Namun, apakah penjara sudah efektif untuk meredam kegaduhan? Sayangnya, tidak. Perhatian masyarakat ternyata tidak bisa berhenti pada putusan pengadilan karena rupa-rupanya masih terdapat kejanggalan yang tersembunyi dalam tempat tinggal baru para koruptor tersebut, menunggu-nunggu untuk dibuka.

Berawal dari informasi yang diberikan oleh seorang pengusaha tambang pada Oktober 2009 kepada pihak Tempo mengenai kemewahan sel penjara Artalyta Suryani, Ayin, terdakwa kasus aliran dana Bank Indonesia. Informasi awal ini mendorong Tempo melakukan investigasi terhadap sulap bui menjadi kantor yang dilakukan di Rumah Tahanan Pondok Bambu, Jakarta Timur, sebagaimana diceritakan dalam bab “Pondok Bambu Rasa Istana”.

Di akhir 2015, informasi dari beberapa orang yang dirahasiakan perihal narapidana Sukamiskin yang bebas keluyuran keluar penjara turut mendorong Tempo untuk mengungkap kebenaran informasi tersebut. Hal ini diceritakan dalam bab “Pelesir Gelap Pesakitan Sukamiskin”. Pada bab ini, terdapat hal lain yang disinggung yakni bisnis para narapidana ‘elite’ di dalam area penjara dengan adanya pendirian taman, kafetaria, dan saung-saung.

Selain dua laporan investigasi terkait penjara para koruptor tersebut, buku ini memuat dua laporan investigasi lain terkait human trafficking dengan masing-masing tajuk: (1) “Tenaga Kerja Indonesia Legal” yang mengungkap adanya ‘jalur samping’, yakni jalur masuk imigran gelap Indonesia ke Malaysia melalui Pulau Nunukan dan Sebatik, Kalimantan Utara, dan (2) “Jual-Beli Orang ke Malaysia” yang menguak kongkalikong jual-beli penduduk Nusa Tenggara Timur oleh agen-agen penyalur bodong. Sebagai pelengkap, terdapat pula satu laporan investigasi mengenai perburuan gajah dan harimau di Aceh yang tertuang dalam bab “Penyelundupan Gading dan Kulit Harimau”.

Buku ini memuat total 5 laporan investigasi yang dilakukan oleh Tempo dengan judul bab sebagaimana disebutkan di atas. Fakta hasil investigasi dituturkan dalam bentuk story-tellingsehingga mudah diikuti oleh pembaca. Jauh dari kesan kaku saat mendengar kata ‘laporan investigasi’. Buku ini turut dilengkapi dengan sebuah poster infografis khas Tempo serta dua halaman komik yang mengilustrasikan proses investigasi pelesir napi Sukamiskin.

Kelima hasil investigasi ini sesungguhnya telah dimuat dalam majalah Tempo. Namun, proses ‘di balik layar’ yang dilakukan oleh para wartawan investigasi Tempo serta dampak yang timbul setelah laporan investigasi tersebut diungkap ke publik-lah yang membedakan keluaran buku ini dengan majalahnya. Pada masing-masing bab, penjabaran mengenai kedua aspek tersebut turut disertakan dengan mengambil porsi sekitar seperempat bagian.

Investigasi sering menyoal pertaruhan nyawa. Oleh karena itu, tidak semua wartawan punya nyali melakukannya. Orang yang mendedikasikan diri menjadi wartawan investigasi tidak boleh gentar ketika dihadapkan pada situasi mengancam, baik lisan maupun tulisan, bahkan jika mengalami penahanan. Kejadian apes semasa proses investigasi kelima kasus disampaikan secara gamblang dalam buku ini.

“Kau jangan macam-macam. Aku bisa cari kau ke mana saja lalu aku bunuh,” kata pawang yang berperawakan kecil tapi memiliki tatapan mata tajam itu (hlm 56).

Ancaman itu dikemukakan oleh seorang mantan pawang gajah dan harimau kepada wartawan Tempo yang tengah berusaha mengorek informasi tentang perburuan liar di Aceh.

