Diposkan pada Film, Jurnal

Pada Jeda antara Dialog

 

Annisa: Arsitek tuh suka berasa Tuhan. Berasa yang paling tau rancangan terbaik buat manusia. Yang paling tau dan yang terbaik ya… yang ngejalanin sendiri.

Cina: Jenius! Emang arsitek tuh suka berasa Tuhan. Makanya suka nggak kepikiran kalau ada rancangan yang lebih baik.

Bait lagu mulai dimainkan, menandakan sepenggal dialog Annisa dan Cina di perpustakaan itu telah selesai. Aku meraih tangan kiri perempuan di sebelahku sembari berbisik, “Mungkin karena Cina setuju, sekarang Annisa tersenyum-senyum memandangi gambar ini di telunjuknya (Annisa).” Lalu aku menggerakkan telunjukku yang menempel pada telapak tangannya dan mengilustrasikan dengan gerakan berupa dua titik serta satu tarikan garis lengkung ke bawah: seseorang sedang tersenyum.

Lagu yang sama masih diputar, tetapi adegan sudah berganti.

“Sekarang, Annisa dan Cina sedang mendesain detail maket bersama,” bisikku lagi, “sambil curi-curi pandang.”

Perempuan di sebelahku itu tertawa lirih.

Ia bernama Syifa.

Siang itu, kami menonton film Cin(T)a bersama.

 

PhotoGrid_1520508505547[1].jpg
Dokumentasi pribadi

Minggu, 11 Februari 2018, sekitar pukul 12.30, lima orang tunanetra yang diantar oleh seorang sopir Grab telah sampai di parkiran Paviliun 28. Pintu Paviliun 28 dibukakan oleh seseorang dari dalam. Mereka berlima masuk saling berpegangan, tetapi tak berapa lama terpisah karena beberapa orang mulai menawarkan tempat duduk di sisi ruangan yang berbeda. Aku meraih tangan dua orang di antara mereka yang kemudian ku ketahui merupakan sepasang suami-istri. Kepada mereka, aku melafalkan namaku. Mereka balas menjawab: “Syifa” dan “Jejen”.

Mbak Syifa dan Mas Jejen aku pandu untuk menempati bangku panjang di sisi kanan ruangan. Kami duduk berhadapan. Kemudian, mereka disuguhi masing-masing sepiring nasi goreng. Aku mengamati gerak-gerik mereka sejak baru masuk, duduk, selesai melahap makan siang, sampai remah kerupuk terakhir. Aku sendiri tidak mengunyah apa-apa. Tidak ada sepiring nasi goreng di hadapanku. Apalagi kerupuk. Yang ada cuma rasa syukur.

Hari itu, aku terdaftar sebagai relawan Blind Date Cinema, sebuah program nonton bareng film bersama tunanetra yang rutin diadakan sebulan sekali di Paviliun 28. Program ini menjadi unik karena relawan nonton bukan sekedar nonton, tetapi harus membantu teman-teman tunanetra agar bisa turut menikmati cerita dengan memperoleh gambaran tentang film yang ditonton. Relawan ditantang untuk memindahkan adegan yang ditampilkan di layar bioskop ke dalam benak teman-teman tunanetra. Di situlah, pada jeda antara dialog, para relawan berbisik.

 

Blind Date Cinema.jpg
Dokumentasi dari Tim Paviliun 28

 

Film yang diputar siang itu adalah Cin(T)a. Mungkin film ini dipilih karena Februari erat dengan nuansa cinta. Cin(T)a menceritakan dua mahasiswa arsitektur bernama Annisa dan Cina yang saling jatuh cinta, tetapi kemudian menyadari bahwa perbedaan keyakinan harus menjadi penghalang kelanjutan kisah cinta mereka. Kesempatan Blind Date Cinema kali ini menguntungkan bagiku. Aku bisa leluasa berbisik kepada Mbak Syifa karena film itu mengambil lokasi syuting di gedung arsitektur ITB, tepat di sebelah gedung jurusanku. Film itu bahkan dibuat ketika aku masih kuliah di sana. Singkat kata, aku senang karena bisa menjadi orang yang banyak omong. Supaya Mbak Syifa bisa memvisualisasikan film Cin(T)a dengan lengkap dalam benaknya.

Usai pemutaran film, kami masih sejenak melanjutkan obrolan hingga menjelang pukul empat sore, Mbak Syifa dan Mas Jejen pulang, disusul teman-teman tunanetra dan relawan lainnya, termasuk aku. Dalam perjalanan pulang, mau tidak mau aku berkontemplasi. Hari itu, aku mendapat kesempatan langsung berinteraksi lebih dekat dengan teman-teman tunanetra. Selama ini aku penasaran bagaimana mereka menjalani kehidupan. Tampilan apa yang muncul dalam pandangan mereka: gelap pekat atau gradasi hitam-putih yang bergerak-gerak? Apakah mereka tidak bisa mengenal bentuk sejak lahir? Bagaimana cara mereka memesan Grab? Apakah mereka bekerja? Dan rentetan pertanyaan lainnya.