Disertakan pula narasi penyekapan yang dialami oleh wartawan Tempo pada Februari 2017. Kala itu, ia, Stefanus Pramono, tengah berusaha mengonfirmasi Albert Tei, pemain besar di balik jual beli TKI ilegal ke Malaysia.

Akhirnya, Pramono menggertak balik. “Silakan Anda lapor ke polisi. Saya liputan yang nyaris mati saja pernah. Kalau dipenjarakan, saya tidak takut,” ujarnya menantang, “akan saya laporkan Anda balik karena menyekap kami.” Tak lama kemudian, telepon seluler Pramono berbunyi. Redaktur Eksekutif Tempo, Wahyu Dhyatmika (Komang), meneleponnya. “Kamu disekap? Kasih teleponnya ke Albert,” kata Komang. Telepon itu tidak di-speakerphone-kan, tetapi suara Komang terdengar sangat keras. “If something happen to my reporters, I will find you!” (hlm 150).

Terungkapnya skandal-skandal kejahatan memacu respons positif dari pemerintah, setidaknya untuk kelima kasus di atas. Meskipun, sebagian besar dampak kasus hanya berlaku pasang-surut dalam beberapa bulan awal setelah peliputan. Kasus perburuan liar terhadap gajah dan harimau yang konon kabar digawangi oleh mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka dan telah berlangsung selama puluhan tahun itu juga tidak bisa diberangus hanya dalam beberapa bulan. Tidak jauh berbeda dengan kasus jual-beli manusia. Tidak dapat kita tampik bahwa selama demand masih tinggi, terbatasnya ruang ketersediaan lapangan kerja dalam negeri, terlebih keterlibatan langsung aparat pemerintah telah membuat praktik-praktik gelap semacam ini mustahil diberantas tuntas. Bukankah ini menjadi sebuah potret ironi kebangsaan?

Di samping filosofi mulia yang mendasari penyusunan laporan investigasi dalam dunia jurnalistik, yakni untuk mengungkap fakta yang bernilai besar bagi masyarakat, amat disayangkan bahwa proses investigasi itu sendiri, dalam buku ini lebih banyak menjabarkan peristiwa yang dialami oleh wartawan investigasi Tempo di lapangan. Konfirmasi yang nyata memang sering diperoleh melalui reportase lapangan. Seperti contoh wartawan Tempo yang harus menyamar menjadi imigran gelap agar dapat nimbrung dalam perahu yang membawanya menyusuri ‘jalur samping’ menuju Pulau Nunukan atau pengintaian Ayin lewat gedung rumah sakit yang belum jadi di samping Pondok Bambu.

Dari dalam perahu, Pramono menyaksikan nakhoda kapal cepat yang datang belakangan memberikan duit kepada petugas di dalam kapal milik Malaysia. Terjawab sudah. Salah satu alasan para imigran gelap bisa masuk dengan mudah adalah adanya pemberian suap kepada penjaga perbatasan Malaysia. (hlm 87)

Pengintaian dari gedung (baca: gedung rumah sakit yang sedang dibangun di sebelah penjara Pondok Bambu) dilakukan untuk membuktikan Ayin memperoleh fasilitas khusus di penjara. Budi Riza naik ke bangunan belum jadi di lantai paling atas rumah sakit itu pada akhir 2009. Ia punya misi mengintai aktivitas di dalam aula. Informasi awal sudah dikantongi: tempat itu (aula) menjadi “ruang kerja Ayin”. Pada waktu yang berbeda, fotografer Arnold Simanjuntak tiga hari bolak-balik ke tempat yang sama. Pada hari ketiga, baru ia mendapat foto Ayin yang sedang menggendong bayi. Hasilnya kurang bagus secara visual, tapi lumayan sebagai bukti jurnalistik. (hlm 28).

Penonjolan reportase di lapangan membuat detail lain yang turut mendukung proses investigasi, semisal untuk paper trails, bagaimana memperoleh dokumen transaksi penjualan TKI ilegal, atau penyusunan strategi-strategi dengan rencana terbaik hingga terburuk sebelum pelaksanaan investigasi di lapangan, sedikit dikesampingkan. Tempo mungkin beranggapan bahwa proses di luar lapangan yang tidak terlalu menantang itu kurang menggiurkan untuk diketahui oleh publik. Tidak salah, memang, tetapi pemuatannya sekiranya dapat memberi nilai lebih akan ekspektasi pembaca terhadap judul buku yang tertera: ‘di balik investigasi’.

Bukan rahasia umum bahwa masih terdapat banyak desas-desus skandal kejahatan pada setiap lini kehidupan. Rumor ini kerap dibiarkan berlalu atau bahkan dimaklumi oleh khalayak. Eksistensinya seakan tabu untuk disinggung. Oleh karena itu, produk jurnalistik berupa laporan investigasi menjadi penting untuk sekaligus dapat menempeleng kita bersama bahwa pembiaran terhadap kejahatan-kejahatan di sekitar yang benar-benar nyata tidak bisa tidak diacuhkan.

Diposkan pada Buku

Target Baca 2018

Di akhir tahun 2017, saya terdorong untuk membuka kembali akun Goodreads saya yang tidak pernah digunakan lagi sejak tahun 2011, kalau tidak salah. Seperti baru masuk ke peradaban baru, ternyata Goodreads memfasilitasi banyak sekali feature yang menyenangkan. Salah satu yang paling berguna adalah fasilitas untuk memantau target bacaan selama setahun.

Ah saya menyesal sekali meninggalkan Goodreads begitu lama.

Ngilang ke mana aja?!

Saya tidak tahu mau pasang target bacaan berapa buku. Namun, beberapa kali saya sempat melihat banyak orang yang mampu menyelesaikan bahkan sampai 100 buku dalam setahun. Hmm. Menarik. Walhasil, saya langsung menetapkan target bacaan sebanyak 60 buku. Kebetulan sempat baca sebuah artikel yang menyebutkan bahwa seorang CEO rata-rata membaca 60 buku dalam setahun. Saya bukan CEO sih, tetapi tentu ini berarti motivasi yang cukup untuk menunjukkan bahwa di tengah jadwal yang padat, buku sebanyak itu masih sempat dibaca oleh 1 orang lho.

Saya yakin seumur hidup belum pernah menyelesaikan sampai sebegitu banyak buku dalam setahun. Tapi, apa salahnya kan mencoba? Saya menargetkan untuk membaca di setiap sela-sela waktu, perjalanan selama commuting menggunakan KRL, maupun sebelum tidur. Jadi, buku harus menemani ke mana pun, di mana pun.

Sampai saat saya menulis ini, Goodreads merekam bahwa saya sudah memenuhi 17% target (yeay). Berikut sampul 10 buku yang sudah saya baca selama 15 hari pertama di bulan Januari 2018.

Diposkan pada Buku

Beban Kelam 1998 yang Tak Bisa Dilepas  

Koran Jakarta, 8 Januari 2018

Cover.jpg

Judul Laut Bercerita
Penulis Laela S. Chudori
Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan Pertama, Oktober 2017
Tebal x + 379 halaman; 13.5 cm x 20 cm
ISBN 978-602-424-694-5

Karya fiksi ini seorang mahasiswa dari Yogyakarta bernama Biru Laut. Orang tua Laut tak tahu bahwa anak mereka telah bersemayam di dasar perairan ditemani oleh karang dan ikan-ikan. Laut adalah salah satu dari 13 aktivis yang hilang pada masa Orde Baru. Ia sendiri diculik sejak 13 Maret 1998, kemudian dibunuh setelah hampir tiga bulan disekap sekaligus disiksa. Melalui buku ini, Laut menceritakan kisahnya.

Asmara Jati, adik perempuan Laut, menuturkan kesedihannya akan dampak buruk yang menggerogoti kehidupan Ibu dan Bapak setelah hilangnya anak sulung mereka. Orang tuanya terjebak dalam penyangkalan bahwa suatu hari Laut akan mengetuk pintu rumah dan bergabung di meja makan, sebagaimana ritual keluarga itu selalu diadakan di hari Minggu. Terlebih, tidak hanya orang tua Asmara, melainkan keluarga dan sahabat dari 12 orang hilang lainnya juga belum mampu menerima kenyataan pahit tersebut.