 

DSC_8860-03
Dokumentasi pribadi

 

Berinteraksi dengan teman-teman tunanetra siang itu membuat aku menarik kesimpulan sementara bahwa sesungguhnya tidak ada perbedaan berarti antara kehidupanku dengan kehidupan mereka.

Mereka kuliah, bekerja, dan beberapa main instagram juga.

Jelas kami menjalani kehidupan yang sama. Hanya sedikit berbeda cara.

Dan perbedaanlah yang membuat kita belajar, bukan?

 

 

 

 

Iklan
Diposkan pada Buku, Jurnalisme

Bencana Alam dan Jurnalisme

Jurnalisme Bencana.jpg

Tugas wartawan memproduksi berita, bukan menjadi berita. Keselamatan diri tetap lebih penting dibandingkan dengan harga sebuah berita. Tak seorang pun wartawan yang masih waras menginginkan kematian saat bertugas. Namun, sudahkah kita (wartawan) mengenali tanah tempat kita bertugas yang ternyata selalu di bawah bayang-bayang bencana dan maut? (halaman 20)

Akhir pekan ini saya membaca buku tentang jurnalisme bencana, ditulis oleh seorang wartawan Kompas, Ahmad Arif, yang pernah meliput beberapa kejadian bencana alam di Indonesia.

Pengalaman pertama Ahmad Arif meliput bencana alam adalah peristiwa tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 lalu. Waktu itu ia baru dua tahun bekerja sebagai wartawan dengan hampir satu tahun bahkan dihabiskan hanya untuk pelatihan. Tugas meliput bencana alam sebesar itu membuat ia banyak memperoleh bahan evaluasi yang dapat ditujukan untuk perbaikan jurnalisme bencana ke depannya.

Saya buat tulisan kali ini bukan sebagai resensi, tetapi lebih kepada rangkuman evaluasi yang dipaparkan dalam buku ini. Semoga berguna sebagai spoiler bagi siapapun yang berminat membaca buku ini, terutama bagi para wartawan di Indonesia.

Judul Jurnalisme Bencana, Bencana Jurnalisme
Penulis Ahmad Arif
Genre Nonfiksi
Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
ISBN 978-979-91-0236-2
Bahasa Indonesia
Tebal xxiv + 193 halaman
Sampul Cetakan pertama, April 2010

Sebagaimana judul, sesuai pemahaman saya ada dua poin besar yang tersirat dalam buku ini, yaitu gambaran proses jurnalistik ketika meliput bencana alam dan bencana yang dialami jurnalisme terkait peliputan bencana alam. Kedua poin ini berkaitan, seperti looping saja.

Untuk memudahkan, beberapa evaluasi utama kepada banyak pihak yang terlibat dalam jurnalisme peliputan bencana alam berdasarkan buku ini, saya susun menjadi tiga bagian, yaitu sebelum-saat-sesudah bencana alam itu terjadi.

 

Pre/sebelum

  1. Indonesia jelas merupakan negeri yang sangat rentan mengalami bencana alam, tetapi tidak ada program pemerintah terkait mitigasi yang terintegrasi satu sama lain dan bersifat jangka panjang, baik dari segi infrastruktur (misal, pembangunan gedung dengan prinsip konstruksi tahan gempa) maupun noninfrastruktur (misal, edukasi bagi seluruh warga untuk menghadapi bencana alam).
  2. Perusahaan media di Indonesia, terutama suratkabar, kebanyakan tidak berinvestasi pada infrastruktur untuk mendukung wartawan mereka agar dapat meliput dengan baik di daerah bencana alam. Hal ini umumnya disebabkan keterbatasan biaya yang dimiliki oleh perusahaan media.

 

Present/saat

  1. Ketika bencana alam datang, ketidaksigapan pemerintah dalam menangani korban bencana alam menyulitkan wartawan untuk memperoleh informasi penting yang harus segera disebarluaskan, seperti jumlah dan identitas korban.
  2. Dampak yang muncul akibat poin Pre-1 di atas menyebabkan seringkali terjadi embedded journalism atau jurnalisme menebeng pihak nonmedia, menyebabkan independensi pemberitaan menjadi rancu. Selain itu, berita tidak bisa dikirim ke pusat tepat waktu karena tidak ada perlengkapan memadai (misal: telepon satelit dll.). Terakhir, wartawan tidak dibekali pelatihan yang cukup untuk peliputan bencana alam sehingga kesempatan hidup wartawan itu sendiri bisa-bisa jadi pertaruhan ketika meliput.
  3. Etika dalam menyajikan dokumentasi seputar bencana alam masih sering mengacu pada dokumentasi yang lugas meskipun sadis. Sebaiknya hal ini diperbaiki. Terdapat beberapa contoh bagus yang Ahmad Arif tulis dalam buku ini dari segi foto jurnalistik.

 

Post/sesudah

  1. Penting untuk mengawal sejauh mana penyaluran bantuan terhadap korban bencana alam sudah dilakukan, baik oleh pemerintah maupun organisasi nonpemerintah karena potensi penyalahgunaan bantuan tersebut sangat rentan terjadi.