Novel ini menarasikan pertanyaan tentang hak asasi manusia yang belum terjawab dan tentang cinta yang tidak pernah luntur. Penulis menggunakan dua sudut pandang, yakni dari Laut dan Asmara. Laut menceritakan alur perjuangan dirinya dan aktivis lainnya yang tergabung dalam organisasi Winatra dan Wirasena. Kisah panjang meliputi pertemuan para anggota, aksi pemberontakan di Blangguan, sampai kematian Laut. Sedangkan sudut pandang Asmara menggambarkan kegelisahan tak berkesudahan mereka yang ditinggalkan oleh 13 aktivis. Pada suatu waktu, mereka yang ditinggalkan pun menyadari bahwa mereka tidak punya pilihan, selain sama-sama berjuang mencari jawaban.

Lazimnya perjalanan hidup manusia, penulis juga memasukkan unsur romantisme khas anak muda. Laut dan Anjani bertemu di Rumah Seyegan, markas baru Winatra dan Wirasena. Keduanya kemudian perlahan menjalin hubungan di tengah geliat pemberontakan. Lain lagi dengan Asmara dan Alex yang bertemu ketika Laut mengundang Alex berkunjung ke rumahnya. Dua sejoli ini seketika larut dalam hubungan yang dibangun secara cepat. Kisah percintaan ini menjadi pokok kedua yang ditampilkan sepanjang buku.

Dalam Laut Bercerita, penulis juga mengangkat sisi feminisme. Tiga tokoh utama wanita: Asmara, Anjani, dan Kinan digambarkan sebagai perempuan yang tangguh, berpendirian, dan mampu memutuskan untuk diri sendiri. Penceritaan dengan alur waktu yang berubah-ubah kembali digunakan oleh Leila seperti halnya dalam buku Pulang (2013).

Tahun 1998 adalah sebuah titik balik. Salah satu periode yang mengukir sejarah kelam di Indonesia. Desaparasidos –penghilangan orang secara paksa–dialami oleh 13 aktivis yang bahkan hingga hampir 20 tahun kemudian lokasi keberadaan tubuh mereka masih belum diketahui.

Mereka yang hilang adalah orang-orang yang pernah berjuang demi mewujudkan mimpi meraih Indonesia yang demokratis, lepas dari bayang-bayang kediktatoran. Namun, mereka pula lah orang-orang yang tidak pernah merasakan buah perjuangannya.

Penulis tidak sembarangan berkisah. Ia melakukan riset yang dimulai pada tahun 2013 agar faktualitas cerita benar-benar merefleksikan sejarah. Ide menulis buku ini sendiri datang setelah penulis meminta Nezar Patria menuliskan pengalamannya saat diculik pada Maret 1998 untuk kemudian dimuat dalam Majalah Tempo Edisi Khusus Soeharto pada Februari 2008.

Sebagai fiksi, penulis sukses mengontruksi jagat baru dari sejarah kelam yang terjadi tahun 1998. Maka, tak heran bahwa pada peluncuran pertama Laut Bercerita di Ubud Writers and Readers Festival 2017, Leila mengungkapkan bahwa buku ini sedang diterjemahkan ke Bahasa Inggris agar dapat dibaca oleh kalangan yang lebih luas. Peristiwa yang menggores penegakan hak asasi manusia di Indonesia ini bukan hanya menorehkan luka pada kerabat yang ditinggalkan, melainkan permasalahan bersama di berbagai belahan dunia bagi mereka yang menjunjung tinggi kemanusiaan.

 

 

Diposkan pada Film

7 Film Terfavorit Garapan Alfred Hitchcock

Akhir tahun 2012 merupakan kali pertama saya menonton film Alfred Hitchcock berjudul Rope (1948). Sutradara yang dikenal sebagai “The Master of Suspense” ini mungkin tidak begitu terdengar familiar di telinga remaja masa kini karena film terakhir yang ia sutradarai, Family Plot (1976) bahkan dirilis 10 tahun sebelum kelahiran generasi milenial. Kecuali, tentu, bagi mereka yang memang penggemar film bergenre suspense, misteri, dan thriller. Atau penikmat film jadoel seperti saya.

Alfred Hitchcock
Gambar 1. Alfred Hitchcock

Setelah lima tahun, melalui tulisan ini saya ingin memberi rekomendasi tujuh film Hitchcock terfavorit versi saya. Barangkali berguna untuk Mas/Jeng yang ingin menghabiskan waktu akhir pekan menuju 2018 di rumah. Meskipun baru menonton 23 dari total 52 film garapan sang sutradara, saya rasa daftar film di tulisan ini cukup merepresentasikan karya-karya terbaik Hitchcock.

7. Rebecca (1940)

Seorang duda kaya bernama Maxim de Winter yang tengah berlibur bertemu seorang perempuan muda di Monte Carlo. Mereka jatuh cinta, menikah, dan tinggal di Manderley, rumah sang duda. Di rumah itu, Mrs. de Winter yang baru merasa terintimidasi karena Mrs. Danvers, pelayan di Manderley, begitu mengagungkan Rebecca, istri pertama Maxim yang sudah meninggal. Terlebih, Mrs. Danvers mengatakan bahwa Mrs. de Winter yang baru tak akan pernah bisa menggantikan posisi Rebecca.

Rebecca
Gambar 2. Mrs. Danvers (kanan) sedang membujuk Mrs. de Winter (kiri) untuk melompat dari jendela

Film hitam-putih ini akan terasa membosankan bagi sebagian orang. Namun, saya pribadi menyukai cerita secara keseluruhan dan plot twist yang terjadi di tengah film. Nuansa hitam-putih ini juga membuat karakter Mrs. Danvers yang kaku dan dingin semakin kuat. Film ini bisa dinikmati oleh Mas/Jeng yang tahan untuk tidak tidur ketika menonton film-film sepi.

6. Rear by Window (1954)

L.B. “Jeff” Jefferies, pewarta foto yang sedang dalam masa pemulihan akibat kaki patah menghabiskan waktu dengan mengamati aktivitas para tetangga lewat jendela apartemennya. Di suatu malam, ia mendengar seorang perempuan berteriak “Jangan!” kemudian mendapati beberapa peristiwa ganjil terjadi selama beberapa hari setelahnya. Jeff membangun hipotesis dan berusaha memecahkan misteri yang terjadi di sekitar apartemennya itu.

Rear Window
Gambar 3. Jeff mengamati aktivitas para tetangga dari balik jendela apartemen

Bagian paling menarik bagi saya ketika menyadari bahwa film ini merupakan one room-set movie yang cuma berkutat di kamar Jeff, seperti halnya 12 Angry Men (1957) yang berkutat di ruang juri saja, tetapi tidak membosankan untuk ditonton. Sudut pandang Jeff sebagai satu-satunya sudut pandang yang disajikan mau tidak mau memaksa penonton untuk tenggelam dalam hipotesisnya.

5. Dial M for Murder (1954)

Tony Wendice, mantan petenis, mengungkapkan keinginannya untuk membunuh sang istri, Margot Wendice. Ia berhasrat menguasai seluruh harta Margot. Mengetahui bahwa Margot selingkuh dengan Mark Halliday membuat Tony semakin yakin dengan rencana pembunuhannya. Ia pun mengancam seorang kawan lama agar mau melakukan tindak kriminal tersebut. Sayangnya, upaya pembunuhan itu tidak berjalan sesuai rencana.

Dial M for Murder
Gambar 4. Sesaat sebelum Margot akan dibunuh oleh pembunuh suruhan sang suami

Hal paling menarik dalam film ini bagi saya adalah adegan-adegan ketika para pemeran, baik Tony, Mark, dan para penyelidik berusaha mengungkap bagaimana pembunuhan itu terjadi. Pembunuhan yang tidak sesuai rencana itu membuat suasana film menjadi seperti melihat orang sedang bermain kucing-kucingan dalam berargumentasi. Permainan menyembunyikan motif ini cukup greget untuk dinikmati.