 

Pada bagian penutup, Ahmad Arif memberikan beberapa ‘petuah’ bagi wartawan yang akan meliput bencana alam. Saya rasa bagian ini merupakan bagian yang penting sekaligus merangkum pembelajaran dari keseluruhan isi buku.

Waktu saya baca review-review di Goodreads, ada mahasiswa yang bilang dosen program studi jurnalisme yang merekomendasikan buku ini. Saya rasa memang buku ini tepat untuk dijadikan salah satu referensi tentang jurnalisme bencana.

Semoga tulisan saya ini bisa memberi gambaran tentang apa yang ingin disampaikan oleh si penulis. Namun, tentu saja membaca keseluruhan akan membantu Mas/Jeng untuk bisa lebih memahami bagaimana menegangkannya meliput di daerah yang terkena bencana alam.

Akhir kata, selamat membaca!

Diposkan pada Buku

Baca Ribuan Buku Gratis Via Aplikasi iPusnas

“Pengen baca buku tapi lagi kere. Hmm…”

“Duh…mesti cari referensi tapi males ke perpus, jauh.”

Eh jangan sedih. Sekarang kamu bisa baca buku di mana saja, kapan saja, GRATIS pula. Gimana sih? Easy! Tinggal unduh aplikasi iPusnas di HP masing-masing. iPusnas merupakan aplikasi perpustakaan digital yang dilengkapi dengan eReader untuk membaca ebook dan berbasis media sosial yang disediakan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI). Kenapa berbasis media sosial? Karena selain bisa membaca buku, kamu juga bisa berinteraksi dengan sesama pengguna apps ini, seperti memberi ulasan buku, merekomendasikan buku, menambah teman, dsb. Aplikasi ini sendiri sudah tersedia di Play Store sejak tahun 2016.

Registrasi Anggota

Setelah mengunduh iPusnas, kamu mendaftar sebagai anggota. Cara mendaftar amat mudah. Tinggal ketik alamat email yang ingin digunakan atau klik tombol Facebook yang telah disediakan. Jika berhasil, kamu resmi jadi anggota apps iPusnas. Selamat!

Cara Pinjam Buku

Nah, gimana cara membaca buku di iPusnas? Konsep apps ini persis seperti meminjam buku di perpustakaan.

Cari buku yang ingin dipinjam. Jika sudah ketemu, klik sampul buku tersebut. Untuk postingan ini, saya pilih contoh novel Gentayangan karya Intan Paramaditha.

Klik tombol “Borrow”

Klik kategori “Popular”

Klik “Yes” untuk konfirmasi

Klik “Close”

Secara otomatis, buku akan 100% terunduh. Kalau jaringan internetmu sedang kurang bagus atau apps iPusnas sedang lemot, buku tidak terunduh secara otomatis tapi muncul tombol “Download”. Kamu bisa klik tombol tersebut untuk mengunduh.

Jika tombol sudah berganti warna hijau dan tertulis “Read” berarti buku berhasil kamu pinjam dan siap untuk dibaca.

Untuk mengecek daftar buku yang kamu pinjam (Bookshelf), kamu bisa klik ikon ini.

Untuk mengembalikan buku, tinggal klik “Return”

Buku yang dipinjam HANYA BISA DIBACA MELALUI APPS IPUSNAS. Jumlah maksimal buku yang dapat dipinjam sebanyak 3 buku per hari dan waktu peminjaman adalah 3 hari. Lewat dari itu, buku yang sudah dipinjam secara otomatis dikembalikan ke sistem. Jadi, tidak ada denda kalau kamu lupa mengembalikan 🙂

Catatan:

  • Beberapa buku yang banyak peminat memungkinkan kamu untuk ngantri lebih dulu sebelum bisa meminjam buku. Tombol “Borrow” berganti dengan tombol “Queue”. Kalau pun buku sudah dikembalikan, kamu tidak akan dapat notifikasi. Jadi, mesti rajin-rajin ngecek sendiri. Persis seperti di perpustakaan kan?
  • Beberapa buku memang tidak bisa dipinjam. Entah kenapa. Contoh: Animal Farm oleh George Orwell ini. Coba lihat jumlah orang yang antri, sedangkan tidak ada satupun yang pernah membaca buku ini hihihi.

Daftar Buku

Jenis buku yang tersedia di iPusnas bermacam-macam, baik fiksi maupun nonfiksi. Sayangnya banyak pula buku yang mungkin tidak akan kamu temukan di sini. Saya berasumsi Perpusnas RI sudah melakukan kerja sama dengan penerbit-penerbit mayor seperti KPG, GPU, atau Mizan. Sedangkan buku-buku dari penerbit independen semisal Marjin Kiri, Basabasi, atau Indie Book Corner tidak bisa ditemukan.

Buku di apps ini pun tersedia untuk berbagai kalangan, mulai dari anak kecil, remaja, sampai orang dewasa. Saya sendiri sudah hampir khatam buku Seri Cerita Rakyat 34 Provinsi (Bilingual Version) yang notabene merupakan buku cerita anak-anak xixixi.

Oh iya. Awalnya saya kira iPusnas cuma menyediakan buku-buku lama. Ternyata, buku-buku baru bahkan buku yang terbit di akhir tahun 2017 pun bisa dipinjam di sini (ya ini si Gentayangan terbit Okt 2017). Kewreeen! (jangan tanya apa ada ketakutan dari penerbit terhadap penurunan penjualan buku di toko buku dengan adanya iPusnas ini, asumsikan sudah ada komunikasi dari kedua pihak lah).

Sejauh ini, pengalaman membaca di iPusnas sangat menyenangkan meskipun kadang-kadang apps ini rada lemot. Boleh dicoba BANGET!

Semoga informasi ini bermanfaat yes.

PS: berhubung mata punya keterbatasan untuk melihat layar HP, lebih baik baca buku betulan di perpustakaan betulan dong, terutama buat buku-buku yang cukup tebal. Kalau di Jakarta, saya merekomendasikan Perpustakaan Kemendikbud atau Perpusnas RI. Ciao!

 

Diposkan pada Buku, Jurnalisme

Belajar dari Kiprah The New York Times

NYT Menulis Berita tanpa Takut atau Memihak.jpg

Judul The New York Times: Menulis Berita tanpa Takut atau Memihak
Penulis Ignatius Haryanto
Penerbit Yayasan Obor Indonesia
Cetakan Pertama, Juni 2006
Tebal XXVI + 114 hlm.; 14.5 x 21 cm
ISBN 979-461-591-9

The New York Times, biasa disingkat NYT atau Times, merupakan perusahaan media yang berbasis di Amerika Serikat. Perusahaan yang didirikan pada tahun 1851 ini telah memperoleh lebih dari 100 penghargaan Pulitzer, menjadikan Times sebagai media peraih Pulitzer terbanyak, sekaligus masuk sebagai jajaran media paling terpercaya yang diakui oleh dunia. Tak heran, Ignatius Haryanto yang juga seorang jurnalis di Indonesia merasa perlu berbagi resep di balik kesuksesan Times dalam mempertahankan kualitas jurnalisme. Buku saku ini tentu ditujukan terutama bagi para pelaku jurnalistik di Indonesia.

Bab 1 mengangkat kasus berita bohong jurnalis Times bernama Jason Blair yang terkuak pada pertengahan tahun 2003 lalu. Berdasarkan hasil investigasi internal, Blair ternyata telah membuat 10 berita bohong selama ia bekerja di Times. Kasusnya yang paling menjadi highlight ialah plagiat laporan wartawan koran lain pada April 2003. Hal ini membuat pihak Times melakukan koreksi total yang terdiri dari perombakan struktur internal, termasuk pendirian kelembagaan ombudsman atau public editor yang berfungsi untuk menampung keluhan publik terhadap pemberitaan Times.

Bab 2 mengulik isi dapur Times dari segi kode etik. Kasus Blair membuat kode etik Times diperbarui per Mei 2004. Integritas, Kemampuan, dan Reputasi adalah kata kunci yang dipegang oleh wartawan Times. Kutipan dari salah satu paragraf pembuka dalam kode etik Times ialah keharusan bagi Times dan para staf untuk memelihara standar tertinggi yang mungkin ada untuk memastikan bahwa mereka tidak melakukan hal-hal yang akan mengurangi kesetiaan dan kepercayaan pembaca. Hal ini jelas menyatakan bahwa Times menaruh landasan utama pada kepercayaan pembaca. Kode etik Times sendiri terdiri atas 51 halaman yang memuat 155 pasal untuk 14 bab, jauh melebihi jumlah seluruh kode etik terkait jurnalistik yang berlaku di Indonesia (kode etik Times dapat diakses di www.nytimesco.com).

Bab 3 merupakan napak tilas sejarah perkembangan Times selama lebih dari 100 tahun yang sukses dikelola oleh keluarga Ochs-Sulzberger selama 4 generasi. Pada tahun 1896, Times akan bangkrut. Namun, Adolph Ochs dengan uang pas-pasan membeli media tersebut dan melakukan pembenahan dengan menampilkan jenis pemberitaan di bidang ekonomi, hukum, dan ulasan buku yang kesemuanya dianggap memiliki nilai lebih ketimbang media lain oleh para pembaca. Di samping itu, ia nekat membanting harga Times. Kedua pendekatan ini membuat penjualan Times meningkat drastis. Masuknya wartawan Carr van Anda (kemudian dianggap sebagai arsitektur editorial Times) yang passionate terhadap dunia sains turut menambah khazanah pemberitaan Times.

Bab 4 menjabarkan penghargaan Pulitzer yang diterima Times. Di antara Pulitzer yang pernah diterima, rupanya ada pula yang liputannya tidak disukai oleh wartawan-wartawan Times lainnya, yaitu liputan tentang Rusia yang ditulis Walter Duranty di tahu 1930-an. Mereka mencibir bahwa liputan tersebut dianggap menjilat pemerintah Rusia (kasus ini umum terjadi pada wartawan yang bekerja di negeri tertutup dan otoriter sehingga tidak bisa menulis dengan leluasa).