4. Vertigo (1958)

Detektif John “Scottie” Ferguson memutuskan pensiun karena merasa bersalah tidak dapat menolong rekan kerjanya yang jatuh dari atap bangunan. Kejadian itu lalu membuat ia sering merasakan vertigo. Sahabat Scottie semasa kuliah, Gavin Elster, meminta pensiunan detektif itu untuk mengawasi istrinya yang sering bergelagat aneh. Scottie menolak, tetapi ia luluh juga. Akhirnya, ia mulai memata-matai Madeleine demi sahabatnya.

Vertigo
Gambar 5. (ki-ka) Scottie dan Madeleine

Bagi para kritikus film, Vertigo disebut sebagai masterpiece Hitchcock di samping Psycho (1960). Sinematografi, plot twist, tema yang diangkat, visual effect, dan aspek produksi lain yang digunakan memang apik. Namun, bagi saya pribadi masih ada 3 film Hitchcock lain yang lebih mengesankan. Yak film apa saja kah yang masuk dalam 3 besar tersebut? Cekidot!

3. Rope (1948)

Brandon Shaw dan Phillip Morgan bersama-sama membunuh seorang rekan sekelas, David Kentley, di apartemen mereka tepat sebelum acara makan malam yang mereka gelar di sana. Dua pembunuh tersebut menggunakan peti tempat menaruh mayat David sebagai pengganti meja tempat menaruh makanan. Para tamu sesungguhnya bingung karena David tidak hadir, tetapi mereka tidak menaruh banyak perhatian, kecuali profesor Rupert Cadell. Kecurigaan Prof. Rupert bangkit karena pertanyaan-pertanyaan mengenai ketidakhadiran David dijawab secara tidak konsisten oleh Phillip.

Rope
Gambar 6. (ki-ka) Prof. Rupert Candell, Brandon Shaw, dan Phillip Morgan

Rope merupakan film berwarna pertama besutan Hitchcock. Seperti halnya Rear Window, film ini juga merupakan one room-set movie. Hal yang lebih menarik adalah Hitchcock berhasil membuat Rope seolah diambil dalam satu kali syuting (single continuous shot). Berdasarkan beberapa referensi yang saya baca, film ini memang dilakukan dalam satu kali syuting. Kepiawaian Hitchcock dalam film ini tentu membuktikan kapasitasnya yang mumpuni dalam mengarahkan para pemeran, kameramen, dan seluruh kru produksi selama proses syuting, which is a director’s main jobdesc. Tidak salah, permulaan yang baik bagi saya dalam mengenal karya-karya Hitchcock.

2. The Birds (1963)

Melanie Daniels bertemu Mitch Benner yang sedang mencari lovebirds (salah satu spesies burung) di toko burung di San Fransisco. Melanie kemudian memutuskan untuk diam-diam mengikuti Mitch hingga ke Bodega Bay, tempat laki-laki itu biasa menghabiskan akhir pekan. Tak disangka, terjadi peristiwa ganjil beruntun berupa serangan burung camar dan gagak kepada penduduk Bodega Bay, termasuk kepada Melanie yang sedang singgah sementara.

The Birds
Gambar 7. Melanie dan seorang murid tengah melarikan diri ketika diserang sekawanan gagak

Film Hitchcock lekat dengan suspense dan alur cerita yang tidak monoton. Namun, ini pengecualian bagi The Birds. Film ini berjalan tanpa alur cerita yang berarti. Namun, menonton film bergenre horror-thriller yang sebagian besar hanya diisi adegan penyerangan sekawanan massal burung-burung ini cukup membuat bergidik. Ditambah lagi dengan mengetahui bahwa adegan-adegan tersebut sebagian besar menggunakan burung asli.

Memorable scene dalam The Birds yakni penyerangan Melanie Daniels oleh sekawanan gagak di loteng dilakukan selama satu minggu menggunakan burung gagak asli demi memperoleh satu menit adegan yang sempurna (ref: telegraph.co.uk). Perlakuan kejam Hitchcock terhadap sang aktris ini konon disebabkan konflik personal, membuat publik menganggap bahwa Hitchcock juga memiliki kepribadian gelap tersendiri.