Bab 5 mengulas Times dan krisis-krisis politik yang terjadi: Perang Dunia I dan II, penyerbuan Teluk Babi, penyerbuan Amerika ke Vietnam, dan Pentagon Papers. Liputan Times pada PD I tak tertandingi berkat kejelian Carr van Anda dalam memprediksi arah pergerakan perang sebelum mengirim wartawan-wartawan Times untuk meliput. Begitu pula masa krisis saat PD II, Times justru menaikkan intensitas peliputan, bukannya menghemat pengeluaran sebagaimana dilakukan oleh koran-koran lainnya. Pada penyerangan Teluk Babi, Times mengalami gejolak internal terkait perbedaan pendapat akan swasensor. Sedangkan pada penyerbuan Vietnam, Times mengalami desakan langsung oleh Presiden J.F. Kennedy. Pentagon Papers adalah puncaknya. Times (serta The Washington Post) dituntut ke pengadilan oleh pemerintah Amerika Serikat karena mempublikasikan dokumen rahasia yang menguak keterlibatan Amerika Serikat pada pemerintahan Vietnam yang korup. Mahkamah Agung saat itu memenangkan Times dan Post.

Bab 6 menyajikan pandangan singkat penulis mengenai tantangan ke depan bagi Times seperti kemunculan internet, lingkungan kerja di kantor yang konservatif, dan kemampuan untuk mempertahankan kualitas jurnalistiknya di tahun-tahun mendatang. Bab 7 merupakan penutup.

Kemahiran penulis dalam bertutur membuat buku ini mudah diikuti dan enak dibaca. Halaman yang tipis menjadikan buku ini sebetulnya tidak begitu komprehensif, lebih cocok sebagai bacaan awal bagi siapapun yang memiliki minat terhadap bidang jurnalistik. Untuk memperdalam ilmu, pembaca bisa mengacu pada buku-buku referensi yang penulis gunakan ketika menulis buku ini. Beberapa buku tersebut penulis sebutkan di bagian Pengantar.

Di tengah maraknya kemunculan media-media baru serta keleluasaan penggunaan internet, tidak dapat dipungkiri bahwa telah terjadi perubahan orientasi perusahaan media dari produk jurnalistik yang menguntungkan pembaca menjadi cenderung kepada orientasi bisnis. Hal ini tentu mempengaruhi kualitas jurnalisme yang seringkali dikesampingkan demi mendulang pemasukan bagi perusahaan. Times menganut prinsip “jika Anda memiliki informasi yang berkualitas, maka keuntungan perusahaan akan mengikutinya”. Di sini media-media di Indonesia seharusnya dapat mengambil pelajaran bahwa kompetisi seharusnya tidak serta merta mempengaruhi keluaran produk jurnalistik.

Situasi politik yang terkadang memungkinkan pemerintah maupun pihak-pihak lain memberi tekanan terhadap kebebasan pers pun kerap dialami, tentu tidak hanya Times melainkan juga media-media di Indonesia. Kiprah Times dalam mempertahankan netralitas dan jurnalisme yang tidak takut atau berpihak selayaknya dapat dijadikan contoh oleh media-media lain, demi memberikan informasi yang berimbang dan berkualitas kepada publik.

Diposkan pada Buku, Jurnalisme

Menyingkap Gunung Es Kejahatan

BASABASI.CO, 23 Desember 2017 (click)

tempo_dibalik-investigasi-tempo-02_full02.jpg

Judul Di Balik Investigasi Tempo Jilid 02
Penyunting Muhammad Taufiqurohman
Penulis Muhammad Taufiqurohman, Mustafa Silalahi, Rusman Paraqbueq, Stefanus Pramono
Penerbit Tempo Publishing
Cetakan Pertama, November 2017
Tebal xii + 179 halaman
ISBN 978-602-6773-20-3

Pemberantasan tindak pidana korupsi dalam beberapa dasawarsa terakhir selalu mencuri perhatian publik. Tak ayal, masyarakat pun sering dibuat geleng-geleng kepala oleh kelakuan koruptor yang kerap mengelak setelah ditetapkan sebagai tersangka. Terlebih, main kucing-kucingan untuk menghindari proses hukum. Ragam komentar sana-sini menanggapi kegaduhan ini meyakinkan kita bahwa sense publik akan perilaku-perilaku ganjil para pelaku ternyata masih bekerja.

Pemberitaan mengenai perkembangan kasus-kasus tindak korupsi terus menghiasi layar kaca, layar ponsel, bahkan gaung-gaung radio di dalam mobil Anda, semenjak pengungkapan pertama kali oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hingga ketika para terdakwa resmi mendekam di balik jeruji besi. Namun, apakah penjara sudah efektif untuk meredam kegaduhan? Sayangnya, tidak. Perhatian masyarakat ternyata tidak bisa berhenti pada putusan pengadilan karena rupa-rupanya masih terdapat kejanggalan yang tersembunyi dalam tempat tinggal baru para koruptor tersebut, menunggu-nunggu untuk dibuka.