1. Psycho (1960)

Marion Crane, seorang pegawai real estate, mencuri uang milik klien dan kabur ke tempat sang pacar, Sam Loomis, di luar kota. Dalam perjalanan, Marion memutuskan menginap semalam di sebuah motel di pinggir jalan bernama Bates Motel yang dijaga oleh Norman Bates. Di motel tersebut, Marion dibunuh.  

Psycho1

Psycho2
Gambar 8 (atas) & 9 (bawah). Memorable scene film Psycho: pembunuhan di kamar mandi

Jika Mas/Jeng menyukai serial TV Bates Motel yang sudah ditayangkan sejak tahun 2013, maka nama Norman Bates tidak mungkin terdengar asing. Norman Bates, pengelola Bates Motel, merupakan tokoh utama dalam film Psycho. Serial TV itu sendiri merupakan prekuel dari kehidupan Norman Bates dan sang ibunda yang diangkat dalam film. Bukan disutradarai oleh Hitchcock, tentu, sebab beliau sudah meninggal ketika serial TV ini dibuat.

Plot twist, akting para pemeran, adegan-adegan horror-thrilling disertai musik psychedelic, semua top! Apik secara keseluruhan. Hal ini menjadikan Psycho layak dikatakan sebagai masterpiece Hitchcock. Film ini mendapat sambutan meriah dan menjadi pelopor film-film thriller psikologi lainnya. Meskipun menggunakan format hitam-putih (untuk menghemat biaya produksi kala itu), film ini sama sekali tidak membosankan untuk ditonton. Menurut saya, film hitam-putih yang dirilis tahun 1960 ini bahkan masih lebih baik ketimbang sekuel, remake, dan serial TV berwarna yang menceritakan kehidupan Norman Bates.

Kekuatan Psycho yang paling utama adalah cerita. Oleh karena itu, bagi Mas/Jeng yang ingin menonton Psycho, saya sarankan agar tidak membaca sinopsis film secara keseluruhan sebelum menonton. Nikmati lah hingga menit-menit terakhir. Terbaik!

***

Boleh dibilang, Alfred Hitchcock merupakan sutradara yang karyanya paling banyak saya nikmati, bahkan masih tergiur untuk menyelesaikan sisa film-filmnya yang belum saya tonton. Terlebih, keterlibatan aktor James Stewart sebagai pemeran utama dalam 4 film Hitchcock (3 di antaranya masuk daftar di atas, btw) membuat saya menetapkan bahwa ia adalah aktor jadoel favorit saya 😀

Pesan saya bahwa menonton film jadoel perlu disertai dengan pikiran terbuka karena kualitas sinematografi kala itu sudah pasti tidak sebaik saat ini. Bahkan The Birds (1963) yang mendapat nominasi Academy Award kategori Best Special Visual Effects memiliki kualitas tidak jauh lebih baik dari sinetron Angling Dharma. Jadi, ya, jangan pernah coba membandingkan kualitas sinematografi film jadoel dan film sekarang karena tidak mungkin sepadan.

Terakhir, selamat menonton!

PS: Saya akan memperbarui daftar ini jika saya rasa ada film Hitchcock lain yang belum saya tonton yang ternyata lebih oke dari daftar di atas.

Diposkan pada Jurnal

Alternatif Kegiatan Malam Tahun Baru yang Anti-Mainstream

Halo, Mas/Jeng!

Berhubung beberapa hari belakangan ini saya merasa sangat penat, nulis receh di blog agaknya bisa jadi salah satu alternatif melepas stres. Sekalian, baru ngeh kalau nggak kerasa tahun baru sudah di depan kalender.

Pict.jpg
Source: media.indiatimes.in

Malam tahun baru identik dengan party dan konser musik. Tinggal pilih mau desak-desakan menikmati panggung musik Ancol, pergi makan-makan cantik di mall, atau ngesot ke warung kopi terdekat, kesemuanya pasti tak luput dari euforia selebrasi. Wabil khusus teruntuk humankind zaman now, perayaan tahun baru musti nampak meriah! Meskipun sekedar duduk-duduk di pinggir alun-alun makan kacang rebus, asalkan cekrek-upload foto kembang api dan posting IG stories, maka semua kriteria menikmati malam tahun baru sudah bisa dicentang.