Berawal dari informasi yang diberikan oleh seorang pengusaha tambang pada Oktober 2009 kepada pihak Tempo mengenai kemewahan sel penjara Artalyta Suryani, Ayin, terdakwa kasus aliran dana Bank Indonesia. Informasi awal ini mendorong Tempo melakukan investigasi terhadap sulap bui menjadi kantor yang dilakukan di Rumah Tahanan Pondok Bambu, Jakarta Timur, sebagaimana diceritakan dalam bab “Pondok Bambu Rasa Istana”.

Di akhir 2015, informasi dari beberapa orang yang dirahasiakan perihal narapidana Sukamiskin yang bebas keluyuran keluar penjara turut mendorong Tempo untuk mengungkap kebenaran informasi tersebut. Hal ini diceritakan dalam bab “Pelesir Gelap Pesakitan Sukamiskin”. Pada bab ini, terdapat hal lain yang disinggung yakni bisnis para narapidana ‘elite’ di dalam area penjara dengan adanya pendirian taman, kafetaria, dan saung-saung.

Selain dua laporan investigasi terkait penjara para koruptor tersebut, buku ini memuat dua laporan investigasi lain terkait human trafficking dengan masing-masing tajuk: (1) “Tenaga Kerja Indonesia Legal” yang mengungkap adanya ‘jalur samping’, yakni jalur masuk imigran gelap Indonesia ke Malaysia melalui Pulau Nunukan dan Sebatik, Kalimantan Utara, dan (2) “Jual-Beli Orang ke Malaysia” yang menguak kongkalikong jual-beli penduduk Nusa Tenggara Timur oleh agen-agen penyalur bodong. Sebagai pelengkap, terdapat pula satu laporan investigasi mengenai perburuan gajah dan harimau di Aceh yang tertuang dalam bab “Penyelundupan Gading dan Kulit Harimau”.

Buku ini memuat total 5 laporan investigasi yang dilakukan oleh Tempo dengan judul bab sebagaimana disebutkan di atas. Fakta hasil investigasi dituturkan dalam bentuk story-tellingsehingga mudah diikuti oleh pembaca. Jauh dari kesan kaku saat mendengar kata ‘laporan investigasi’. Buku ini turut dilengkapi dengan sebuah poster infografis khas Tempo serta dua halaman komik yang mengilustrasikan proses investigasi pelesir napi Sukamiskin.

Kelima hasil investigasi ini sesungguhnya telah dimuat dalam majalah Tempo. Namun, proses ‘di balik layar’ yang dilakukan oleh para wartawan investigasi Tempo serta dampak yang timbul setelah laporan investigasi tersebut diungkap ke publik-lah yang membedakan keluaran buku ini dengan majalahnya. Pada masing-masing bab, penjabaran mengenai kedua aspek tersebut turut disertakan dengan mengambil porsi sekitar seperempat bagian.

Investigasi sering menyoal pertaruhan nyawa. Oleh karena itu, tidak semua wartawan punya nyali melakukannya. Orang yang mendedikasikan diri menjadi wartawan investigasi tidak boleh gentar ketika dihadapkan pada situasi mengancam, baik lisan maupun tulisan, bahkan jika mengalami penahanan. Kejadian apes semasa proses investigasi kelima kasus disampaikan secara gamblang dalam buku ini.

“Kau jangan macam-macam. Aku bisa cari kau ke mana saja lalu aku bunuh,” kata pawang yang berperawakan kecil tapi memiliki tatapan mata tajam itu (hlm 56).

Ancaman itu dikemukakan oleh seorang mantan pawang gajah dan harimau kepada wartawan Tempo yang tengah berusaha mengorek informasi tentang perburuan liar di Aceh.

Disertakan pula narasi penyekapan yang dialami oleh wartawan Tempo pada Februari 2017. Kala itu, ia, Stefanus Pramono, tengah berusaha mengonfirmasi Albert Tei, pemain besar di balik jual beli TKI ilegal ke Malaysia.

Akhirnya, Pramono menggertak balik. “Silakan Anda lapor ke polisi. Saya liputan yang nyaris mati saja pernah. Kalau dipenjarakan, saya tidak takut,” ujarnya menantang, “akan saya laporkan Anda balik karena menyekap kami.” Tak lama kemudian, telepon seluler Pramono berbunyi. Redaktur Eksekutif Tempo, Wahyu Dhyatmika (Komang), meneleponnya. “Kamu disekap? Kasih teleponnya ke Albert,” kata Komang. Telepon itu tidak di-speakerphone-kan, tetapi suara Komang terdengar sangat keras. “If something happen to my reporters, I will find you!” (hlm 150).

Terungkapnya skandal-skandal kejahatan memacu respons positif dari pemerintah, setidaknya untuk kelima kasus di atas. Meskipun, sebagian besar dampak kasus hanya berlaku pasang-surut dalam beberapa bulan awal setelah peliputan. Kasus perburuan liar terhadap gajah dan harimau yang konon kabar digawangi oleh mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka dan telah berlangsung selama puluhan tahun itu juga tidak bisa diberangus hanya dalam beberapa bulan. Tidak jauh berbeda dengan kasus jual-beli manusia. Tidak dapat kita tampik bahwa selama demand masih tinggi, terbatasnya ruang ketersediaan lapangan kerja dalam negeri, terlebih keterlibatan langsung aparat pemerintah telah membuat praktik-praktik gelap semacam ini mustahil diberantas tuntas. Bukankah ini menjadi sebuah potret ironi kebangsaan?