Bagi Mas/Jeng yang bukan pengikut arus atau sudah bosan dengan ritual tahunan yang itu-itu saja, mencoba hal-hal berikut mungkin bisa dilakukan untuk menemani malam tahun baru.

  1. Mengerjakan tesis

Opsi ini kudu musti wajib berada di dalam top list, peringkat 1 pula. Masa, sudah kebelet LULUS tahun depan tapi masih leha-leha? Cih… sleding, nih! Percayalah di masa depan, pengalaman mengerjakan tesis ini bakal menjadi cerita mengharukan sekaligus memotivasi untuk anak cucu Mas/Jeng. Mengingatkan betapa gigih leluhur mereka dalam meraih cita-cita menimba ilmu, meskipun perlu diingat bahwa IPK bagus belum tentu menjamin sukses, apalagi yang jelek.

  1. Ketiduran challenge

“Paan sih tahun baru biasa aja lah. Gw mah tidur doang di rumah.”

Ucapan ini pasti sering dilontarkan teman-teman Mas/Jeng yang mengaku anti-mainstream. Percayalah sesungguhnya mereka telah menjadi anti-mainstream yang mainstream karena semua golongan anti-mainstream akan menggunakan alasan tersebut untuk menyatakan ke-anti-mainstream-an mereka. Nah, bagaimana jika muncul golongan anti-mainstream terbaru, yakni mereka yang menghabiskan malam tahun baru bukan dengan (sengaja) tidur, melainkan ketiduran? Saya yakin ketiduran adalah hal yang sulit dilakukan kalau Mas/Jeng sudah niatkan dalam hati. Oleh karena itu, patut disebut challenge.

“Bro, tahun baru mau ngapain?”; “Wah kayaknya gw mau ketiduran aja nih.”;

Coba bayangkan bagaimana ekspresi kawan Mas/Jeng mendengar jawaban tersebut. Ekspresi yang anti-mainstream sekali, bukan? Jangan lupa ajak temanmu ikut challenge ini.

  1. Menertibkan komplek

Mas/Jeng bisa produktif juga lho di malam tahun baru. Meskipun hanya menghabiskan malam di rumah, salah satu kegiatan yang bisa dilakukan adalah dengan berkeliling komplek menyetop mereka yang gemar melempar petasan dan meniup-niup terompet di jalan. Sebagai golongan anti-mainstream yang menjunjung tinggi solidaritas sesama kaum, hal itu sangat bermanfaat demi meredam bising yang merusak suasana kondusif untuk tidur.

Kegiatan ini mungkin beresiko tinggi karena alih-alih menertibkan komplek, Mas/Jeng malah bisa dituduh melanggar HAM para penikmat malam tahun baru. Maka, saran saya, Mas/Jeng bisa siapkan secarik kertas berisi nasehat atau ceramah malam tahun baru untuk disampaikan menggunakan toa masjid. Strategi ini tentu lebih aman bin berfaedah.

  1. Membantu ketertiban lalu lintas

Barang tentu malam tahun baru identik dengan macet! Padahal kita sih pengennya anti macet-macet club. Di satu sisi, pernah dengar istilah jadilah bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah kan? Jadi, alangkah mulia jikalau Mas/Jeng bisa turut menjadi solusi dari kemacetan kota di malam tahun baru dengan tidak ikut-ikutan menciptakan kemacetan dengan menjadi pak ogah dadakan. Apalagi pengamen dadakan yang pake dalih lagi ngedanus buat acara kampus. Memang sih malam tahun baru tuh momen yang pasti menjanjikan kantong, berkali lipat dari malam-malam biasa. Tapi, yaa serius lah, kasih kesempatan mereka yang benar-benar butuh arena.

Masih punya ide-ide anti-mainstream lain untuk menikmati malam tahun baru?

Buat tulisan sendiri.