Di samping filosofi mulia yang mendasari penyusunan laporan investigasi dalam dunia jurnalistik, yakni untuk mengungkap fakta yang bernilai besar bagi masyarakat, amat disayangkan bahwa proses investigasi itu sendiri, dalam buku ini lebih banyak menjabarkan peristiwa yang dialami oleh wartawan investigasi Tempo di lapangan. Konfirmasi yang nyata memang sering diperoleh melalui reportase lapangan. Seperti contoh wartawan Tempo yang harus menyamar menjadi imigran gelap agar dapat nimbrung dalam perahu yang membawanya menyusuri ‘jalur samping’ menuju Pulau Nunukan atau pengintaian Ayin lewat gedung rumah sakit yang belum jadi di samping Pondok Bambu.

Dari dalam perahu, Pramono menyaksikan nakhoda kapal cepat yang datang belakangan memberikan duit kepada petugas di dalam kapal milik Malaysia. Terjawab sudah. Salah satu alasan para imigran gelap bisa masuk dengan mudah adalah adanya pemberian suap kepada penjaga perbatasan Malaysia. (hlm 87)

Pengintaian dari gedung (baca: gedung rumah sakit yang sedang dibangun di sebelah penjara Pondok Bambu) dilakukan untuk membuktikan Ayin memperoleh fasilitas khusus di penjara. Budi Riza naik ke bangunan belum jadi di lantai paling atas rumah sakit itu pada akhir 2009. Ia punya misi mengintai aktivitas di dalam aula. Informasi awal sudah dikantongi: tempat itu (aula) menjadi “ruang kerja Ayin”. Pada waktu yang berbeda, fotografer Arnold Simanjuntak tiga hari bolak-balik ke tempat yang sama. Pada hari ketiga, baru ia mendapat foto Ayin yang sedang menggendong bayi. Hasilnya kurang bagus secara visual, tapi lumayan sebagai bukti jurnalistik. (hlm 28).

Penonjolan reportase di lapangan membuat detail lain yang turut mendukung proses investigasi, semisal untuk paper trails, bagaimana memperoleh dokumen transaksi penjualan TKI ilegal, atau penyusunan strategi-strategi dengan rencana terbaik hingga terburuk sebelum pelaksanaan investigasi di lapangan, sedikit dikesampingkan. Tempo mungkin beranggapan bahwa proses di luar lapangan yang tidak terlalu menantang itu kurang menggiurkan untuk diketahui oleh publik. Tidak salah, memang, tetapi pemuatannya sekiranya dapat memberi nilai lebih akan ekspektasi pembaca terhadap judul buku yang tertera: ‘di balik investigasi’.

Bukan rahasia umum bahwa masih terdapat banyak desas-desus skandal kejahatan pada setiap lini kehidupan. Rumor ini kerap dibiarkan berlalu atau bahkan dimaklumi oleh khalayak. Eksistensinya seakan tabu untuk disinggung. Oleh karena itu, produk jurnalistik berupa laporan investigasi menjadi penting untuk sekaligus dapat menempeleng kita bersama bahwa pembiaran terhadap kejahatan-kejahatan di sekitar yang benar-benar nyata tidak bisa tidak diacuhkan.

Diposkan pada Buku

Target Baca 2018

Di akhir tahun 2017, saya terdorong untuk membuka kembali akun Goodreads saya yang tidak pernah digunakan lagi sejak tahun 2011, kalau tidak salah. Seperti baru masuk ke peradaban baru, ternyata Goodreads memfasilitasi banyak sekali feature yang menyenangkan. Salah satu yang paling berguna adalah fasilitas untuk memantau target bacaan selama setahun.

Ah saya menyesal sekali meninggalkan Goodreads begitu lama.

Ngilang ke mana aja?!

Saya tidak tahu mau pasang target bacaan berapa buku. Namun, beberapa kali saya sempat melihat banyak orang yang mampu menyelesaikan bahkan sampai 100 buku dalam setahun. Hmm. Menarik. Walhasil, saya langsung menetapkan target bacaan sebanyak 60 buku. Kebetulan sempat baca sebuah artikel yang menyebutkan bahwa seorang CEO rata-rata membaca 60 buku dalam setahun. Saya bukan CEO sih, tetapi tentu ini berarti motivasi yang cukup untuk menunjukkan bahwa di tengah jadwal yang padat, buku sebanyak itu masih sempat dibaca oleh 1 orang lho.

Saya yakin seumur hidup belum pernah menyelesaikan sampai sebegitu banyak buku dalam setahun. Tapi, apa salahnya kan mencoba? Saya menargetkan untuk membaca di setiap sela-sela waktu, perjalanan selama commuting menggunakan KRL, maupun sebelum tidur. Jadi, buku harus menemani ke mana pun, di mana pun.

Sampai saat saya menulis ini, Goodreads merekam bahwa saya sudah memenuhi 17% target (yeay). Berikut sampul 10 buku yang sudah saya baca selama 15 hari pertama di bulan Januari 2018.

Diposkan pada Buku

Beban Kelam 1998 yang Tak Bisa Dilepas  

Koran Jakarta, 8 Januari 2018

Cover.jpg

Judul Laut Bercerita
Penulis Laela S. Chudori
Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan Pertama, Oktober 2017
Tebal x + 379 halaman; 13.5 cm x 20 cm
ISBN 978-602-424-694-5

Karya fiksi ini seorang mahasiswa dari Yogyakarta bernama Biru Laut. Orang tua Laut tak tahu bahwa anak mereka telah bersemayam di dasar perairan ditemani oleh karang dan ikan-ikan. Laut adalah salah satu dari 13 aktivis yang hilang pada masa Orde Baru. Ia sendiri diculik sejak 13 Maret 1998, kemudian dibunuh setelah hampir tiga bulan disekap sekaligus disiksa. Melalui buku ini, Laut menceritakan kisahnya.

Asmara Jati, adik perempuan Laut, menuturkan kesedihannya akan dampak buruk yang menggerogoti kehidupan Ibu dan Bapak setelah hilangnya anak sulung mereka. Orang tuanya terjebak dalam penyangkalan bahwa suatu hari Laut akan mengetuk pintu rumah dan bergabung di meja makan, sebagaimana ritual keluarga itu selalu diadakan di hari Minggu. Terlebih, tidak hanya orang tua Asmara, melainkan keluarga dan sahabat dari 12 orang hilang lainnya juga belum mampu menerima kenyataan pahit tersebut.

Novel ini menarasikan pertanyaan tentang hak asasi manusia yang belum terjawab dan tentang cinta yang tidak pernah luntur. Penulis menggunakan dua sudut pandang, yakni dari Laut dan Asmara. Laut menceritakan alur perjuangan dirinya dan aktivis lainnya yang tergabung dalam organisasi Winatra dan Wirasena. Kisah panjang meliputi pertemuan para anggota, aksi pemberontakan di Blangguan, sampai kematian Laut. Sedangkan sudut pandang Asmara menggambarkan kegelisahan tak berkesudahan mereka yang ditinggalkan oleh 13 aktivis. Pada suatu waktu, mereka yang ditinggalkan pun menyadari bahwa mereka tidak punya pilihan, selain sama-sama berjuang mencari jawaban.

Lazimnya perjalanan hidup manusia, penulis juga memasukkan unsur romantisme khas anak muda. Laut dan Anjani bertemu di Rumah Seyegan, markas baru Winatra dan Wirasena. Keduanya kemudian perlahan menjalin hubungan di tengah geliat pemberontakan. Lain lagi dengan Asmara dan Alex yang bertemu ketika Laut mengundang Alex berkunjung ke rumahnya. Dua sejoli ini seketika larut dalam hubungan yang dibangun secara cepat. Kisah percintaan ini menjadi pokok kedua yang ditampilkan sepanjang buku.

Dalam Laut Bercerita, penulis juga mengangkat sisi feminisme. Tiga tokoh utama wanita: Asmara, Anjani, dan Kinan digambarkan sebagai perempuan yang tangguh, berpendirian, dan mampu memutuskan untuk diri sendiri. Penceritaan dengan alur waktu yang berubah-ubah kembali digunakan oleh Leila seperti halnya dalam buku Pulang (2013).

Tahun 1998 adalah sebuah titik balik. Salah satu periode yang mengukir sejarah kelam di Indonesia. Desaparasidos –penghilangan orang secara paksa–dialami oleh 13 aktivis yang bahkan hingga hampir 20 tahun kemudian lokasi keberadaan tubuh mereka masih belum diketahui.

Mereka yang hilang adalah orang-orang yang pernah berjuang demi mewujudkan mimpi meraih Indonesia yang demokratis, lepas dari bayang-bayang kediktatoran. Namun, mereka pula lah orang-orang yang tidak pernah merasakan buah perjuangannya.

Penulis tidak sembarangan berkisah. Ia melakukan riset yang dimulai pada tahun 2013 agar faktualitas cerita benar-benar merefleksikan sejarah. Ide menulis buku ini sendiri datang setelah penulis meminta Nezar Patria menuliskan pengalamannya saat diculik pada Maret 1998 untuk kemudian dimuat dalam Majalah Tempo Edisi Khusus Soeharto pada Februari 2008.

Sebagai fiksi, penulis sukses mengontruksi jagat baru dari sejarah kelam yang terjadi tahun 1998. Maka, tak heran bahwa pada peluncuran pertama Laut Bercerita di Ubud Writers and Readers Festival 2017, Leila mengungkapkan bahwa buku ini sedang diterjemahkan ke Bahasa Inggris agar dapat dibaca oleh kalangan yang lebih luas. Peristiwa yang menggores penegakan hak asasi manusia di Indonesia ini bukan hanya menorehkan luka pada kerabat yang ditinggalkan, melainkan permasalahan bersama di berbagai belahan dunia bagi mereka yang menjunjung tinggi kemanusiaan.